PLUS MINUS KB SPIRAL

28 Feb


Boleh jadi cara ber-KB yang satu ini merupakan favorit para akseptor. Yang jelas, pemakai harus rajin kontrol.

Pemasangan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), kata dr. Agus Supriyadi, SpOG ,memang jadi pilihan favorit para akseptor karena dianggap praktis alias tak merepotkan dibanding cara ber-KB lainnya. Semisal KB suntik yang harus dilakukan 1 atau 3 bulan sekali, maupun pil KB yang harus diminum saban hari. Hanya saja, lanjut ginekolog dari RSIA Hermina, akseptor harus mematuhi jadwal kontrol yang ditentukan. Yakni, seminggu setelah pemasangan, kemudian sebulan sekali, lalu tiap 3 bulan, dan selanjutnya 6 bulan sekali.

Pertimbangan lain para akseptor adalah karena lamanya tenggang waktu pemakaian, yakni 5-8 tahun. Sementara efektivitas keberhasilannya pun mencapai 97 persen. Berbeda dengan pil KB atau suntik yang bisa berakibat “fatal” bila terlupa, tak demikian halnya dengan spiral. Kalaupun sesekali lupa atau berhalangan saat jadwal kontrol tiba, imbuh Agus, “Yang bersangkutan tak perlu kelewat khawatir bakal kebobolan atau ada sesuatu yang tak beres. Tentu saja sepanjang tak ada keluhan, lo.”

UKURAN HARUS PAS

Menurut ginekolog yang juga berpraktek di RSAB Harapan Kita ini, keluhan yang paling sering muncul adalah terjadinya spotting/perdarahan ringan di awal-awal pemasangan. Secara fisiologis, hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Namun tidak demikian halnya secara psikologis bagi akseptor. Apa pun, tandas Agus, keluarnya flek-flek tidak seperti biasanya pasti akan membuat cemas.

Untuk meminimalkan keluhan spotting, sekaligus menentramkan hati yang bersangkutan, dianjurkan agar pemasangan spiral dilakukan saat menstruasi. Pertimbangannya, saat itu kondisi serviks atau mulut leher rahim mulai membuka dan lunak/tidak kaku, hingga relatif mudah dipasangi. Selain dianjurkan untuk bersikap relaks untuk mengurangi rasa sakit yang mungkin muncul.

Selain itu, ada sejumlah “syarat” yang mesti dipatuhi di hari-hari awal setelah pemasangan, di antaranya tak melakukan hubungan suami istri selama seminggu atau minimal 2-3 hari pertama. Sebab, spotting akibat pemasangan spiral biasanya akan keluar selama 2-3 hari. “Bila sudah tidak ada flek tadi, boleh-boleh saja berhubungan intim walau belum seminggu.” Sedapat mungkin disarankan pula untuk tidak melakukan aktivitas kerja yang berat-berat, seperti menggendong. Lain halnya, terang Agus, jika memang tak ada keluhan. “Kerja seperti biasa, silakan saja.”

Selama pemasangannya tepat dan sesuai ukurannya (tidak kekecilan/kebesaran), tak akan ada masalah. Kalaupun pemasangannya tak terlalu dalam, memang tidak tertutup kemungkinan spiral akan keluar spontan atau mengalami eksklusi dari kemaluan. Tapi tak usah khawatir. Sebelum spiral dipasang, bidan/dokter kebidanan akan mengukur besar-kecilnya rahim ibu di samping mencari tahu bagaimana arah rahimnya, apakah retrofleksi (lekukan ke belakang) atau antofleksi (lekukan ke depan). Pemeriksaan akan dilakukan dengan sonde steril yang terbuat dari logam atau plastik untuk mengukur “kedalaman” rahim si ibu. Kedalamam rahim wanita Indonesia normalnya berkisar antara 5-6,5 cm.

Nah, bila sudah ketahuan berapa besar dan bagaimana bentuk rahimnya, si ibu akan diminta memilih jenis dan ukuran spiral yang sesuai, sekitar 3/4 dari ukuran kedalaman rahim. Untuk yang rahimnya pendek, terang Agus, tentu tak bisa memakai spiral berukuran besar atau panjang. Sebaliknya, yang rahimnya panjang tentu tak sesuai pula jika dipasangi spiral berukuran kecil.

Bila ketidaksesuaian itu tetap dipaksakan, tegas Agus, tentu saja tak memberi manfaat sama sekali. “Malah bisa-bisa berdampak buruk. Misalnya spiral lepas atau ‘lari’ dari tempatnya semula. Dampak lebih jauh, IUD menusuk dinding rongga rahim dan menimbulkan perlukaan.”

PERLU PENGERTIAN SUAMI

Keluhan lain yang umumnya diutarakan adalah keputihan, padahal sebelumnya tak pernah dialami. “Sebenarnya, keputihan pada wanita dewasa, normal, kok.” Apalagi, lanjut Agus, spiral termasuk kategori benda asing dalam tubuh, yang otomatis akan memicu keluarnya keputihan. Bisa jadi keputihan tersebut akibat pengaruh iritasi spiral maupun benangnya.

Padahal benang itu pun, sambung Agus, bukan tanpa makna. Soalnya, lewat benang itulah dokter/bidan bisa mengontrol apakah posisi spiralnya masih bagus atau tidak. “Nah, kalau benangnya dipotong habis tentu akan menyulitkan pengontrolan, dong.”

Yang justru perlu diwaspadai adalah justru bila keputihan itu sudah dibarengi rasa gatal, atau berubah warna menjadi kekuningan atau bahkan kehijauan. “Apalagi bila disertai bau menusuk, berarti sudah terjadi infeksi dan butuh penanganan tersendiri.”

Pada banyak pasangan, tutur Agus, benang ini memang kerap dirasakan sebagai gangguan saat mereka berhubungan intim. Namun demikian, sifatnya sangat individual. “Toh, vagina wanita, kan, sifatnya elastis banget. Meski vaginanya tergolong pendek, misalnya, penis yang panjang pun bisa masuk. Jadi, apalah artinya selembar benang tipis. Hingga kalaupun awalnya terasa mengganggu, ya, pengertian dari suami amat diminta.”

HARUS HATI-HATI

Awalnya, bentuk spiral yang terkenal hanyalah Lippes Loop yang menyerupai huruf S. Tapi kini jarang diproduksi karena diduga menimbulkan lebih banyak flek. Meski sebetulnya bentuk ini menguntungkan karena bisa dipakai untuk selamanya.

“Yang sekarang banyak digunakan adalah Cooper T yang terbuat dari tembaga. Selain tidak menimbulkan alergi, tembaga diyakini bisa membunuh sperma, hingga manfaatnya untuk ber-KB jadi berlipat ganda.” Hanya saja, jangka waktu efektivitasnya cuma 5-8 tahun karena lebih lama dari itu efek ketembagaannya akan hilang. Hingga kalau spiralnya tidak diganti dengan yang baru, program KB-nya akan mengundang kegagalan.

Selama jangka waktu 5-8 tahun tadi, akseptor diminta untuk selalu kontrol setidaknya 6 bulan sekali setelah melewati kontrol-kontrol awal yang seminggu, sebulan, dan 3 bulan. “Ya, tak apa juga, sih, kalau lupa sampai setahun. Dengan catatan, tak ada keluhan apa-apa.”

Kendati begitu Agus tak memungkiri suburnya cerita-cerita menyeramkan seputar pemasangan IUD atau spiral. Semisal pendarahan, kebobolan ber-KB, atau malah cerita tentang spiral yang konon menempel di kepala janin. Boleh dibilang itu merupakan efek samping atau katakanlah komplikasi pemasangan spiral. Hal-hal semacam itu mungkin saja terjadi akibat pemasangan yang kurang tepat, hingga efektivitas ber-KB-nya tak maksimal, lalu terjadi kehamilan. “Hanya saja angka kejadiannya relatif sangat kecil.”

Kesalahan-kesalahan tersebut bisa juga karena kondisi si ibu sedang tidak fit. Semisal sedang demam, hingga biasanya dokter akan menganjurkan untuk memasang spiral lain waktu saja. Bisa saja akibat pemasangan yang salah atau kurang hati-hati, hingga terjadi perforasi atau jebolnya dinding rahim. “Kemungkinan lain, rahim si ibu terlampau lunak karena habis melahirkan atau bekas operasi sesar.”

Padahal, tutur Agus, bila perforasi atau lubang pada dinding rahim sudah telanjur terjadi, akan terjadi perdarahan. “Perlu waktu lama untuk proses penyembuhannya. Bahkan kalau perdarahannya hebat, lama-lama terjadi perdarahan di rongga perut. Kalau sudah terjadi begitu, ya, solusinya harus dengan laparatomi atau operasi membuka dinding perut. Ini, kan, fatal sekali.”

TUNGGU 2-3 BULAN

Untuk menghindari hal-hal semacam itu, tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah pemasangan yang hati-hati, plus keterbukaan dari pasien. Misalnya, fakta bahwa dia habis melahirkan sesar. Dokter pun akan selalu menyarankan pemasangan spiral 2-3 bulan setelah melahirkan. “Karena rahim akan betul-betul pulih ke bentuk atau ukuran normal memerlukan waktu sekitar 3 bulan.” Jadi, kalaupun setelah 40 hari langsung ingin ber-KB lantaran takut kecolongan, “Pilihlah alat ber-KB lainnya seperti suntik yang tidak mempengaruhi produksi ASI.” Lain hal kalau melahirkan pervaginam atau spontan yang bisa langsung pasang IUD setelah 40 hari.

Umumnya, jika aturan tersebut dipenuhi, menurut Agus, spiral relatif aman untuk siapa saja. Termasuk mereka yang tak bisa menggunakan KB hormonal seperti suntik dan pil, yakni penderita varises, hipertensi, dan diabetes mellitus. Bahkan tak mengurangi produksi ASI sedikit pun. “Yang justru jadi kontraindikasi pemasangan spiral adalah perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya. Semisal siklus menstruasi yang kacau atau ada perdarahan di luar siklus menstruasi. Ibu yang bersangkutan tidak diperbolehkan pasang spiral sampai dokter tahu apa penyebab perdarahan tak wajar tadi.”

Kontraindikasi lain adalah peradangan semisal servisitis/radang servik atau infeksi rahim yang bisa terlacak dari keputihan. “Jika pada kondisi semacam itu tetap dipasangi spiral, dikhawatirkan akan memperparah radang atau infeksi yang sudah ada, semisal endometritis ataupun infeksi kandung kemih.” Infeksi pun bisa saja terjadi akibat tak disiplin dalam hal kontrol atau mengabaikan keluhan yang muncul. Bila sudah demikian disarankan agar spiral yang sudah dipasang untuk sementara waktu diangkat dulu sambil menunggu penyembuhan.

Jadi, cerita-cerita menyeramkan seputar pemasangan spiral, kata Agus, sebetulnya tak perlu kelewat dibesar-besarkan. “Kan, itu cuma kasuistik. Enggak bisa digeneralisir. Lagi pula, angka kegagalannya relatif sangat sedikit, sekitar 3 persen dibandingkan 97 persen yang berhasil. Toh, sterilisasi berupa tubektomi ataupun vasektomi saja masih berpeluang gagal. Karena cara ber-KB apa pun, memang tak ada yang menjamin keberhasilan 100 persen.”

Soal kualitas pemasangan antara dokter dan bidan, Agus mengakui tak ada bedanya. “Itu, kan, termasuk pekerjaan yang mudah. Apalagi para bidan pun sering mendapat pelatihan untuk melakukan hal itu.” Begitu juga perihal masa kadaluarsa tak perlu dicemaskan karena setiap unit spiral dijamin steril dalam kemasannya. Sama halnya seperti obat, di setiap kemasannya tercantum tanggal kadaluarsa yang bisa dilihat langsung oleh pasien. Nah, tak perlu ragu dan khawatir lagi, kan?

Suami Sebaiknya Terlibat

Justru yang disarankan Agus, calon akseptor melibatkan suaminya sejak awal. Artinya, dokter/bidan akan bicara langsung dengan suami-istri. Termasuk menanyakan kira-kira ingin memiliki anak berapa lama lagi. Pasangan itu sendirilah yang akan menentukan pilihan, apakah mereka akan menunda kehamilan, menjarangkan, atau tak mau lagi punya anak.

Untuk mereka yang hanya ingin menunda biasanya akan disodorkan jenis alat KB yang terbilang ringan semisal kondom, krem atau jeli khusus untuk membunuh sperma, juga dianjurkan untuk pantang berkala maupun koitus terputus. Tentu saja cara KB dua jenis terakhir ini tingkat kegagalannya termasuk tinggi dan perlu kepatuhan/kedisiplinan akseptor.

Sedangkan yang hanya ingin menjarangkan kelahiran, pilihannya bisa spiral, pil, dan suntik. Sementara yang tak lagi mengharapkan kehadiran tambahan anak bisa memilih sterilisasi.

“Khusus untuk spiral, pilihan ragamnya bisa yang terbuat dari plastik hingga bersifat lebih lunak meski harganya 2 kali lebih mahal atau yang terbuat dari tembaga dengan tingkat efektivitas yang sama.” Pilihan tentu terpulang pada keinginan, kesesuaian dengan rahim, dan kondisi keuangan.

Bahkan untuk menghindari rasa rikuh/malu pada calon akseptor lantaran dokter kandungan umumnya laki-laki, biasanya saat pemasangan spiral, dokter akan ditemani oleh suster atau bidan. Merekalah yang mengatur posisi si ibu. “Suami pun tidak dilarang, kok, untuk menemani istrinya.”

Upaya-upaya semacam itu perlu ditempuh agar para suami betul-betul terlibat. Dengan begitu diharapkan tak lagi terdengar alasan-alasan mereka untuk keberatan istrinya menggunakan spiral. Apa pun keputusan ber-KB, memang harus merupakan kesepakatan suami-istri.

 Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 133/30 September 2001
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: