TANAMAN HERBAL ATASI GANGGUAN SEKSUAL

28 Feb


Sederet alternatif pengobatan ditawarkan untuk mengatasi gangguan seksual. Salah satunya adalah tumbuhan obat.

“Dok, saya sedih dan merasa bersalah. Sekian tahun berumah tangga, kok, istri saya enggak pernah orgasme,” keluh seorang suami yang mengalami gangguan ejakulasi dini. Sementara suami lain mengeluhkan alat kejantanannya yang ternyata tak kelewat jantan.

Apa pun jenis gangguan seksual yang dialami pria atau wanita, papar Prof. Dr. dr. Wimpie I. Pangkahila, Sp. And., FAACS, dalam sebuah seminar yang diadakan majalah Intisari beberapa waktu lalu, dapat mengakibatkan disharmoni kehidupan seksual. Artinya, bukan cuma menimbulkan kekecewaan pada si pria, tapi juga bisa mengakibatkan gangguan fungsi seksual pada istrinya. Begitu juga sebaliknya.

HATI-HATI DENGAN OBAT

Padahal, tutur Wimpie,mereka yang mengalami gangguan ini ternyata cukup tinggi. Dari sekitar 4.135 wanita menikah yang datang berkonsultasi padanya, sekitar 25-50 persen mengalami disfungsi seksual. Dari jumlah tersebut, sebanyak 55,7 persen mengaku tidak pernah mengalami orgasme dan 12,7 persen jarang merasakannya karena berbagai gangguan.

Gangguan-gangguan fungsi seksual tersebut, lanjut Wimpie, pada dasarnya dapat disebabkan oleh faktor fisik dan psikis. Yang termasuk faktor fisik adalah semua penyebab berupa gangguan fisik atau penyakit yang berpengaruh terhadap fungsi seksual. Sedangkan faktor psikis adalah semua penyebab yang secara kejiwaan dapat mengganggu reaksi seksual terhadap pasangannya hingga fungsi seksual mereka terganggu.

Faktor fisik sendiri dapat dikelompokkan menjadi faktor hormon, saraf, pembuluh darah, dan otot. Faktor hormon, ujar Wimpie mencontohkan, adalah rendahnya kadar hormon tiroid dan meningkatnya kadar hormon prolaktin yang merangsang sekresi ASI, yang membuat wanita menyusui umumnya kehilangan gairah seksual. Sedangkan yang termasuk faktor saraf di antaranya gangguan bagian otak yang mengontrol ereksi. Sementara faktor otot, semisal berkurangnya sel-sel otot polos pada penis.

Selain itu, “Pemakaian sejumlah obat tertentu juga perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan gangguan fungsi ereksi.” Di antaranya, obat psikotropik, obat antidepresan, serta obat yang digolongkan sebagai recreational drugs seperti alkohol, mariyuana, dan nikotin. Begitu juga beberapa jenis operasi semisal operasi otak, tulang belakang dan pengangkatan buah pelir, dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Ada pun faktor psikis mencakup semua periode kehidupan individu: kanak-kanak, remaja dan dewasa. Sementara berbagai faktor kehidupan pun ikut andil di dalamnya, yakni faktor predisposisi, presipitasi, dan pembinaan. Faktor predisposisi semisal pandangan negatif tentang seks, trauma seksual, gangguan dalam hubungan keluarga maupun tipe kepribadian. Sedangkan presipitasi semisal akibat psikis lantaran penyakit/gangguan fisik, proses penuaan, ketidaksetiaan pasangan, harapan yang berlebih, depresi dan kecemasan, maupun kehilangan pasangan yang disebut dengan widower syndrome. Itu sebab, banyak duda mengalami disfungsi ereksi selama beberapa waktu tertentu setelah kematian istrinya. Sementara yang termasuk faktor pembinaan adalah hilangnya daya tarik pasangan, ketidakharmonisan komunikasi, dan kurangnya pendidikan seks.

ANEKA PENGOBATAN

Untuk menangani disfungsi seksual, lanjut Wimpie, harus disesuaikan dengan jenis maupun penyebabnya. Pengobatan pun dikelompokkan menjadi pengobatan lini pertama berupa terapi seksual dan pemberian erektogenik per oral atau obat/bahan yang membantu mengatasi ereksi, serta pompa jerat vakum. Pengobatan lini kedua, antara lain menggunakan suntikan. Sedangkan lini ketiga dengan cara operasi berupa pemasangan protesa di dalam penis, bila pilihan lini pertama dan kedua tidak memperlihatkan hasil.

Obat oral, kendati praktis, tetap memiliki efek samping. Karena itulah para ahli terus berupaya mendapatkan obat baru. Salah satunya adalah menggali manfaat obat-obatan yang terbuat dari ekstrak tanaman yang mengandung bahan aktif tertentu yang diduga kuat dapat meningkatkan kesegaran fisik sekaligus dorongan seksual serta memperbaiki nilai ereksi dan rigiditas alias “daya cengkeram”nya.

Sementara pompa jerat vakum yang cukup efektif untuk membesarkan penis pun bukan berarti tanpa masalah. Selain rasa kesemutan yang cukup mengganggu, juga dianggap kurang praktis karena harus membawa-bawa tabung/pompa.

Akan halnya operasi, hasilnya kerap sangat mengecewakan hingga nyaris tak pernah disarankan. Sebaliknya, dengan suntikan silikon hasilnya bisa bagus tapi dampak sampingnya juga tak kalah mengerikan. Di antaranya membuat penis justru “berdiri” terus. Atau penanaman silikon di penis justru bisa merusak pembuluh darah yang berujung pada impotensi.

Tanaman-Tanaman “Penghangat”

Beruntunglah kita memiliki keanekaragaman hayati. Seperti dituturkan Dr. Niniek S. Anwar dari Dirjen POM Departemen Kesehatan, kita memiliki sekitar 30 ribu jenis tumbuhan. “Nah, 1.200 di antaranya diperkirakan merupakan tumbuhan obat.”

Adapun obat tradisional yang selama ini dipercaya mampu meningkatkan stamina tubuh, ada sekitar 220. Obat tradisional ini diyakini mengandung bahan/zat tertentu yang disebut sebagai afrodisiak. Sayangnya, khasiat dan kegunaannya masih berdasar kepercayaan dan pengalaman secara turun-temurun.

Dalam arti, bagaimana kemungkinan kerjanya belum dapat dirinci secara pasti, apakah secara hormonal atau nonhormonal. Inilah yang masih terus dikaji para ahli.

Tumbuhan yang dikenal sebagai afrodisiak di antaranya adalah ginseng (Panax ginseng)yang berasa dari Korea, pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) yang banyak dijumpai di Amuntai, Kalimantan Selatan dan di Malaysia dikenal dengan nama tongkat ali. Di daerah Pegunungan Dieng, Jawa Tengah pun dikenal tumbuhan bernama purwaceng(Pimpinella pruacen) yang secara turun-temurun digunakan masyarakat setempat untuk menghangatkan tubuh saat udara dingin sekaligus meningkatkan ketahanan/stamina tubuh dan gairah seksual.

Tumbuhan lain yang juga disebut-sebut secara empiris sebagai afrodisiak di antaranya, akar Pimpinella alpina Molk atau antanan gunung, daun dan kulit bakau (Avicennia officinalis Linn.), umbi bawang putih (Allium sativum L.), cabe merah (Capsicum annum L.), cabe Jawa (Piper retrofractum), cabe rawit (Capsicum frutesens L.), rimpang jahe(Zingiber officinale Rosc.), akar kayu rapat (Parameria leavigata Juss.), kulit akar kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), daun kumis kucing (Orthosphonis stamineus Benth), biji lada (Piper nigrum L.), buah pala (Myristicae fragran Houtt.), daun sembung (Blumea balsamifera DC.), akar sereh (Cympogon citratus DC. Staf.), daun sirih (Piper betle L.), dan rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.).

Pada beberapa tumbuhan telah dibuatkan standarisasi berdasarkan penelitian dan uji klinis dengan dosis tertentu terbukti dapat meningkatkan stamina dan memperbaiki sel-sel di daerah penis hewan yang dijadikan penelitian. Antara lain tanaman Panax Ginseng, Siberian Ginseng, Corynanthe Yohimbe. Bahkan Yohimbe telah terbukti berhasil bagi pengobatan impotensi yang disebabkan oleh gangguan vaskuler dan diabetik.

Jangan Terjebak Mitos

Kendati begitu, baik Wimpie maupun Niniek mengingatkan untuk tidak terjebak pada mitos-mitos bombastis seputar masalah seksual. Seperti makan sate pelor kambing, dan tangkur buaya. “Itu cuma mitos. Sama sekali tak benar makanan tersebut secara cespleng dapat meningkatkan kemampuan ereksi. Apalagi selama ini, kan, orang selalu mengaitkan binatang-binatang perkasa dengan kekuatan seksual.”

Orang pun kerap terjebak menganggap obat tradisional yang mengandung afrodisiak pasti dapat meningkatkan gairah seksual sekaligus mengobati gangguan seksual semisal impotensi. Padahal, berdasar beberapa penelitian, ternyata tidak semua obat tradisional sebagai afrodisiak berkhasiat mengatasi gangguan seksual. Melainkan hanya terbukti meningkatkan stamina tubuh karena meningkatkan sirkulasi darah.

Ginkobiloba, contohnya, terbukti meningkatkan sirkulasi darah pada mereka yang mengalami gangguan vertigo, tapi belum terbukti mampu meningkatkan kemampuan seksual. Jadi, manfaat tak langsung adalah karena dengan stamina terjaga, seseorang akan lebih sehat, hingga organ-organ tubuh dan organ seksualnya akan berfungsi lebih baik.

Yang juga harus diwaspadai, jangan mencampur-aduk penggunaan obat-obatan yang bersifat afrodisiak dengan bahan perangsang lain. Semisal dengan kafein yang justru bisa membahayakan penderita penyakit tertentu. Viagra yang banyak dijagokan, contohnya, justru bisa berakibat fatal bila digunakan bersamaan dengan konsumsi obat-obatan untuk jantung dan hipertensi.

Perlu diingat, gangguan seksual bermacam-macam penyebabnya. Dengan demikian, pengobatannya harus sesuai dengan penyebabnya. Tak perlu pula langsung tergiur oleh iklan-iklan menyesatkan yang jelas-jelas tak mungkin semisal memanjangkan dan memperbesar ukuran penis.Selewat masa puber, tandas Wimpie, alat penis pria pada dasarnya tak bisa lagi “diutak-atik” soal ukurannya.

Sedangkan untuk memperpanjang tenggang waktu ereksi, contohnya, bisa dilakukan dengan latihan Kegel yang relatif sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 137/28 Oktober 2001

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: