PENTINGNYA PERIKSA DALAM

9 Mar


Risih dan malu, begitu biasanya perasaan banyak ibu kala harus periksa dalam. Padahal,banyak informasi yang bisa diperoleh tentang kondisi ibu maupun janinnya.

“Ya, saya tahu, bermanfaat. Tapi rasanya, kok, risih, ya. Apalagi kalau dokternya lelaki.” Ucapan seperti ini kerap kita dengar jika bicara soal periksa dalam (PD) lewat vagina oleh dokter kandungan.Padahal, jelas dr. Sanny Santana, Sp.OG., PD merupakan salah satu bentuk pemeriksaan penting dalam kehamilan. PD dilakukan guna mengevaluasi ada-tidaknya kelainan pada keadaan jalan lahir.Misal, adakah sekat atau varises di vagina, juga polip atau tumor di mulut rahim. Nah, lewat PD, semua kelainan ini terlihat langsung.

Dengan kata lain, simpul Sanny, PD amat penting karena menjadi semacamscanning.”Jadi, kalau ada kelainan, bisa langsung terpantau dan dapat ditangani. Kehamilan pun sejak awal bisa dipantau, termasuk berisiko tinggi atau tidak.” Ini berarti, lewat PD, berbagai risiko bisa diminimal- kan. Semisal risiko perdarahan bila ibu memiliki varises di vagina atau malah “jengger ayam” yang termasuk dalam PHS (Penyakit Hubungan Seksual).

KAPASITAS PANGGUL

Teorinya, lanjut ginekolog dari Subbagian Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi RSPAD Gatot Subroto, Jakarta ini, seorang wanita hamil wajib menjalani 2 kali PD selama kehamilannya. Yang pertama dilakukan saat pertama kali datang di trimester pertama. Memang, tak semua dokter mengharuskan PD di saat ini, terlebih jika tak ada keluhan yang mengarah pada kecurigaan ada kelainan di jalan lahir.

Pemeriksaan berikut dilakukan pada trimester terakhir, tepatnya saat kehamilan 36 minggu. “Kalau PD di trimester pertama bertujuan mengevaluasi jalan lahir, yang ini lebih untuk mengevaluasi kondisi jalan lahir bila memang direncanakan melahirkan per vaginam.” Dokter juga akan menilai, apakah kapasitas panggul si ibu terbilang sempit, sedang, atau cukup luas, untuk dilalui bayi.

Bila dipastikan panggul bisa dilewati bayi dan tak ada indikasi lain yang mengharuskan sesar, maka akan ditunggu hingga kehamilan mencapai usia maksimal 42 minggu. Sedangkan jika kapasitas panggul ibu dan bayi tak seimbang (semisal bayi berukuran besar, atau ukuran bayi normal namun panggul ibu terbilang sempit), maka akan ditetapkan rencana melahirkan secara sesar 2 minggu kemudian, yakni pada usia kehamilan 38 minggu.

Selain informasi mengenai kapasitas panggul, PD pada trimester ketiga juga untuk menilai kemungkinan ada penghambat proses persalinan per vaginam. Semisal odem atau pembengkakan pada vulva.

Umumnya, jelas Sanny, ibu tak lagi merasa sakit saat diperiksa pada PD trimester ketiga. Sebab, struktur organ-organ reproduksinya sudah sedemikian lunak atau lentur. “Mungkin PD trimester pertama terasa agak sakit karenaogan-organ reproduksinya memang masih kaku.”

KEMAJUAN PERSALINAN

PD juga akan dilakukan saat ibu sudah dalam keadaan inpartus atau memasuki kala I, yakni saat mulai terasa mulas dan mengalami his secara teratur sebagai tanda akan segera melahirkan. Informasi yang diharapkan didapat pada PD kali ini mirip dengan PD di usia kehamilan 36 minggu. Bedanya,lebih spesifik mengenai kemajuan persalinan. Umpamanya, pembukaan lahir sudah sejauh mana, kepala bayi sudah turun sampai mana, masih adakah selaput ketuban sebab jika sudah pecah harus diberi tindakan.Tentu saja PD yang dilakukan ini mensyaratkan terjaminnya faktor kebersihan dari petugas medis serta alat-alat yang digunakan agar tak memicu infeksi.

Lewat PD juga bisa dinilai tentang kepala bayi. Misal, apakah sudah memutar atau belum dan sampai mana putaran tersebut karena kondisi ini akan menentukan jalannya persalinan.Kalau ubun-ubun kecil sudah menghadap ke depan, contohnya, berarti sudah turun mencapai pembukaan sekian. Sementara jika menghadap ke belakang, perlu diwaspadai, jangan-jangan posisi kepala bayi terbalik. Penanganan persalinan bakal lebih sulitdan jika pemimpin persalinan tidak sigap/cermat, bayi akan susah lahir dan si ibu pun berisiko mengalami cidera jalan lahir.

Jika dalam tenggang waktu 8 jam setelah PD, saat inpartus bayi belum lahir juga, PD berikutnya boleh dilakukan untuk mengevaluasi kemajuan persalinan itu sendiri. Jika kondisinya begitu-begitu saja,semisal masih tetap pembukaan 3 setelah 4 jam berlalu yang seharusnya diharapkan sudah mencapai pembukaan 7, tentu akan diakhiri dengan bantuan induksi supaya segera lahir. Kalau tindakan ini juga “tak mempan” berarti harus operasi sesar.

Sebaliknya, terang Sanny, PD tak perlu dilakukan lagi bila setelah sekian jam masa penantian tadi, respon si ibu sesuai dengan grafik kemajuan proses persalinannya. Di antaranya muncul perasaan ingin mengedan yang tak lagi bisa ditahan dan vulva kian melebar, yang merupakan pertanda pembukaan telah lengkap.

Harus Ada Indikasi Kuat

Jika memang diperlukan, ungkap Sanny,PD bisa dilakukan di luar kedua waktu tadi. “Pada dasarnya PD akan dilakukan sesuai kebutuhan.” Kalau di trimester kedua ibu mengeluh keputihan yang gatal, bau, dan dalam jumlah banyak, misal, harus dicurigai ada infeksi jamur atau gangguan lain. Nah, berdasar keluhan tadi, PD dilakukan untuk menilai seberapa banyak lendir keputihan berada di jalan lahir, sekaligus memastikan apakah keputihan tersebut fisiologis atau patologis yang perwujudannya mirip susu basi.

PD juga dilakukan bila terjadi perdarahan yang seharusnya tak boleh terjadi selama kehamilan. “Meski cuma setetes, harus dicari dari mana sumbernya hingga bisa ditentukan bentuk pertolongannya.” Perdarahan dari mulut rahim akibat laserasi mulut rahim tentu relatif lebih aman dibanding perdarahan dari rahim yang bisa mengancam kehamilan.

Perkaya Diri Dengan Informasi

Menurut psikolog Lila Pratiwi, rasa risih dan tak nyaman wajar dialami pasien kebidanan. Hanya saja bisa diminimalkan bila yang bersangkutan percaya,tindakan yang dilakukan dokter yang menanganinya sesuai dengan profesi dan etika kedokteran.

Pasien, lanjut Lila,perlu menyiapkandiri dengan mencari kejelasan informasi. “Lewat bacaan atau bertanya pada ahlinya, misal.” Dokter pun, harap Lila, jangan menganggap pasien hanya sebagai objek semata. Sebelum melakukan PD, misal, beri penjelasan pada pasien mengenai tujuan tindakan tersebut. Berbekal pengetahuan dan kerjasama semacam itu, si ibu biasanya akan bersedia menjalani prosedur pemeriksaan apa pun dengan penuh kesadaran demi kebaikan dirinya serta lebih percaya diri menjalani PD.

Belum Ada Pemeriksaan Pengganti

Sayangnya, tandas Sanny, sampai saat ini tak ada alat secanggih apa pun yang bisa menggantikan fungsi PD. Pemeriksaan USG, contohnya, hanya bisa diandalkan untuk mengevaluasi kesejahteraan janin maupun kondisi uterus. Sementara kondisi mulut rahim itu sendiri tak bisa dinilai lewat pemeriksaan USG.

Yang jelas,untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang akurat, jam terbang alias pengalaman dan kecermatan dokter amat menentukan dalam melakukan PD.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 161/4 Mei 2002

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: