VAKSINASI UNTUK IBU HAMIL

9 Mar


Meski bertujuan membentuk kekebalan tubuh, vaksinasi tak bisa sembarangan diberikan pada ibu hamil.

Menurut dr. Chairulsjah Sjahruddin, SpOG, MARS,, vaksinasi buat ibu hamil yang lazim dilakukan di Indonesia cuma TT (Tetanus Toksoid). Itu pun, tegas ginekolog dari RSIA Hermina Jatinegara, Jakarta ini, dilakukan sekali sebelum hamil dan sekali lagi seharusnya dilakukan malah sebelum menikah. Kalau sebelum nikah atau sebelum hamil belum pernah mendapat vaksinasi ini, berarti saat hamil si ibu harus memperoleh suntikan TT sebanyak dua kali. Yakni selagi hamil muda dan sebulan kemudian. “Yang penting 2 bulan sebelum melahirkan si ibu sudah komplet mendapatkan ‘paket’ suntikan ini.”

Sebab, jika lewat dari waktu itu atau malah sudah dekat waktu melahirkan, kemungkinan besar belum sempat terbentuk antibodi atau daya imunitas untuk memerangi tetanus yang mungkin menerpa saat melahirkan.

DIANGGAP HARUS KB

Ironisnya, kendati sudah dicanangkan pemerintah melalui Departemen Kesehatan, banyak pasangan muda yang justru menghindarinya. Selidik punya selidik, bilang Chairulsjah, ternyata sekitar 90 persen dari mereka ini menganggap, langkah pemerintah untuk menihilkan angka kejadian tetanus tersebut justru sebagai penghambat kehamilan alias keharusan ber-KB!”Boleh jadi karena dulu pemerintah terlalu gencar menggalakkan program KB,hingga semua upaya dari pemerintah ‘dicap’ sebagai media ber-KB.”

Dari sekian banyak pasiennya, mayoritas memang mengaku tak mau disuntik TT dengan alasan takut bakal susah punya anak. Padahal, dengan cepat berkeluarga mereka berharap cepat pula memperoleh momongan. Hingga, tandasnya, “Diperlukan upaya semua pihak untuk melakukan re-education pada masyarakat bahwa pemberian suntikan/vaksinasi TT justru diperlukan untuk menjaga janinnya kalau dalam waktu dekat langsung hamil si ibu sudah mendapat daya imunitas terhadap tetanus.”

Dengan pemberian vaksinasi TT menjelang nikah diharapkan bila yang bersangkutan tak disuntik lagi selama kehamilannya, minimal sudah terbentuk kekebalan dalam dirinya. Kalaupun harus diberikan dua kali tak lain agar imunitas yang terbentuk diharapkan bisa memberi respons terhadap serangan infeksi yang mungkin terjadi saat persalinan.

Pertimbangan utama yang membuat vaksinasi TT bisa diberikan pada ibu hamil, jelas Chairulsjah, karena vaksinasi ini ada yang terbuat dari protein tertentu hingga aman dan bisa diberikan pada ibu hamil. Tidak seperti vaksinasi lainnya semisal rubella, varicella, meningitis, tokso ataupun vaksinasi lain yang tak boleh diberikan pada ibu hamil karena merupakan virus yang dilemahkan hingga terlarang untuk diberikan karena dikhawatirkan malah mengganggu atau merusak kehamilan.Itu sebabnya, tandas Chairulsjah, tidak ada jenis vaksinasi lain yang bisa diberikan selain TT yang harus diberikan sebelum hamil.

MESTI LANGSUNG BER-KB

Sementara untuk vaksinasi lain, semisal TORCH tak disarankan dilakukan dalam keadaan hamil. Agar lebih safe sekaligus untuk menghindari dampak merugikan/membahayakan, mereka yang mendapat vaksinasi TORCH, minimal 3 bulan setelah suntik, justru tak diperbolehkan hamil dan disarankan langsung ber-KB untuk sementara waktu. Sebab jika sampai hamil sebelum tenggang waktu tersebut, ditakutkan virus TORCH yang ganas ini bisa menimbulkan kecacatan pada bayi, sekalipun sudah dilemahkan. Kendati boleh jadi terhadap si ibu, virus dalam vaksin tadi tak memberi reaksi berarti karena tubuhnya sudah memperoleh kekebalan.

Berbeda dengan campak/varicella pada anak-anak. Bila sudah pernah terinfeksi, kekebalannya boleh dibilang seumur hidup. Dalam arti, kalau sudah terkena penyakit tersebut tidak akan terkena lagi. Sementara rubella, kendati sudah pernah divaksin semasa kanak-kanak, belum tentu “aman” dari ancaman penyakit ini saat menikah kelak. Begitu juga halnya dengan vaksinasi untuk kasus-kasus TORCH. Kekebalan yang terbentuk hanya akan melindungi untuk waktu-waktu tertentu saja. Hingga bisa saja ketika daya tahan tubuhnya menurun, yang bersangkutan terkena meski sudah mendapat vaksinasi.

Memang, jelas Chairulsjah, hampir semua jenis vaksin memiliki virulensi (kemampuan menginfektir/menimbulkan infeksi pada orang) sangat lemah. Sementara pada prinsipnya, tubuh individu yang bersangkutan sendiri akan membentuk sistem kekebalan saat virus serupa menyerang.

Semisal, kala terserang pilek atau sakit-sakit lain dalam “kadar” ringan/biasa. Dengan begitu, saat terserang penyakit yang sama dalam porsi yang lebih berat sekalipun, tubuh telah memiliki antibodinya.

Kendati begitu, ibu yang pernah sakit kuning di masa kecilnya harus lebih berhati-hati. Artinya, bukan tidak mungkin dulu ia cuma terkena hepatitis tipe A yang tidak terlalu menimbulkan masalah dibanding hepatitis jenis B maupun C yang pasti membutuhkan penanganan berbeda karena dampak yang ditimbulkan pun berbeda. Sebabnya, kata Chairulsjah, dalam kepustakaan disebutkan setiap orang yang pernah terkena sakit kuning semasa kecil dalam kurun waktu 5-15 tahun mendatang berisiko mengalami sirosis atau pengerasan hati. “Ini terbilang fatal dan bisa berakhir dengan kematian.”

Karena itu,ibu hamil yang ketahuan positif terinfeksi hepatitis atau punya lingkungan yang rawan, semisal tinggal serumah dengan pengidap hepatitis, bayinya akan terkena infeksi serupa dalam 24 jam pertama. Apalagi hepatitis menular dan bisa ditularkan lewat sentuhan. Hingga belakangan ini kepada para ibu gencar dianjurkan untuk cek HbsAg untuk mengetahui apakah mereka mengidap atau tidak.

BERKEMUNGKINAN CACAT

Sayangnya, imbuh Chairulsjah, pemberian vaksinasi tanpa melalui plasenta juga tidak mungkin karena vaksinasi apa pun pasti akan melalui aliran darah si ibu menuju janinnya. Bahkan di awal kehamilan (usia 2-8 minggu yang kerap disebut masa embriologi), belum ada barrier/penghalang karena plasenta pun belum terbentuk. Saat itu plasenta masih berbentuk desidua yang bisa dilewati kuman atau virus apa saja. Hingga sangat rawan terhadap berbagai kemungkinan cacat yang muncul akibat serangan kuman atau virus yang masuk tadi.

Kendati begitu, bukan berarti setelah terbentuk plasenta pada kehamilan usia 4-5 bulan, lantas masuknya “bahaya” tadi tidak menimbulkan masalah, lo. Paling tidak, bisa terhambat karena plasenta sudah berfungsi sebagai barier yang menghadang masuknya kuman-kuman. Itulah mengapa kalaupun pemberian vaksinasi TT yang pertama terlambat diberikan, lantas dipaksakan masuk sesudah usia kehamilan cukup tua, “Nyaris tak ada gunanya lagi karena sudah terlalu dekat dengan waktu persalinan sementara kekebalan tubuh yang diharapkan boleh jadi belum terbentuk.”

Selain itu, didasari pula pada pertimbangan dari berbagai penelitian bahwa pemberian vaksinasi apa pun tetap memberikan dampak yang merugikan terhadap janin. “Riskan sekali, kan, kalau vaksinasi yang kita maksudkan memberi kekebalan pada si ibu malah berkemungkinan menimbulkan kecacatan bayi. Terlebih jenis Tokso, Rubella, dan Citomegalo yang sama bahayanya untuk janin muda usia maupun janin siap lahir,” jelas Chairulsjah. Sebab, virus jenis ini sasaran utamanya adalah daerah otak. Bisa jadi karena sawar penolak jaringannya sangat minim, hingga kepala memang teramat rawan terhadap berbagai kemungkinan infeksi. “Apalagi otak, kan, merupakan pusat susunan syaraf sekaligus pusat pengendali semua aktivitas tubuh. Hingga bisa saja tidak tampak cacat, tapi si bayi mengalami ketulian atau katarak kongenital yang membuat padangannya kabur.”

Celakanya, kecacatan semacam itu baru tampak di kemudian hari saat anak berusia 3-4 tahun. Infeksi yang sudah ada sejak dalam rahim tapi dampaknya baru terlihat belakangan semacam ini disebut infeksi intrauterine yang merupakan salah satu dampak buruk akibat infeksi golongan TORCH.

PENAPISAN SELEKTIF

Sedangkan bila TORCH sudah mengenai ibu yang hamil, akan lebih sulit lagi upaya penyelamatan terhadap ibu maupun janinnya. Jika diberikan obat pun saat sudah terkena, tak lain hanya untuk mencegah tingkat keparahan/progresivitasnya. Sementara mengurangi atau malah menghilangkannya, nyaris mustahil. Bagusnya, terang Chairulsjah, kuman-kuman golongan berbahaya ini jika mengenai si ibu di awal-awal kehamilan biasanya akan menyebabkan abortus spontan. Hingga boleh dibilang si ibu maupun janinnya “terselamatkan”.

Sebaliknya, kalau abortus tidak terjadi berarti infeksi tersebut berlangsung terus. Terutama jika setelah periksa laboratorium, IgM-nya positif, maka dipastikan yang bersangkutan terinfeksi penyakit tertentu. Sementara kalau hanya IgG-nya yang positif berarti dulu dia pernah terinfeksi, namun sekarang tidak lagi. Jika suatu saat nanti diadakan pemeriksaan kembali terjadi peningkatan IgG yang bermakna berarti terjadi infeksi ulang.

Kendati begitu, IgM dan IgG yang positif bukan merupakan indikator utama yang mengharuskan seseorang dianjurkan mendapat vaksinasi atau tidak mengingat mahalnya biaya vaksinasi tertentu ini. Semisal biaya untuk TORCH yang mencapai Rp 1 juta lebih. Hingga para ginekolog umumnya akan mengadakan penapisan selektif hanya pada mereka yang berkemungkinan terkena infeksi tersebut.

Artinya, mereka yang karena kebiasaan maupun pekerjaan memang berisiko besar terhadap kemungkinan penyakit tersebut. Semisal yang bersangkutan harus bersentuhan dengan tanah atau binatang tertentu yang merupakan media virus tertentu, kendati penyebab penyakit sebetulnya ada di mana saja dan tak bisa diketahui dengan mata telanjang. Toh, mereka yang diduga berkemungkinan terinfeksi ini prosentasenya jauh lebih sedikit dibanding mereka yang “aman”. “Lain cerita kalau mereka punya uang dan ingin periksa sekadar ingin tahu, ya, silakan.”

TINDAKAN ANTISIPATIF

Seperti halnya pada balita, kondisi ibu saat pemberian vaksinasi pun harus dalam keadaan fit. Hingga bila sedang pilek atau tak enak badan, sebaiknya ditunda saja. Begitu juga reaksi sesaat yang muncul seperti demam. Apa pun, Chairulsjah mengingatkan, membangun sistem kekebalan tubuh yang prima dengan membiasakan hidup sehat jauh lebih baik hasilnya ketimbang upaya membangun kekebalan tubuh lewat vaksinasi.

Toh, kata Chairulsjah, bentuk antisipasi untuk menghindari rubella, contohnya, bisa dilakukan relatif amat sederhana. Semisal ibu hamil agar menjauhi makanan setengah matang atau malah tak dimasak sama sekali. “Meski angka kejadiannya sangat jarang di Indonesia, ada baiknya dicegah.” Begitu juga saat makan buah sebaiknya kulitnya dikupas dan biasakan cuci bersih kedua tangan dengan sabun sebelum makan maupun menyentuh/mengolah bahan-bahan makanan. “Bukankah tetap berlaku slogan ‘Lebih baik mencegah ketimbang mengobati’?”

Begitu juga dengan prinsip pemeriksaan sepanjang kehamilan setiap 3 bulan, sebulan, 2 minggu sekali kemudian meningkat jadi seminggu sekali di minggu-minggu terakhir kehamilan. “Sasaran pemeriksaan antenatal, kan, untuk menjaga agar wanita hamil lebih sehat dibanding sewaktu tidak/belum hamil. Dengan kondisi yang sehat, otomatis sistem kekebalan tubuhnya secara keseluruhan jadi bagus.” Pertimbangan lain adalah untuk mendeteksi secara dini apabila terjadi kelainan-kelainan/penyakit yang mungkin menyerang si ibu. Selain agar si ibu dapat melahirkan dengan sehat, baik ibu maupun bayinya sehat secara fisik dan mental.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si kecil/edisi 144/5 Januari 2002

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: