BELAJAR SEPEDA RODA TIGA

24 Feb


Nyaris tak ada anak batita yang tak suka sepeda roda tiga. Meski belum mampu mengendarainya, si kecil pasti ingin mencobanya. Jangan dilarang, lo, karena ternyata ada kaitannya dengan kecerdasan.

Jika kondisi keuangan memang memungkinkan, kita perlu membeli sepeda roda tiga buat si kecil. Soalnya, kata psikolog Lidia L. Hidajat, MPH, lewat permainan yang satu ini, si kecil bisa belajar banyak. “Selain melatih otot-otot tubuhnya aktif bergerak hingga penguasaan gerakan kasarnya atau kemampuan motorik kasarnya makin berkembang, juga koordinasi alat-alat indranya kian matang dan kesempatannya bereksplorasi pun tambah meluas.” Dengan demikian kemampuan berpikirnya juga kian terasah, yang berarti pula meningkatkan kecerdasannya.

Bukankah kala berada di atas sadel, si kecil dituntut banyak berpikir? Dari berpikir di mana ia harus menempatkan kaki dan tangannya serta berat tubuhnya secara pas agar tak terjatuh, bagaimana cara mengayuh pedal dengan kakinya agar sepeda bisa bergerak maju, hingga cara memegang kemudi dan mengatur arah agar bisa tetap lurus, serta kapan saatnya harus belok kiri atau kanan.

Tak hanya itu, si kecil pun jadi belajar berpikir “ilmiah” karena dari pengalamannya belajar naik sepeda akan memunculkan banyak tanya di benaknya. Misal, “Kalau aku dorong, kok, rodanya muter, ya? Tapi kalau aku diemin aja, kenapa rodanya enggak bergerak, sih? Terus kalau aku nggenjotnya kenceng-kenceng, kemarin aku nabraktembok. Kenapa bisa begitu, ya?”, dan sebagainya. Hingga, ia makin terangsang untuk terus berpikir dan mengembangkan wawasannya. Nah, jadi cerdas, kan?

BAROMETER PERKEMBANGAN LAIN

Yang jelas, Bu-Pak, dengan si kecil melatih kemampuan motorik kasarnya, maka perkembangan fisik, mental, dan sosialnya akan berjalan seiring dan saling mendukung. Soalnya, dengan fisik yang bagus, ia punya kesempatan bereksplorasi lebih banyak. Selain itu, anak yang sehat biasanya akan merasa perlu dan selalu bergerak. Nah, hal ini, kan, amat mendukung perkembangan mental dan sosialnya dibanding anak yang tak banyak bergerak alias pasif. Dengan demikian, diharapkan perkembangan mental dan sosialnya juga bagus.

Berdasarkan tes tertentu, ungkap Lidia, penguasaan motorik kasar malah bisa dijadikan barometer untuk mengamati perkembangan/kemampuan anak selanjutnya. “Mereka yang tak mengalami hambatan dalam penguasaan kemampuan ini, diharapkan tak mengalami masalah dalam perkembangan bahasa maupun kemampuan bersosialisasi dan kematangan kepribadiannya,” tutur pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta ini. Pasalnya, perasaan mampu pada tiap orang akan meningkatkan rasa percaya diri dan harga dirinya sebagai individu.

Jadi, jangan mentang-mentang si kecil masih batita kita lantas melarangnya belajar sepeda roda tiga karena takut ia terluka lantaran terjatuh, atau malah melecehkannya, , “Adek, kan, masih kecil, mana bisa naik sepeda? Tuh, lihat, kaki Adek aja belum nyentuhke pedalnya!” Wong, kemampuannya memang belum sampai di situ, kok. Justru itu ia perlu belajar dan diajarkan agar memiliki kemampuan tersebut dan optimal perkembangannya.

Bukan berarti kita lantas memaksakan diri membelikan si kecil sepeda roda tiga, lo, sementara kondisi keuangan tidak memungkinkan. Toh, masih banyak cara bisa dilakukan untuk melatih si kecil mengoptimalkan kemampuan motorik kasarnya. Salah satunya, latihan berjalan di atas titian berupa tali yang kita bentangkan di lantai. Awalnya mungkin ia gagal atau menemui kesulitan saat melewati titian ini, tak mengapa. Dengan banyak berlatih, lama-lama ia bisa dengan mudah melaluinya.

Latihan lain, ajak si kecil mencoba berdiri dengan salah satu kaki selama 5-10 detik. Tentu awalnya sambil kita pegangi atau ia berpegangan pada dinding/kursi. Selanjutnya, minta ia lakukan hal tersebut tanpa berpegangan selama 1-2 detik. Latihan ini, terang Lidia, selain melatih keseimbangan/koordinasi tubuh, juga baik untuk menguatkan dan membiasakan otot-otot kaki menopang beban tubuh.

Namun perlu diingat, penguasaan kemampuan motorik kasar memiliki jenjang/tingkatan tersendiri. “Untuk bisa menguasai gerakan yang menggunakan alat, biasanya anak sudah punya kematangan pada gerakan-gerakan serupa tanpa alat,” terang Lidia. Atau, sebelum mampu menguasai gerakan majemuk, ia harus mampu dulu menguasai gerakan tunggal. Gerakan meniti, misal, hanya bisa dilakukan setelah si kecil mampu berjalan kokoh karena ia dituntut memperhatikan aspek keseimbangan tubuh.

JANGAN KELEWAT CEMAS

Perlu diketahui, pada usia batita, perkembangan motorik kasar lagi gencar-gencarnya. Itu sebab, anak usia ini akan melakukan aktivitas apa saja yang menggunakan otot-otot besarnya. Tak heran bila selalu saja ada yang bisa membuatnya sibuk bergerak ke sana ke mari. Rasanya baru saja ia sibuk menyusun balok-balok di ruang depan, tahu-tahu ia sudah asyik main lempar-lemparan bola plastik di halaman atau bahkan menapaki anak tangga menuju lantai atas.

“Umumnya, gerakan anak usia ini merupakan gerakan majemuk atau gabungan beberapa gerakan yang relatif lebih rumit dibanding gerakannya sewaktu bayi,” terang Lidia. Jika semasa bayi mayoritas gerakannya cuma sebatas gerakan tunggal yang sederhana seperti menggeliat, memiringkan badan atau berguling dan tengkurap, serta tetah atau belajar berjalan. Maka saat batita, gerakannya amat variatif dan rumit, serta menuntut ada koordinasi matang, minimal antara indra penglihatan dan pendengaran. Misal, memanjat, melompat, menaiki anak tangga, dan naik sepeda roda tiga. Nah, untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut, ambil contoh naik tangga, ia mesti berupaya menggapai anak tangga berikut, lalu mengingsutkan kaki dan berat tubuhnya ke atas sambil mempertebal keberaniannya karena anak tangga yang dinaikinya lama-kelamaan makin tinggi.

Semua gerakan tadi, selain memang disenangi anak, sekaligus juga harus dikuasainya. Sayang, banyak orang tua yang tak memahaminya. Hingga yang muncul kemudian adalah larangan demi larangan, “Jangan manjat-manjat, nanti jatuh!”, “Jangan naik tangga, nanti tergelincir!”, “Jangan lari-lari, nanti kepeleset!”, dan sebagainya. Memang, sih, gerakan-gerakannya itu tampak cukup membahayakan. Namun perlu disadari, “setiap anak itu ajaib dan punya daya survival sendiri,” ujar Lidia. Jadi, kalau sekali terbentur, misal, ingatannya untuk melindungi diri langsung terbentuk hingga akhirnya ia benar-benar memiliki kemampuan menjaga diri agar tak terbentur lagi. Hanya saja, tingkat kemampuan ini berbeda pada tiap anak: ada yang cepat dan ada yang lambat. Namun kita tetap perlu tega. Sejauh benturannya tak keras atau membahayakan dirinya, biarkan saja, deh.

Jadi, tak perlu dilarang, ya, Bu-Pak, karena larangan kita cuma akan menghambat perkembangannya. Kita pun tak usah kelewat cemas, karena kecemasan kita yang berlebihan akan menghambat dalam menumbuhkan keberanian anak untuk beraktivitas. Padahal, kemampuan motorik kasar bisa berkembang optimal hanya bila anak berani melakukannya. Yang penting, anjur Lidia, sediakan lingkungan aman dan nyaman buat si kecil bergerak bebas, kamudian dampingi ia kala melakukan aktivitasnya. Selain, kita pun perlu tahu persis karakter/kepribadian si kecil. “Kalau anaknya penakut, ya, kita harus menumbuhkan keberaniannya tanpa mendatangkan bahaya baginya. Sebaliknya, bila ia kelewat berani dan cenderung nekat, kita harus mengurangi kadar keberaniannya tapi tanpa menutup kesempatannya bereksplorasi.”

Tak kalah penting, “jangan marahi anak!” pesan Lidia. Bukan berarti kita tak boleh menegurnya, lo. Asalkan cara penyampaiannya tepat, nggak apa-apa, kok. Jika kelewat keras, baik secara verbal maupun fisik, hanya akan membuat anak takut dan kapok, lalungambek dan akhirnya betul-betul tak mau melakukannya lagi. Tentu saja, pendekatan yang pas juga amat tergantung pada karakter anak. Namun begitu, apa pun karakternya, pinta Lidia, “sampaikan teguran dengan cara akrab dan bersahabat serta nada yang memahami.” Dengan begitu, keberaniannya makin tumbuh dan rasa percaya dirinya pun berkembang.

KEBIASAAN SEJAK BAYI YANG MENGHAMBAT

Jika si kecil pasif, coba ingat-ingat lagi bagaimana perlakuan Ibu dan Bapak terhadapnya sewaktu ia masih bayi. Apakah si kecil kerap dibedong, misal? Memang, sih, maksud kita membedongnya agar si kecil merasa hangat. Namun jika kerap dibedong, kebiasaan ini akan sangat menghambat geraknya hingga ia terbiasa pasif. Begitu juga bila kita kelewat khawatir si kecil akan jatuh, lantas membentengi sekeliling boksnya dengan bantal dan guling atau kerap meletakkannya di kotak bermain, hingga gerakannya terbatas karena ke sana-sini mentok.

Jadi, aktif-pasifnya anak di usia-usia awal ikut menentukan aktif-tidaknya anak di tahap-tahap usia selanjutnya. Namun begitu, kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya, kok. Hanya saja, bilang Lidia, “kelalaian begini biasanya membutuhkaneffort atau upaya ekstra dari biasanya.” Sebab, perkembangan anak bisa diibaratkan mendirikan bangunan, sih. Kalau batu pertama yang kita letakkan cukup kokoh, maka penempatan bata kedua dan seterusnya bisa lebih mudah dan tak perlu kelewat was-was bakal roboh. Sebaliknya, bila lapisan pertama saja sudah goyah, menumpukkan batu berikutnya harus ekstra hati-hati, selain upaya keras untuk menjaga sekaligus mengokohkan bagian bawah tadi agar tak roboh atau miring.

KALA PENYAKIT MEMBATASI GERAK SI KECIL

Anak yang menderita penyakit tertentu seperti asma dan jantung memang disarankan tak boleh kelewat cape atau banyak gerak. Bukan berarti perkembangan motorik kasarnya lantas terhambat hingga kemampuan kognitifnya jadi kurang terasah, lo. Enggak juga, kok. Toh, ia masih tetap bisa melatih kemampuannya. Yang penting, waktunya lebih singkat, enggak diforsir, dan tak mengundang bahaya yang bisa berakibat fatal bagi kondisinya.

Hanya memang, bilang Lidia, dalam kondisi ekstrem, bisa terjadi akan menimbulkan frustrasi pada diri anak atau ia merasa berbeda dengan sekitarnya hingga cenderung menarik diri. Toh, ini pun bisa diatasi. Kuncinya, “selalu tumbuhkan semangat anak dan jelaskan segala keterbatasannya tadi.” Begitupun kala kita melarangnya melakukan aktivitas yang bisa membahayakan dirinya, “jelaskan dengan bahasa sederhana alasan orang tua melarangnya, lalu berikan alternatif aktivitas lain.” Bagaimanapun kitalah yang paling tahu seberapa parah kondisi si kecil dan sebatas mana ia boleh beraktivitas.

ANAK LELAKI DAN PEREMPUAN SAMA SAJA

Menurut Lidia, baik jenis aktivitas maupun porsinya tak perlu dibeda-bedakan antara anak perempuan dan laki-laki. Bahwa kapasitas perkembangan motorik kasar anak laki secara alamiah lebih besar dibanding anak perempuan, memang betul. Kendati tak sedikit anak perempuan yang lebih aktif dari anak laki-laki, apalagi di jaman yang mengglobal seperti sekarang dimana segalanya serba uniseks. “Enggak masalah, kok, anak perempuan suka memanjat atau melompat. Biarkan saja, sepanjang permainan atau aktivitas yang dilakukannya tak membahayakan atau di luar batas-batas kepantasan.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Dunia Batita/Edisi 89/27 November 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: