KATANYA CINTA, TAPI KOK SELINGKUH?

24 Feb


C
oba, deh, tanya kepada mereka yang berselingkuh, apakah masih cinta sama pasangannya? Banyak, lo, yangngakunya masih cinta. Aneh, ya? Katanya cinta, tapi, kok, berselingkuh.

“Habis, istriku nggak bisa diajak ‘gaul’. Diajak happy-happy ke kafe atau diskotik aja, enggak mau. Alasannya banyak, yang buang-buang uanglah, kasihan sama anak-anaklah, ngantuklah. Padahal aku, kan, perlu bergaul. Otomatis, lama-lama akhirnya aku jadi nggak nyambung, dong, kalau ngomong sama istri,” tutur Soni, sebut saja begitu, pengusaha muda dengan dua anak lelaki usia 5 dan 3 tahun.

Ada pula yang beralasan karena merasa terjajah oleh sikap istri yang dianggap kelewat cerewet dan judes. Bahkan, tak sedikit yang alasannya karena kebablasan sehingga perlu dimaklumi. “Ya, enggak bisa, dong! Dia sendiri, kok, yang memilih bentuk kehidupan semacam itu. Kalau kebablasan, kan, lebih karena ketidaksengajaan,” kata Zainoel B. Biran. Bukankah setiap orang harus bisa mengontrol diri dan perilakunya, termasuk mempertimbangkan risiko perbuatannya?

Mengenai kekurangan istri, “ah, itu, sih, cuma alasan yang dicari-cari. Memangnya kalau tak menemukan kekurangan istri lantas si pria enggak punya alasan maupun peluang untuk berselingkuh? Enggak juga, kan?” lanjut Bang Noel, panggilan akrab psikolog sosial dari Fakultas Psikologi UI ini.

MELANGGAR KOMITMEN

Merujuk pengalaman Bang Noel menangani klien, ketertarikan fisik menempati urutan pertama dari beragam masalah yang dikemukakan sebagai alasan. Tak heran bila yang dijadikan “sasaran” sebagai WIL biasanya wanita muda usia dengan fisik lebih menarik daripada istri. Tapi banyak juga yang mengedepankan hambatan psikis sebagai alasan berselingkuh. Misal, rasa rendah diri karena istri lebih pintar atau lebih kaya hingga yang bersangkutan merasa tak dihargai.

Disamping, anggapan dalam masyarakat yang salah kaprah, juga ikut memperbesar peluang orang berselingkuh. Sebagai contoh, pria tak pernah dipersoalkan keperjakaannya saat menikah. “Belum lagi tuntutan bahwa pria harus selalu kelihatan jantan. Makanya, begitu mengalami ketidakpuasan seks atau lainnya, pria segera mencari kemungkinan baru.” Bahkan, berdasarkan pemikiran analistik, pria ternyata memang lebih membutuhkan variasi saat menghadapi kebosanan atau objek lain yang lebih menarik, termasuk dalam urusan ranjang!

Pokoknya, ada aja alasan yang diberikan oleh para peselingkuh, termasuk ingin cari variasi. Itulah mengapa, Bang Noel amat meragukan kadar cintanya. “Kalau memang tetap cinta pada anak-istri, harus dipertanyakan cinta model apa?” ujarnya. Karena dalam perkawinan yang harmonis, tuturnya, minimal harus ada 3 aspek pokok yang saling berkaitan, yakni passion atau gairah, intimacy atau keakraban, dan komitmen berupa norma-norma sosial serta agama. “Nah, jika dia berselingkuh, kan, berarti dia melanggar tiga aspek tersebut, termasuk komitmen terhadap Yang Di Atas seperti yang disebut-sebut dalam janji nikah,” tandasnya.

TAK PERLU MERENGEK

Meledak marah atau sebaliknya bersikap diam seribu bahasa, jelas tak akan memecahkan masalah. Apalagi kalau Anda malah memilih balas dendam sebagai jalan pintas, “Huh, memangnya cuma dia yang bisa nyeleweng! Aku masih menarik dan bisa juga, kok!” Kalau ini yang terjadi, “Ya, kacau, dong!” tukas Bang Noel seraya melanjutkan, “Siapa nanti yang mau peduli dan mengurusi anak-anak?” Menurutnya, istri model ini sebenarnya cuma menunggu kesempatan untuk mencari pembenaran diri. Soalnya, tak tertutup kemungkinan ia memang ingin atau boleh jadi sudah lama terlibat perselingkuhan serupa.

Jangan pula menyalahkan diri sendiri bila selama ini Anda memang sudah berusaha maksimal menjalankan peran Anda dalam keluarga. “Istri boleh saja sesaat merasa dikhianati dan dicampakkan, tapi jangan pernah menunjukkan sikap memelas hanya lantaran takut berpisah dengan suami.” Apalagi sampai terkesan merengek minta dikasihani seolah mengatakan, “Jangan tinggalkan saya dan anak-anak, dong, Mas. Kalau Mas pergi, siapa yang menafkahi anak?” Bila hal-hal semacam ini Anda gunakan sebagai “senjata” untuk mengikatnya, justru akan membuatnya bersikap makin seenaknya. “Makanya, para istri sebaiknya tak pernah menggantungkan nasib pada suami atau siapapun,” ujar Bang Noel.

Hal lain yang harus dihindari, jangan pernah membicarakan masalah perselingkuhan pasangan dengan keluarga besar kedua belah pihak. Bukan tak mungkin orang tua atau kerabat yang sejak awal sudah antipati pada pasangan akan memperkeruh keadaan atau bahkan menimbulkan masalah baru. “Tuh, dari dulu, kan, Mama udah bilang kalau dia laki-laki enggak bener! Sekarang terbukti, kan?” Nah, Anda juga yang disalahkan, bukan?

KOMUNIKASI PERSONAL

Yang terbaik, menurut Bang Noel, bicarakan dengan pasangan sampai tuntas. Bukankah ini masalah Anda berdua? Dalam pembicaraan itu, tanyakan, apa, sih, maunya? Lakukan introspeksi, apa sebetulnya yang menjadi bom waktu dalam perkawinan Anda. Benarkah kedekatan hati Anda berdua sudah begitu jauh hingga tak mungkin terjembatani lagi? Dengarkan pula keinginan maupun kekecewaannya yang selama ini mungkin terabaikan.

Jadi, kaji kembali perjalanan perkawinan Anda, apa yang salah dan bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut. “Menjalani perkawinan memang membutuhkan landasan yang kokoh,” ujar Bang Noel. Selain, menuntut kemampuan asertif dari kedua belah pihak tanpa terlalu banyak mengenakan topeng maupun bumbu-bumbu yang sebetulnya tak diperlukan. “Belajarlah bersikap apa adanya tanpa harus menyakiti pasangan.”

Itu sebabnya, tandas Bang Noel, komunikasi personal merupakan keharusan yang perlu dibiasakan sejak awal perkawinan. “Dengan saling ber-sharing , frekuensi dan intesitas komunikasi semakin tinggi, sehingga suami-istri akan semakin akrab dan lebih mengerti kebutuhan pasangan. Dengan begitu, relasi di antara mereka kian kokoh.”

Tentu saja, agar pembicaraan berlangsung sebagaimana yang diharapkan, kepala dan hati Anda harus dingin. Anda pun harus pandai mencari momen yang tepat dan jangan sekali-kali menggunakan prinsip kalah-menang karena Anda akan terpancing untuk meledak-ledak dan ngotot hanya agar suami kalah dengan mengakui perselingkuhannya. Sementara dalam diri suami akan semakin subur ketidaksukaannya pada Anda yang sejak awal mungkin menjadi pemicu perselingkuhannya.

Jika pembicaraan menemukan jalan buntu, saran Bang Noel, jangan ragu untuk mencari bantuan ahli yang bisa bersikap netral, bisa dipercaya kedua belah pihak, bijaksana, dan bisa menunjukkan jalan keluar terbaik dari kemelut rumah tangga Anda berdua.

KENALI PRIA YANG GAMPANG BERSELINGKUH

Rajin melirik wanita cantik bukan jaminan dia akan berselingkuh, lo. Dari serangkaian penelitian ditemukan hasil cukup ajek atau bersifat menetap, bahwa mereka yang aktif melakukan premarital sexual atau seks sebelum menikah cenderung lebih mudah tergoda untuk berselingkuh setelah menikah. “Tapi asumsi ini juga tak bisa diberlakukan begitu saja buat semua orang, karena segalanya terpulang pada niat baik masing-masing individu dan seberapa penting arti perkawinan buat mereka,” kata Zainoel.

Yang jelas, tutur Bang Noel, pria dari semua tipe kepribadian berpeluang menjadi peselingkuh. Namun peluang tersebut akan semakin besar bila si pria cenderung haus pujian dan bersikap mencla-mencle alias inkonsisten, terlebih bila dibarengi nilai-nilai kehidupan yang longgar. “Gabungan ciri ini akan membuat mereka cenderung menjatuhkan pilihan pada hal-hal yang relatif mudah, mengutamakan aspek lahiriah dan memberi kesenangan.” Mereka tak peduli dirinya dianggap tak wajar dan pilihannya keliru. Yang terpenting, mereka merasa “diorangkan”.

Umumnya, mereka juga termasuk pria super egois yang mengalami hambatan perkembangan emosi. Tak heran bila mereka bersikap childish alias kekanak-kanakan, antara lain tak bisa mengendalikan dorongan keinginannya; harus saat itu juga terpenuhi tanpa mempedulikan status kepemilikan benda tesebut. Kepentingan orang lain sama sekali tak mereka pedulikan. Selain, menutup mata terhadap kekurangan diri dan tak berkeinginan memperbaikinya.

SI KECIL TUMBUH MENJADI PRIBADI YANG LIMBUNG

Anak usia balita bisa mengalami shock berat, lo, kalau tahu ayah atau ibunya berselingkuh. Soalnya, tatanan nilai-nilai kehidupan yang sedang mereka bangun, hancur berantakan. “Mereka bingung tak tahu siapa yang harus dijadikan panutan. Akibatnya, mereka tumbuh jadi pribadi limbung yang kehilangan pegangan dan tak tahu harus melangkah ke mana,” tutur Zainoel.

Namun begitu, masih mungkin dampaknya tak sedemikian buruk asalkan ada agent socialization atau tokoh sosialisasi lain di luar orang tua seperti tetangga atau kerabat maupun guru yang betul-betul care pada anak. “Keterlibatan mereka sangat berperan dalam membantu anak menata kembali nilai-nilai kehidupannya yang berantakan. Bekal semacam ini dapat menjadi modal bagi anak kelak untuk mengambil hikmah dari ke’gila’an orang tuanya.” Bukankah dengan melihat dan merasakan sendiri akibat dari kesalahan orang tua, anak justru akan belajar banyak agar pengalaman serupa tak terulang padanya? “Dengan demikian akan memperkuat nilai-nilai kehidupan mereka yang semula sangat lemah atau tak ada sama sekali.” Sayangnya, diakui Bang Noel, tokoh atau model panutan tersebut, sekarang teramat sulit ditemukan di tengah masyarakat heterogen dan individualistis.

Dampak lain, perselingkuhan juga bisa mempercepat proses pendewasaan anak karena situasi ini kerap menutut anak mandiri lebih dini. Pasalnya, kepercayaan mereka pada orang tua sudah luntur atau bahkan tak ada lagi, hingga mereka tak lagi menganggap orang tua sebagai tempat bergantung yang diandalkan. Itu sebabnya, Bang Noel mengingatkan agar anak balita tak perlu diberi tahu skandal orang tuanya. “Tunggulah sampai mereka berumur belasan tahun ketika sudah bisa memahami apa yang terjadi.”

Ini berarti, Anda harus bisa menyimpan rapat rahasia tersebut. Mau tak mau, Anda dituntut berjiwa matang agar mampu meng-handle emosi yang meledak-ledak dan membesarkan mereka dengan kasih sayang utuh, sekaligus menjaga dari dampak buruk aib yang menimpa keluarga. “Sekuat tenaga upayakan untuk menyelamatkan anak-anak yang tak bersalah. Pasrahkan masalah Anda pada Yang Di Atas. Ajak anak-anak mendoakan ayahnya, bukan sebaliknya, mengompori atau meracuni mereka untuk memusuhi ayahnya.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Edisi 68/3 Juli 2000


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: