SI KECIL GEMAR “KELILING KOTA”

24 Feb

Sering, kan, kita saksikan seorang bapak atau ibu membawa anaknya berkeliling dengan mobil sebelum ke kantor? Atau, sore-sore anak naik delman “keliling kota”. Asal kebiasaan ini menyenangkan Anda dan anak serta tak sampai menjadi sebuah tuntutan, enggak masalah, kok.

Namun tak jarang orang tua malah jadi jengkel bila setiap kali berangkat kerja, si kecil selalu minta diajak putar-putar naik mobil atau motor lebih dulu. Belum lagi sekembali orang tua dari kantor, si kecil ternyata masih “melotot” padahal sudah larut karena menunggu kepulangan orang tua hanya agar bisa keliling naik mobil/motor bersama.

Tapi, Bu-Pak, sejengkel dan selelah apa pun Anda, tahanlah diri untuk tak menunjukkan sikap ogah-ogahan atau malah marah-marah. Kalau tidak, seperti dikatakan Rahmitha P. Soendjojo, si kecil bisa bersikap apatis atau malah menolak Anda, “Ah, Mama jahat! Aku enggak mau main sama Mama lagi. Aku main sama si Mbak aja.”

Lagi pula, Anda, toh, bisa bangun lebih pagi supaya enggak terburu-buru berangkat kerja. Atau, kompromikan dengan pasangan untuk mencari waktu yang tepat agar Anda dan si kecil sama-sama senang. Bisa juga dengan mencari kegiatan lain sebagai alternatif “ritual” tersebut, seperti menemani anak mandi dan sarapan. “Sebagai orang tua, pandai-pandailah mengupayakan kepuasan anak tanpa harus merasa terlalu banyak berkorban,” tukas Mitha, sapaan akrab psikolog pada DIA-YKAI, Jakarta ini.

CARI PERHATIAN

Menurut Mitha, “ritual” semacam ini merupakan kegiatan positif, lo, “sepanjang tujuannya hanya say good bye untuk menyenangkan anak agar tak sedih ataupun rewel selama ditinggal bisa terpenuhi.” Bukankah bagi anak usia ini, berpisah dengan orang tua sangat tak menyenangkan? “Tapi tentunya ‘ritual’ ini baru mendatangkan manfaat jika kondisi psikis kedua belah pihak sama-sama oke hingga bisa betul-betul menikmati.”

Yang perlu diwaspadai, bila “ritual” ini sudah menjurus pada tuntutan berlebihan. “Bukan tak mungkin kebersamaan semacam ini merupakan salah satu ‘strategi’ anak untuk mencari perhatian orang tua.” Bila demikian, Anda harus introspeksi diri, cukupkah waktu yang Anda sediakan buat si kecil?

Jika Anda merasa sudah menyediakan waktu yang cukup, coba selidiki lebih jauh, apakah selama Anda bekerja, anak begitu bosan bersama pengasuhnya yang ternyata hanya sibuk menonton TV, misalnya? Atau, ia sebetulnya resah karena pengasuhnya kurang care padanya, namun ia belum bisa mengutarakan keresahannya. Tak heran bila ia lantas berimajinasi bahwa kebosanannya akan segera terobati begitu ayah/ibunya datang.

PENUH SENSASI

Selain “ritual” di atas, kerap kita saksikan seorang anak setiap sore minta diajak keliling kompleks perumahan dengan naik delman atau beca. Bahkan, ada anak yang setiap kali melihat kendaraan tersebut, selalu minta naik, tak peduli pagi, siang, sore, atau malam, seolah tak pernah bosan.

Bagi anak usia 2-3 tahun, terang Mitha, berkeliling-keliling merupakan pengalaman baru yang memberi sensasi tersendiri, baik dari aspek gerak maupun visualnya. “Perspektif anak benar-benar berubah karena ia bisa melihat ke kiri dan ke kanan maupun ke depan dan belakang. Sementara pemandangan di sekelilingnya justru terasa ‘berjalan’.” Itulah mengapa, hal semacam ini kemudian terasa begitu amat istimewa bagi anak.

Apalagi jika selama ini anak cuma digendong ibu atau pengasuhnya. Jikapun jalan-jalan, paling hanya sebatas pagar depan rumah atau tetangga sebelah. “Naik mobil, delman atau beca, kan, sesuatu yang jelas-jelas berbeda. Ia mendapat pengalaman yang sungguh mengesankan saat ia penuh kekaguman mengamati ayahnya menyetir mobil, atau merasakan kenikmatan tersendiri boleh berdiri di samping Pak Kusir sementara delmannya berjalan ajrut-ajrutan.”

Yang penting, tandas lulusan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung ini, orang tua harus mencoba menempatkan diri pada kondisi dan posisi anak. “Buat orang dewasa, hal-hal semacam itu tentu saja sudah bukan barang aneh, sama sekali tak memberi sensasi apa pun, bahkan terkesan buang-buang waktu. Tapi buat anak justru sebaliknya, lo! Jadi apa sih susahnya memenuhi permintaan itu?” Pokoknya, selama si kecil menikmati, jangan pernah khawatir dibilang tak waras atau norak oleh tetangga hanya karena Anda membawa anak berkeliling bolak-balik dengan rute perjalanan yang itu-itu juga.

HARUS PROPORSIONAL

Namun begitu, ingat Mitha, orang tua juga harus tetap punya pegangan. “Kalau sudah setiap saat minta keliling, ya, enggak bener lagi, dong. Atau bagaimana kalau tengah malam anak minta naik delman tanpa bisa ditawar-tawar lagi? Mustahil, kan?” Nah, di sini Anda harus pandai-pandai memberi pengertian pada anak. Misal, “Naik delmannya besok lagi, ya, sayang. Sekarang kudanya bobo dan Adek juga harus bobo.”

Jadi patokannya, proporsional atau tidak. Toh, si kecil juga harus belajar mengenali bahwa keinginannya untuk jalan-jalan bukan termasuk kategori kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi saat itu juga. Dengan demikian, ia tahu persis Anda tak akan meluluskan permintaannya sekalipun ia ngambek meraung-raung di lantai.

“Anak juga harus belajar kapan boleh dan kapan tak boleh minta sesuatu,” lanjut Mitha. Bila setiap keinginannya tak terpenuhi saat itu juga ia lantas ngamuk bagai orang kesetanan, berarti ia tak pernah belajar mengendalikan emosinya. Nah, tugas orang tualah untuk mengajarinya. “Jangan orang tua malah luruh, langsung menyerah begitu saja dan mengabulkan permintaan anak.”

Selain itu, anak yang sering dibohongi orang tua juga akan bersikap menuntut. Misal, “Nanti kita jalan-jalan, ya. Tapi Adek enggak boleh nangis.” Tapi begitu anak berhenti menangis, orang tua tidak memenuhi janjinya. “Jadi anak terlanjur belajar bahwa saya harus mendapatkan apa yang saya inginkan saat ini juga dan harus dengan cara menangis. Soalnya kalau enggak diakali dengan cara begini, Mama atau Papa pasti bohong, sih!”.

Jadi bila kemungkinan besar Anda tak bisa merealisasikan apa yang Anda janjikan, ya, jangan pernah buat janji dengan anak. Perlu diketahui, anak usia ini belum bisa berpikir abstrak hingga ia belum bisa membedakan pengertian “nanti”; bisa nanti siang, nanti malam, tiga hari lagi, atau bahkan setahun lagi. Dengan demikian, Anda harus menariknya pada situasi yang lebih konkrit. Misal, “Nanti kalau Ayah sudah pulang kerja,” atau “Nanti kalau Bunda sudah punya uang.”

Jangan pula terlalu banyak cari-cari alasan. Misal, Anda merasa terganggu dengan keinginannya berakrab-akrab, jelaskan apa adanya. “Adek memang boleh main sama Bunda, tapi, kan, enggak harus langsung begitu Bunda pulang. Soalnya Bunda harus cuci tangan dan ganti baju dulu.” Tapi ingat, Anda harus konsisten, lo! “Biasanya, kalau orang tua bersikap konsisten dan menepati janji, anak tak butuh waktu lama, kok, untuk bermanja-manja dengan orang tuanya,” bilang Mitha.

Jadi, bila keinginan anak tak proporsional, Anda harus dengan tegas dan jelas menolaknya, ya, Bu-Pak. Tapi tentu bukan dengan kemarahan apalagi menyakiti secara fisik, sekalipun cuma menyentil atau mencubit pahanya maupun menjewer telinga. Justru kalau pakai cara ini enggak bakalan efektif. “Lima menit pertama setelah dimarahi mungkin ia bisa diam dan tenang, tapi lima menit kemudian ia bakal mengamuk lagi bahkan mungkin lebih hebat.”

BERPIKIR ALTERNATIF

Sebenarnya, lanjut Mitha, kebutuhan menikmati sensasi tadi bisa juga diberikan pada kesempatan lain dan tak harus menggunakan sarana transportasi yang sama. “Hanya dengan naik kuda-kudaan duduk di punggung ayahnya yang kemudian berkeliling di ruang tamu atau ruang keluarga, sudah bisa memberi sensasi yang sama pada anak, kok,” lanjut Mitha. Jadi, Anda bisa, kok, mengerem kebiasaan yang memboroskan waktu dan uang ini.

Tentu saja dituntut kreativitas orang tua untuk memunculkan kegiatan bermanfaat dan situasi baru hingga tak membosankan anak, sekaligus memungkinkan anak belajar tentang banyak hal termasuk belajar mengendalikan keinginannya. Dengan begitu, anak tak cenderung memanfaatkan keberadaan orang tua di rumah untuk jalan-jalan, entah hanya sekadar keliling kompleks perumahan dengan naik delman atau makan di luar maupun jalan-jalan ke mal saat libur. Anak pun akan tahu bahwa tak hanya dengan cara minta keliling naik delman atau mobil ayah saja ia bisa merasakan kebersamaan dan mendapatkan perhatian dari orang tua.

Lebih dari itu, “anak akan terbiasa berpikir alternatif bahwa masih ada pilihan kegiatan lain yang bisa membuatnya senang.” Dengan demikian kecerdasan anak juga kian terasah. Namun tentu saja dalam proses belajar ini, Anda harus memberi pengertian berulang-ulang. Jangan lupa, meski kecerdasan anak ini tengah berkembang pesat, namun belum sesempurna anak usia 7-11 tahun.

BONUS MANFAAT

Melalui kegemaran “keliling kota” sebetulnya kita memperoleh bonus manfaat, lo, buat si kecil. Apa saja? Yuk, kita simak pemaparan Mitha di bawah ini.

* Kita dimudahkan untuk mengenalkan si kecil pada lingkungan yang menjadi objek-objek “wisata”nya. Bukankah kita punya gambaran nyata sebagai alat bantu peraganya? Misal, seperti apa, sih, binatang yang disebut kuda? Makanannya apa? Mengapa rumput dan bukan nasi? Kenapa kuat lari dan menarik delman? Nah, dari diskusi semacam ini, kita bisa menanamkan pengertian pada anak untuk banyak makan agar kuat, misalnya, atau menjaga kebersihan dengan mandi agar enggak bau.

* Jalan-jalan begini juga menjadi sarana sosialisasi buat anak. Naik delman, misal, ia akan duduk bersisian dengan anak lain seusianya.

* Ketika jalan-jalan ke taman bermain di kompleks perumahan, misal, ia akan belajar membedakan rumput yang masih bagus dan yang sudah gundul terinjak-injak. Selain, mengenal konsep besar dan kecil serta memahami konsep warna dari bunga-bunga yang terdapat di situ.

“Pokoknya, banyak sekali nilai yang bisa ditanamkan pada anak lewat pengalaman-pengalaman sederhana dari kegemarannya ‘keliling kota’,” bilang Mitha. Termasuk konsep agama bahwa bunga adalah ciptaan Tuhan dan kita tak boleh merusaknya, misal. Juga kesempatan belajar menghitung melalui benda-benda yang dilihatnya sepanjang perjalanan. Jadi, enggak ada ruginya, kan?

SETIAP LIBUR MINTA MAKAN DI LUAR

Ada, kan, anak yang kerap minta makan di luar setiap orang tuanya libur? Sebenarnya, tutur Mitha, hal ini tak akan sering terjadi bila kita bisa melibatkan anak menyiapkan makanan yang bergizi untuknya, seperti membuat aneka puding dan sari buah. “Jangan merasa repot atau direcoki kalau anak ikut ke dapur karena ia senang sekali jika bisa ikut sibuk meski sebetulnya cuma ngacak-ngacak masakan si ibu.”

Jikapun ia sampai menumpahkan segelas santan atau susu untuk puding, toh, uang yang harus Anda keluarkan dari kocek tak lebih besar bila Anda mengajaknya jalan-jalan ke mal. “Kesibukan sederhana begini justru akan jadi hiburan tersendiri bagi anak sambil menikmati kebersamaan dengan orang tuanya di hari libur.” Anak pun akan belajar, ada proses dalam pembuatan makanannya, bukan kegiatan instan sekadar menyodorkan uang ke kasir di counter makanan-makanan cepat saji lalu menerima makanan yang diinginkannya.

“Sebetulnya siapa, sih, yang senang jalan-jalan ke mal, belanja barang-barang mahal atau makanan bergengsi khas Barat?” ujar Mitha mempertanyakan. Soalnya, anak usia batita tahu apa, sih, tentang benda-benda mahal dan bermerek? “Saya yakin, anak tak terlalu berharap pada benda-benda seperti itu karena anak pada dasarnya tak memahami konsep demikian. Kalaupun mereka tahu, pasti orang tualah yang membiasakan atau memperkenalkannya pada anak.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Dunia Batita/Edisi 68/3 Juli 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: