JURUS JITU NEGOSIASI DENGAN SUAMI

24 Feb

JURUS JITU NEGOSIASI DENGAN SUAMI
Siapa bilang negosiasi identik dengan urusan bisnis dan perkantoran belaka? Suami istri pun perlu menerapkannya. Simak saja ulasan psikolog Denrich Suryadi, M.Psi.,Psi., yang dipaparkan kepada Theresia Puspayanti.
Usai mandi malam sepulang kantor, Santi curhat pada sang suami. ”Pa, menurut Papa gimana ya? Minggu depan Mama ditugasin dinas luar kota selama seminggu. Tapi gimana dong, Andi kan pas UAS? Kalau Mama berangkat, Papa bisa usahakan pulang cepat supaya bisa dampingi Andi belajar? Mama khawatir nilainya jelek kalau enggak ada yang ngawasin.”
Disadari atau tidak, sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, kita selalu dihadapkan pada tuntutan untuk bernegosiasi. Mungkin ada yang seperti Santi harus bernegosiasi dengan seputar mendampingin anak belajar. Atay,kakak dan adik yang bernegosiasi tenang penggunaan kamar mandi.
Pada dasarnya, negosiasi dalam keluarga merupakan suatu bentuk upaya komunikasi dan kompromi anggota-anggota keluarga untuk menyepakati dan menemukan solusi dalam memecahkan permasalahan keluarga. Upaya ini dapat dilakukan dengan seluruh anggota keluarga, namun yang paling sering adalah antara suami istri. Kenapa? Karena banyak hal yang harus diputuskan suami istri secara bersama-sama demi kepentingan bersama pula.
Contohnya, negosiasi untuk memutuskan tujuan liburan keluarga di akhir tahun, pembelian kendaraan keluarga, renovasi rumah, pengelolaan dan pemanfaatan keuangan keluarga, pola komunikasi antar anggota keluarga, relasi seksual suami istri, serta penerapan disiplin pada anak. Hal lain yang juga kerap wajib dinegosiasikan adalah alokasi waktu bagi keluarga, keinginan istri untuk kembali bekerja atau ingin bekerja di luar rumah, pembagian waktu ketika suami atau istri mendapat penugasan ke luar kota, ataupun negosiasi ketika masing-masing ingin menyisihkan waktu di luar rumah dengan komunitas sosialnya.

CARI TITIK TEMU

Pendek kata, negosiasi bisa dan perlu dilakukan dalam hal-hal berskala besar maupun kecil. Yang penting, isu yang dinegosiasikan memang dirasakan perlu untuk dikomunikasikan, disepakati, serta diterapkan secara bersama secara konsisten. Contohnya, menjelang tahun ajaan baru, suami istri perlu bernegosiasi akan mendaftarkan anak mereka ke sekolah mana.
Contoh lain, soal penerapan disiplin. Perlu dinegosiasikan apakah suami istri sepakat memberlakukan aturan yang sama kepada anak untuk membereskan sendiri tempat tidur atau mainannya. Ini poin yang sangat penting karena suami istri berasal dari latar belakang budaya dan punya kebiasaan berbeda. Jadi, cara menerapkan disiplinnya pun berbeda. Karena itulah, negosiasi diperlukan. “Tanpa negosiasi, suami istri akan ribut sendiri, sementara anak akan tumbuh menjadi sosok yang pandai memanipulasi kelemahan orangtua,” papar dosen sekaligus Pembantu Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara ini.
Negosiasi juga memberi manfaat yang tidak sedikit terhadap relasi suami istri . Membangun kebiasaan bernegosiasi dengan suami akan mencegah munculnya perasaan kurang dihargai, tidak diperhatikan, dan didengarkan pendapatnya dalam forum keluarga. Bukankah setiap individu memiliki persepsi dan taraf penilaian yang berbeda terhadap segala sesuatu?
Nah, perbedaan-perbedaan inilah yang harus dikomunikasikan dengan pasangan, kemudian “ditawar” sedemikian rupa, sehingga sampai pada kesepakatan yang mengacu pada kesesuaian keinginan kedua belah pihak.
Contohnya, suami menganggap hukuman mengurung anak merupakan hal yang wajar agar si anak kapok. Sebaliknya, istri menganggap hukuman tersebut terlalu kejam karena dapat menyisakan trauma berkepanjangan dalam diri anak. Menjembatani perbedaan ini, suami istri harus mau bernegosiasi agar bisa sampai pada kesepakatan mengenai hukuman apa yang pantas diberikan kepada anak mengacu pada perbedaan penilaian tadi.

SAAT TEPAT UNTUK NEGOSIASI

Selain soal jenis isu yang harus dinegosiasikan, kita harus tahu juga kapan waktu yang tepat untuk melakukan negosiasi. Sesuaikanlah dengan kondisi persoalan dan taraf berat-ringannya permasalahan.
Waktu-waktu yang sangat tidak disarankan untuk melakukan negosiasi, antara lain: saat suami baru pulang kerja, sedang terburu-buru, tengah serius mengerjakan tugas, atau saat menghadapi masalah di tempat kerjanya. Kalau ingin negosiasi Anda sukses, pilihlah waktu yang tepat, yakni ketika suami terlihat santai tanpa mengerjakan apa pun.
Bila ia tengah asyik nonton TV atau baca koran sebaiknya tunda dulu deh. Mengapa? Karena negosiasi membutuhkan fokus dan atensi penuh dari kedua belah pihak. Opsi lain untuk bernegosiasi adalah saat suami bangun pagi dan santai sejenak di tempat tidur, atau kala suami merasa segar seusai mandi.
Tentu saja Anda harus tetap memperhitungkan ketersediaan waktu untuk segala persiapan yang dibutuhkannya. Jangan sampai terlambat ngantor hanya karena memaksakan negosiasi. “Saat makan pagi atau makan malam bersama juga bisa dijadikan pilihan selama memang kondisi fisik dan psikologis suami memang kondusif untuk diajak berdiskusi dan bernegosiasi,” tutur Denrich.

TIP SUKSES NEGOSIASI

– Kendalikan diri. Tanpa kemampuan mengendalikan diri, sangat mungkin emosi istri gampang tersulut.
– Pastikan isu yang Anda negosiasikan memiliki sasaran yang realistis dan bertujuan baik bagi seluruh anggota keluarga.
– Sampaikan pokok-pokok keinginan/tuntutan secara jelas, singkat, dan penuh percaya diri.
– Kemukakan pendapat tanpa mengumbar amarah dan keberpihakan. Kemukakan alasan logis dan data (bila diperlukan) agar dapat meyakinkan sami.
– Kebiasaan saling menyalahkan, mencecar, merasa diserang secara pribadi, dan “membangun” benteng pertahanan diri akan membuat negosiasi sulit tercapai.
– Jangan menguasai arena. Beri kesempatan bagi pasangan untuk mengemukakan pendapat, persepsi sekaligus alasannya.
– Usahakan selalu membangun kontak mata dan kuasai seni mendengarkan dengan hati guna memahami suami. Tunjukkan bahwa kita memberi perhatian sepenuhnya.
– Jadikan suami sebagai kolaborator, bukannya kompetitor. Dengan begitu istri tidak harus selalu mengekor ataupun terus-menerus merasa terpaksa mengakomadasi kepentingan suami (dan anak).
– Usahakan suami istri sama-sama dalam kondisi relaks.
– Ciptakan atmosfer atau suasana yang pas sebelum bernegosiasi.
SEKAR/Edisi 74/12/11-25 Januari 2012

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: