MEMBESARKAN ANAK ISTIMEWA

24 Feb

Membesarkan anak istimewa menuntut kebesaran jiwa, kesungguhan hati, perhatian ekstra, dan dana yang tidak sedikit. Theresia Puspayanti memaparkan bagaimana menyiasati kondisi itu agar bisa berhasil dengan maksimal.

Setiap orangtua pasti berharap buah hatinya bisa lahir normal dan tumbuh sesuai tahapan perkembangan yang seharusnya. Namun, pada kenyataannya, Tuhan sering punya rencana berbeda dan tidak semua orang siap menghadapinya. Karena itu, menurut psikolog Titi P. Natalia, M.Psi., tahap paling penting yang harus dilalui orangtua adalah penerimaan. Jika orangtua tidak kunjung menerima kenyataan saat anaknya didiagnosis autis atau leukemia, besar kemungkinan mereka akan sibuk berkutat pada aneka bentuk penyangkalan.

Penyangkalan menyebabkan semakin lambatnya pemberian penanganan yang tepat terhadap si anak. Sebaliknya, semakin cepat orangtua bisa menerima kondisi anak, akan semakin cepat pula penanganan yang tepat bisa diupayakan. Kasihan sekali si anak kalau harus sekian lama tidak mendapat penanganan yang semestinya. Apalagi jika kelainan yang disandang anak merupakan penyakit mematikan yang harus berpacu dengan waktu. Penundaan hanya akan membuat penyakitnya semakin parah.

TAHAP EDUKASI

Tentu saja tidak cukup hanya berhenti di tahapan penerimaan saja. Setelah bisa menerima, kita harus masuk ke langkah berikut, yakni edukasi, baik terhadap diri sendiri, pasangan, si anak istimewa, anggota keluarga lain, bahkan edukasi terhadap masyarakat.

Edukasi diri bisa dimulai dengan mencari aneka informasi terkait kondisi keistimewaan si anak, entah dari internet, buku, majalah, ataupun dari para pakar yang menangani anak. Berbekal informasi ini ibu sebagai sosok utama dan terdekat bagi anak, wajib menularkan pengetahuannya kepada pasangannya. “Mengapa ayah juga harus terlibat? Karena berdasarkan pengalaman menangani kasus-kasus yang ada, ketidakkompakan orangtua bisa berdampak pada anak. Setidaknya penanganannya tidak akan optimal,” jelas Titi.

Jadi, sekeras apa pun penyangkalan salah stau terhadap kondisi si anak, pihak yang sudah berani menerima kenyataan sekaligus mengedukasi diri, wajib secara perlahan melibatkan pihak yang semula menolak. Misalnya, libatkan saat harus membawa si anak berobat atau ikut terapi, berkonsultasi dengan pakar, atau sekadar mengikuti seminar dengan topik terkait. Dengan begitu keduanya bisa saling berjalan seiring. Nah, ketika sudah bisa sama-sama menerima dan sama-sama pula berjuang mengupayakan kesembuhan si anak, proses penanganan dan pemulihan anak pun lebih cepat.

PENANGANAN BERSAMA

Penanganan anak istimewa mesti dilakukan secara bersama dan melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk kakak, adik, bahkan pengasuh atau siapa pun yang tinggal bersama dalam keluarga tersebut. Kenapa? Karena banyak treatment yang harus dilakukan secara seragam. Misalnya, pola makan, aktivitas bermain, aktivitas belajar, dan lain-lain. Jangan sampai yang satu mengizinkan, sementara yang lain tegas-tegas melarang. Tanpa kekompakan, kemungkinan besar proses penyembuhan anak identik berpacu melawan waktu. Dalam hitungan bulan saja akan ada banyak perubahan yang bisa terjadi dalam proses tumbuh kembang anak. Mengingat peran ibu begitu dekat sekaligus penting dalam kehidupan anak, lazimnya ibulah yang biasanya lebih dulu harus berjuang bagi anaknya. Peran besar ini tentu saja menuntut kepiawaian ibu dalam menata batinnya.

Pastilah bukan hal mudah bagi ibu untuk menerima kondisi anaknya yang istimewa. Namun di sinilah dituntut keterampilan si ibu untuk menata diri demi mengupayakan kesembuhan si anak. Ibu harus bisa mengupayakan energi positif terhadap dirinya sendiri. Caranya? Dengan selalu berpikir positif, serta menata hati, tindakan dan perkataannya secara bijak. Tanpa itu semua, di mana pun berada si ibu akan terus membawa luka batinnya hingga bukan tidak mungkin ia akan menjadi sosok yang gampang meledak marah. Jika kondisi semosi tidak stabil, kebutuhan anak untuk untuk sembuh dan tumbuh normal seperti anak lainnya jadi tidak terakomodasi dengan baik.

PENDEKATAN ROHANI

Agar bisa membangun kekuatan positif, ibu bisa mencari dukungan dari lingkungan terdekat, misalnya bergabung ke komunitas atau kelompok sependeritaan sepenanggungan. Dengan sharing bersama sesama orangtua penderita, setidaknya ibu akan mendapat dukungan sosial, hingga dia tidak merasa menanggung segalanya sendirian. Selain itu, sharing dengan sesama yang mengalami hal serupa setidaknya akan menumbuhkan rasa syukur atau justru keinginan untuk membantu orang lain yang mngkin penderitaannya lebih berat.

Kalaupun dukungan dari orang-orang terdekat tetap tidak bisa diharapkan, ingat, kita semua memiliki iman yang bisa dijadikan andalan. Di saat semua permasalahan tak bisa diselesaikan dengan pendekatan medis atau psikologis semata, ada pendekatan kerohanian yang bisa dijadikan tumpuan. Ketika kita merasa tidak memiliki dukungan sosial dari siapa pun, relasi yang terjalin dengan Sang Maha Kuasa mampu menjadi kekuatan utama dalam membesarkan anak istimewa. Lelah secara fisik dan mental tentu saja akan dihadapi para orangtua yang dikaruniai anak istimewa. Butuh perjuangan batin yang luar biasa saat menerima pandangan tak sedap dari orang di sekitar yang tak bisa memahami kondisi si anak istimewa. Di sinilah pentingnya orangtua agar jangan hanya fokus pada rasa malu yang menderanya.

Seperti apa pun kondisi si anak istimewa, orangtua tetap perlu membawanya keluar agar kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan orang lain terpenuhi. Jadi, jangan ragu untuk memberi kesempatan kepada anak istimewa merasakan proses tumbuh kembang seperti anak lainnya. Secara tidak langsung ini merupakan bentuk edukasi bagi si anak istimewa sendiri. Jangan  sampai akibat perlakuan salah, anak merasa rendah diri ketika mendapati dirinya berbeda. Besarkan hatinya.

BERPIKIR POSITIF

Sikap yang tepat sekaligus akan mengedukasi masyarakat sekitar bahwa apa yang dialami si anak istimewa bisa terjadi pada siapa pun. Dengan memberi kesempatan serupa dengan anak lain, orangtua dengan sendirinya mampu memperlakukan anak istimewa dengan lebih wajar. Sangat manusiawi bila rasa malu memiliki anak istimewa itu muncul. Lumrah juga bila kita jengkel saat mendapat pandangan melecehkan. Bagaimana cara terbaik menanggapinya? Jawab atau jelaskan saja apa adanya tentang kondisi anak tanpa perlu marah.

Langkah antisipatif juga perlu dilakukan dengan menyiapkan mental adik dan kakak si anak istimewa. Tekankan bahwa mungkin perlakuan yang diberikan kepada si anak istimewa akan menyita waktu dan perhatian lebih ketimbang untuk mereka. Jangan segan-segan untuk melibatkan adik dan kakak. Tunjukkan bahwa orangtua membutuhkan bantuan mereka, semisal mengingatkan si anak istimewa ini untuk minum obat dan makan sesuai jadwal. Dengan demikian si kakak dan adik bisa lebih memahami sekaligus merasa berjasa dan bangga bisa ikut ambil bagian dalam mengupayakan kesembuhan saudaranya. Yang tidak kalah penting, sebagai ibu kita harus sekuat tenaga tetap menjaga kesehatan diri sendiri. Dengan berpikir positif dan menata hati secara positif, diharapkan daya tahan tubuh kita bisa tetap terjaga hingga tidak ikut-ikutan ambruk. Ingat, kita baru akan bisa menolong orang yang kita sayangi kalau kita sendiri juga sehat, lahir dan batin.

Maria Yustina Tjandrasari ( 45):

“Stephanie Handojo (19), anak kedua dari 3 buah hatiku adalah anugerah luar biasa. Begitu tahu dia DS (Down Syndrome) saya langsung memutuskan berhenti kerja agar bisa sepenuhnya mengurus anak. Sedini mungkin saya mengikutkan dia dalam berbagai terapi. Sekolahnya pun sekolah umum. Meski sekelas dengan sekitar 35 teman yang bukan penyandang DS, Stephanie bisa menerima pelajaran dengan baik dan tak pernah tinggal kelas. Dialah anak DS pertama yang berhasil menyelesaikan pendidikan SMP di sekolah umum. Sekarang ia duduk di kelas 11 SMK jurusan tata boga sesuai hobinya memasak.

Sejak kecil, selain bersekolah, ia sibuk mengikuti les piano, bahasa Inggris, bahasa Mandari, bulutangkis dan renang. Tahun 2010 dia berhasil memenangkan 3 medali emas saat mengikuti lomba renang di SDSC (Singapore Disability Sports Council). Sungguh membanggakan.”

SEKAR/Edisi 75/12/25 Januari – 08 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: