SI KECIL “HOBI” LEMPAR BANTING MAINAN

24 Feb


Bapak-Ibu perlu waspada karena “hobi” yang satu ini terbilang perilaku agresif dan destruktif. Anak harus diajak bicara untuk mengenali sekaligus mengekspresikan perasaan dan keinginannya. Memasuki bulan-bulan terakhir tahun pertama usianya, si kecil mengalami masa eksplorasi. Coba, deh, Bapak-Ibu perhatikan. Anak-anak seusia ini, kan, gemar sekali melempar atau menjatuhkan mainannya atau apa saja yang dipegangnya.

Awalnya boleh jadi karena didorong rasa ingin tahu yang luar biasa besar. Namun ia kemudian melakukannya berulang-ulang karena kegiatan itu dirasa memberi efek menyenangkan baginya. Bukankah anak akan menunjukkan ekspresi gembira dan kagum setiap kali mendengar suara klenting atau gemerincing mainan jatuh di lantai?

“Nah, kenikmatan ini akan semakin bertambah bila si kecil melihat orang tua atau pengasuhnya memungut benda atau mainan yang dilempar atau dijatuhkannya tadi,” tutur Ike Anggraika, Dra. MSi.. “Permainan” lempar-ambil ini sebetulnya merupakan pertanda koordinasi dan kendali pada jemarinya sudah berfungsi. “Anak menemukan nilai hiburan saat melatih keterampilan menjatuhkan.”

Namun begitu, sambung pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, “Orang tua harus jeli mengamati kapan anak sekadar melempar dan kapan pula ia melempar di luar kebiasaan tadi.” Misalnya, dibarengi luapan rasa kesal atau amarah. Bila memang demikian, orang tua harus menyelidiki, kenapa anak sampai harus lempar-banting benda/mainan kala marah atau kesal.

MENIRU

Biasanya, lanjut Ike, anak punya kebiasaan lempar-banting mainan/benda lantaran meniru. Nah, siapa yang ditiru? “Tentunya orang-orang yang berada di lingkungan terdekatnya, dong. Entah ayah yang suka banting pintu atau ibu yang main lempar apa saja kala sedang marah.” Begitu pula kakak atau tetangga.

Belum lagi tontonan di TV, terutama film-film kartun dan sejenisnya. “Coba, deh, luangkan waktu untuk mengamati film-film kartun yang diputar di TV. Tom & Jerry, contohnya. Sebetulnya, kan, menampilkan perseteruan yang tak pernah ada habisnya antara si kucing Tom dan Jerry si tikus. Tentu saja lengkap dengan strategi dan cara licik masing-masing untuk mengalahkan saingannya. Nah, ini kan membahayakan sekali,” tutur Ike.

Jadi, Pak-Bu, bila tak ingin si kecil tumbuh sebagai pribadi yang gemar main lempar-banting, jangan pernah lelah untuk belajar mengerem diri. Terlebih bila kemarahan seolah tak terbendung lagi. Kalau si kakak yang menjadi “tokoh panutan” bagi si kecil dalam meniru hal-hal yang kurang baik tadi, maka si kakak perlu diajarkan untuk mengenali mana yang baik dan tidak, mana yang boleh dan tak boleh dilakukannya.

Tapi kalau tetangga atau orang luar yang menjadi “biang keladi”nya, Bapak-Ibu tak perlu menghabiskan waktu dan enerji untuk “mengajari” mereka. Salah-salah mereka malah sakit hati dan menganggap kita kelewat ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Hubungan kita dengan mereka yang semula baik-baik saja, akhirnya jadi runyam. Nggak enak, kan? Lebih aman, anak kita saja yang “diperbaiki”.

Sementara terhadap tontonan di TV, mudah saja; jangan biarkan si kecil asyik nonton tayangan apa saja dan kapan pun ia menginginkannya tanpa didampingi Bapak atau Ibu. Serta seleksi tayangan yang layak ditontonnya. Begitu, kan, yang kerap dianjurkan para ahli? “Orang tua juga perlu mengalihkan minat dan ketertarikan anak pada hal-hal lain yang lebih bermakna,” tambah Ike. Misalnya, menggambar, meskipun masih dalam bentuk corat-coret.

BIJAK MEMILIH MAINAN

Pemilihan permainan yang kurang tepat juga dituding Ike sebagai salah satu faktor pencetus sikap agresif anak. “Mainan sekarang, kan, mayoritas sudah ‘jadi’, sehingga tak mendorong anak untuk berpikir atau berkreasi. Begitu anak bosan dengan mainan tersebut, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Nah, apalagi yang paling gampang dilakukan selain membantingnya?” Tak demikian halnya dengan permainan edukatif yang memungkinkan anak asyik berpikir dengan main bongkar pasang. Kalaupun ia bosan dengan bentuk tertentu, toh, ia bisa mencoba alternatif bentuk lain.

Yang juga perlu diingat, orang tua masa kini kelewat gemar membanjiri anak dengan aneka mainan. Padahal, terlalu banyak mainan hanya akan membuat anak berpindah dari satu mainan ke mainan lain tanpa menikmatinya apalagi menghargainya. Tak heran bila anak lantas cenderung bersikap seenaknya terhadap mainannya.

Saran Ike, sedapat mungkin carilah mainan yang menawarkan berbagai kemungkinan dalam mempermainkannya. Jadi, bukan menawarkan berbagai jenis bentuk luarnya saja yang menarik. Mainan harus mampu merangsang anak untuk melakukannya; bukan sebaliknya mainan melakukan sesuatu untuk anak.

SALAH POLA ASUH

Faktor lain adalah kerusakan neurologi atau mengalami disfungsi otak. “Tapi kasus semacam ini sedikit sekali. Yang dominan justru faktor luar yang sebetulnya lebih mudah diarahkan kembali,” terang Ike. Maksudnya, cara orang tua dalam mendidik anak.

Itulah mengapa, Ike melihat akar permasalahan inilebih pada pola pengasuhan orang tua. “Orang tua kini, kan, seolah tengah berada di persimpangan jalan. Mereka tahu, kok, tuntutan masa depan terhadap anak, namun mereka tak siap meladeni rasa ingin tahu anak ataupun menanggapi sikap kritis anak. Sementara mereka sendiri juga masih terbelenggu pada pola pengasuhan lama. Akhirnya yang muncul adalah sikap tidak konsisten orang tua. Lo, ini, kan malah lebih membahayakan buat perkembangan anak,” paparnya.

Celakanya, lanjut Ike, orang tua bukan menyadari kesalahannya lalu segera membenahi diri, melainkan malah cuci tangan dengan menyalahkan TV, pembantu, lingkungan, maupun kondisi si anak. Misalnya, “Gimana, ya, susah, sih. Sifat anak saya sudah seperti itu. Adatnya memang keras.” Nah, lo! Padahal, sumber masalahnya justru di dalam diri orang tua sendiri.

“Menjadi orang tua memang nggak gampang. Kita harus berani berkorban dan punya komitmen besar terhadap kualitas pendidikan dan pengasuhan anak,” tutur Ike. Bagi ibu bekerja, tuntutan ini kerap dirasakan menjadi beban tersendiri. Namun, Ike mengingatkan agar hal-hal semacam itu jangan dijadikan alasan untuk menomorsekiankan kepentingan anak. “Tentu saja butuh waktu dan komitmen sungguh-sungguh dari orang tua,” tandasnya.

SULIT MENGENALI DIRI

Perlu Ibu-Bapak ketahui, kebiasaan lempar-banting mainan bukanlah hal yang wajar. “Kebiasaan ini lebih tepat bila dikategorikan dalam perilaku agresif yang bersifat destruktif alias merusak,” terang Ike. Apalagi kebiasaan tersebut dilakukan karena rasa frustrasinya lantaran ada kehendaknya yang tak terpenuhi, selain merupakan bentuk protesnya terhadap orang tua atau lingkungan yang dianggap tak memahami keinginan dan perasaannya.

Itulah mengapa, tekan Ike, “hobi” anak yang demikian tak dapat dibenarkan dan harus diluruskan, sekalipun tak melukai atau mencelakai orang lain. “Kalau orang tua bersikap mendiamkan, lebih banyak mendatangkan kerugian. Selain kerugian material mengingat harga mainan kini relatif mahal, anak pun akan berpikir perilakunya diterima oleh orang tua.” Celakanya, ia juga akan menganggap itulah perilaku yang sebenarnya!

Akibat yang lebih jauh, anak akan merasa asing dengan dirinya sendiri. “Ia sulit mengenali dirinya, apa saja kebutuhannya, dan bagaimana perasaannya, sehingga ia pun mengalami kesulitan untuk mengungkapkan aneka perasaannya,” lanjut Ike. Dengan “bekal” yang serba mentah seperti itu, di usia yang lebih besar, anak akan mudah terpancing dalam budaya tawuran yang dewasa ini seolah tengah ngetrend.

Tapi kalau orang tua main larang atau malah memarahi anak, juga enggak bakalan mempan. “Anak malah akan mandek dan semakin frustrasi sementara masalah kian ruwet,” tandas Ike.

BERKOMUNIKASI SECARA BENAR

Jadi, bagaimana, dong, sebaiknya? “Orang tua harus belajar memahami pribadi anak, termasuk bagaimana perasaannya saat itu,” sahut Ike. “Hormati kehendak anak dan beri tempat bagi perasaan anak,” lanjutnya.

Untuk itu, yang harus dilakukan orang tua ialah bertanya langsung kepada anak, kenapa ia bersikap demikian. Tentu dengan cara yang lembut. Misalnya, “Lo, kok, mainannya dibanting? Mobil-mobilan Adik, kan, enggak salah apa-apa. Memangnya Adik lagi marah sama siapa, sih? Kasih tahu Mama, dong.” Pokoknya, saran Ike, gali terus apa alasan anak bersikap demikian. “Bantu anak untuk mengkanalisasikan atau menyalurkan perasaannya.”

Ingat, lo, setiap orang, entah batita atau dewasa usia 40 tahun bahkan lebih sekalipun, punya dorongan untuk melempar sesuatu karena frustrasi atau marah. Hanya saja, orang dewasa umumnya dapat mengendalikan dorongan emosi tersebut, sekaligus mengungkapkannya dengan cara lain yang tak membahayakan ataupun menyakitkan orang lain. Nah, anak kecil belum mampu melakukannya.

Jadi, tugas orang tualah untuk membantunya menghadapi dorongan perasaan tersebut dengan cara yang lebih tepat. “Ajarkan anak untuk belajar mengekspresikan kemarahannya dengan kata-kata. Tumbuhkan tradisi dimana anak terbiasa dan bisa berdialog atau berkomunikasi dua arah sejak usia dini. Bekali pula ia dengan cara-cara bernegosiasi dan ciptakan kondisi yang memungkinkannya bisa mengajukan protes, menyampaikan ketidaksesuaiannya dengan orang tua,” tutur Ike.

Itulah mengapa, Ike menekankan agar orang tua mengupayakan penyaluran rasa ingin tahu anak secara benar lewat jalur komunikasi sejak dini. Dengan demikian, orang tua telah mengantisipasi terbentuknya temperamen agresif-destruktif tadi.

“Tanamkan juga pengertian agar anak belajar bersabar saat menunggu giliran dalam permainan kelompok dan belajar menerima ‘kekalahan’ kala harus berbagi mainan dengan saudaranya,” anjur Ike pula. Bukankah biasanya anak tak bisa menerima kekalahan lalu merebut dan melemparkan mainan saat ia tak bisa menguasai situasi atau orang lain? Nah, dengan mengajarkannya menerima kekalahan, ia pun belajar mengendalikan emosinya bukan?

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Edisi 65/12 Juni 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: