BERMAIN EMPATI TUMBUHKAN SIKAP NASIONALISME

25 Feb


Kemampuan berempati harus ditanamkan sejak dini agar anak memiliki kepedulian pada orang lain. Dari sini pula sikap nasionalisme bisa ditumbuhkan. Lewat bermain, kemampuan berempati bisa diajarkan.

Seperti kita ketahui, bermain adalah dunia anak. Namun dalam bermain, anak tak hanya sekadar bermain dalam arti sebenarnya, melainkan juga belajar banyak tentang segala hal. Itulah mengapa, dalam mengajarkan segala sesuatu kepada anak, akan lebih baik bila dilakukan lewat bermain.

Nah, salah satu hal yang bisa diajarkan lewat bermain adalah kemampuan berempati. Soalnya, terang Dra. Henny Eunike Wirawan, M.Hum., dengan bermain, anak seharusnya bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Namun untuk bisa berinteraksi, salah satunya diperlukan kemampuan memahami dan mengerti orang lain. “Bukankah ini merupakan penjabaran dari apa yang disebut empati?” ujar Pudek I Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Apalagi, lanjutnya, buat anak usia batita, berbagi makanan atau bertukar-pinjam mainan sama sekali bukan sesuatu yang mudah.

Saat bermain mobil-mobilan dengan seorang teman, misal, “bila ia tak pernah diperkenalkan bagaimana menghargai keberadaan dan kepemilikan orang lain, boleh jadi ia langsung merebut mobil-mobilan si teman.” Karena yang ada di benaknya, “Pokoknya, saya suka!”, tak peduli temannya menangis histeris lantaran mainannya direbut.

JENIS PERMAINAN

Semua jenis permainan dalam kelompok atau yang melibatkan interaksi dengan orang lain, menurut Henny, bisa “dititipi” pesan untuk belajar menghargai orang lain. “Paling tidak, dengan bermain bersama orang lain, anak diminta belajar antri menunggu giliran, belajar bagaimana perasaan orang lain kalau ia berbuat begini atau begitu, dan bagaimana pula seandainya dirinya yang diperlakukan seperti itu.” Kelihatannya sepele memang, namun sangat berarti, lo, Bu-Pak.

Sebagai contoh, main masak- masakan, dokter-dokteran, atau main ibu-ibuan, dan sebagainya. Nah, lewat permainan ini, mau tak mau, anak dituntut memainkan peran tokoh tersebut hingga ia jadi lebih pandai membawakan diri sekaligus lebih menghargai tokoh yang diperankannya. Dengan demikian, “anak akan belajar memposisikan dirinya sebagai seorang ahli masak, seorang dokter, maupun seorang ibu.”

Hal ini berarti pula, anak juga mengembangkan konsep mengenai hal-hal yang ada di luar dirinya; antara lain konsep bahwa ia tak sendiri, ada teman-teman yang bisa diajak bermain, selain keberadaan orang dewasa lain disamping orang tuanya, dan ditambah peran-peran lain dalam masyarakat.

Permainan lain yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan empati ialah pura-pura menjadi orang buta untuk belajar berempati pada penyandang tunanetra, atau pura-pura pincang untuk menghayati keterbatasan mereka yang cacat kaki, dan sebagainya. Jadi, Bu-Pak, jangan si kecil malah dibiarkan lebih banyak melakukan permainan soliter yang bersifat individual semisal play station atau games di komputer. “Permainan-permainan ini hanya akan membuat anak terpaku pada mainannya dan tak menaruh peduli pada lingkungannya,” jelas Henny.

SAAT MULAI BELAJAR JALAN

Mengenai waktu yang tepat untuk mulai mengajarkan empati pada anak, Henny berpendapat, semakin dini justru akan semakin baik hasilnya. Pasalnya, semakin dini usia anak akan semakin mudah bagi orang tua untuk membentuk nilai dan menanamkan pesan moral. “Anak kecil itu, kan, masih polos, masih bisa ‘ditulisi’ segala sesuatu yang baik-baik.”

Patokannya, saat anak mulai belajar berjalan dan “bergaul” dengan orang lain, maka itulah waktu yang paling pas karena anak sudah mulai berbicara meskipun baru sepatah dua patah kata. “Bisa dimulai dari mengajak anak berkenalan dengan anak kecil lainnya, lalu mengajaknya bermain dengan anak lain sambil tetap didampingi orang tua. Selanjutnya, barulah ia dibiarkan belajar bermain sendiri.”

Menurut Henny, bila sejak kecil anak sudah dibiasakan untuk menghargai dan berbagi dengan orang lain, “maka sikap empati dan keinginan menolong orang lain akan mengental dengan sendirinya.” Kalau sudah begitu, orang dengan kepribadian demikian umumnya selalu terpanggil pada kesusahan atau penderitaan yang dialami sesamanya. Hingga kalau ada bencana, misal, tanpa harus disuruh-suruh pun, apalagi didesak-desak, ia pasti akan menyumbang atau memberi bantuan tanpa memikirkan apakah namanya akan masuk koran atau tidak.

“Empati itu ibarat modal hidup,” lanjut Henny. Orang yang memiliki empati akan memiliki kemampuan untuk menghayati perasaan orang lain, hingga bisa memperlakukan orang lain dengan baik. “Ia bisa memahami dan memikirkan orang lain, sekaligus sigap untuk membantu orang lain. Ia begitu care pada orang lain.” Nah, pribadi seperti ini, menurutnya, bila sudah besar biasanya akan tampil menjadi orang yang menyenangkan; ia menaruh kepedulian besar pada sesama dan lingkungannya.

Sebaliknya, berhubungan dengan orang yang egois, tentu akan sangat menyebalkan. “Ketidakpeduliannya pada sesama membuat orang lain sama sekali tak nyaman berada di dekatnya.” Jangankan untuk memberi bantuan kala tertimpa kesusahan, untuk bertemu atau bicara dari hati ke hati saja tak akan pernah ada waktu karena pikirannya hanya terpusat untuk mencari keuntungan diri.

Jadi, bila sejak kecil anak sudah ditanamkan nilai-nilai luhur, maka nilai-nilai tersebut pasti akan berkembang kala ia besar kelak dan tak akan hilang begitu saja. Dengan demikian, secara tak langsung sebenarnya orang tua telah pula menanamkan bibit-bibit nasionalisme pada anak, seperti diakui Henny, “kemampuan berempati akan mengkristal menjadi sikap nasionalisme.”

BELAJAR TENTANG HAK ANAK

Bagi anak usia ini, teman bermain, orang tua, kakek-nenek, pengasuh, dan bahkan hewan piaraan, “disediakan” khusus untuk mereka. Keinginan mereka setumpuk, kebutuhannya seolah tak bisa ditawar dan yang harus diprioritaskan adalah perasaan mereka. Padahal, anak harus belajar memahami bahwa orang lain juga sama-sama punya hak. Ini tugas berat, namun kiat berikut bisa membantu meringankan Anda.

* Tunjukkan Hak Anda

Tak perlu jadi martir yang selalu mengorbankan diri buat anak. Anda memang harus memikirkan kebutuhannya, tapi tak lantas berarti Anda harus selalu menomorsatukan anak di atas segalanya. Kalau tidak, hubungan Anda dengan anak malah jadi enggak sehat lo. Anda merasa terbebani, sementara si kecil tumbuh jadi anak egois dan sangat manja.

Katakan kepadanya bahwa Anda pun berhak menikmati kesendirian untuk membaca atau berasyik-asyik dengan hobi Anda sendiri. Jadi, bukan terus-menerus menemaninya bermain. Kalau memang sudah tiba waktunya, Anda juga berhak menikmati santap siang atau bahkan ke kamar mandi tanpa harus menunggu ijinnya. Termasuk memberlakukan kamar pribadi sebagai kawasan bebas mainan dan melarang anak nyelonong masuk atau bahkan pindah tidur ke kamar Anda di waktu malam.

Tapi tak usah ngotot saat menjelaskan hak Anda. Ungkapkan saja, “Adek lihat sendiri, kan, Bunda sedang membaca buku, jadi enggak bisa main. Sama seperti Adek suka main boneka atau balok susun, Bunda pun suka membaca. Adek jangan ganggu Bunda, dong, karena Bunda, kan, juga enggak ganggu kalau Adek sedang main boneka.” Dengan penjelasan sederhana semacam itu, anak tahu orang lain juga punya kebutuhan dan perasaan seperti dirinya.

Anda pun berhak menolak permintaannya membacakan cerita atau mengambilkan mainannya bila pada saat bersamaan Anda harus menerima telepon penting. Katakan, “Sebentar, ya, Nak, Bunda harus menjawab telepon. Nanti setelah selesai, baru Bunda bacakan cerita untukmu.” Begitu juga ketika Anda memintanya untuk tak mengganggu kakaknya yang tengah belajar, jelaskan, “Kakak sedang mengerjakan PR dan butuh ketenangan. Adek jangan berisik, ya.” Peringatan semacam ini jauh lebih mempan daripada menghardiknya, “Jangan dekat-dekat Kakak!”

* Hargai Hak Anak

Ketika anak menunjukkan kemurahan hatinya, berikan pujian, “Adek baik sekali mau membagi kue untuk temanmu.” Jangan lupa perkenalkan anak pada konsep perasaan, “Tuh, lihat, deh, Ria senang sekali, kan, kalau Adek mau meminjamkan mainanmu.”

Jangan sekali-kali meminjamkan mainan atau barang milik anak kepada temannya tanpa minta ijin lebih dulu kepadanya. Kalau tidak, Anda bukan hanya tak menghargai haknya, tapi juga membuatnya jadi semakin egois. Soalnya, ia merasa terancam karena haknya diabaikan, hingga semakin kokoh bertahan tak mau menunggu giliran, berbagi, atau bekerja sama.

Hargai pula pendapat dan perasaan anak. Ia tak akan belajar menghargai perasaan orang lain jika perasaannya sendiri tak pernah dihargai. Itu sebabnya, para ahli selalu menekankan agar orang tua belajar menanggapi pendapat anak, selain tak mempermalukannya di depan siapa pun.

Tentu ia pun harus diajarkan untuk menghargai hak dan perasaan temannya. Apalagi buat anak usia ini, teman bermain tak ubahnya sebagai “benda” miliknya. Jadi, ia harus diajarkan bahwa “benda-benda” tersebut memiliki perasaan sendiri. Ketika ia merebut mainan temannya, misal, jangan katakan, “Ayo, kembalikan, itu bukan punyamu!” Ingat, bagi anak usia ini, segala sesuatu adalah miliknya; semua yang ada di dunia ini semata-mata untuk dirinya.

Lebih baik jelaskan padanya, “Kalau Adek ambil mainan Intan, dia pasti sedih. Adek masih ingat, kan, betapa sedihnya sewaktu Rio mengambil dan merusak mobil-mobilanmu?” Begitu juga ketika ia memukul anak lain, tak cukup hanya mengatakan, “Jangan pukul!” tapi juga katakan, “Kalau kamu pukul Daniel, dia akan kesakitan.”

Tentu saja Anda tak akan melihat hasil dari apa yang telah Anda ajarkan atau tanamkan kepadanya pada saat ini juga. Namanya anak, ia pastilah akan kerap “membandel” tak menuruti perintah Anda. Nggak apa-apa, kok. Sampai batas tertentu, penolakannya masih bisa ditolerir. Yang penting, Anda sudah menanamkan dalam benaknya bahwa orang lain juga punya hak dan perasaan. Sebuah pelajaran tentang empati juga, bukan?

Th. Puspayanti/tabloid nakita/rubrik Dunia Batita/edisi 71/24 Juli 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: