MAKAN DI LUAR, YUK!

25 Feb


Memang agak merepotkan, terlebih bila anak di rumah tak dibiasakan belajar makan sendiri. Namun begitu, ia perlu sesekali diajak makan di luar. Manfaatnya banyak, lo.

Bagi anak, makan di luar punya makna tersendiri, “bukan cuma sekadar makan, tapi pergi bersama-sama dengan keluarga,” ujar psikolog Dra. Catherine DM Limansubroto, MSc. Dengan demikian, ia mendapatkan variasi dan suasana lain karena enggak terus-terusan berada di rumah atau makan makanan yang itu-itu saja.

Jikapun ia sampai menumpahkan makanan atau makannya berceceran, wajarlah. Apalagi jika di rumah ia tak pernah dibiasakan belajar makan sendiri. Jadi, tak perlu malu apalagi sampai memarahinya, ya, Bu-Pak. Toh, ia sedang dalam proses belajar. “Setiap anak akan melewati tahapan ini, kok. Sebagai orang dewasa, harusnya kita maklum, dong,” lanjut family therapist ini.

Ingat, lo, tak ada seorang anak pun yang bisa langsung menyendok nasi dan lauknya dari piring serta memasukkannya dengan benar ke dalam mulut kalau orang tua tak pernah mengajarinya. Malah, tak sedikit anak usia 2 tahun atau lebih yang bingung kala disodorkan piring makanan. Itulah mengapa, anak harus dibiasakan belajar makan sendiri.

Bahwa setiap anak berbeda satu sama lain, tentu tak boleh kita lupakan. Artinya, ada anak usia 1,5 tahun sudah bisa makan sendiri dengan “bersih”, namun ada pula yang tidak. Namun sebagai patokan, di usia 3 tahun anak seharusnya sudah bisa diajak belajar tertib untuk makan sendiri di meja dan belajar disiplin untuk tak makan berceceran.

JANGAN MEMAKSA

Jadi, kendati merepotkan, namun bukan halangan bagi kita untuk mengajak si kecil makan di luar, ya, Bu-Pak. Apalagi, dengan mengajaknya makan di luar juga merupakan satu cara untuk melatih kemandiriannya dalam hal makan. Soalnya, tutur Catherine, saat anak berada di luar “lingkaran” kebiasaannya, “ia akan pamer dan berusaha berbuat yang terbaik.” Terlebih jika ia sudah dibiasakan tertib sejak di rumah, ia akan semakin tahu dan terlatih untuk tak berantakan.

Manfaat lain, lewat aktivitas makan di luar rumah, ia juga belajar bersosialisasi. “Ia pun akan belajar mengendalikan diri meski masih dalam batas-batas tertentu.” Misal, tak lari ke sana ke mari, bisa duduk tenang minimal setengah jam, atau bermanis-manis melihat akuarium yang ada di restoran, dan sebagainya. Bukankah belajar mengendalikan diri merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dilalui anak usia batita?

Dengan makan di luar, anak pun bisa mengenal dan mencicipi atau mencoba segala jenis makanan sehingga ia tak terpaku pada makanan yang itu-itu saja yang kerap ia makan di rumah. “Biasanya keinginan dan keberanian anak untuk mencoba-coba setiap makanan menular dari orang tuanya.” Jadi, sama aja boong, ya, Bu-Pak, kalau mengajak si kecil makan di restoran tapi makanan yang dipilih tak jauh-jauh dari makanan sehari-hari di rumah.

Namun dalam memperkenalkan makanan baru pada anak, bukan dengan cara memaksa, lo. Bapak-Ibu bisa bilang, misal, “Adek boleh bilang enggak mau atau enggak suka kalau sudah mencobanya,” atau, “Bagaimana Adek bisa bilang makanan ini enggak enak kalau Adek belum mencobanya? Jadi, dicoba dulu, ya.” Kalau ia sudah mencoba dan tetap mengatakan tak suka, maka kita pun harus bisa menerima sikapnya itu.

IJINKAN ANAK MEMILIH MAKANAN

Yang perlu diingat, Bapak-Ibu harus tahu porsi makan anak. Umumnya, anak usia ini belum mampu menghabiskan seporsi makanan di restoran karena porsi tersebut diperuntukkan buat orang dewasa. “Sebaiknya berikan separuh dulu atau sesuaikan dengan porsi makannya dan minta ia menghabiskan makanannya,” anjur Catherine. Dengan begitu, kita mengajarinya untuk menghargai makanan.

“Orang tua pun harus tahu, apa yang diberikannya merupakan yang terbaik buat anak. Dalam arti, makanan itu disukai anak, namun enggak pedas atau kelewat berbumbu.” Tapi alangkah baiknya bila anak ditanya mau makan apa. “Bagus sekali kalau anak dibiasakan untuk memilih makanan sendiri, sehingga orang tua tak menjadi penentu tunggal dalam urusan makanan.” Lagi pula, bukankah anak sedari kecil memang harus dilatih memilih sendiri agar kelak ia mampu mengambil keputusan?

Bukan berarti pengarahan dari orang tua nggak diperlukan, lo. Jangan sampai anak terkecoh hanya dengan melihat gambar atau memilih sesuatu makanan lantaran ia sebenarnya tak mampu menjatuhkan pilihan. Begitu pun jika harganya relatif mahal sementara budget-nya terbatas. “Anak perlu dijelaskan dan diberikan pengertian,” tukas mantan dosen pada Fakultas Psikologi Unika Atmaja Jaya, Jakarta, ini.

Tentu saja, mempertimbangkan budget juga diperlukan dalam memilih restoran dan jumlah orang yang diajak makan di restoran tersebut. “Orang tua harus mampu berhitung cermat karena budget makan di Jakarta termasuk besar sekali untuk banyak orang.” Nah, Andalah yang paling tahu berapa besar budget-nya, sesuai dengan kemampuan keuangan keluarga Anda tentunya.

MEMILIH RESTORAN

Dalam memilih restoran, Catherine mengingatkan bahayanya sering makan di restoran yang hanya menyediakan junk food. “Sebaiknya pilih restoran yang menyediakan makanan lebih sehat dan bervariasi,” anjurnya.

Jika anak tetap ngotot makan di restoran junk food, coba amati apakah hanya karena ia ingin menikmati es krimnya. Bila benar, tak ada salahnya dituruti, sementara makan besarnya bisa dilakukan di rumah. “Jadi, orang tua bisa tetap berhemat dan anak-anak pun tercukupi kebutuhannya akan makanan yang bervariasi.”

Menghadapi permintaan atau tuntutan anak, kita memang perlu lihai memberi penjelasan. Kalau tidak, “orang tua dan anak akan terjebak dalam budaya konsumtif dan pola makan yang tak sehat.” Soalnya, restoran-restoran cepat saji yang banyak dikunjungi anak umumnya memiliki strategi pemasaran luar biasa gencar. Mereka menyediakan segala macam bentuk variasi menarik untuk “dibeli”; dari tempat yang cukup luas dengan tata dekor yang menarik dan berada di tempat-tempat strategis, sampai permainan yang tengah ngetrend dan menggemaskan dan bahkan ada yang menyertakan paket mainan secara berseri hingga anak tergoda untuk membeli berangkai sampai komplit.

“Kalau mainannya begitu-begitu saja dan terbilang mahal atau di luar jangkauan kemampuan orang tua, jangan ragu untuk mengatakan ‘tidak’ kepada anak.” Kalau anak tak pernah menerima kata “tidak”, maka ia tak akan pernah belajar dalam arti sebenarnya. Lagi pula, kita, toh, bisa mengajaknya ke tempat lain yang tak kalah menarik. Jikapun ia bersikukuh ingin memiliki mainan tersebut seperti yang dimiliki temannya, kita jangan pernah lelah memberinya penjelasan. “Orang tua harus tetap mengajari anak bahwa apa yang dimiliki teman tak harus dimiliki olehnya.”

AYAH IBU BAGI TUGAS

Selanjutnya, agar semua pihak merasa nyaman saat makan di luar, perlu dibuat pembagian tugas antara ayah dan ibu. Misal, anak paling kecil duduk di dekat ibu, sedangkan yang lebih besar duduk dekat ayah. “Akan lebih aman bila ibu memangkunya karena anak usia ini belum bisa diharapkan duduk sendiri di kursi makan dewasa. Kalau sampai jatuh, bukankah akibatnya malah lebih fatal buat anak dan merepotkan buat orang tua?” bilang Catherine. Lain hal bila restoran tersebut menyediakan kursi makan khusus untuk anak, yaitu kursi dengan dudukan lebih tinggi agar anak bisa menjangkau meja makan dan dilengkapi seatbetlt sehingga keamanannya terjaga. Dengan demikian, orang tua pun bisa tenang menikmati hidangannya.

Bila anak belum terbiasa makan sendiri, mau tak mau ibu harus membantu menyuapinya sementara ayah kebagian tugas membantu anak yang lebih besar untuk menentukan pilihan makanan dan menyendokkan makanan tersebut ke piringnya. Jika pengasuh diajak, maka si kecil bisa disuapi oleh pengasuhnya sambil bersenang-senang di tempat bermain karena biasanya tempat-tempat makan sekarang menyediakan arena bermain pula.

Soal ikut-tidaknya pengasuh, menurut Catherine, harus dipertimbangkan sebelum berangkat. Bila orang tua hanya ingin melibatkan anak-anak dan bertujuan melatih “kepandaian” anak untuk makan sendiri, “pengasuh tak perlu ikut.” Tapi jika orang tua lantaran kesibukan kerjanya namun ingin makan bersama anak sekaligus mengadakan pembicaraan kerja dengan orang lain, “pengasuh sebaiknya diajak agar anak lebih terawasi dan pembicaraan pun tak terganggu.” Pertimbangan lain tentulah menyangkut budget keluarga.

Sementara persiapan terhadap anak, menurut Catherine, tak perlu dibekali banyak nasehat atau berbagai kesepakatan. “Nanti anak malah stres karena merasa terbebani.” Soalnya, bagi mayoritas anak, terutama anak-anak di kota besar, makan bersama di luar rumah merupakan salah satu bentuk rekreasi keluarga yang paling gampang dan menyenangkan. Itulah mengapa, tempat-tempat makan di Jakarta “hidup” sekali dan nyaris tak pernah sepi. “Jadi, dibawa santai sajalah, jangan membuat anak takut akibat dijejali segala macam peraturan.” Nah, sekarang sudah lebih siap, kan, Bu-Pak, mengajak si kecil makan di luar?

BUATLAH SUASANA DI RUMAH SEPERTI RESTORAN

Penting diingat, mengajak anak makan di luar bukan suatu keharusan. Banyak, kok, anak yang nyaris tak pernah makan di luar lantaran orang tuanya memang tak mampu. “Jangan pernah berpikir dengan tak membawa anak makan di luar maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang. Enggak, kok,” kata Catherine. Dalam hal kemandirian, misal, toh, bisa dilatih di rumah. Begitupun hal lain seperti sosialisasi dan belajar mengendalikan diri, juga bisa diajarkan tanpa harus dengan mengajak anak makan di luar. Pendeknya, dalam mendidik anak, kita bisa melakukannya di mana saja, tak harus terpaku di suatu tempat. Iya, kan?

Jikapun ingin memberikan suasana restoran kepada anak, kita bisa, kok, mengakalinya dengan membuat suasana di rumah seperti di restoran. Misal, ayah jadi kokinya, lalu kakak jadi pelayannya, sementara ibu dan si batita jadi pembelinya. Selanjutnya makan bersama. Bukankah hal ini juga menyenangkan? Toh, yang penting ada kebersamaan. Cara ini juga bisa dilakukan sebagai variasi kala si kecil “menuntut” makan di luar namunbudget-nya lagi enggak memungkinkan.

MAKANAN IBU ENGGAK ENAK

Sabar, Bu, jangan “naik darah” dulu ketika si kecil mulai membanding-bandingkan makanan buatan ibu dan makanan olahan koki di restoran. “Kalau anak mengatakan makanan ibu tak enak, maka ibu perlu introspeksi. Siapa tahu makanannya memang enggak enak karena ibu tak pandai memasak,” bilang Catherine. Tapi jangan hal ini lantas dijadikan alasan untuk tak menyajikan makanan murah namun enak dan bergizi bagi keluarga, ya, Bu. Bukankah ada begitu banyak artikel dan buku resep masakan yang bisa dipraktekkan?

BERIKAN PENGALAMAN KAYA

Dengan mengajak si kecil makan di luar, ia jadi bisa berbagi cerita kepada teman-temannya, lo. Ada satu kebanggaan pada dirinya bahwa ia pernah makan makanan tertentu dan di tempat tertentu. Kendati demikian, kebanggaan seorang anak, menurutCatherine, tak hanya terbatas pada makanan atau tempat makan tertentu. “Semua pengalaman pergi ke tempat-tempat lain di luar rumah akan selalu membanggakan anak.”

Itulah mengapa, anjurnya, orang tua agar senantiasa berusaha memberikan kesan yang baik dan kenangan indah pada anak tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi; entah ke restoran, kebun binatang, dan lainnya. Dengan begitu, anak bisa dengan bangga bercerita bukan hanya soal makanan, tapi juga hal-hal menarik lainnya. “Pengalaman yang kaya ini akan sangat membantu anak untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitasnya.” Pengenalan dan pengalaman yang beragam ini juga secara tak langsung akan memperkaya kepribadiannya sekaligus melatih kemandiriannya.

GELAR TIKAR DI TEMPAT REKREASI

Menurut Catherine, alangkah baiknya bila orang tua mau menanamkan keinginan dalam diri anak agar menunjukkan “prestasi” terbaik saat diajak makan di luar, meskipun dengan harapan agar lain kali diajak lagi. Misal, “Kalau Adek makannya pinter seperti ini, lain kali kita pergi lagi.”

Tak usah khawatir si kecil akhirnya jadi cenderung menuntut makan di luar setiap kali ayah-ibunya ada di rumah. Jangan pula berpikir, mengajak anak makan di luar berarti pemborosan. Yang penting, orang tua harus kreatif. Misal, mengajak anak ke kebun binatang. Setelah lelah berkeliling, istirahat sejenak di bawah pohon rindang sambil gelar tikar dan menikmati makan siang dengan bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Bukankah cara ini, selain menghemat pengeluaran juga memberikan pengalaman tambahan pada anak? “Budaya gelar tikar bukan cuma milik kalangan tak mampu saja, lo,” ujar Catherine. Jadi, jangan takut dianggap miskin atau tak mampu, ya, Bu-Pak.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/rubrik Dunia Batita/edisi 70/17 Juli 2000 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: