“MANIS” DI RUMAH, “LIAR” DI LUAR

25 Feb


Tak jarang kita terbengong-bengong menyaksikan si kecil yang begitu manis di rumah, lantas seolah lepas kendali ketika berada di luar. Atau sebaliknya, yang “pemberani” di rumah, ternyata langsung mengkeret saat diajak ke luar.

Pasalnya, anak usia 1-3 tahun masih lebih banyak tergantung pada sosok ibu. Boleh dibilang, tokoh ibulah yang jadi penentu sehingga ia hanya mau dan bisa dekat dengan orang yang sudah familiar saja. “Makanya, saat keluar dari lingkungan yang telah dikenalnya, ia cenderung menunjukkan sikap bertolak belakang dengan kebiasaannya. Apalagi jika situasi yang ditemuinya begitu asing dan membuatnya takut,” tutur Mien Sumartono, S.Psi.

Namun begitu, perbedaan sikapnya tak akan kelewat mencolok, karena anak pada dasarnya tak pernah menunjukkan perubahan sikap kelewat ekstrim. “Jarang sekali, lo, anak yang di rumah kelewat pemalu lalu di luar jadi ekstra pemberani. Seringnya justru, di luar lebih pemalu lagi.” Tapi jika di rumah berani dan di luar pemalu, “mungkin orang tua kurang memberi kesempatan bersosialisasi atauoverprotectif,” tandas Mien, sapaan akrab psikolog dari DIA/YKAI Jakarta ini.

BUKAN MUNAFIK

Jikapun sikapnya betul-betul bisa dibedakan ketika ia berada di rumah dan di luar, maka harus dilihat lagi sejauh mana perbedaannya dan kapan perubahan sikap itu terjadi, serta dalam situasi seperti apa. Soalnya, bisa jadi perubahan sikap itu cuma persepsi orang tua yang menganggap remeh kondisi anak atau malah kelewat mencemaskan. Terlebih bila anak biasanya pemberani dan relatif mampu menyesuaikan diri, lalu mendadak jadi cengeng dan sensitif, “orang tua seharusnya mengamati kondisi anak, apakah sedang kurang sehat atau gelisah karena berbagai sebab.”

Tak jarang, sikap otoriter orang tua membuat anak jadi lepas kendali kala di luar, karena ia “takut” akan mendapatkan hukuman kalau melakukan sesuatu di rumah. Bisa pula karena orang tuanya sibuk hingga ia merasa tak cukup diperhatikan. Nah, sebagai kompensasinya, di luar pengetahuan orang tua, ia justru akan bersikap sebaliknya. “Jadi, ia sebenarnya tengah berusaha minta perhatian dan kehangatan yang tak diperolehnya dengan porsi cukup,” tandas Mien.

Harus pula diwaspadai ada gangguan emosional yang mesti dicari penyebabnya bila perilakunya sangat ekstrim. Misal, di depan ibu manis sekali namun di belakangnya luar biasa menjengkelkan. “Jika orang tua tanggap, cepat meng-handle, dan memang bisa mengatasinya, berarti tak ada masalah, karena anak usia ini sedang dalam proses belajar dan mencari bentuk.” Tapi bila memang sudah sampai pada taraf keterlaluan dan tak bisa ditangani, maka perlu bantuan ahli.

Yang jelas, perubahan sikap ini tak bisa disamakan dengan sikap munafik pada orang dewasa, karena anak usia ini belum memiliki kemampuan memanipulasi dalam bentuk apapun. “Mereka masih polos sama sekali, kok, belum mengenal segala bentuk kepura-puraan; masih pure pengaruh rumah, dunia luar belum banyak mengotori,” ujar Mien. Jikapun kemampuan memanipulasi semacam itu sempat muncul, tentu tak bisa lepas dari sikap atau kebiasaan orang tua di rumah. Jadi, orang tua harus introspeksi diri, apa saja yang sudah diperbuat hingga dicontoh anak.

Jangan pula menganggap anak bersikap manis di rumah semata-mata agar tak mendapat hukuman. “Anak usia ini sama sekali belum mengenal konsep seburuk itu. Seluruh perilakunya masih sangat tergantung oleh kebutuhan akan rasa aman, terutama dari ibu. Jika ia merasa aman meski nggak ada ibunya, ya, nggak jadi masalah.” Itu sebabnya, anak yang kelewat dilindungi biasanya lebih sulit jika diajak keluar dari “sangkar”. Mereka umumnya tak bisa mandiri karena tak tahu harus berbuat apa bila tak ada yang melindungi.

KEBEBASAN BERSIKAP

Tapi sebenarnya, ujar Mien, perbedaan sikap ini tak akan kelewat mencolok bila anak sejak awal dibiasakan bebas bersikap. Selain, “orang tua pun rajin membawanya keluar untuk bertemu dan bergaul dengan banyak orang.” Dengan begitu, ia jadi punya rasa percaya diri dan keberaniannya berada di lingkungan “asing” pun akan lebih terasah, sehingga ia mampu mengatasi keterasingan dan rasa tak aman saat berjumpa dengan orang-orang yang kurang familiar.

Itulah mengapa, para ahli selalu menekankan agar orang tua tak banyak melarang anak sepanjang apa yang dilakukannya tak mengundang bahaya. “Anak harus diberi kesempatan untuk terlibat penuh dalam proses sosialisasinya dan mengenal dunia luar.” Jangan lupa, usia ini merupakan masa eksplorasi karena rasa ingin tahunya sangat besar. Jadi, “biarkan ia mencoba mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya. Kalau tak bisa, barulah orang tua turun tangan. Itu pun sekadar membantu mencarikan jalan keluar.” Kewajiban orang tua hanya sekadar menjaga dan mengarahkan.

Hal lain yang harus jadi perhatian, anak usia ini perkembangannya masih didominasi oleh perkembangan bahasa, keberanian berbicara, dan kemampuan bernyanyi. “Anak yang sudah lancar bicara biasanya memiliki kemampuan sosialisasi yang bagus, karena kemampuan bicara memberi manfaat saat anak menjalani proses sosialisasi,” terang lulusan Fakultas Psikologi UNISBA (Universitas Islam Bandung) ini. Anak pun jadi terpacu perkembangan kemandiriannya, sehingga ia tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri.

Bahwa ada anak yang pemalu karena adaptasinya mungkin lambat, tentu harus diakui karena kepribadian seperti itu memang ada, bukan suatu kelainan perkembangan. Menghadapi anak seperti ini, yang diperlukan adalah dukungan dan perhatian orang tua agar anak tak sampai minder. Jangan malah mencerca, “Eh, kok, nempel terus, sih, sama Bunda? Main, dong, sama temanmu. Jangan malu-maluin gitu, ah!” Ia justru makin mengkeret dan sulit berkembang. “Ia akan mencap dirinya sendiri bahwa ia tak seperti yang diharapkan ibunya, bodoh, dan sebagainya seperti yang dibilang ibunya.”

Kalau sudah begitu, tak ada lagi yang bisa disalahkan kecuali ibu. Pasalnya, tutur Mien, pada masa ini memang ibulah yang lebih berperan penting dalam pendidikan anak di rumah.

KOK, DI “SEKOLAH” BISA “MANIS”, YA?

Berperilaku manis untuk jangka waktu cukup lama seperti saat berada di Kelompok Bermain, merupakan suatu perjuangan tersendiri buat anak. Apalagi sampai dijadikan teladan bagi teman-temannya. Tak heran bila anak akan merasa aman dan “terbebas” dari kewajiban bersikap manis setibanya di rumah.

Toh, Anda tak perlu cemas karena kondisi ini biasanya bukan merupakan cerminan dari ketakmampuan Anda dalam mengendalikan si kecil. Bukan pula merupakan gambaran rendahnya kontrol diri anak. Umumnya lebih merupakan kondisi peralihan yang dirasa cukup sulit buat anak, yakni perubahan tempat dan situasi dari “sekolah” ke rumah.

Situasi berstruktur di “sekolah” akan menuntut anak untuk memusatkan dan menyalurkan energinya secara positif. Sementara kembalinya anak pada situasi yang tak terlalu berstruktur di rumah dapat membuatnya “tak terkendali”. Alasan lain, suasana rumah yang relatif lebih sepi dibanding “sekolah” yang ramai dan penuh kegiatan, mungkin agak mengejutkannya. Penyebab lain, umumnya anak memang akan merasa lebih aman untuk bertingkah di rumah karena ia merasa yakin dirinya akan tetap dicintai oleh orang-orang di rumah terlepas dari aapapun yang dilakukannya. Sementara di “sekolah”, ia tak memperoleh kepastian akan rasa aman tersebut.

Nah, Anda seharusnya merasa “tertantang” untuk melihat situasi semacam ini secara seimbang, yakni ketika si “anak manis” sibuk memanjat atau mencoreti dinding ruang keluarga. Anjuran berikut bisa Anda coba untuk “menjinakkan” si kecil yang sangat energik sepulang sekolah.

* Tinggallah sebentar di “sekolah”.

Ketika Anda menjemputnya, jangan segera menarik tangannya lalu bergegas pulang. Sebaiknya minta ia menunjukkan apa yang telah diperbuatnya pada hari itu. Luangkan waktu untuk mengagumi lukisan jarinya, puzzle atau kolase yang berhasil diselelesaikannya. Bila guru tak keberatan anak tinggal lebih lama di kelas, ajak ia duduk kembali di bangkunya atau di sudut kelas lalu bacakan cerita singkat untuknya. Tindakan ini akan menjembatani jarak antara suasana “sekolah” dan rumah sekaligus memperlancar peralihan tersebut. Dalam perjalanan pulang, bicarakan juga tentang rencana Anda untuk sisa hari itu. Bila yang menjemputnya bukan Anda, mintalah si penjemput untuk melakukan rutinitas yang sama.

* Bawalah makanan kecil ketika menjemputnya.

Tak jarang rasa lapar menimbulkan kerewelan pada anak. Jika sejak berangkat ia hanya sempat sarapan sekeping biskuit atau beberapa sendok nasi goreng, mungkin makanan kecil mengandung banyak protein dan padat karbohidrat dapat menenangkannya. Dengan memberinya makanan kecil selama perjalanan pulang, manfaatnya akan langsung terasa begitu ia mencapai ambang pintu rumah.

* Pertimbangkan untuk mampir ke tempat yang menyenangkan dalam perjalanan pulang.

Berhenti sebentar di taman bermain, misal, agar ia dapat melepaskan energinya yang tertahan selama berada di “sekolah”. Cara ini akan membantunya mengurangi kebutuhan untuk melepaskan energinya di rumah.

* Ciptakan situasi berstruktur ketika tiba di rumah dengan menyediakan kegiatan seperti di “sekolah”.

Ini akan membantunya kembali memasuki kehidupan di rumah. Jadi, sebelum Anda menyiapkan makan siang untuknya, cobalah duduk bersamanya dengan sebuah buku, kaset lagu-lagu kesukaannya, mainan kesayangannya, atau segala sesuatu yang memungkinkan Anda berdua menghabiskan waktu secara khusus.

LANTARAN ADA KESEPAKATAN

Tak jarang, anak yang biasanya “nakal” di rumah namun manis dan penurut kala di luar lantaran sebelumnya sudah ada kesepakatan antara anak dengan ibunya untuk tak “nakal” agar boleh ikut pergi. Ada, lo, anak yang patuh sepenuhnya dengan kesepakatan tersebut karena ia mengerti betul kalau ia berbuat yang sesuai dengan keinginan ibunya, ia akan mendapat sesuatu yang menyenangkan.

Nah, Anda pun bisa menerapkan kesepakatan ini pada si kecil. Tentu dengan kata-kata sederhana sesuai daya tangkap anak. Misal, “Adek boleh ikut Bunda tapi Adek enggak boleh nangis dan minta dibelikan ini-itu.” Sampai di tempat tujuan, bisa jadi ia akan “membujuk” atau memanfaatkan Anda untuk menuruti keinginannya, “Boleh, dong, Bunda, Adek beli mobil-mobilan itu.” Asalkan Anda konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat, si kecil akan belajar bahwa ia tak bisa seenaknya melanggar kesepakatan bersama. “Anak yang dibiasakan dengan cara seperti itu, biasanya akan tumbuh menjadi anak yang patuh,” kata Mien.

Sikap lain yang banyak dicontoh anak dari ibunya adalah sabar, karena orang tua yang tak sabar umumnya cenderung memunculkan ketaksabaran dalam diri anak. “Begitu pula anak rewel yang keinginannya selalu harus dipenuhi saat itu juga, biasanya juga lantaran ibu atau ayahnya bersikap seperti itu.” Secara tak langsung, sikap anak merupakan gambaran orang tuanya. Bukankah orang tua adalah model bagi anak? Nah, bagaimana orang tua bersikap sehari-hari, itulah yang dilihat anak dan dijadikan pegangan atau panutan baginya.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/rubrik Dunia Batita/edisi 69/10 Juli 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: