HIDUP TANPA TV, MUNGKINKAH?

26 Feb


Banyak orang tua begitu cemas terhadap pengaruh buruk TV pada anak. Sampai-sampai, ada yang tak menyediakan pesawat TV di rumah. Padahal, TV juga bisa menjadi sarana pendidikan, lHo. Jadi, mungkin nggak, sih, anak hidup tanpa TV?

‘Kenapa tidak?” ujar M. Elisabeth Arman, SPsi. “Mungkin saja, kok!” Malah, lanjut Lisa, sapaan akrab pengajar pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta, ini, kondisi tanpa TV amat ideal buat anak usia batita karena TV belum memberi manfaat pada mereka.

Anak usia batita, terangnya, masih sangat tergantung pada sosok ibunya. “Ia sama sekali belum bisa memilih, menilai, apalagi mencerna program-program yang ditayangkan. Ia cuma pemirsa pasif, hanya menerima dan menyerap informasi sebanyak mungkin.” Dengan kata lain, TV bukan merupakan kebutuhan anak usia batita. Jadi, kalaupun ditiadakan, tak akan menimbulkan masalah apapun.

Sebaliknya, justru bisa timbul masalah kalau ada TV. Ia bisa “keranjingan” nonton, hingga saat makan pun maunya di depan TV. Tak lain karena si ibu ataupun pengasuhnya hobi nonton. “Orang dewasa inilah yang pasti memaksa anak ikut nonton agar ia tak perlu repot mengikuti dan mengawasi batita yang bergerak ke sana ke mari.” Atau, agar keasyikannya nonton enggak terganggu; paling tidak, agar sinetron/telenovela kesukaannya tak terlewatkan.

Tak heran bila akhirnya -setelah lepas usia batita- anak jadi punya kebiasaan nonton TV, bahkan bisa sampai berjam-jam tak beranjak dari depan TV. Kalau sudah begitu, TV-lah yang disalahkan; bukannya si ibu sadar anaknya jadi punya kebiasaan nonton TV gara-gara dirinya juga.

KEBUTUHAN SOSIALISASI

Jadi, kuncinya terletak pada diri kita sendiri, apakah TV akan berpengaruh buruk atau tidak pada anak. Jikapun kita ingin meniadakan “si kotak ajaib” itu, patut dipertanyakan sampai usia berapa anak mau “dibebashamakan” dari pengaruh TV dan siapkah kita menghadapi implikasi-implikasi tertentu akibat tak ada TV.

Soalnya, tutur Lisa, untuk anak-anak yang lebih besar, TV boleh jadi merupakan salah satu kebutuhan sosialisasinya. “Ingat, anak adalah makhluk sosial.” Malah sejak usia setahun pun ia sebenarnya sudah mulai bersosialisasi, hanya masih dalam lingkungan sangat terbatas dan akan meluas seiring pertambahan usianya. Hingga lepas usia batita, aktivitas ini semakin gencar dilakukan. Bahkan, ia belajar banyak dari teman-temannya atau membentuk pear group. Nah, dengan sesama teman inilah, ia biasanya asyik ngobrol. Apa lagi yang diomongin kalau bukan tentang TV? Terutama tokoh-tokoh tertentu dalam serial yang memegang rating tinggi alias jadi buah bibir.

Jadi, bisa dibayangkan kalau ia tak pernah nonton TV. Ia tak tahu siapa Panji si Manusia Milenium, misal, atau tak tahu “kehebatan” si Unyil dalam Tuyul dan Mbak Yul saat mengalahkan musuh-musuhnya. Tentu ia akan dibilang norak atau ketinggalan jaman oleh teman-temannya. Padahal buat anak, dikata-katai seperti itu akan sangat memukul harga dirinya. “Sama halnya bila kita tak mengikuti trend mode. Menyakitkan sekali bukan kalau penampilan kita dibilang norak? Sementara dalam diri tiap orang ada kecenderungan untuk selalu ikut apa yang dipakai orang lain.”

Implikasi lain yang harus juga diperhitungkan, kenyataan bahwa TV ada di mana-mana, dari rumah-rumah gubuk di bantaran kali atau pinggir rel kereta api sampai rumah-rumah mewah. Nah, apakah kita siap dianggap “aneh” oleh orang-orang sekitar? Hal ini bukan tak berdampak pada si kecil, lho. “Ia akan tumbuh menjadi anak yang merasa berbeda dengan anak lain hingga merasa aneh sendiri.” Jadi, saran Lisa, tak perlulah kita bersikap berlebihan seperti itu.

NONTON DI RUMAH TETANGGA

Memang, ujar Lisa paham, orang tua bermaksud baik, yakni agar anak tak terkena “polusi” berupa adegan kekerasan dan sebagainya. Sayangnya, maksud baik itu malah membuat anak jadi korban. “Ia merasa terasing di tengah keramaian dan keceriaan dunia anak-anak. Kasihan, kan?”

Lagi pula, stimulus buruk, kan, enggak hanya bersumber dari TV semata. “Justru contoh nyata dari orang tua sendirilah yang paling cepat ditiru anak karena anak segini, kan, lagi gencar ber-modelling atau meniru.” Bagaimana orang tua bersikap dan bagaimana mereka membangun hubungan suami-istri akan lebih mudah ditiru anak. Dia akan menampilkan sikap gampang marah dan bersikap kasar pada siapa saja kalau memang itu yang dilihatnya dalam keluarga, misal.

Yang tak kalah penting, apakah orang tua nantinya betul-betul bisa menjalankan fungsicontrolling terhadap peraturan yang agak di luar kebiasaan ini. “Nah, siapkah orang tua terus-menerus memantau dan intensif mendampingi anak?” Kalau fungsi kontrol bisa berjalan, sih, enggak apa-apa karena tak akan menimbulkan masalah baru. Tapi, bagaimana bila anak ternyata malah mencuri-curi nonton di rumah tetangga? “Inilah yang harus diantisipasi orang tua jauh-jauh hari.”

Soalnya, kalau anak menumpang nonton, ia justru jadi tak teramati; berapa lama ia menonton, tayangan apa saja yang ditontonnya, dan bagaimana kemungkinan ia mencerna tontonan tadi bila tak ada bimbingan/penjelasan dari orang tuanya. Malah lebih fatal, kan, akibatnya?

Lisa minta orang tua introspeksi diri bila anak sampai mencuri-curi nonton di rumah tetangga; apakah dirinya tak termasuk orang tua yang otoriter? Soalnya, bila keputusan menghapus budaya nonton TV dalam keluarga mutlak ada di tangan orang tua, tanpa kompromi, apalagi mempertimbangkan pendapat dan kebutuhan anak, boleh jadi orang tua tergolong tipe yang memaksakan kehendak. “Orang tua model begini biasanya punya kecenderungan strong controlling alias kelewat ingin mengatur orang lain, termasuk anaknya.”

Sementara reaksi anak bisa bermacam-macam. Ada yang diam dan menerima begitu saja semua bentuk pelarangan orang tuanya, meski ia sebetulnya amat tertekan. “Namun ada pula yang memberontak begitu merasa kebutuhan dan keberadaannya terabaikan, lebih-lebih bila ia bukan termasuk orang yang suka diatur-atur.” Nah, mencuri-curinonton di rumah tetangga merupakan salah satu bentuk pemberontakannya.

Jangan lupa, anak yang sudah jenuh dilarang ini-itu tanpa penjelasan, biasanya akan semakin besar kadar kepuasannya bila ia melakukan apa yang justru dilarang orang tuanya. Dorongan bereksplorasi dibarengi kondisi merana yang semakin lama membuat anak semakin merasa terkungkung dan terbatas inilah yang akhirnya mencuat dalam bentuk pemberontakan tadi. Belum lagi pendiktean, “Jangan ini!” atau “Jangan itu!” yang sudah begitu akrab di telinga anak.

SARANA PENDIDIKAN

Sebenarnya, tutur Lisa, TV berfungsi sebagai media. Jadi, sesuatu yang netral. Malah bisa menjadi sarana pendidikan bila dimanfaatkan secara benar. Bahwa yang keluar dari TV bisa segala macam -dari informasi, hiburan, berita pembunuhan, sampai film-film erotis maupun yang mengerikan-, sementara porsi acara untuk konsumsi anak relatif terbatas, memang tak bisa dipungkiri.

Tapi bukan berarti solusinya adalah meniadakan TV di rumah. Toh, masih bisa disiasati dengan orang tua mendampingi anak menonton, sehingga saat TV menayangkan adegan kekerasan, misal, kita bisa menjelaskan kepadanya atau ganti saluran kalau sudah terlalu parah. “Alihkan perhatiannya sambil beri penjelasan karena tak sedikit anak yangngotot tak mau pindah saluran.” Kalau ia bertanya mengapa, justru kesempatan bagi orang tua untuk memasukkan nilai-nilai bahwa hal-hal seperti itu ada yang tak baik. “Anak pun akan menyerap hal-hal yang kita ajarkan.”

Tak demikian halnya bila orang tua “berani” bersikap ekstrem (meniadakan TV di tengah banjirnya arus informasi). Menurut Lisa, bila orang tua sampai bersikap ekstrem, berarti ada sesuatu yang membuatnya trauma hingga ngotot melindungi anaknya dari pengaruh TV. Atau, ada ketakutan tertentu pada dirinya karena melihat anak temannya yang jadi agresif gara-gara TV, misal. Mungkin juga si orang tua tipe orang yang enggak sukanonton TV; dia tak merasa enjoy sehingga nontonnya hanya yang perlu-perlu saja.

Tapi, apa pun “alasan” di balik sikap ekstrem tersebut, ingatlah, seiring berjalannya waktu, si kecil akan berkembang menjadi individu mandiri yang harus mampu berfungsi sebagai filtering; menyaring mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak. Nah, fungsi filtering inilah yang justru harus dihidupkan atau ditumbuhkan sejak kecil. Usia balita merupakan kesempatan emas untuk menanamkan sikap dan nilai-nilai moral pada anak. Jadi, mengapa tak kita manfaatkan?

 WASPADAI BAHAYA MENONTON TVBerdasarkan penelitian, mereka yang keranjingan nonton TV bukan hanya terkesan tak peduli pada orang di sekitar, melainkan juga memasuki kondisi trance atau kerasukan. Selain itu:* Kemampuan metabolismenya (kecepatan tubuh membakar kalori) menurun drastis dibanding dalam kondisi aktif maupun istirahat. Diduga, inilah yang jadi salah satu penyebab kegemukan. Disamping, kencerungan ngemil selagi nonton atau jadi korban iklan untuk mencicipi makanan yang “salah” semisal junk food.

* Aktivitas fisik, intelektual, dan sosial anak jadi kurang memadai atau bahkan tak ada sama sekali. Bukankah bila sedang asyik nonton, anak ogah membaca buku atau bermain dan berlari-lari dengan temannya, hingga tak memancing anak untuk melatih otot-otot tubuh dan pikirannya?

* Menyaksikan adegan kekerasan akan membentuk tingkah laku agresif; paling tidak melemahkan atau bahkan melumpuhkan kepekaan anak terhadap kekerasan. Bukan mustahil anak akan menganggap aneka bentuk kekerasan sebagai hal biasa dan wajar-wajar saja.

* Menyuburkan rasa takut karena anak masih sulit membedakan kenyataan dan khayalan. Mereka menangkap kengerian dari cerita fantasi yang ditontonnya sebagai kenyataan, hingga akan memperbesar peluang mengalami mimpi buruk.

* Anak mendapat nilai-nilai hidup yang meragukan. Meski banyak acara anak yang berusaha menanamkan nilai-nilai positif seperti toleransi, berbagi, keramahan, kebaikan dan kejujuran, namun tak sedikit pula yang justru “menawarkan” hal-hal negatif semisal kekerasan, kebohongan, atau kemunafikan.

* Banyak orang tua, terutama yang merasa diri super sibuk, berpaling pada “pengasuh” elektronik ini. Saat menghadapi kerewelan dan kebosanan anak, mereka dengan sigap langsung menyalakan TV, hingga kreativitas menghadapi masalah juga tak terlatih. Anak yang diperlakukan demikian akan cenderung menjadi orang yang tak mampu menghadapi gelombang pasang surut kehidupan. Bukannya menghadapi masalah dan mencari jalan keluarnya, tapi melarikan diri dan ambil jalan pintas.

* Anak cenderung jadi pelajar pasif, cepat bosan, dan tak mampu berkonsentrasi. Akibatnya, ia gagal mengakrabkan diri dengan buku. Padahal, aspek ini berkaitan erat dengan perkembangan intelektualnya.

* Program TV umumnya tak menantang kreativitas anak untuk menciptakan ide-ide baru karena acara itu sendiri sudah tuntas “menyelesaikan” tugasnya dan anak terima jadi. Mengapa tak memanfaatkan TV untuk merangsang perkembangan pengamatan anak, misal, “Apa yang baru dilakukan anak-anak dalam cerita itu, ya?” atau, “Bisakah kita membuat boneka kertas seperti yang mereka buat tadi?”

* Keluarga yang nonton TV sepanjang hari, secara bertahap bisa menjauh dan hanyut terbawa arus karena masing-masing sudah tenggelam dalam dunianya sendiri. Akibatnya, interaksi di antara mereka rendah sekali; sedikit ngobrol, berbagi ide dan perasaan, ataupun bertukar pandangan/nilai-nilai. Lebih baik adakan kegiatan yang dapat mengakrabkan keluarga seperti masak, berkebun, berenang, kegiatan seni, dan jalan-jalan ke taman atau museum. Jikapun ingin nonton bersama, lakukan kegiatan lain semisal permainan atau diskusi tentang apa yang ditayangkan di TV.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 74/14 Agustus 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: