KENALI KARAKTER ISTRI

26 Feb


Jika kita kenal karakter pasangan, dijamin konflik dapat diminimalisir. Bukankah dengan kenal, kita bisa memahaminya, hingga solusi pun bisa ditemukan. Nah, seperti apa karakter istri Anda, silakan simak sejumlah karakter di bawah ini.

1. BOROS 

Coba lihat bagaimana karakter orang tuanya. Soalnya, kata psikolog Raymond A.I. Tambunan dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta, mereka yang boros biasanya dibesarkan dari orang tua yang boros pula. “Jadi, sejak kecil memang sudah terbiasa dengan pola hidup boros.” Umumnya lebih impulsif, yakni tak bisa menunda keinginan. Bila menginginkan sesuatu, ia pasti langsung membelinya. “Bukankah dari orang tuanya, ia selalu mendapat pemenuhan atas setiap yang diinginkannya?”

Kendati demikian, pola asuh bukan satu-satunya yang membentuk seseorang berkembang jadi si boros. Ada juga, kok, yang dulunya hidup miskin, tapi setelah dewasa jadi boros. “Kalau sekarang ia hidup bergelimang harta karena berhasil mencapai pendidikan tinggi hingga punya karir dan penghasilan bagus, tentunya apa pun yang ia inginkan bisa dibelinya dengan mudah hingga membentuknya jadi pribadi yang boros.” Jadi, sikap borosnya lebih merupakan kompensasi masa kecilnya yang serba susah.

Tentu saja, si pemboros tak mengenal budaya menabung. Terlebih si boros yang merupakan “produk” dari orang tua boros. Di benaknya yang ada cuma bagaimana menghabiskan uang yang diperolehnya. Celaka, kan? Bisa-bisa tiap menjelang akhir bulan suami harus ekstra cari tambahan untuk menutupi kekurangan belanja. Atau, bisa jadi suami kemudian menjatah uang belanja per minggu atau malah per hari. Kalau sudah begitu, bakalan “perang”, deh.

2. PELIT

Kayaknya karakter ini sudah menjadi semacam trade mark kaum ibu. Bukankah para ibu lebih suka berkeliling pasar menawar ke sana ke mari demi mendapatkan harga termurah? Orang luar boleh saja berkomentar, “Kok, mau beli gitu aja mesti dihitung-hitung banget? Berapa, sih, selisih harganya? Apa enggak capek buang-buang energi?”

Padahal, ibu-ibu model ini belum tentu pelit, lo. Siapa tahu ia cuma bermaksud hemat. Apalagi secara sosiologis, terang Raymond, ibu-ibu di negeri kita umumnya bertanggung jawab pegang keuangan keluarga, sementara suami bertugas mencari nafkah. “Nah, sebagai menejer keuangan keluarga, tentu ia harus pandai-pandai mengatur keuangan keluarganya, bukan? Itu sebab, perbedaan-perbedaan harga yang oleh orang luar dinilai sepele, bagi si ibu sangat berarti.” Terlebih bila ia memperhitungkannya berdasarkan akumulasi atau penjumlahan. Coba, gimana jadinya bila belanja keluarga tekor? Ibu juga, kan, yang biasanya dituduh tak becus pegang uang? Sementara bapak dan anak biasanya enggak mau tahu. Mereka cuma tahu beres aaja karena tak mau kelewatnjlimet memperhitungkan perbedaan-perbedaan harga tadi.

Jadi kalau pelitnya dalam arti hemat, dipahami aja, deh, Pak. Ketimbang punya istri boros yang bisanya cuma menghambur-hamburkan uang melulu. Iya, kan? Apalagi, “biasanya karakter pelit yang hemat ini lebih dimunculkan oleh kondisi tertentu semisal terbiasa menjalani kehidupan serba susah dari sudut ekonomi, hingga ia harus menabung dulu untuk mendapatkan yang diinginkannya.” Nah, malah bagus, kan? Si kecil pun bisa belajar menabung dari ibunya, sekaligus belajar menahan diri untuk menunda keinginannya.

Sebaliknya, si pelit dalam arti tak mau berbagi, biasanya diwarnai posesivitas, yaitu keinginan untuk memiliki yang begitu kuat. Karakter ini sebenarnya dibawa dari masa 5 tahun pertama. “Bila pada tahap usia ini anak kelewat diatur-atur hingga terbiasa menahan segala keinginannya karena tak boleh ini maupun itu, ia berkembang jadi pribadi yang tak mau berbagi.” Namun dengan usia terus bertambah, semestinya ia makin bisa membedakan miliknya dan milik orang lain, serta lebih mampu meminjam dan meminjamkan miliknya. Jangan malah keterusan, sampai sudah jadi ibu pun masih pelit enggak ketulungan.

3. TAK BETAH DI RUMAH

“Memang ada pribadi-pribadi yang tergolong outgoing alias tak betah di rumah ini,” bilang Raymond. Yang model begini, suka sekali menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke mal dan menghambur-hamburkan uang. Padahal, jika memang tujuannya mengisi waktu, kan, masih banyak kegiatan bermanfaat. Entah kursus menjahit, merangkai bunga, bahasa asing, dan sebagainya, yang lebih erat kaitannya dengan achievement. Sementara di rumah pun, rasanya mustahil bila tak ada pekerjaan dijadikan alasan keluyuran. Bukankah mendampingi anak belajar atau memanfaatkan waktu bersama anak merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat ketimbang mereka seharian bersama pembantu?

Namun, ada pula yang tak betah di rumah lantaran merasa belum cukup dengan apa yang sudah dilakukannya di rumah. “Jadi, ia memang bisa mengisi waktu dengan pekerjaan rumah tangga tapi menginginkan lebih dari itu.” Apalagi bila ia merasa kompeten dan berpeluang membina karir di luar karena punya keterampilan tertentu, tentu tak berlebihan jika si ibu lantas meninggalkan rumah guna mewujudkan angan-angannya tadi. Bukan berarti ia enggak sayang pada anaknya, lo. Terlebih jika anaknya sudah mulai besar dan tak perlu ditunggui setiap saat, nggak ada salahnya, kan, bila ia memanfaatkan waktunya untuk lebih mengaktualisasikan dirinya?

Ada juga, lo, istri-istri yang tak betah di rumah lantaran kesepian. Hingga, ia lantas mencari hiburan dengan keluyuran tak tentu arah. Tentu saja, perilaku ini tak hanya terbatas pada ibu rumah tangga semata, melainkan juga para eksekutif. Terlebih 10 tahun terakhir ini, banyak orang pulang kantor bukannya ke rumah, malah jalan-jalan dulu ke kafe, pub, dan sejenisnya.

Nah, yang harus dicari adalah jawaban mengapa ia tak betah di rumah dan adakah sesuatu yang membuatnya begitu. Boleh jadi lantaran ia merasa harus tampil cantik atau menarik karena ia sudah bosan tampil seadanya setiap hari di rumah. Bisa jadi pula karena hubungannya dengan suami kurang memuaskan hingga ia butuh pengakuan dari orang lain. Atau, ia tak betah di rumah karena ingin menghindari keruwetan rumah tangga lantaran tak diajarkan/dibiasakan terampil memecahkan masalah, hingga yang ada hanya sekadar pelarian.

Kemungkinkan lain, ia cuma ingin pamer, “Nih, lo, gue!” untuk mendapat pengakuan sosial yang tinggi di saat pertemuan-pertemuan rutin semacam arisan tak lagi dianggap memberinya kepuasan.

Alasan-alasan tersebut, menurut Raymod, bisa dipahami sepanjang cuma untuk sementara waktu. Jadi, kalau cuma lantaran bosan tampil dengan daster butut di rumah lantas tiap hari keluyuran, ya, enggak bener, dong.

4. TUKANG NGOMEL

Pusing juga, ya, Pak, punya istri model ini. Sedikit saja ada yang nggak berkenan di hatinya, ia langsung ngomel. Apalagi kalau ada yang bikin salah, omelannya bisa memekakkan telinga. Tak peduli siapa orang yang ia omeli, entah suami, anak, ataupun pembantu.

Menurut Raymond, karakter ini muncul bukan lantaran perempuan pada dasarnya memang cerewet, karena lelaki pun banyak yang cerewet. “Karakter ini lebih merupakan mekanisme pertahanan untuk menunjukkan dirinya agar dihargai.” Kasarnya, “Ini, lo, gue! Jangan anggap remeh gue, ya!’.” Pasalnya, secara fisik, yang bersangkutan tak mampu menyelesaikan masalahnya, hingga ditempuhlah cara dalam bentuk agresivitas yang dianggapnya paling aman dan terhormat ketimbang main lempar-banting piring.

Raymond melihat, mengomel merupakan bentuk agresivitas yang paling sering muncul lantaran orang merasa frustrasi. Pemicunya berupa situasi yang serba “mengurung” hingga ia merasa tak berdaya. “Kalau ada masalah tapi enggak diselesaikan, pastinya, kan, bertumpuk. Nah, kalau ini selalu berulang, tentu sangat menjengkelkan dan terakumulasi. Apalagi jika sudah dikasih tahu baik-baik tapi tetap tak ada perubahan, ya, akan memunculkan agresi.”

Akan halnya cerewet, lebih disebabkan faktor kecemasan. Bukankah para ibu biasanya relatif lebih mudah cemas? Hingga, saat si kecil pamit hendak main sepeda di depan rumah, misal, ibu langsung membekalinya dengan segudang nasihat. Pendeknya, segala sesuatu bikin ia cemas. Bahkan, omongannya sendiri pun ia cemaskan, “Jangan-jangan omongan saya tadi enggak jelas,” hingga bolak-balik ia omongin lagi hal yang sama sampai yang mendengarnya pun capek.

Cerewet, bilang Raymond, harus dibedakan dengan orang yang memang senang bicara. “Mereka kalau bicara kata-katanya lebih bermakna dan sistematis, bukan asal ngomong atau berkomentar asal nyeplos tapi betul-betul dipikirkan.”

5. PENCEMBURU

Istri model ini amat posesif karena ia merasa tak aman. Coba telusuri lebih jauh penyebabnya sampai ke masa kecilnya, adakah ia punya pengalaman buruk. Soalnya, terang Raymond, “mereka yang punya pengalaman tak enak, berpotensi besar jadi cemburuan.” Misal, apa yang ia miliki mudah hilang atau barang-barangnya yang dipinjam tak pernah kembali.

Kondisi kehidupan atau tuntutan tugas yang “memaksa”nya sering berpindah tempat, juga bisa menjadi salah satu sebab munculnya karakter ini. Bukankah ia harus tercabut dari lingkungan lama yang sudah akrab dan selalu harus memulai dari awal lagi? “Nah, ini membuatnya merasa tak aman dan nyaman. Ia merasa segala yang telah dibina selalu sia-sia, hingga timbullah posesivitas dan keresahan tingkat tinggi.” Akibatnya, terhadap suami pun, ia demikian; ia takut kehilangan orang yang dicintainya hingga ia punya kecemasan berlebihan kalau-kalau suaminya akan lepas juga darinya. Buntutnya, muncullah cemburu buta.

“Sebenarnya, istri atau suami cemburu itu, wajar, kok. Malah dibutuhkan untuk menunjukkan ekspresi cinta dan perasaan memiliki,” kata Raymond. Namun bila berlebihan, jadi tak wajar, karena sudah disertai kecurigaan dan ketidakpercayaan. Jelas ini enggak sehat dan pasti mengundang konflik. Iya, kan, Bu-Pak?

6. SLORDIG

Buat mereka, keteraturan nggak terlalu penting. Itu sebab, mereka tak terusik sedikit pun kala melihat si kecil belum juga mandi padahal hari hampir magrib atau mendapat tas kerja suami ada di tempat tidur, dan sebagainya. Bahkan, si kecil belum makan pun, tak jadi soal buatnya. “Toh, kalau lapar nanti juga minta makan,” begitu pikirnya. Rumah berantakan juga ia tenang-tenang saja.

Jika pasangannya juga seirama, mungkin tak bakal jadi masalah buat keduanya. Namun bila suaminya sangat teratur, bisa-bisa tiap hari ada “bom” meletus di rumah. Betapa tidak! Di mata si teratur, segala sesuatu harus serba rapi, dan sistematis, tak boleh melenceng sedikit pun. Mereka juga amat disiplin, cenderung mengatur dan mendominasi orang lain. Nggak heran, kan, kalau dua karakter yang bertolak belakang ini akhirnya jadi sering konflik?

Apalagi, si slordig ini tipe orang yang cenderung menunda-nunda pekerjaan dan menggampangkan masalah. Baginya, hidup ini seperti air mengalir; segalanya berjalan biasa saja, tak ada yang harus dikejar. Umumnya karena ia tak punya ambisi dan aspirasi yang muluk. Nah, inilah yang harus ditumbuhkan dalam dirinya.

Menurut Raymond, ketiadaan ambisi dan aspirasi ini lebih disebabkan pandangan yang salah kaprah tentang peran perempuan. “Di sini masih banyak, kan, yang mengganggap wanita egois kalau ingin bersekolah lagi atau bekerja. Dianggapnya tak perhatian sama anak, lebih mementingkan diri sendiri, dan sebagainya.” Dengan kata lain, label-label dari lingkunganlah yang menindas aspirasi wanita. Celakanya, jika ia juga bersuamikan yang setipe dengan lingkungan tersebut, makin tenggelamlah aspirasinya.

7. GILA KERJA

Ini sudah lampu kuning, Pak. Soalnya, bisa jadi ada something wrong dengan kehidupan rumah tangga Anda berdua, hingga ia merasa tak nyaman, lalu mencari kompensasi dengan bekerja dan mengejar prestasi di bidang lain. Meski tak tertutup kemungkinan kegilaannya berhubungan dengan achievement atau ambisi mencapai sesuatu yang lebih. “Ia merasa ada yang kurang hingga harus mengejar untuk menutupi kekurangan itu,” jelas Raymond.

Bisa juga karena faktor-faktor teknis seperti kondisi kantor dan sistem kompensasi yang amat bagus, hingga orang terpacu untuk berkarier dan terus berkarier. Akibatnya, ia merasa lebih betah di kantor ketimbang di rumah, terlebih jika kondisi rumah juga mendukungnya untuk “lari” ke kantor. Wong, di kantor lebih nyaman, kok. Ia merasa dihargai, mendapat kepercayaan dan kesempatan, jenjang kariernya jelas, dan situasi kerjanya pun menyenangkan.

Disamping, gila kerja juga didorong oleh kecenderungan untuk memiliki uang pribadi agar tak ada ketergantungan ekonomis pada suami. Umumnya, pertimbangan ekonomi cukup kuat mendorong ibu-ibu untuk bekerja dan mengejar karier.

Sayang, reaksi orang-orang rumah, terutama suami, sering enggak tepat semisal marah, menuduh, atau melecehkan, hingga yang kemudian muncul justru keinginan lebih untuk bekerja dan terus bekerja. “Daripada di rumah cuma ribut terus, mending ke kantor,” begitu yang ada di benaknya.

Menurut Raymond, secara kasat mata biasanya sulit dibedakan antara yang gila kerja lantaran memang betul-betul menikmati ataukah hanya sekadar pelarian. Pastinya, mereka yang potensial punya rasa rendah diri merasa menemukan pengakuan atau dianggap berharga dari dunia kerja. Terlebih jika dari suami, ia lebih kerap mendengar kata-kata bernada menghina/melecehkan.

8. “PELAYAN SEJATI”

Masih banyak, lo, istri model ini. Penyebabnya, “faktor budaya,” ujar Raymond. Bukankah budaya kita, terlebih jaman dulu, mendudukkan perempuan lebih rendah dari pria? Jadi, sedari kecil, perempuan sudah terbiasa kalah dan mengalah; dididik untuk selalu melayani, bukan dilayani. Hingga yang tertanam di benaknya, “Saya ada untuk melayani suami dan anak.” Selain, perempuan memang punya naluri untuk merawat, hingga ada kecenderungan lebih mengutamakan suami dan anak.

Jika suami tergolong tipe yang senang dilayani, kloplah. Suami puas, istri pun merasa dirinya berharga. Namun buat suami yang lebih mementingkan diskusi antar anggota keluarga dan keterlibatan istri dalam pengambilan keputusan, tentulah sangat tak nyaman beristrikan model ini. Ia butuh istri yang bisa diajak ngobrol, bisa dimintai pendapat dan ide-idenya, bahkan bisa memutuskan apa yang terbaik buat suami kala si suami sudah kehabisan solusi untuk mengatasi masalahnya. Dalam bahasa lain, ia butuh pasangan yang setara. Nah, jika kebutuhan ini tak diperoleh dari istrinya, bisa jadi ia akan mencarinya dari orang lain. Jika orang lain itu sejenis, mungkin nggak masalah. Namun bila berlainan jenis, apa nggak bakalan runyam nantinya?

Buat suami yang tak puas, saran Raymond, “komunikasikan dengan istri.” Soalnya, istri model ini “tak punya” nyali buat ngomong duluan karena ia terbiasa menerima. Bukan tak mungkin setelah diajak bicara, ternyata ia juga merasa tertekan dengan sikapnya yang demikian tapi tak berani mengutarakannya.

9. “TERSERAH MAS AJA, DEH.”

Kalau yang ini lebih karena sedari kecil tak dibiasakan memilih dan mengambil keputusan. Namun bisa juga lantaran suami kelewat dominan atau boleh jadi ia punya pengalaman pahit/menyakitkan kala ikut menentukan pilihan semisal komentar suami yang melecehkan, “Selera Mama, kok, norak banget, sih?” atau “Ah, kamu memang nggak pernah bisa dimintai pendapat, salah melulu.” Istri sebaik dan sesabar apa pun pasti akan terluka hatinya. Akhirnya, ia lebih memilih diam daripada harus sakit hati. Namun buntutnya, bisa jadi ia ngomel di belakang menunjukkan kekecewaan, “Kok, gini, sih?”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 87/13 November 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: