MEMBANDING-BANDINGKAN ANAK

26 Feb


Hati-hati, lHo, si kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang ragu-ragu bila kerap dibanding-bandingkan. Sebaliknya, anak yang jadi bahan pembanding akan selalu merasa diri sempurna hingga sering salah arah. 

Sering kita dengar, seorang ayah atau ibu membangga-banggakan anak yang satu dan menjelekkan anak yang lain. Misal, “Kakak, kok, nggak seperti Adek, sih? Contoh, tuh, Adek, kalau dikasih tahu selalu nurut, tidak seperti Kakak, ngelawan terus.”; atau, “Wah, Kakak hebat, lho, juara renang lagi, tidak seperti Adek, kalau bertanding kalah melulu. Ikut lomba menggambar aja enggak pernah menang.”

Padahal, dengan membanding-bandingkan, tutur Rahmitha P. Soendjojo, berarti orang tua tak melihat sosok si anak secara utuh. Bukankah seharusnya kita melihat anak sesuai dengan dirinya, kemampuannya? Jadi, tegas Mitha, sapaan akrab psikolog pada DIA-YKAI, Jakarta ini, kalau mau membandingkan, ya, bandingkan dengan kemampuan diri si anak sendiri. “Jangan pernah di luar jangkauan itu! Sama sekali nggak adil, dong.”

JALAN PINTAS

Memang, aku Mitha, membanding-bandingkan adalah sesuatu yang wajar dan alamiah. Orang dewasa, misal, bukankah kalau “digesek” seperti itu akan lantas panas hingga terpacu semangatnya? Tapi jangan lupa, anak bukan orang dewasa karena ia masih serba terbatas, baik fisik, kemampuan, maupun cara berpikirnya. “Anak tak akan langsung bisa mengambil keputusan untuk belajar atau berbuat manis karena pengalaman belajarnya juga belum ada.”

Sebenarnya, lanjut Mitha, keinginan membanding-bandingkan merupakan upaya orang tua untuk mencari jalan pintas. “Mereka berpikir, dengan membanding-bandingkan, anak akan lebih cepat nangkap dan ngerti sehingga jadi termotivasi.” Jadi, dengan mengatakan, misal, “Lihat, tuh, Adek lebih pintar! Baru masuk ‘sekolah’ sudah bisa membaca. Kakak mana? Sudah TK besar tapi masih belum bisa baca juga.”, orang tua berharap si kakak akan “terbakar” semangatnya untuk juga bisa pintar membaca seperti adiknya.

Tapi pada kenyataannya, belum tentu dengan perbandingan itu anak akan termotivasi seperti harapan orang tua. Ingat, kemampuan dan cara berpikir anak masih terbatas. “Bisa jadi ia malah bingung, gimana caranya, ya, supaya aku bisa lancar membaca.” Lagi pula, orang tua sebenarnya tak berhak, kok, “mengadili” anak dengan membanding-bandingkan. Apalagi bila selama ini orang tua tak pernah melatihnya belajar membaca. “Anak, kan, bisa belajar bukan take it for granted atau datang begitu saja sejak lahir. Meski IQ-nya sejenius Einstein, misal, tapi bila ia tak pernah diperkenalkan dengan huruf sama sekali atau apa yang mesti dipelajarinya, ya, nggak bakalan bisa.”

Seharusnya, bilang Mitha, orang tua mencari apa yang jadi penyebab anak belum juga bisa lancar membaca, bukan malah menyoroti ketidakmampuannya dengan membanding-bandingkan. Jadi, bukan memvonis, tapi menggali potensi sekaligus mencari solusi bagaimana mewujudkan harapan agar si kakak bisa lancar membaca. Dengan begitu, dalam diri si kakak otomatis akan terpancing kesadaran, “Oh, iya, Bunda benar. Mungkin aku kurang giat belajar, jadi enggak bisa baca.”

Lain hal bila orang tua sudah mengajarinya membaca atau mengenalkan teknik-teknik belajar yang efektif, sementara si anak tak mau belajar atau menerapkannya hingga akhirnya ia jadi tak lancar membaca. Baru, deh, orang tua boleh omong atau berkomentar, “Kakak, kok, belum juga lancar membaca, sih?” Tapi tetap caranya bukan membanding-bandingkan dengan anak lain.

TAK PERCAYA ORANG TUA

Jikapun orang tua sampai harus membanding-bandingkan, menurut Mitha, boleh saja kalau hanya sesekali. Namun harus diingat benar bagaimana mempergunakan kalimat saat membanding-bandingkan. Jangan mengatakan, “Lihat, tuh, adikmu!”, tapi katakan, “Adek manis, ya, hari ini, mainnya pinter, enggak berantem.” Soalnya, kalimat kedua sama sekali tak akan membuat anak yang dibanding-bandingkan langsung KO, “karena yang dijadikan bahan perbandingan adalah perilaku atau perbuatannya, bukan dirinya.” Jadi, bukan melabelkan anak, tapi lebih menunjukkan mana perbuatan yang benar dan tak benar.

Kendati demikian, Mitha lebih setuju bila kita tak membanding-bandingkan anak dengan siapapun. “Lebih baik orang tua menggali apa yang belum dilakukan buat anak, apa yang belum diajarkan kepada anak, dan mengapa belum menggunakan potensi yang dimiliki anak.” Kemudian, minta anak untuk menerapkan teknik-teknik yang sudah diajarkan orang tua agar bisa melihat sejauh mana efektif-tidaknya buat anak. Jadi, kalau ingin si kecil mampu lancar membaca seperti adik atau teman ‘sekolah’nya, misal, ajarkan dan latihlah dia.

Pasalnya, tutur Mitha, bila anak kerap dibandingkan, akan merusak perkembangan kepribadiannya. Entah perbandingan itu diucapkan oleh orang tua maupun orang lain semisal kakek-nenek atau bahkan tetangga; baik didengarnya tanpa sengaja maupun langsung, “dampaknya sama saja!” tegas Mitha. Bukankah dengan membandingkan berarti kita tak menghargai anak sebagai individu seutuhnya? “Selain harga dirinya hancur, ia pun akan kehilangan rasa percaya pada orang tuanya, merasa terabaikan, dan tumbuh menjadi pribadi yang selalu ragu-ragu.” Akhirnya, bila perbandingan itu terus dilakukan, membuat anak punya penghayatan bahwa dirinya memang seperti yang “dituduhkan” itu.

Soal parah-tidak dampaknya tersebut, menurut Mitha, tak bisa diukur dengan pasti, “tergantung kepribadian anak sebagai manusia yang juga punya mekanisme pertahanan.” Yang perlu diingat, dengan ber-sharing membeberkan kekurangan anak kepada orang lain, berarti kita telah memberi kontribusi pada orang lain untuk memberi penilaian sekaligus perlakuan negatif pada anak. “Semakin sering atau semakin banyak orang yang memberi penilaian semacam ini tentu akan semakin merugikan buat anak.”

Buat anak yang jadi bahan pembanding, dampak buruknya juga tak kalah membahayakan, lho. “Ia bisa tumbuh jadi anak sombong, cepat puas diri, selalu merasa diri sempurna, hingga seringkali salah arah.” Selain, karena ia selalu dianggap baik, bukan tak mungkin saat berperilaku buruk pun tetap dianggap baik, hingga ia jadi tak belajar untuk menyadari kapan ia berbuat salah. Padahal, anak harusnya belajar, di antara kebaikan-kebaikan yang dipersepsikan orang tuanya, pasti juga ada keburukan dan ia pernah “terpeleset” atau berbuat salah. “Nah, bila orang tua tak jeli memantau, keburukan dan kekurangannya akan terlewat begitu saja.

Tak hanya itu, karena pembenaran dari orang tuanya untuk dirinya juga banyak, anak jadi tak belajar berempati pada orang lain, termasuk belajar memahami ada orang yang salah. Bila keterusan, bisa jadi ia akan menganggap dirinya tak pernah salah hingga tak pernah mendengarkan orang lain.

PERSAINGAN TAK SEHAT

Yang tak kalah buruk, dampaknya terhadap hubungan persaudaraan. “Sangat mungkin muncul persaingan tak sehat di antara kakak-adik,” ujar Mitha. Apalagi bila yang satu begitu dipuja-puja seolah tiada cacat celanya, sementara yang satunya disalah-salahkan terus. Akibatnya, bisa jadi anak yang dibandingkan terus akan cari gara-gara bagaimana caranya untuk “menyingkirkan” saudaranya yang dianggapnya sebagai saingan.

Tentunya ini akan merusak tatanan lingkungan keluarga, termasuk kepribadian anak dan hubungan persaudaraan jika orang tua tak mencermati persaingan “sakit” ini dan membiarkannya terus berlarut. Terlebih bila anak yang dibandingkan tak pernah mendapat kesempatan untuk mengekspresikan kekecewaan dan kemarahannya, “bukan tak mungkin ia akan melakukan agresivitas dengan merusak atau menyakiti saudaranya yang dianggap pesaingnya.”

Nah, agar kondisi yang sangat merugikan ini tak terjadi, saran Mitha, tanamkan pada anak bahwa berbuat salah bukanlah suatu aib. Tekankan, siapa pun bisa dan boleh berbuat salah. Bukankah berbuat salah itu wajar sekali karena sangat manusiawi? Tak hanya anak, orang tua pun pasti akan berbuat salah. Yang penting, bagaimana ia mau memperbaiki diri dari kesalahannya. “Jadi, bukan berbuat salah lantas dibiarkan tanpa ada penjelasan atau bimbingan. Anak harus tahu bagaimana cara memperbaiki kesalahannya,” tukas Mitha.

Selain itu, sebagai orang tua, kita pun harus mudah meminta maaf pada anak kalau kita memang salah. Misal, “Tadi Mama marah berlebihan, ya, sama Kakak. Mama, kok, sampai main pukul, sih. Harusnya, kan, enggak boleh. Mama tadi kesel banget, sih.” Penghiburan macam ini akan membantu anak mengurangi rasa sakit hatinya dan anak pun akan menyimak, bila ia tahu ia berbuat salah, maka ia akan meniru ibunya untuk tak segan-segan minta maaf. Dengan demikian, ia juga belajar bertoleransi pada kekurangan dan bahkan membantu saudaranya yang tak “sebaik” dirinya.

Jadi, pinta Mitha, janganlah pernah membanding-bandingkan anak dengan siapa pun; baik dengan kakak/adik, kerabat, maupun anak tetangga. Coba, deh, kembalikan pada diri sendiri. Kita pun nggak akan senang, kan, kalau dibanding-bandingkan? Pasti ada rasa terluka, marah, sebal dalam hati meskipun kita lebih pandai menyembunyikan rasa tak suka tersebut. Hanya saja, dibanding anak, ekspresi pada orang dewasa bisa lebih terkontrol hingga kita tak langsung marah-marah.

GUNAKAN STANDAR OBJEKTIF

Tentunya, agar kita bisa memotivasi anak tanpa harus membanding-banding, maka kita harus bisa mengerem mulut untuk tak membandingkan dan lebih memberikan dukungan. Misal, dengan menyediakan bahan-bahan untuk belajar membaca dan mendampinginya saat belajar.

Tapi jangan paksa si kecil yang berusia balita untuk tiap sore duduk di hadapan Anda belajar membaca secara kaku, lho. Bukannya ia termotivasi, malah tersiksa. Soalnya, buat anak balita, belajarnya baru dalam tahap pengenalan. Makanya, Mitha minta agar orang tua memahami perkembangan anak. “Tak perlu sampai mendalami psikologi perkembangan anak, cukup dengan belajar memahami proses tumbuh kembang anak bahwa di usia sekian yang wajarnya itu harus sudah bisa apa.” Jadi, kita harus aktif mencari tahu dari berbagai sumber.

Kemudian, yang digunakan adalah standar objektif, yakni kemampuan-kemampuan yang ada pada si anak sesuai tahapan usianya; bukan standar sosial. Malah akan jadi masalah baru bila kita sampai membandingkan si kecil yang berusia 4 tahun belum bisa baca dengan anak usia 2 tahun yang “kebetulan” sudah hapal nama-nama presiden sedunia, nama-nama menteri, dan lainnya. Jadi, kenalkan pada hal-hal yang sifatnya mendasar dulu seperti huruf, angka, bentuk, dan warna.

Yang tak kalah penting, jangan pernah langsung punya harapan terlalu tinggi. Misal, “Anak ini sudah diajarin dua kali, kok, belum bisa-bisa juga, sih!” Yang namanya anak, tentu ia butuh banyak waktu untuk mempelajari sesuatu hal; tak bisa hanya satu-dua kali. Lagi pula, yang dipentingkan bukan hasil tapi prosesnya.

Pesan Mitha, jangan pernah menekankan kata “harus” bahwa “anak harus bisa”, melainkan selalu kembali pada konsep tugas orang tua, yaitu memfasilitasi kemampuan anak, “Saya harus mencari cara sedemikian rupa dan sebanyak mungkin agar anak mampu mengenal hal seluas mungkin.” Justru kalau kita menekankan “anak harus bisa”, maka yang terjadi adalah kita cepat frustrasi sementara anak jadi tak berkembang.

Selain hal-hal tersebut di atas, kita pun harus lebih mengutamakan hal-hal positif. Meski mencari hal-hal positif pada siapapun pasti lebih susah ketimbang mencari kejelekannya. Jadi, biasakan untuk melihat hal positif. Jikapun ada yang salah bagi kita, cobalah kemukakan kritik dengan cara lebih santun dan efektif, bukan membandingkan. Sekarang kita jadi semakin paham, betapa tak adilnya membanding-bandingkan si kecil dengan saudaranya maupun anak lain.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 73/7 Agustus 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: