MENIKAH DENGAN JANDA/DUDA BERBALITA

26 Feb


Jangan mimpi bisa menyingkirkan anak-anak pasangan. Kalaupun terjadi, artinya kita menanam bibit-bibit perpecahan perkawinan.

Kesediaan menikah tentulah harus dibarengi komitmen dan ketulusan hati untuk menerima pasangan apa adanya, termasuk “rombongan”nya sebagai kesatuan yang tak bisa dipisah-pisahkan. Jadi, tegas, Dra. Dharmayati Utoyo Lubis, MA, Ph.D., apa pun pertimbangannya, jika sudah memutuskan menikah dengan duda/janda berbalita, berarti kita harus pula menerima anak-anaknya. “Meski bukan darah daging sendiri, ia tetap menjadi anak yang wajib kita sayangi sepenuh hati, bahkan sama porsi sayangnya dengan anak yang kemudian lahir.”

Terlebih lagi, anak-anak inilah yang pegang kata kunci dalam perkawinan kita dengan ayah/ibunya. Soalnya, mereka yang kehilangan pasangan, entah karena cerai hidup atau meninggal, “biasanya akan dibebani rasa bersalah hingga amat protektif pada anak-anaknya. Apalagi jika pasangannya meninggal, ada tambahan rasa kasihan pada anak-anak tadi,” terang Yati, sapaan akrab psikolog ini. Itu sebab, yang bersangkutan akan mencurahkan perhatiannya pada anak-anak. Hingga, pertimbangan/keputusan menikah lagi biasanya lebih ditujukan untuk kepentingan anak-anak semata.

Jadi, jangan pernah berangan-angan bisa menyingkirkan anak-anak tersebut begitu kita resmi menjadi pasangan hidup ayah/ibunya. Jikapun bisa, paling cuma sementara waktu dan dirasakan sebagai beban berat oleh si anak maupun ayah/ibunya. Namun sebaiknya tak usahlah bersikap seperti itu. Ingat, kita harus menerima pasangan apa adanya. Lagi pula, menyingkirkan anak tiri sama saja dengan menanam bibit-bibit perpecahan bagi perkawinan kita sendiri. Bukankah pasangan kita akan diliputi oleh rasa sesal yang dalam karena menyingkirkan anak-anak kandungnya? Nah, siapa, sih, yang bakalan tahan hidup dalam tekanan terus-menerus? Kalau sudah begitu, konflik pun muncul dan bukan tak mungkin diakhiri perceraian karena dia pasti akan lebih berat kepada anak-anaknya.

BERSAHABAT DENGAN IBU/BAPAKNYA

Selain wajib menerima anak-anak dari pasangan, kita pun pantang melarang mereka ketemu ibu/bapaknya. Ingat, lo, tak ada yang namanya bekas ibu/bapak maupun bekas anak. Kewajiban kita cuma memberikan cinta dan perhatian tulus kepada mereka, serta menghormati hak mereka untuk memiliki kedekatan dengan ibu/bapaknya. Lagi pula, apa hak kita melarang mereka ketemu ibu/bapaknya? Wong, itu ibu/bapak kandungnya, kok. Bahkan, sekalipun ibu/bapak mereka “jahat”, kita tetap wajib menanamkan pada mereka untuk mencintai dan menghargai ibu/bapaknya.

Kita pun tak dibenarkan menyingkirkan foto ibu/bapaknya. Bukan berarti kita harus membiarkan foto tersebut tetap menghiasi seluruh dinding rumah, lo. Artinya, kita boleh saja keberatan dengan keberadaan foto tersebut, tapi kita pun harus bersikap bijak dengan tak mempetieskannya. Toh, foto tersebut bisa ditaruh di kamar anak. Nah, agar tak menyinggung perasaan si kecil, mintalah bantuan pasangan untuk menjelaskan secara baik-baik pada anak mengapa foto tersebut dipindahkan ke kamarnya. Dengan begitu, si kecil bisa tetap “bertemu” ibu/bapaknya kala ia tiba-tiba rindu. Kendati masih balita, si kecil juga punya rasa kangen, lo.

Dalam kaitan ini, Yati malah menganjurkan, alangkah baiknya bila kita menjalin hubungan hangat dan bersahabat bak kawan lama dengan ibu/bapak si kecil. Manfaatnya banyak, lo. Kita jadi tahu bagaimana karakter si anak, termasuk apa kesukaannya, hingga bisa memberikan yang terbaik untuknya dan melakukan pendekatan yang lebih tepat. Bukankah cuma si ibu/bapak yang tahu persis anaknya? Selain, pasangan kita tentu. Namun paling tidak, dengan tercipta persahabatan, kita telah memberikan situasi kondusif pada anak, yang jelas amat besar pengaruhnya buat tumbuh kembangnya.

Memang, belum tentu si ibu/bapak berkenan menerima uluran persahabatan kita. Malah, tak sedikit, lo, yang menganggap kita sebagai musuhnya. Hingga bisa terjadi, kita malah ditolak mentah-mentah. Bila demikian, ya, sudah, tak perlu diambil hati. Toh, kita sudah berusaha. Ya, kan? Yang penting, jangan sampai penolakan tersebut mempengaruhi sikap kita pada anak-anak. Ingat, lo, mereka enggak salah apa-apa.

TAK PERLU CEMBURU

Selain soal anak, menurut Yati, masalah lain yang paling sering muncul ialah kecemburuan atas sikap pasangan yang masih terkenang-kenang pada mantan suami/istrinya. Terlebih jika dirinya “dipaksa” berpisah oleh kematian, bukan lantaran perceraian. Soalnya, memang ada kecenderungan dalam diri tiap orang untuk meromantisasi alias mengingat-ingat hal-hal bagus dari mereka yang sudah meninggal. “Maklumi saja, deh, supaya enggak bikin sakit hati,” anjur Yati. Apalagi, tambahnya, romantisme begini memang masih bisa ditoleransi pada bulan-bulan pertama karena rasa kehilangan tak bisa dikikis begitu saja.

Lain soal jika romantismenya terus berlarut-larut, “dampaknya tentu tak sehat buat perkawinan.” Pasalnya, yang muncul kemudian adalah membanding-bandingkan kita dengan mantan pasangannya. Padahal, enggak ada seorang pun yang mau dibanding-bandingkan. Bukankah tiap orang ingin diterima apa adanya? Nah, agar tak terus-menerus sakit hati dan masalahnya pun tak berkembang jadi pelik, saran Yati, “bersikaplah asertif. Kemukakan ganjalan di hati tapi tanpa menjelek-jelekkan mantan suami atau istrinya.”

Boleh juga kita tanggapi perbandingannya lewat humor. Misal, ia mengatakan istrinya amat pandai bikin rendang. Tanggapi saja dengan enteng tanpa melibatkan emosi, “Kayak, apa, sih, rasa rendang buatannya? Kalau Papa tahu resepnya, ajarin Mama, dong.” Dengan cara ini, menurut Yati, jauh lebih mempan ketimbang kita marah atau malah ngambek tak mau masak lagi. “Biasanya pasangan jadi tersadar kalau dia telah berbuat tak sepantasnya pada kita, hingga dia takkan mengulanginya lagi.”

Kita pun seyogyanya tak perlu cemburu berlebihan jika pasangan dan mantannya sesekali bertemu atau telepon untuk urusan anak. Jangan lupa, anak-anak tetap menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya sekalipun suami dan istri sudah bercerai. Jikapun cemburu atau tak yakin mereka ketemu/telepon untuk urusan anak, toh, bisa dibicarakan dengan pasangan. Dengan begitu, kita pun terhindar dari praduga macam-macam yang belum tentu kebenarannya.

Intinya, dituntut kematangan diri pada siapa saja yang memilih menjadi pasangan hidup janda/duda berbalita. Tentu saja, diharapkan pasangan kita pun mampu bersikap dewasa, hingga segala persoalan bisa dikomunikasikan dan dicarikan solusinya bersama.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 90/4 Desember 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: