RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU

26 Feb


Benarkah begitu? Paling tidak, itulah yang kerap dirasakan orang. Siapapun dan dari kalangan manapun, cenderung iri pada keberuntungan dan kesuksesan orang lain. Kata ahli, boleh-boleh saja, kok, asalkan enggak kelewat batas.

Tak jarang kita saksikan sinetron di TV menayangkan adegan seorang ibu yang menceritakan “kehebatan” tetangganya pada suami atau anak-anaknya dan bahkan pembantu. “Si Anu kemarin baru beli sofa lagi, lo, Pa.”, atau, “Tetangga sebelah itu beruntung banget, sih, suaminya penuh perhatian, mau ngebantuin kerjaanrumah tangga.”, atau, “Eh, Pak, suami Ibu sebelah katanya sudah naik pangkat lagi, lo.”, dan sebagainya.

Kalau cuma sekadar “laporan”, sih, mungkin tak jadi soal. Yang kerap terjadi, buntutnya kemudian enggak enak didengar karena disertai tuntutan. “Kok, Bapak belum naik pangkat juga, sih? Padahal, Bapak, kan, pendidikannya lebih tinggi.” atau, “Tuh, Bapak mestinya juga kayak suami si Anu. Kan, aku repot kalau harusngerjain semua urusan rumah tangga. Belum lagi anak-anak berantem melulu.”

Tentu saja kita tak bisa mengatakan, “Ah, itu, kan, cuma sinetron.” Soalnya, dalam kehidupan sehari-hari pun banyak terjadi. Bahkan, si pemeran yang umumnya wanita, juga merupakan gambaran dari lakon hidup keseharian. Tapi, bukan berarti cuma wanita, lo, yang punya kecenderungan pengenan semacam itu. Nah, mengapa perilaku demikian sampai terjadi dan lebih didominasi kaum hawa, mari kita simak ulasan ahlinya berikut ini.

MANUSIAWI

“Sebenarnya manusiawi sekali, kok, kita menilai orang lain lebih pandai, lebih kaya, lebih bahagia, lebih beruntung dan sukses, serta sederet kelebihan lainnya,” kata Dra. Nuke S. Arafah. Soalnya, hampir tiap orang punya kecenderungan dan pemikiran semacam itu. “Justru dari sinilah ia terpacu mengupayakan yang terbaik untuk dirinya maupun keluarganya,” lanjut Direktur LKBHIuWK (Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Indonesia untuk Wanita dan Keluarga) ini.

Bahwa perilaku demikian kerap terjadi pada wanita, “mungkin karena wanita lebih ekspresif dan secara emosi gampang sekali terpancing, ya.” Terlebih bila tak punya kesibukan lain, cuma mengurus rumah tangga, hingga konsentrasinya terpecah pada hal-hal yang sebetulnya tak perlu. Tapi pada dasarnya, “baik pria maupun wanita punya peluang sama untuk berperilaku demikian,” tandas Nuke. Pasalnya, pria-wanita sama-sama individu unik dan menjadi dewasa berkat proses adaptasi antara apa yang ada dalam dirinya, apa yang diterimanya dari orang tua, dan bagaimana lingkungan memperlakukannya. Sedangkan mengenai hasilnya, tergantung dari banyak hal. Di antaranya, kematangan emosi dan tingkat kecerdasan. Perilaku ini juga tak pandang batasan usia, latar pendidikan, maupun status sosial karena sifatnya manusiawi. Jadi, wajar-wajar saja.

SIAP MENTAL

Kendati demikian, kita harus mawas diri; jangan sampai terjebak pada hal-hal di luar batas kewajaran. Maksudnya, jangan kita lantas merasa diri paling sengsara atau jatuh sakit hanya gara-gara sibuk mikirin keberuntungan dan kesuksesan orang lain. Jadi runyam, kan?

Nah, agar tak terjebak seperti itu, Nuke mengingatkan kita agar menyiapkan kondisi mental bahwa apa yang kita bayangkan tak akan pernah selalu sama dengan kenyataan. Misal, awalnya kita mendamba punya suami/istri dengan kriteria tertentu. Namun saat memutuskan menikah, “belum tentu, kan, kita menemukan semua kriteria tersebut dalam diri calon pasangan? Nah, menghadapi kenyataan yang berbeda ini, bila tak siap mental akan membuat kita mudah terpancing mencari-cari kambing hitam yang bisa dijadikan sasaran untuk disalah-salahkan. Atau malah lari dalam bentuk penyesalan diri berupa iri alias selalu kepingin apa yang dimiliki orang lain.

Jika sudah begitu, besar kemungkinan kita disingkirkan dari pergaulan, lo. Ribut dengan pasangan karena saling ngotot dan menuntut sudah pasti terjadi, yang tentunya cuma merusak hubungan emosional suami-istri. Seandainya percekcokan itu tak selesai atau justru kian parah, si kecil juga yang akan menerima pengaruh buruknya, lo. Bukankah sedari kecil ia dikenalkan pada dunia oleh orang tuanya lewat proses modelling atau meniru? Nah, runyam, kan, Bu-Pak, bila si kecil menganggap keributan yang selalu dilihatnya di rumah sebagai sesuatu yang benar? Apalagi, balita umumnya belum bisa mencerna dan menilai perilaku orang tuanya menyimpang atau tidak.

KOMUNIKASI

Kontrol diri yang kuat, menurut Nuke, sangat penting. Dengan begitu, kita akan selalu kembali pada kesadaran diri “siapa saya”. Kesadaran diri ini, lebih lanjut akan menuntun kita untuk senantiasa bersyukur pada “apa yang sudah saya miliki”. “Nah, jadikan hal-hal itu sebagai rambu agar permasalahan tak melebar ke mana-mana; entah mengganggu hubungan suami- istri, sosialiasi dengan tetangga, ataupun mengusik ketenangan kerja pasangan,” pesannya.

Selain itu, kelancaran komunikasi suami-istri juga pegang peran penting. Soalnya, perkawinan/kehidupan suami-istri dikatakan harmonis, bila terjalin komunikasi hangat dan timbal balik. Termasuk mengkomunikasikan pertanyaan-pertanyaan mendasar berikut sejak awal; kenapa saya mau menikah dengannya, apa yang saya inginkan dari perkawinan, apa tujuan berumah tangga, keluarga seperti apa yang akan saya bina, berapa anak yang saya inginkan dan bagaimana saya akan mendidik mereka, bagaimana saya akan memperlakukan dan ingin diperlakukan pasangan, serta berapa lama perkawinan ini ingin dipertahankan. Pandangan terhadap anak/keluarga inti maupun keluarga besar dan tetangga, juga harus sama antara suami-istri.

Selanjutnya, bila sudah menangkap sinyal-sinyal tak menyenangkan antara suami-istri, “jangan tunggu terlalu lama hingga perasaan tak suka tak bertumpuk dan akhirnya malah sulit ngomong.” Jadi, sesegera mungkin, ya, Bu-Pak, tanyakan atau kemukakan masalah tanpa bersikap menuduh. Tentu saja butuh keterampilan khusus untuk bicara secara “benar”, tanpa pretensi yang bakal memperburuk keadaan.

Disamping keterbukaan semacam itu, kebutuhan untuk saling mengingatkan dan menguatkan, serta ungkapan kasih sayang yang nyata, juga merupakan ciri-ciri perkawinan sehat. Bila tak ada, perlu dipertanyakan, perkawinan seperti apa yang tengah diarungi. Terlebih bila cuma diwarnai pertengkaran atau saling ngotot dan memaksakan kehendak. Itu sebabnya, apapun keinginan dan kebutuhan suami maupun istri harus selalu dibicarakan, lalu pertimbangkan dan buat kesepakatan bagaimana derajat kepentingan atau mendesak-tidaknya keinginan/kebutuhan tersebut.

Tentu saja tanggapan suami/istri terhadap keinginan/kebutuhan pasangannya ikut mewarnai masalah ini. Konyol, kan, Bu-Pak, jika pasangan kita cuek saja atau cuma berkomentar pendek, “Ah cerewet banget, sih!” terhadap tuntutan kita. Bisa-bisa kita makin nyap-nyap, dong. Terlebih bila tanpa penjelasan atau alasan yang masuk akal. Nah, mayoritas suami, menurut Nuke, “tak bisa” mengucapkan masalahnya. Pengetatan anggaran belanja dan kekhawatiran terkena PHK, contohnya. Masalah tambah pelik bila istri tak mau tahu atau terbiasa dimanjakan, hingga tak siap menghadapi kerikil hidup. “Hal-hal seperti inilah yang jadi akar munculnya keinginan-keinginan tak terkendali terhadap milik orang lain,” tandas Nuke.

BERSYUKUR

Untuk menyiasati kecenderungan menginginkan milik tetangga atau siapa pun, tak ada cara lain kecuali kembali pada nilai-nilai keagamaan. Kebiasaan bersyukur atas segala karunia-Nya, misal, pasti mampu mengerem perilaku kurang baik. Selain itu, dalam kehidupan beragama, “kan, ada imam dalam keluarga. Kalau suami yang diposisikan sebagai imam, berarti ia harus mampu ‘mendidik’ dan mengarahkan istrinya untuk kembali ke jalur yang ‘benar’ serta menjunjung komitmen mereka saat menikah.” Di sini, sosok suami harus kuat karena dialah yang berperan pegang kendali terhadap keluarga, termasuk istri. Soalnya, istri tipe serba pengen begini biasanya cenderung “mendikte”. Gaya bahasanya yang khas, perlu diwaspadai karena begitulah caranya memaksakan kehendak. Misal, “Si Anu bisa beli ini-itu, kok, Papa enggak, sih?”

Nuke yakin, jika suami-istri telaten merawat cinta kasih dan jalinan komunikasi di antara mereka, masalah-masalah perkawinan bisa diminimalisir. Karena sejak awal, mereka sudah saling mengerti kedudukan, tanggung jawab, maupun hak dan kewajiban masing-masing. Sayangnya, sering orang hanya mengandalkan cinta sebagai “modal” perkawinan dan sengaja menutup mata terhadap rentetan masalah yang siap menanti mereka.

Hambatan lain, lanjut Nuke, kita lebih mudah melihat kejelekan orang lain ketimbang kebaikannya. “Budaya kita memang kurang mengajarkan kemampuan menghargai dan mengutamakan sisi positif. Bukankah kita terbiasa langsung menegur bila ada orang melakukan kesalahan? Sementara mereka yang melakukan kebaikan, tak mendapat penghargaan apa pun, karena dianggap memang seharusnya begitu.” Padahal, dengan tak tahu apa artinya dihargai, seseorang tak akan pernah tahu tingkat kemampuannya untuk menghargai diri sendiri maupun orang lain.

Seandainya merasa yang kita lakukan/jalani tak memuaskan, saran Nuke, seharusnya introspeksi diri, apakah kurang optimal berusaha atau sebab lain. “Seharusnya orang lebih mudah berintrospeksi karena tak mengandung judgement atau penilaian orang lain.” Namun yang kerap terjadi, mayoritas orang malah sulit melakukannya, sementara bila ditunjukkan kesalahannya pun malah tersinggung. Repot, kan? Padahal seharusnya, kritik dan penilain orang lain dijadikan masukan untuk bebenah diri.

Sebaliknya, bila kita tahu siapa kita, mau apa, sebatas mana kemampuan kita, bagaimana menjalani hidup ini, sesuai garis kemampuan, serta senantiasa bersyukur, nggak bakal, deh, neko-neko. Soalnya, manusia hidup sehat bila semua kebutuhannya sebagai individu terpenuhi. Termasuk kebutuhan materi, kebutuhan kasih sayang dan perhatian, serta kebutuhan untuk merasa berarti. Nah, orang yang hidupnya hanya dipenuhi tuntutan atau keinginan ini-itu, bisa, dong, dibilang “sakit”.

“Rumput tetangga lebih hijau, pada dasarnya bisa mendatangkan ‘polusi’ di setiap episode kehidupan, apa pun bidangnya,” bilang Nuke. Bukankah semua bentuk kehidupan selalu punya aspek tak enak? Hanya saja kita lebih sering menutup mata terhadap hal-hal seperti itu karena tergiur pada hal-hal yang serba gemerlap. Kita lebih sering berhenti di permukaan, mengutamakan penampilan lahiriah semata dan enggan menggali ke lapis kehidupan yang lebih dalam.

JANGAN CUMA SALAHKAN TELENOVELA

Menurut Nuke, sangat tak adil bila hanya menyalahkan kaum ibu yang getol nonton telenovela atau sinetron. “Memangnya kenapa, sih, kalau nonton? Kan, enggak jelek-jelek amat,” sergahnya. Bukankah tayangan-tayangan semacam itu juga menampilkan sisi buruk dan positif secara bersamaan? “Hal-hal semacam itu, kan, memang kenyataan hidup. Kitalah yang harus pandai memilah-milah, mana yang sebatas asesoris dan mana inti cerita yang bisa dipetik hikmahnya.” Dari situ kita bisa belajar bagaimana harus bertingkah laku, sebagai manusia baik atau jahat. Meski budaya pamer kemewahan, baju bagus, makanan enak, hidup serba gemerlap, tak dipungkiri Nuke, boleh jadi menyebarkan benih-benih tuntutan hidup yang berlebih.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 79/18 September 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: