APS SEBABKAN JANIN GUGUR

27 Feb


Jika bolak-balik keguguran akibat pertumbuhan janin terhambat atau bayi selalu meninggal tak lama setelah dilahirkan dan ibu mengalami preeklampsia, jangan kelewat menyalahkan diri. Siapa tahu sindrom ini yang jadi biang keladinya.

APS (Antiphospholid Syndrom) atau yang juga sering disebut sindrom ACA (anticardiolipin) merupakan kelainan yang relatif baru di dunia kedokteran. Baik di Indonesia maupun mancanegara. Di sini, jelas Prof. DR. Dr. Karmel L. Tambunan, DSPD, KHOM, F.A.C.T.H., kasus-kasus APS baru “ditemukan” dan mendapat penanganan serius sejak Oktober 1997. Dalam arti, setiap pasien yang darahnya dicurigai mengandung antibodi antiphospholipid, dianjurkan menjalani tes ACA. Sayangnya, tes ini baru bisa dilakukan di kota besar dan RS tertentu mengingat biayanya lumayan mahal, “Sekitar Rp 300 ribu untuk tiap pemeriksaan karena perangkatnya pun sangat mahal.” Lewat pemeriksaan ACA, jelas guru besar Fakultas Kedokteran UI yang mendalami APS ini, akan diketahui kadar IgG dan IgM penderita. “Parameter laboratorium inilah yang bisa dijadikan pegangan untuk memastikan terkena-tidaknya ACA karena APS tak memperlihatkan gejala spesifik.”

Gejalanya, jelas dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, Sonologist, dari RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, yang ditemui terpisah, mirip dengan yang biasa dialami ibu hamil. Semisal cepat lelah, mengantuk, sering pusing, dan sulit konsentrasi. Nah, pada ibu hamil dengan APS, gangguan itu bukan semata karena kehamilan, namun karena adanya kelainan akibat kekentalan darah yang dapat berpengaruh pada penurunan kemampuan berbagai organ tubuh. Berbeda dengan kehamilan biasa yang kembali normal setelah 4 bulan, keluhan-keluhan APS akan terus berlangsung sepanjang kehamilan.

Ada pun gejala yang perlu dicermati berkaitan dengan APS adalah peningkatan tekanan darah tanpa penyebab pasti karena sebelum hamil tekanan darahnya normal. Peningkatan tekanan darah tersebut diduga akibat pengentalan darah yang membuat aliran darah jadi tak sempurna lantaran fungsi organ-organ tubuh terganggu. Bisa jadi itulah preeklampsia yang terutama terjadi pada trimester ketiga. Bahkan, mereka yang APS-nya tergolong tingkat tinggi, bisa mengalami stroke atau kelainan jantung di usia dewasa muda atau sebelum usia 40 tahun.

SUNTIK TIAP HARI

Menurut Karmel, berdasarkan kadar ACA-nya, penderita APS bisa dikategorikan dalam 3 tingkatan. Tergolong mild jika IgG-nya berkisar antara 15-20, moderate bila antara 20-80, dan high jika kadarnya di atas 80. Sedangkan tingkat kekentalan darah bisa diketahui dengan mengukur cepat-tidaknya darah yang bersangkutan membeku. Sebab, mereka yang terkena APS, darahnya akan lebih cepat membeku dibanding mereka yang normal. “Kalau orang normal darahnya akan membeku dengan tolok ukur dalam waktu 25-40 detik, maka darah penderita APS bisa kurang dari 25 detik sudah membeku.”

Tentu saja kondisi pengentalan darah semacam ini buruk bagi ibu hamil, terutama untuk janin. Sebab, terang Judi, kehidupan janin dalam kandungan sangat tergantung dari suplai darah ibu lewat plasenta. Darah ibu inilah yang akan membawa nutrisi dan oksigen pada janin. “Jadi, ibarat lalu lintas, kalau kendaraan padat merayap atau malah terjadi kemacetan di sana-sini, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tempat tujuan, kan, jadi lebih lama.”

Bila kondisi tersebut didiamkan, besar kemungkin janin akan gugur pada masa embrio atau sebelum mencapai usia 8 minggu. “Sama halnya dengan tanaman yang baru tumbuh, kalau tak pernah disiram, bakal layu lalu mati,” imbuh Karmel. Kalaupun mampu bertahan, umumnya akan lahir prematur atau setidaknya BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) akibat tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi dan oksigen.

Itu sebab, sambung Judi yang juga mengasuh Rubrik Tanya Jawab Kebidanan dan Kandungan nakita, ibu hamil yang terkena APS perlu memeriksakan diri secara teratur ke dokter ahli penyakit dalam untuk memantau kondisi darahnya, selain ke dokter ahli kebidanan/kandungan yang akan memantau perkembangan janin lewat USG dan pemeriksaan lain. Dari pemeriksaan laboratorium yang dilakukan 6 minggu sekali, internis akan mengetahui kadar antibodi antiphospholipid pasien. Semakin tinggi kadarnya, kian besar pula risiko terjadi keguguran. “Jadi, makin besar juga usaha yang diperlukan untuk menurunkan kadar antibodi tersebut.”

Dari hasil pemeriksaan, dokter ahli penyakit dalam sekaligus akan menentukan terapi pengobatan, termasuk dosis yang tepat. Bila kadar antibodi antiphospholipid masih dalam batas yang dianggap “aman”, pengobatan cukup berupa tablet sejenis aspirin. Hanya saja kemampuannya mempertahankan bayi hanya sekitar 40 persen. Pada pemeriksaan berikutnya, internis akan menilai respon pengobatan berdasar hasil laboratorium terbaru. Bila dengan tablet tersebut kadar antibodi antiphospholipid tetap atau bahkan meningkat, pemberian obat akan dibarengi suntikan heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap hari.

Suntikan tersebut relatif aman untuk wanita hamil karena terbukti tak menembus barier plasenta, hingga tak ada kemungkinan terserap janin ataupun mengganggu pertumbuhannya. Kendati begitu ada juga suntikan anti pembekuan darah bernama warparin yang dilaporkan menimbulkan 25 persen kematian karena bisa menembus barier plasenta hingga tidak diberikan pada ibu hamil.

MESTI BERANI

Kombinasi terapi obat dengan suntikan tersebut diharapkan mampu meningkatkan peluang kesembuhan APS menjadi sekitar 74-96 persen. Demikian antara lain hasil pengamatan Karmel terhadap 232 pasien APS-nya selama 3 tahun terakhir yang baru-baru ini dilaporkan bersama timnya pada Kongres Trombosis Internasional di Paris. Tentu saja, tegas Karmel dan Judi, obat-obatan yang diberikan pun dipilih yang paling aman untuk wanita hamil.

Soal suntikan, karena harus dilakukan tiap hari, ibu hamil biasanya diimbau untuk berani melakukannya sendiri agar tak terlalu tergatung pada dokter. “Biayanya juga tak murah. Sekali suntik, Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Dan itu harus dilakukan tiap hari selama kehamilan.” Mahal, memang. Namun lewat suntikan inilah diharapkan darah tak menjadi kental lagi.

Sebab, lanjut Karmel, obat-obatan yang disuntikkan itu pada prinsipnya bukan bertujuan menurunkan antibodi antiphospholipid. “Melainkan menjaga agar antibodi tersebut tak menyebabkan trombosis alias pengentalan darah. Yang bisa menurunkan antibodi tersebut, ya, tubuh yang bersangkutan sendiri.”

DISANGKA MUSUH

Dalam keadaan normal, jelas Karmel, antibodi sebetulnya merupakan kumpulan protein yang dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh untuk memerangi substansi yang dianggap asing oleh tubuh. Di antaranya bakteri dan virus. Celakanya, tak jarang bukan cuma bakteri dan virus yang dianggap sebagai benda asing, tapi juga sel-sel tubuh si individu sendiri. Mekanisme “kesalahan menilai” inilah yang terjadi pada kasus-kasus APS. Persisnya, tubuh mengeluarkan antibodi antiphospholipid yang digunakan untuk menyerang phospholipid yang dianggap sebagai “musuh” meski sebetulnya merupakan bagian dari membran sel. Padahal, kemunculan antibodi antiphospholipid inilah yang membuat darah individu bersangkutan jadi lebih kental.

Dampak lebih jauh dari pengentalan darah ini adalah gangguan pembekuan darah di pembuluh darah arteri, vena, maupun jantung. Tak heran bila si ibu jadi terancam beberapa keluhan mematikan seperti jantung, preeklampsia dan stroke bila pembekuan darah terjadi di otak. Atau gangguan penglihatan mata yang bisa mengakibatkan kebutaan bila menyerang pembuluh-pembuluh darah di daerah mata. “Karena itu perlu koordinasi antara dokter kandungan dengan ahli terkait. Bila ada gangguan jantung, contoh, segera rujuk ke ahli jantung. Begitu pula jika ada keluhan di mata secepat mungkin rujuk pasien ke ahlinya untuk meminimalkan risiko kebutaan.”

Sedangkan risiko pada janin pun tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, jelas Judi, ibu hamil penderita APS dikhawatirkan tak bisa mencukupi suplai darahnya ke plasenta bagi si janin. Padahal, kebutuhan janin akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Sementara di saat yang bersamaan antibodi antiphospholipid yang terbentuk semakin banyak.

Akhirnya, kesenjangan ini akan semakin besar. Sementara tak ada yang bisa memprediksikan seberapa lama janin akan mampu bertahan terhadap kesenjangan tersebut.

Pada kasus-kasus semacam ini, lanjut Judi, sejak awal janin bisa saja tak pernah terbentuk alias sudah meninggal dalam periode embrio sebelum mencapai usia 8 minggu. Selain kian berpeluang gugur atau lahir prematur mengingat grafik pertumbuhannya biasanya jauh di bawah garis semestinya. Kalaupun mampu bertahan umumnya lahir dengan berat rendah, janin mati dalam kandungan atau meninggal begitu dilahirkan. Hanya saja, tegas Judi, perlu diingat, APS sama sekali tak menimbulkan kecacatan seperti halnya penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksoplasma, misalnya.

TAK ADA KECACATAN

Sayangnya, pantauan di awal-awal kehamilan tergolong sulit karena si ibu nyaris tak bisa berbuat apa-apa. Dalam arti, hingga 12 minggu pertama usia kehamilan, ia tak tahu apakah perkembangan janinnya baik atau tidak karena relatif tak ada perubahan fisik yang berarti alias sama saja dengan ibu hamil pada umumnya. Lain hal bila sudah agak besar dan si ibu bisa merasakan gerakan janinnya. Semisal gerakan jadi berkurang/melemah maupun pengukuran kesesuaian tinggi rahim dengan usia kehamilan untuk menilai apakah pertumbuhan janin terganggu atau tidak. Bila si ibu kurus akan lebih mudah dinilai, apakah besar kehamilannya cukup atau tidak. Sementara pada ibu yang bertubuh subur, tumpukan lemak sering mengecoh. Dari penilaian ini pun, terang Judi, bisa sekaligus dipantau apakah ada komplikasi preeklampsia yang menyertai atau tidak. Antara lain bila si ibu cenderung mengalami penambahan berat badan berlebih sementara bayinya tak berkembang.

Mengingat APS termasuk kehamilan berisiko tinggi, ungkap Judi, dokter kandungan akan lebih saksama memeriksa/memantau perkembangan janin lewat USG, termasuk mengikuti perkembangan plasentanya. Sebab, pada kasus-kasus APS, plasenta cenderung gampang rusak dan kerusakan bisa terjadi kapan saja. “Padahal, pada ibu hamil dengan kondisi normal, rusak sedikit saja berupa kebocoran kecil bisa berakibat fatal. Nah, dapat dibayangkan apa yang terjadi pada ibu hamil dengan APS. Soalnya,kelangsungan hidup janin amat bergantung pada kualitas plasenta.”

Kendati begitu, tukas Judi dan Karmel, ibu hamil yang terkena APS tak perlu kelewat pesimis. Sebab, dengan terapi pengobatan yang terkontrol dan terpadu di antara para dokter ahli, kelainan ini bisa ditangani. Lewat terapi obat dan suntikan, darah diharapkan semakin encer dengan bertambahnya usia kehamilan. “Dengan catatan, si ibu harus rajin kontrol dan teratur menjalani terapi,” tutur Judi.

Bahkan, tutur Karmel, selama ini anak-anak yang lahir dari ibu dengan APS tak menunjukkan kelainan apa pun. “Mereka terlihat seperti layaknya anak-anak yang dilahirkan dari ibu-ibu yang normal, kok. Tak ada kecacatan sama sekali. Sebab, obat dan suntik yang diberikan memang dimaksudkan untuk memperbaiki aliran darah si ibu ke janin. Kalau makin cepat terdeteksi, makin cepat pula aliran darah diperbaiki.”

Memang, tambah Judi, bisa saja terjadi anak mengalami retardasi mental akibat lingkar kepala kecil lantaran pertumbuhan yang terhambat. “Tapi, kan, kita selalu harus mengembalikan segalanya pada kehendak Yang Maka Kuasa. Tak perlu pesimis, apalagi sampai ambil keputusan untuk menggugurkan kandungan.”

BISA LAHIR NORMAL

Mengingat kehamilan dengan APS termasuk kelompok kehamilan risiko tinggi, Judi menyarankan agar ibu hamil menjaga kehamilannya ekstra hati-hati. Artinya, seperti halnya menjalani kehamilan pada umumnya, ibu hamil disarankan tidur minimal 8 jam, cukup istirahat dan menurunkan tingkat stres, di samping membina kebiasaan makan yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Sedangkan aktivitas lain bebas dilakukan sepanjang tidak membahayakan kehamilan.

Kendati belum diketahui pasti makanan apa saja yang bisa membantu mengencerkan darah, ibu hamil dengan kelainan APS amat dianjurkan mengkonsumsi makanan yang serba alami, yakni yang tak mengandung pengawet dan penyedap semisal junk food. Tujuannya semata-mata untuk meminimalkan benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Begitu juga paparan zat-zat kimia yang bisa menjadi pemicu, semisal insektisida dan polusi udara. Juga infeksi virus maupun bakteri. Sebab, infeksi semisal herpes atau tokso akan memperparah kondisi atau boleh jadi APS-nya dipicu oleh infeksi virus tadi.

Dianjurkan pula minum banyak air putih, minimal 2 liter sehari. Masalahnya, mereka yang jarang minum dikhawatirkan darahnya mudah mengental, padahal tubuh tetap melakukan penguapan lewat keringat dan cairan yang terbuang melalui BAK. Meski tidak berarti air putih bisa langsung mengencerkan darah penderita.

Yang diduga menjadi salah satu pemicu APS adalah konsumsi obat-obatan tertentu yang memunculkan antibodi antiphospholipid, semisal yang biasa dipakai dalam pengobatan epilepsi. Sedangkan jenis virus dan bakteri bisa apa saja, namun tidak semua virus/bakteri menimbulkan antibodi antiphospholipid. “Sama halnya dengan udang yang bisa menimbulkan alergi berupa gatal-gatal pada orang yang satu, tapi tidak pada yang lain.”

Sedangkan untuk proses persalinan, menurut Karmel maupun Judi, pada dasarnya tak berbeda dengan ibu hamil lainnya. Dalam arti, si ibu bisa tetap melahirkan normal/spontan jika memang tidak ada indikasi lain. Hanya, tegas Karmel, tim medis harus tetap bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya pembekuan darah saat persalinan. Alasan ini pula yang dijadikan sebagai salah satu pertimbangan diperlukannya tindakan sesar. Terlebih bila terjadi persalinan lama atau lebih dari 8 jam. “Semata-mata agar si ibu tidak terlalu lelah yang akan semakin memperburuk kondisinya,” ungkap Judi.

Kelompok Beresiko

Menurut Karmel maupun Judi, wanita hamil yang memiliki riwayat ginekologis buruk semisal keguguran berulang, janin mati dalam kandungan dan preeklampsia semasa kehamilan terdahulu memang berpeluang lebih besar terkena APS pada kehamilan-kehamilan berikutnya. Ancaman serupa juga perlu diwaspadai oleh pria dan wanita tak hamil yang mengidap penyakit “kerabat” pembuluh darah semisal jantung dan stroke.

Hanya saja, tandas Karmel dan Judi, bukan cuma mereka, lo, yang terancam. Pasalnya, sindrom yang satu ini bisa mengena siapa saja: laki-laki maupun perempuan, kelompok berumur alias tua maupun yang masih muda belia. Karena selain hal-hal yang diduga yang menjadi pemicu di atas, siapa pun berkemungkinan terkena APS tanpa sebab yang pasti.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 125/5 Agustus 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: