BEDREST MENYELAMATKAN KEHAMILAN

27 Feb


Bisa terjadi usia kehamilan berapa pun dan tak harus dilakukan di RS. Namun keberhasilannya tergantung pula dari taat-tidaknya ibu hamil pada aturan bedrest.

Bedrest atau istirahat total di tempat tidur merupakan upaya medis untuk menyelamatkan kehamilan agar janin lahir tepat pada waktunya. Soalnya, bila si ibu tetap melakukan aktivitas normal seperti biasa, besar peluang terjadi abortus ataupun lahir prematur. Terlebih bila ada aktivitas fisik tertentu yang mempermudah terjadi kontraksi, hingga memicu gerakan mendorong janin keluar atau mempercepat proses persalinan.

Pada prinsipnya, terang Dr. Nasdaldy, Sp.OGbedrest diperlukan bila ada kelainan kehamilan karena dikhawatirkan tanpa bedrest akan terjadi pengakhiran kehamilan yang justru ingin dipertahankan. Dengan kata lain, ada ancaman kehamilan akan keluar, baik pada saat kehamilan muda berupa abortus maupun pada kehamilan tua berupa kelahiran prematur. Bukankah bila lahir prematur atau bahkan abortus, risikonya banyak dan cukup fatal bagi si ibu maupun janin?

Jadi, bila ada indikasi keguguran atau lahir prematur, “apa pun penyebabnya dan berapa pun usia kehamilannya, pasien diharuskan bedrest!” tegas ginekolog dari Divisi Kanker Ginekologi RS Kanker Dharmais, Jakarta, ini.

LEBIH EFEKTIF DI RS

Saat bedrest, terapi yang dilakukan biasanya berjalan simultan untuk jangka waktu tertentu, dari aturan baku yang berkaitan dengan fisik, diet khusus, tambahan infus, hingga obat-obatan oral. Adapun aturan baku yang harus dipatuhi: semua kebutuhan pasien harus dilayani dan seluruh aktivitasnya hanya boleh dilakukan di tempat tidur. “Jadi, jangan berharap bisa jalan-jalan seenaknya, bahkan untuk BAK dan BAB pun harus dilakukan sambil berbaring di tempat tidur,” kata Nasdaldy.

Itu sebab, bedrest baru bisa efektif jika dilakukan di RS. Bukan berarti bedrest tak bisa bila dilakukan di rumah, lo. Apalagi biaya perawatan di RS cukup besar. Hanya saja, bila dilakukan di rumah, bedrest cenderung gagal karena biasanya seorang ibu tak sampai hati bila enak-enakan tidur sementara anaknya menangis atau rumah berantakan. Buat banyak orang, berbaring sepanjang waktu selama berhari-hari bahkan berminggu atau berbulan-bulan tentu sangat tak menyenangkan. Kendati, itu adalah konsekuensibedrest demi menyelamatkan janin dari ancaman keguguran atau lahir prematur.

Menyoal berapa lama bedrest, menurut Nasdaldy, tak bisa dipukul rata untuk semua kasus, melainkan tergantung pada kondisi kesehatan si pasien secara umum maupun keadaan kehamilannya. “Ada yang cuma 1-2 hari, seminggu, beberapa bulan, bahkan sepanjang kehamilan sampai menjelang saat-saat melahirkan. Setidaknya sampai usia kehamilan cukup bulan, hingga kalau nantinya terjadi persalinan pun tak perlu kelewat dikhawatirkan karena sudah cukup bulan.”

Selain itu, bisa pula seorang ibu diharuskan bedrest di awal kehamilan, tapi di tengah atau di akhir kehamilan diharuskan bedrest kembali. Dokterlah yang akan menentukan sesuai tingkatan berkurangnya ancaman terhadap kehamilannya. Misal,ancaman kegugurannya makin berkurang, bisa dicobakan mobilisasi secara bertahap sampai suatu saat yang bersangkutan dinyatakan boleh mobilisasi atau kembali melakukan aktivitasnya secara normal tapi tak berlebihan. Bila aktivitas normal dinilai tak lagi membahayakan atau menjadi ancaman, biasanya dokter akan mengijinkan pasien pulang.

BUKAN JAMINAN

Kendati begitu, bedrest bukan jaminan. Artinya, meski telah menjalani bedrest, peluang terjadi keguguran atau lahir prematur tetap ada. “Kita, kan, sebatas mencegah. Apakah berhasil atau tidak, sangat ditentukan banyak faktor. Misal, ancaman keguguran terlalu besar, dalam arti kelainan kehamilan itu sendiri begitu berat hingga sulit ditangani, atau justru si pasien yang ‘bandel’ tak menuruti nasihat dokter,” tutur Nasdaldy.

Parah-tidaknya ancaman keguguran, lanjut Nasdaldy, dipengaruhi banyak faktor, baik fisik maupun psikis. Yang bersifat fisik biasanya terkait erat dengan kondisi atau kemampuan kerja alat-alat reproduksi, dari kurangnya hormon-hormon tertentu yang men-support kehamilan, semisal hormon HSG dan progesteron; penyakit-penyakit berat yang diderita si ibu, seperti ginjal dan lever; sampai kelainan/gangguan pada rahim maupun penyimpangan pada konsepsi/hasil pembuahan itu sendiri.

Gangguan pada rahim, di antaranya kelainan cervix incompetence, yakni mulut rahim gampang terbuka. Dengan kondisi seperti ini, si ibu berpeluang bedrest secara berulang pada kehamilan-kehamilan berikut. Kelainan ini terjadi alamiah alias tanpa pemicu sama sekali. Mengingat bahayanya cukup besar, mereka yang memiliki kelainan ini disarankan agar mulut rahimnya diikat hingga tak cepat membuka. “Kalau kehamilan baru berumur 6 bulan sudah membuka, kan, repot. Padahal, harusnya mulut rahim baru membuka pada kehamilan cukup bulan, tepatnya saat-saat terakhir menjelang persalinan.”

Sedangkan bedrest pada wanita yang tak memiliki kelainan seperti itu umumnya tak menunjukkan kecenderungan berulang. Misal pada kehamilan pertama harus bedrestberbulan-bulan, belum tentu kehamilan kedua akan “sengsara” seperti sebelumnya. Mulut rahim pun tak perlu “diutak-atik” karena penyebabnya pasti bersumber pada hal lain, semisal kandungan lemah yang juga kerap jadi ancaman keguguran. Dalam kasus-kasus begini, terang Nasdaldy, “secara fisik kondisi rahim memang betul-betul lemah, hingga tak mampu memikul beban kehamilan.”

Kondisi ini bisa terjadi lantaran sensitivitas otot-otot rahim si ibu berlebihan, hingga cenderung melakukan gerakan mendorong/mengeluarkan yang berakibat pada kemungkinan abortus.

Bisa juga konsepsi atau janin yang terbentuk memang tak sehat hingga cenderung keluar, atau ada myom yang meningkatkan peluang terjadi abortus karena myom akan membesar bersamaan membesarnya kehamilan. “Bila lokasinya di dinding luar rahim, mungkin tak ada pengaruh. Tapi kalau di dinding dalam rahim atau dekat rongga rahim, pasti akan sangat berpengaruh karena akan mendesak kehamilan,” jelas Nasdaldy pula.

KONDISI LAIN

Bedrest juga dibutuhkan dalam rangka “pengobatan” janin, semisal mengalami kelainan tapi tetap ingin dipertahankan. Pun pada kasus hiperemesis gravidarum (muntah terus). “Hanya saja pada kasus mual-muntah berlebihan ini, bedrest dilakukan bukan semata-mata agar tak terjadi abortus atau lahir prematur. Melainkan lebih karena pertimbangan tak ada makanan dan minuman yang masuk ke tubuh ibu selain dengan cara infus yang hanya bisa dilakukan dalam posisi berbaring di tempat tidur,” terang Nasdaldy. Selain dikhawatirkan akan menyebabkan ibu hamil mengalami dehidrasi dan kekurangan elektrolit yang dapat membahayakan jiwa ibu dan janin.

Kendati tak jarang, tanpa indikasi medis pun bisa terjadi ibu hamil harus bedrest. “Bila dokter sudah melakukan pemeriksaan macam-macam tapi tak ditemukan kelainan apa pun, maka harus digali kalau-kalau kondisi psikislah yang jadi penyebabnya. Bisa saja, kan, si ibu mengalami depresi atau tergolong tipe kepribadian manja dan emoh capek, hingga merasa lebih nyaman berada di rumah sakit ketimbang di rumah?” Dengan begitu, indikasi psikis atau indikasi sosial yang “bicara” di sini, semisal di rumah ribut terus atau tak ada yang mengurusi.

Jadi, bilang Nasdaldy, semua terpulang kepada pasien itu sendiri dan bagaimana pola komunikasinya dengan dokter. Apa pun, pasien berhak tahu diagnosis, berbagai kemungkinan yang bisa ditempuh dan apa saja untung-rugi serta akibat tindakan-tindakan tersebut.

Perubahan Pola Makan

Umumnya, selama bedrest, pasien akan menerima infus hingga terjadi perubahan pola makan. Sementara pemberian makanan, menurut Nasdaldy, ditekankan pada kelompok makanan yang praktis dan tak memerlukan energi tinggi untuk mengkonsumsinya. Tentu saja tetap memperhatikan kecukupan gizi serta asupan makanan yang seimbang dan bervariasi.

Jadi, makanan yang “berat”, kaya bumbu dan pedas biasanya disingkirkan karena justru akan mengaktifkan kerja usus jadi berlebihan hingga menimbulkan penyakit lain seperti diare. Selain berpeluang menginduksi rahim yang akan memperparah ancaman keguguran.

Hubungan Bedrest Dan Kondisi Bayi

Pada dasarnya, tegas Nasdaldy, tak ada kaitan langsung antara kondisi ibu yang diharuskan bedrest dengan kesehatan janin pada umumnya. Dalam arti, ibu yang bolak-balik harus bedrest sepanjang kehamilannya, belum tentu melahirkan bayi yang juga sakit-sakitan, cengeng atau bahkan mengalami kecacatan/kelainan. Jikapun ada kelainan, jelas bukan akibat bedrest, melainkan karena bayi itu sendiri yang berkelainan

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 116/3 Juni 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: