DEPRESI PERBURUK KONDISI GIZI

27 Feb


Stres atau depresi pada ibu hamil bisa membahayakan. Salah satunya, kondisi gizi buruk yang akan menghambat tumbuh kembang janin.

Menurut Dr. Ir. Ali Khomsan, antara kondisi stres/depresi dan kondisi gizi seseorang pada dasarnya memiliki hubungan. Stres/depresi bisa memacu metabolisme gizi yang tidak sempurna, hingga muncullah keadaan boros gizi akibat terkurasnya energi dan zat-zat penting dalam tubuh. Dikatakan boros, lanjut ahli gizi dari Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, karena mereka yang mengalami stres akan membutuhkan lebih banyak vitamin B dan C untuk mencerna karbohidrat.

Bukan cuma itu. Kondisi stres pun akan merangsang pengeluaran hormon adrenalin secara berlebihan, sama halnya seperti saat kita dalam kondisi emosional. Misalnya, jadi gampang terusik dan mudah melampiaskan kemarahan/kejengkelan pada orang lain. Padahal, demi kebaikan janin, ibu hamil diharapkan berada dalam kondisi emosi yang tenang.

Sementara untuk menghasilkan hormon adrenalin yang antara lain bertugas mengatur pengerutan dan pelebaran pembuluh darah ini dibutuhkan kehadiran zat-zat gizi penting seperti vitamin B dan mineral-mineral tertentu semisal seng, kalium, dan kalsium.

Nah, terkurasnya zat-zat penting tadi jelas berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuh. “Daya tahan tubuh akan menurun dan membuat individu rentan hingga mudah terserang infeksi.” Itu sebab, agar tak memperburuk kehamilan, stres/depresi semasa hamil sebaiknya sesegera mungkin diatasi.

Sedihnya, bilang Ali, 10 persen wanita hamil berpeluang mengalami depresi dalam berbagai tingkatan, dari tingkat ringan sampai parah dengan beragam penyebab. Terutama, mereka yang kepribadiannya kurang matang, atau mengalami infertilitas dan kini tiba-tiba hamil setelah menunggu sekian lama, juga mereka yang berulang kali mengalami keguguran. Pengalaman masa lalu tadi membuat mereka jadi khawatir berlebih, semisal “Jangan-jangan aku cuma mimpi, ya.” atau “Aduh, gimana ya, kalau aku nanti keguguran lagi.” atau “Anakku cacat enggak, sih?” dan segudang kekhawatiran berlebih lainnya. Mereka biasanya dicekam ketakutan/kekhawatiran tak bisa memberikan yang terbaik bagi bayi dan keluarganya.

Sayangnya, keluhan-keluhan semacam itu kerap tak diartikan serius atau malah si ibu dituduh mengada-ada lantaran orang-orang di sekitar justru menganggapnya tengah menjalani saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Jadi, mana mungkin, sih, mengalami hal-hal yang meresahkan. Runyam, kan? Padahal, masalah-masalah di seputar kehamilan itu sendiri cukup bikin pusing, lo. Mulai dari keluhan sulit makan karena mual-muntah terus, harus bedrest gara-gara berbagai keluhan/kelainan medis, tak bisa

kerja maksimal, sampai pada ungkapan penyesalan, “Kenapa saya harus hamil?” atau “Mengapa mesti sekarang?” dan sebagainya yang terkesan kehamilan tersebut merupakan sesuatu yang tak diinginkan. Begitu juga dengan mereka yang sudah cukup anak dan “kecolongan” sementara untuk menggugurkan dirasa mustahil. Itu semua bisa memicu munculnya depresi.

KEMAMPUAN MENYAYANGI

Masalah-masalah di luar kehamilan itu sendiri semisal konflik dengan pasangan hidup atau juga karena “sejarah keluarga”, dalam arti, mereka yang memiliki garis keturunan demikian, umumnya depresi juga mudah tercetus. Sementara kondisi hamil di mana situasi hormonal up and down, membuat si ibu biasanya akan lebih mampu mengingat hal-hal buruk yang pernah dialaminya. Hal-hal semacam itu, jelas Ali, akan menambah berat faktor depresi yang bersangkutan.

Bantuan dan perhatian orang-orang terdekat, terutama suami, sangat diperlukan untuk mengatasi semua gejolak emosional tadi. Disamping kematangan pribadi yang bersangkutan dan upaya terapi psikologis yang intensif. Soalnya, akan sangat berbahaya bila sampai muncul pikiran ingin mengakhiri kehamilan atau bahkan bunuh diri. Kendati begitu, tutur Ali, dampak depresi secara langsung pada output kelahiran belum pernah dibuktikan. Artinya, meski pertumbuhan janin dan proses persalinan sering dikaitkan dengan kondisi gizi ibu hamil, ibu yang depresi belum tentu akan melahirkan BBLR lantaran kurang gizi, misalnya.

Yang jelas, imbuh Ali, depresi sangat terkait dengan masalah mothering ability, yakni kemampuan si ibu untuk merawat diri sendiri maupun anaknya. Selain bakal kehilanganmothering ability-nya, depresi semasa kehamilan bila tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin akan berlanjut atau memperburuk postpartum blues. “Ini, kan, gawat, mengingat mothering ability justru amat dibutuhkan untuk merawat anaknya dengan baik,” papar Ali.

Celakanya, stres/depresi pun akan mengacaukan pola makan, entah jadi kehilangan nafsu makan atau justru sebaliknya jadi rakus/ngawur tak terkendali. Sehingga kepada si ibu harus dibangkitkan kesadaran bahwa ia memiliki tanggung jawab pribadi untuk membesarkan janinnya. Si ibu juga harus diinformasikan, makanan yang masuk ke tubuhnya harus bukan makanan

“sampah”, melainkan makanan-makanan bergizi yang akan menunjang pertumbuhan janin. Biasanya, dengan masukan-masukan seperti itu, si ibu akan berusaha mengkonsumsi yang terbaik, semata-mata demi anaknya, tanpa peduli apakah makanan itu enak atau tidak dan menimbulkan mual atau tidak. “Sikap semacam itulah yang mesti ditumbuhkan,” tandas Ali lebih lanjut.

BENAHI POLA MAKAN

Menurut Ali, individu yang mengalami depresi akan memiliki kadar vitamin B12 yang rendah. Padahal, kekurangan vitamin ini justru memperbesar risiko yang bersangkutan mengalami depresi, yaitu dua kali lipat besarnya. Mengapa demikian? Karena vitamin tersebut memegang peranan penting dalam metabolisme tubuh. Tak heran bila mereka yang kekurangan vitamin ini biasanya mengalami berbagai keluhan medis. Kalaupun jatuh sakit, biasanya akan sulit pemulihan kondisi kesehatannya.

Stres/depresi pun berkaitan erat dengan rendahnya produksi serotonin yang bertugas merangsang pengerutan otot polos, terutama otot pencernaan. Itulah mengapa, mereka yang mengalami stres/depresi akan mengalami gangguan pencernaan. Bila tak segera dibenahi, mereka yang kehilangan nafsu makan akibat stres/depresi umumnya akan mengalami gangguan lambung, disamping kekurangan energi dan protein, serta mineral-mineral penting seperti zat besi dan seng. Untuk meningkatkan produksi serotonin sekaligus meminimalkan gangguan pencernaan, diperlukan sumber protein hewani asal ternak, terutama ikan, daging, telur dan hati. Selain juga sumber protein nabati semisal kacang-kacangan. Pangan sumber protein tersebut diketahui kaya akan asam amino tryptophan yang di dalam tubuh akan mendorong produksi serotonin. Itulah mengapa, ibu-ibu yang menginginkan bayinya sehat dan cerdas, sangat dianjurkan untuk membiasakan mengkonsumsi ikan karena kandungan Omega 3-nya bermanfaat untuk si janin bagi proses pertumbuhan otaknya. Terutama pada trimester III sebagai fase cepat tumbuh otak yang akan berlangsung terus sampai si anak berusia 18 bulan. Kalau si ibu sudah membekali janinnya dengan konsumsi ikan yang baik, si bayi diharapkan akan optimal kecerdasannya.

Disamping berfungsi membentuk kecerdasan, kandungan lemak dalam ikan merupakan lemak tak jenuh yang justru akan menurunkan kandungan kolesterol tubuh. Sayangnya, mitos yang berkembang di masyarakat, yaitu “Ibu yang gemar makan ikan akan melahirkan bayi yang berbau anyir” justru membuat para ibu hamil enggan mengkonsumsi ikan.

Sebetulnya, tegas Ali, dalam kondisi apa pun, tubuh membutuhkan asupan gizi seimbang. Kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dengan mengkonsumsi 4 sehat 5 sempurna yang sampai saat ini sangat applicable alias mudah diterapkan pada semua orang/umur. Sementara untuk mencukupi kuantitasnya, disarankan ibu hamil mengkonsumsi makanan dalam porsi kecil tapi sering, semisal 4-5 kali makan utama ditambah 2 kali penganan selingan. Konsumsi makanan yang mengandung berbagai vitamin dan mineral dalam jumlah cukup diyakini bisa membantu tubuh menangkal stres. Selain juga cara makan yang tepat, di antaranya jangan tergesa-gesa, jangan mengisi sendok kelewat penuh, ambil makanan secukupnya, dan jangan pernah makan sesuatu bila merasa terpaksa.

Makanan Dan Minuman Yang “Tabu” Saat Stres/Depresi

Selain mengatasi stres/depresi, Ali juga mengingatkan ibu hamil untuk menghindari beberapa jenis makanan yang diketahui dapat menimbulkan gejala mirip stres. Makanan tersebut di antaranya kopi, minuman ringan (softdrink), gula, dan alkohol. Alasannya, kopi mengandung kafein yang akan cepat diserap tubuh guna merangsang sistem saraf pusat dan membuat tubuh terjaga, selain dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, serta dapat menyebabkan iritasi lambung. Di samping itu, kafein pun bersifat diuretik yang menyebabkan yang bersangkutan jadi sering buang air kecil. Berkaitan dengan sifat ini, bukan tidak mungkin, lo, vitamin B dan C yang larut dalam air ikut terbuang. Konsumsi bahan-bahan yang bersifat diuretik bisa menurunkan mineral penting semisal kalium, kalsium, dan magnesium yang secara potensial dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit yang serius. Padahal, keseimbangan elektrolit tersebut berfungsi menjaga kerja jantung dan alat-alat tubuh lain dengan baik. Selain pada kopi, kafein juga ada dalam teh, cokelat dan minuman ringansoftdrink.

Gula umumnya dikonsumsi dalam bentuk kue, biskuit, cake, maupun gula itu sendiri dalam minuman manis. Gula sebetulnya adalah karbohidrat yang di dalam tubuh akan dipecah menjadi energi. Nah, proses pemecahan karbohidrat menjadi energi memerlukan vitamin B. Dengan kata lain, kalau kita banyak mengkonsumsi gula, maka vitamin B akan terkuras untuk mengkonversinya menjadi energi. Padahal terkurasnya vitamin B akan mengganggu fungsi sistem saraf yang akhirnya akan memunculkan gejala berupa kelelahan yang amat sangat dan mudah terusik seperti halnya dalam kondisi stres.

Begitu juga dengan soft drink yang kaya kalori hingga cepat membuat kenyang. Kalau sudah begitu si individu akan mengurangi asupan gizi yang lain, hingga makin berpeluang kekurangan zat gizi yang penting bagi tubuh. Begitu juga minuman beralkohol yang hanya mengandung energi dan bersifat diuretik. Metabolisme alkohol akan membutuhkan vitamin B1 dan niacin dalam jumlah banyak. Karena kedua vitamin tersebut habis untuk mencerna alkohol, maka pencernaan karbohidrat lainnya terganggu dan menyebabkan kadar gula darah menjadi rendah. Akhirnya timbul gejala-gejala pandangan kabur, mual, berkeringat, sakit kepala, dan mengganggu penyerapan zat besi. Padahal, ibu hamil cenderung mengalami anemia. Ketimbang mengkonsumsi minuman seperti itu, mengapa tidak minum susu untuk memperkuat proses penulangan karena mengandung kalsium atau jus buah yang kandungan vitamin C-nya tinggi, hingga bagus untuk penyerapan zat besi?

Imbangi Dengan Olah Raga

Konsumsi gizi yang baik selama mengalami stres/depresi, terang Ali, juga perlu diimbangi dengan latihan fisik. Dengan olahraga, akan terjaga kesehatan tulang, otot, jantung, dan paru. Pada orang yang gemar olahraga, di dalam dirinya akan timbul kelegaan mental dan emosional yang membantu seseorang mengatasi dan mencegah stres. Olahraga secara teratur akan meningkatkan produksi endorphin, yaitu sejenis substansi kimia yang dapat memperbaiki suasana hati. Asalkan jangan terlalu keras, karena olahraga keras dapat menyebabkan hilangnya seng dalam jumlah yang berlebih melalui keringat.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 122/15 Juli 2001 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: