GAFA: KURSUS MEMBACA KHUSUS BALITA

27 Feb


Boleh, kok, mengajari si kecil membaca. Asalkan lewat beragam permainan menarik dan jauh dari unsur paksaan.

Sore itu wajah 10 bocah cilik usia 3-4 tahun terlihat ceria memasuki ruang berukuran 3,5 x 5 m di lantai atas Yayasan Bina Vokalia Pusat. Mereka langsung disambut 5 kakak pengasuh dengan ramah. Ada yang langsung sibuk membuka tasnya mencari krayon, ada pula yang menghambur ke depan komputer. Mereka adalah anak-anak didik Gafa yang akan belajar membaca dan menulis di situ selama 2 kali pertemuan seminggu masing-masing 45 menit.

Kendati tak menyediakan ijasah atau sejenisnya, Ir. Petrus Gautama, yakin Gafa yang dikelolanya sebagai tempat kursus membaca khusus balita pasti diminati orang tua yang benar-benar ingin menyiapkan anaknya masuk jenjang SD. Soalnya, selama ini terasa ada gap antara sistem pendidikan di TK dan SD yang membuat anak mengalami syok saat duduk di kelas 1. Selain tiap mata pelajaran yang berlangsung 40-45 menit, mereka pun dituntut sudah bisa membaca bahkan menyalin pelajaran. Nah, Gafa mencoba menjembatani kesenjangan tersebut.

Caranya, menyajikan materi pelajaran dalam bentuk-bentuk menarik/menyenangkan. “Jangankan anak-anak yang masih dalam taraf usia bermain, orang dewasa pun dijamin akan lebih cepat bisa jika belajar dalam suasana menyenangkan.” Pemikiran semacam inilah yang diterapkan di Gafa yang membuka diri selama 4 hari kerja dari Senin hingga Jumat, pukul 11:00-17:00 WIB. Dengan 3 cabang yang berlokasi di Jl. Radio, Kelapa Gading dan Bintaro, anak didik Gafa kini berjumlah sekitar 130 orang.

JANGAN MEMAKSA

Arsitek lulusan UNPAR (Universitas Parahiyangan), Bandung ini, awalnya hanya tertarik mempelajari metode-metode pembelajaran yang efisien karena ia kerap diminta membantu teman-temannya yang banyak berkecimpung di bidang terapi bagi anak-anak berkekurangan. Di antaranya metode Glenn Doman, peneliti di AS yang mendalami pendidikan bagi anak yang mengalami cedera otak. “Bila anak-anak yang mengalami cedera otak saja bisa dilatih sampai taraf normal, mengapa mereka yang normal tak bisa lebih dioptimalkan?” ujarnya. Maka, ia pun menerapkan hasil “penelitian”nya dengan mengajari anaknya dan para keponakan untuk belajar membaca sejak usia 3 tahun. “Hasilnya bagus, tuh! Kini, di kelas 3 SD saja kecepatan membaca dan menyerap informasi yang dibacanya melebih rata-rata orang dewasa.”

Sebetulnya, kata Petrus yang juga memproduksi aneka mainan edukatif Gafa Toys, metode Glenn Doman bisa diterapkan pada anak usia 1 tahun. “Makin dini memberi stimulasi, kan, makin baik. Masalahnya justru terletak pada kita sebagai orang tua yang memiliki banyak keterbatasan, dari tingkat kesabaran sampai kemampuan memantau kemajuan anak. Padahal, mengajari anak di bawah usia 3 tahun, tingkat kesulitannya lebih tinggi bagi pendidik atau orang tua.”

Keberhasilan mengajari anak, lanjutnya amat tergantung pada situasi belajar itu sendiri. “Syaratnya, harus sambil bermain karena balita memang tak boleh belajar dalam arti sebenarnya.” Selain itu, anak memang tak bisa dipaksa. Kalaupun kita mengharuskan anak melakukan sesuatu yang tak ia sukai, entah dengan pemaksaan fisik atau cara lain, boleh jadi ia akan tetap melakukannya. Namun dalam dirinya pasti ada semacam penolakan atau keterpaksaan, hingga hasilnya pasti tak bisa optimal. Meski anak sebenarnya belum bisa membedakan aktivitas bermain dengan belajar, “asalkan keduanya dilakukan dalam suasana yang sama-sama menyenangkan, bagi mereka, kegiatan belajar merupakan bentuk permainan juga, kok.”

RAGAM PELAJARAN

Tentu perlu diperhatikan tenggang waktu anak untuk berkonsentrasi yang masih terbatas. Meski ada perbedaan antara anak satu dengan yang lain, umumnya mereka tak bisa konsentrasi penuh lebih dari 10 menit. Bahkan untuk kegiatan yang paling mengasyikkan pun biasanya tak lebih dari 20 menit. Artinya, lebih dari kapasitas waktu tersebut anak akan bosan dan mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Itu sebab, untuk tiap kali pertemuan selama 40-45 menit, Gafa menyediakan berbagai aktivitas belajar.

Masing-masing anak akan memperoleh 3 materi “pelajaran”, yakni menulis, membaca dan komputer. Karena tak menganut sistem kelas, anak-anak dimungkinkan belajar sesuai keinginan/kebutuhan dan kemampuan perkembangan masing-masing. Itu sebab, begitu datang ada yang sudah belajar menulis suku kata atau bahkan kata demi kata secara utuh, tapi ada pula yang baru belajar menulis dengan permainan space nest. Permainan ini bukan tanpa makna karena membantu mematangkan kemampuan motorik dan melatih otot-otot jemari tangannya, yakni dengan belajar mengikuti alur tiap “garis” yang berbeda warna dan bentuknya. Bukankah kemampuan menulis sebenarnya mengutamakan kematangan motorik tangan dan koordinasi antara mata dan gerak tangan? Selain itu, anak pun diberi kesempatan mewarnai yang juga akan melatih kelenturan jemari dan otot-otot tangannya, karena memegang pensil yang “benar” pasti akan berpengaruh pada prestasi anak.

Membaca pun disesuaikan tingkat perkembangan anak. Ada yang baru mengenal huruf dari “a” sampai “z” lewat puzzle berupa potongan-potongan binatang atau buah yang disesuaikan dengan bunyi tertentu yang dimaksud. Misal, gambar apel mewakili huruf “a” atau gambar ular mewakili huruf “u”. Selain, disediakan pula alat bantu berupa potongan-potongan suku kata maupun kartu-kartu baca, agar anak mampu menggabungkan huruf menjadi suku kata, lalu menjadi kata yang akrab bagi anak. Untuk memudahkan, kata terbuka atau yang belakangnya tak ada huruf mati akan dikenalkan lebih dulu dibanding kata yang berakhir dengan huruf mati seperti “ng” karena lebih sulit.

Jikapun ada PR, terang Petrus, sebetulnya untuk melatih komunikasi anak dengan orang tuanya agar orang tua tak lepas tangan begitu saja. “Minimal orang tua tahu anaknya sedang belajar apa. Kalau si anak senang, ia akan mengerjakan, tapi kalaupun enggak suka atau ogah mengerjakannya, kita juga enggak bakal menghukumnya.”

PROGRAM KHUSUS

Pelajaran komputer juga ditujukan untuk melatih anak membaca. Tiap anak dapat kesempatan sekitar 5-10 menit. Untuk anak usia 3 tahun yang baru masuk pun tetap ada kegiatan komputer meski baru terbatas pada belajar menggerakkan mouse. Dibuatkan program nada dasar do, re, mi, fa, so la, si, untuk membantu anak mengarahkan ke mana mouse harus digerakkan, selain menjadi daya tarik tersendiri buat si anak.

Untuk anak yang lebih besar, disediakan program menggabungkan suku kata yang cocok dengan tampilan gambar yang ada. Bila pilihan anak tak sesuai, muncul bunyi atau gambar tertentu dari komputer yang mengharuskan anak menentukan pilihan lain yang sesuai. Baik kata maupun gambar yang dipilih cukup akrab atau dikenal baik oleh anak-anak, disamping suku kata yang membentuknya merupakan suku kata yang amat sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Dengan begitu, anak bisa lebih cepat menguasai kata-kata yang sering dipakai. Hingga saat dihadapkan pada buku yang sesungguhnya, sebagian besar kata dalam buku itu sudah dikenalnya. Anak jadi terpancing untuk cepat bisa membaca sekaligus kepercayaan dirinya makin terbina.

WAKTUNYA FLEKSIBEL

Uniknya, untuk tiap pertemuan, anak boleh datang jam berapa saja. Soalnya, terang Petrus, “agak sulit kalau mengharuskan anak datang pada jam-jam tertentu. Bagaimana kalau dia ngantuk atau lelah hingga tidak mood? Jadi, kita bersikap fleksibel sementara orang tua pun mesti pandai-pandai mengatur waktu anaknya.” Ia yakin, anak akan memperoleh hasil optimal kalau mereka belajar di saat yang cocok, karena tak ada keterpaksaan sama sekali. Tak heran kalau jam-jam tertentu penuh, sementara jam lainnya terkesan sepi.

Untuk bisa bergabung, Gafa mematok batasan umur 3 tahun ke atas karena sebagian besar kematangan/kemampuan anak memang ditentukan oleh umur. Sedangkan kematangan lain di luar usia yang dimaksud adalah kematangan koordinasi dan kematangan sosial. Soalnya, tak sedikit anak yang sudah berusia 5 tahun tapi masih nempel pada ibunya, sementara yang baru berusia 3-4 tahun malah sudah bisa mandiri.

Iuran bulanan ditetapkan Rp 100 ribu dan uang pangkal Rp 50 ribu. Itu pun sifatnya tak mengikat, dalam arti boleh saja anak cuma masuk sebulan, “tapi buat apa? Percuma, kan, karena belum kelihatan hasilnya.” Untuk anak yang perkembangannya normal, berdasarkan statistik Gafa, biasanya dalam waktu setahun sudah pintar membaca dan pandai menulis. Sedangkan untuk yang memiliki kemampuan lebih, bisa lebih singkat.

Gafa yang sudah berjalan 2 tahun ini memiliki 12 tenaga pengasuh dan tak menetapkan pendidikan khusus, kecuali disyaratkan minimal setingkat SLTA. “Yang penting, kan, karakternya harus cocok untuk mendampingi atau membimbing.”

Alamat Gafa : 
d/a Yayasan Bina Vokalia Pusat
Jl. Radio IV No.2
Kebayoran Baru – Jakarta Selatan
Telp. (021) 726 2144 dan 725 1481

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Teropong/edisi 105/19 Maret 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: