KALA SI KECIL JADI BINTANG

27 Feb


Siapa bilang orang tua tak boleh memanfaatkan kehebatan/ketenaran anak yang berbakat jadi bintang? Bahkan, boleh-boleh saja, kok, bila si kecil yang jadi pencari nafkah keluarga.

Sering, kan, kita mendengar suara-suara sumbang ditujukan pada orang tua yang putra atau putrinya jadi bintang tenar hingga menghasilkan uang berlimpah? Si orang tua dituduh mengeksploitasi anaknya hanya untuk mendapatkan uang tanpa memikirkan dampaknya buat perkembangan anak. Namun di sisi lain, tak sedikit orang tua yang kepingin anaknya jadi bintang, sampai-sampai si anak “dijajakan” ke produser-produser rekaman dan sutradara film. Bahkan, ada, lo, yang sampai minta bantuan paranormal segala!

Tentu sah-sah saja keinginan orang tua agar anaknya jadi bintang tenar, apalagi jika si anak memang berbakat. Bahkan, orang tua pun tak dilarang memanfaatkan kehebatan maupun ketenaran si bocah. Tapi ada syaratnya, lo. “Asalkan enggak menyetir atau mendikte si anak, apalagi mengeksploitasinya sampai ia sama sekali tak mendapat kebahagiaan dari apa yang ia lakukan,” kata psikolog Rienny Hassan . Hal ini bisa dilihat dari wajah si bintang yang kosong danngomongnya seperti mesin otomat tanpa ekspresi. Masih ada syarat lainnya. Apa saja? Mari kita simak bersama pemaparan di bawah ini.

BUKAN SAPI PERAHAN

Jangan pernah menjadikan anak sebagai sapi perahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Bahwa pengelolaan keuangan si anak dipegang orang tua, itu memang mutlak karena anak sama sekali belum mengerti nilai uang. “Orang tua harus pintar mengarahkan anak untuk menginvestasikan uang tersebut bagi masa depannya, selain untuk mencukupi kebutuhannya sekarang.” Jadi, bukan uang itu dimanfaatkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga, karena menafkahi keluarga adalah tanggung jawab orang tua.

Bukan berarti kita lantas tak boleh bertukar peran dengan anak sebagai pencari nafkah, lo. Namun dalam arti, anaklah yang mencari uang sementara orang tua berstatus sebagai karyawan anaknya. “Boleh-boleh saja, kok, kendati sering terkesan tak lumrah.” Tapi dengan begitu, sebagai sosok yang paling mengenal kepribadian anak, kita harus bisa menjalankan fungsi secara harmonis sebagai ayah/ibu yang melindungi sekaligus manajer profesional, disamping sebagai pengelola keuangan sekaligus pembimbing kreatif, hingga tiap tahap perkembangan anak punya “nilai jual” tersendiri. Dengan begitu masa kejayaan yang semula relatif pendek bisa diperpanjang lewat gebrakan-gebrakan acara inovatif yang membuat si anak tetap diterima pasar.

AJAK MEMBUMI

Kita harus pandai-pandai mengajarinya untuk tetap meletakkan, paling tidak sebelah kakinya di dunia realitas kendati kaki yang satu mungkin harus berpijak di dunia keartisannya. “Tekankan anak untuk hidup wajar sebagai anak, termasuk bermain dan bergaul dengan anak-anak lain seperti halnya anak-anak pada umumnya.”

Caranya, jauhkan ia dari glamorous-nya kehidupan artis; tekankan padanya untuk menjadikan keartisannya hanya sebagai sarana berprofesi. Biasanya, mereka inilah yang bisa bergaul dengan siapa saja tanpa pandang bulu sekaligus menikmati kehidupannya. Beda sekali dengan mereka yang memamerkan diri hanya untuk menunjukkan dirinya eksklusif, “Nih, gue, kan artis!” Justru sikap norak begini yang membuat penghargaan orang terhadap dirinya berkurang.

HARUS SIAP TURUN

Kita pun mesti menyadari popularitas anak sebagai bintang bukanlah pesta yang tiada akhir. Suatu saat pasti terjadi pergeseran selera masyarakat, sementara anak pun terus tumbuh dewasa dan kehilangan geregetnya. Nah, pada bintang cilik, masa kejayaannya relatif singkat, kecuali bila kemudian si imut-imut ini berhasil menjadikan dirinya bintang remaja dan tetap disukai sebagai bintang dewasa. Jadi, bila memang sudah lewat masanya, tak usahlah kita maksain anak tetap jadi bintang. Biarkan saja jaman keemasan itu tersimpan menjadi kenangan manis, baik untuk si anak maupun penggemarnya.

Bila kita sudah punya kesadaran demikian, maka tak sulit buat kita mengarahkan anak agar tak melulu melihat langit. Sampaikan padanya, keterbatasan dan kewajaran ini sejak awal mengingat jangkauan pemikiran anak masih pendek. Bila perlu, ajak ia bertemu mantan bintang cilik atau siapapun mantan orang beken yang bisa menuturkan sejarahnya, termasuk bagaimana yang bersangkutan meraih sukses dan bagaimana pula kesiapannya menerima kenyataan saat harus turun.

Begitu juga penjelasan mengenai hal-hal yang tak mungkin diubah namun harus dihadapi sekaligus diterimanya. Pada anak lelaki, misal, begitu memasuki pubertas akan mengalami perubahan suara yang membuat kualitas suaranya menurun drastis, hingga ia harus rela bila ditinggalkan penggemarnya. Nah, ini harus mulai dikenalkan sejak dini, hingga ketika tiba saatnya, ia tak mengalami syok berlebih karena telah memahaminya. Jangan malah kita jadi pemuja semu bagi anak; anak terus dibombong atau ditinggi-tinggikan dan tak dibimbing untuk menyadari realita bahwa dirinya tetap manusia biasa.

Kemudian, saat anak tak tenar lagi, kita harus tetap bisa mendampinginya. Bukan malah memperlakukan anak ibarat habis manis sepah dibuang. Perlakuan salah inilah yang akan membahayakan/menghancurkan kehidupan anak; ia jadi manusia yang tak matang, minimal penyesuaian dirinya tak berkembang baik hingga ia selalu dibayangi masa lalu dan tak bisa beradaptasi dengan kondisi masa kini.

BUANG SIKAP KEMARUK

Jangan mentang-mentang ada produser menawari rekaman, misal, kita langsung terima padahal menyanyi bukan domain anak. Buat aturan-aturan sendiri yang memang sesuai kebutuhan dan kemampuan anak, meski itu berarti penghasilan anak jadi lebih terbatas.

Jadi, kalau si kecil memang cuma berbakat sebagai bintang iklan, misal, janganlah memaksa ia untuk nyanyi ataupun main sinetron yang justru hanya akan memperlihatkan kekurangan dirinya. Misal, ia gemuk-pendek, tak bisa bergaya, dan suaranya pun enggak nyampe untuk melagukan nada sederhana. Kalau dipaksa juga menyanyi, malah kacau, kan? Ingat, menyanyi butuh kemampuan berbeda dari kemampuan berakting.

Sikap mampu menahan diri untuk tak kemaruk ini sangat membantu kita mengantar anak ke tangga sukses tanpa harus mengeksploitasinya semata-mata demi kepentingan keluarga. Dengan begitu, kita mengusahakan anak tak kehilangan seluruh dunianya. Dibilang mengusahakan, karena pasti ada bagian yang hilang dalam kehidupannya. Paling tidak, sebagian privasinya pasti terampas publik, hingga ia tak bisa menjalani hidup seperti anak pada umumnya. Bukankah menjadi tontonan, diserbu penggemar, ataupun membalas surat-surat merupakan bagian dari konsekuensi yang tak bisa dihindari?

AJARKAN TANGGUNG JAWAB

Setenar apa pun si bintang, ia harus tetap diajarkan untuk menghargai profesinya sebagai bentuk tanggung jawabnya. Tak ubahnya seperti petani yang harus mencangkul sawah atau ahli komputer yang mesti berkutat dengan komputernya. Jadi, ajarkan ia bersikap profesional. Kalau jadwal syutingnya jam 7.00, misal, maka ia harus datang tepat waktu. Jangan malah kita membiasakannya untuk ngaret.

Ia pun harus dijelaskan akan konsekuensinya sebagai bintang; diantaranya, kehilangan sebagian privasinya tadi. Jadi, ia tak boleh mengabaikan penggemarnya. Tentu ia harus pula disiapkan bagaimana menghadapi para penggemarnya dengan segala tingkah pola mereka. Misal, si penggemar mencubit gemas pipi atau lengannya, atau malah menciumnya. Kalau tidak, bisa-bisa ia kapok lantaran ulah para penggemarnya itu.

TAK KEHILANGAN HAK ASASI

Jika aktivitas si bintang dianggap sudah di luar batas kewajaran, kita harus mawas diri dan berani bilang “tidak”. Jadi, bila ia tak lagi punya kesempatan bermain atau wajahnya begitu memelas tanpa spontanitas dan sorot matanya akibat kelelahan menjalani hidup yang memang bukan hidupnya, berarti ia sudah kehilangan hak asasinya sebagai anak. Bukankah dengan begitu ia menjadi orang dewasa dalam bentuk mini?

Memang, untuk meraih popularitas ataupun prestasi hebat ada harga yang harus dibayar, entah terpaksa makan dan belajar di tempat syuting/studio rekaman atau berlatih lebih keras lagi. Sebagaimana dialami ratu renang maupun pebulutangkis kita; kala anak lain sebayanya masih dibuai mimpi, Elvira Nasution bersaudara sudah harusnyemplung ke kolam renang. Bagaimanapun, dalam hidup harus selalu ada yang dikorbankan karena tak semua yang kita inginkan bisa tercapai.

Namun harga yang harus dibayar itu akan jadi kelewat mahal bila di masa dewasanya, si anak tak bisa menerima kenyataan dirinya bukan lagi bintang. Begitu banyak contoh artis atau tokoh terkenal yang akhirnya malah terpuruk dan mengalami depresi berat, bahkan bunuh diri. Hal-hal tragis semacam ini tak akan terjadi jika kita pandai memainkan peran sebagai pembimbing anak dan menyiapkannya jauh-jauh hari, hingga saat tak terkenal lagi ia tak terus-menerus menggapai-gapai mencari perhatian orang lain.

KEMBANGKAN BAKAT LAIN

Tentunya kita juga harus selalu mempertanyakan, apakah si kecil memang benar berbakat ataukah kita yang kelewat ambisi. Pertanyaan mendasar ini akan terlihat saat ia menuai sukses. Kondisi anak berbakat yang memiliki orang tua bijak tentu berbeda sekali dengan anak yang dipaksa harus sukes hanya demi memenuhi ambisi orang tuanya.

Meraih sukses semestinya merupakan rangkaian dari pengalaman keberhasilan sebelumnya ke jenjang yang selalu lebih tinggi. Bisa masuk dapur rekaman, contoh, tentu karena memang sudah sering nyanyi di panggung, tampil di TV dan selalu ditunggu-tunggu penggemarnya. “Beda banget, dong, dengan artis karbitan yang dipaksa nyanyi, sementara nada dasarnya saja mungkin tak terkuasai. Yang begini biasanya tak akan memberi hasil maksimal. Albumnya nggak akan meledak dan akhirnya cuma buang-buang enerji serta uang. Dalam waktu singkat, namanya pun kembali tenggelam.”

Selain itu, kita pun perlu menyiapkan anak memiliki kompetensi atau keahlian di bidang lain. Hingga, ketika “profesi”nya sekarang tak lagi jadi sandaran utama, ia masih punya hal lain yang bisa dibanggakan dan diandalkan. Tentu ini harus diantisipasi jauh-jauh hari. Begitupun dengan prestasi akademiknya. Jangan sampai karena kelewat sibuk cari uang, ia jadi kerap bolos sekolah; dalam sebulan cuma masuk 2-3 hari, misal. Ingat, lo, sekolah tak kalah penting. Jadi, jangan mentang-mentang ia masih di kelompok bermain atau TK, kita lantas menganggap enteng, “Ah, masih TK ini. ‘Sekolah’nya juga masih banyak main. Nanti kalau sudah SD baru, deh, masuk terus.” Hati-hati, dengan bersikap seperti itu, secara tak langsung kita telah mengajarinya untuk tak bertanggung jawab, lo.

TAK DIPERLAKUKAN ISTIMEWA

Kita harus selalu sadar, setiap anak di dalam keluarga punya hak dan kewajiban yang sama. Jangan karena ia bintang tenar atau memberi “sumbangan” terbesar bagi keluarga, lantas diperlakukan istimewa ketimbang saudara-saudaranya. Perlakuan istimewa hanya membuat anak tak bisa menjejakkan kakinya di bumi. Ia pun jadi bersikap seenaknya di rumah, bahkan kurang ajar semisal, “Kok, makannya kayak gini, sih? Aku, kan, nggak suka masakan begini! Ingat, aku yang cari duit buat makan keluarga!” Jadi, apa pun keistimewaan yang disandang anak, kita sendiri harus tetap bijaksana dan pandai menjaga wibawa agar tak “tergelincir” mengistimewakan si bintang dan memandang sebelah mata pada saudara-saudaranya.

ORANG TUA MENDUKUNG

Nah, bila kita bisa menjalani semua persyaratan di atas, berarti kita orang tua yang istimewa. Seperti dibilang Rieny, “orang tua yang punya bintang cilik pastilah tergolong istimewa. Soalnya, menjadi orang tua dari anak hebat semacam itu bukanlah tugas mudah. Paling tidak, ia harus mampu mengenali bakat anaknya. Padahal, mengenali bakat anak butuh ketangguhan dan daya tahan tersendiri.” Bukankah prestasi gemilang umumnya tak diraih dalam sekejap? Melainkan secara bertahap dan menuntut kerja keras semua pihak yang terlibat. Selain, keberhasilan mengenali dan menggali bakat juga sangat tergantung dari kedekatan hubungan orang tua dan anak. “Orang tua yang nggak dekat, mana mungkin bisa? Karena dia sendiri, kan, enggak tahu persis siapa dan bagaimana kehidupan anaknya.”

Menurut Rieny, keistimewaan ini semakin bertambah nilainya bila orang tua bersedia mengorbankan diri dan kehidupan pribadinya demi “karier” anaknya, kendati risikonya boleh jadi ia akan dicap “memanfaatkan” anaknya. Tapi, tak usah pedulikan suara-suara sumbang seprti itu. Bersikap realistis merupakan jalan terbaik. “Sepanjang anak memangenjoy melakukannya, why not? Wong, ini dunia, kok,” tandas Rieny. Jadi, selama masih ada permintaan dan anak bisa memenuhi permintaan itu sekaligus memperoleh imbalan bagus, nggak apa-apa, kok.

Apalagi, dukungan orang tua, apa pun bentuknya, tetap menempati urutan nomor satu bagi kemajuan anak. Ia bisa menjelma jadi penyanyi tenar, misal, kalau ada ibu yang rela mengantarnya audisi dan setia mendampinginya tiap kali dapat panggilan manggung. Justru hal sebaliknya akan terjadi bila sejak awal kita malah mematahkan semangatnya dengan mengatakan, “Ah,, ngapain, sih, kamu jadi penyanyi?” atau “Papa enggak setuju kamu jadi artis. Pokoknya, kamu harus jadi dokter!” Tapi ingat, lo, dukungan yang kita berikan memang murni untuk kepentingan si kecil, bukan lantaran ambisi kita.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 81/2 Oktober 2000 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: