KONFLIK GARA-GARA PEMBANTU

27 Feb


Saling introspeksi dan memahami kebutuhan pasangan dapat meminimalkan terjadinya konflik antara suami istri gara-gara urusan PRT alias pembantu rumah tangga.

Jangan salah, lo, gara-gara PRT, kita bisa “berantem” dengan pasangan. Sekalipun persoalannya cuma sepele semisal suami menegur istri, “Sama si Iyem, Mama enggak usah kelewat cerewet begitu. Nanti kalau dia enggak betah, kita semua juga yang kebagian capek.” Istri bisa marah besar, lo, karena merasa disalahkan, “Papa apa-apaan, sih? Kok, jadi ngebelain si Iyem? Papa pikir, Mama enggak capek?” Nah, jadi ribut, kan?

Padahal, si suami sebetulnya cuma ingin mengingatkan agar istrinya tak kelewat menuntut PRT bekerja sempurna sesuai standarnya. “Si suami cuma berpikir praktis sekaligus berusaha memaklumi keterbatasan dan hasil kerja pembantu. Baginya, tak ada pembantu lebih merepotkan ketimbang ada pembantu yang kerjanya kurang beres,” tutur psikolog Wieka Dyah Partasari. Jadi, ada kesalahpahaman pada si istri, dikiranya suami membela sang PRT.

Sebaliknya, tak jarang pula suami yang salah paham. Kala ia “teriak-teriak” memanggil si Iyem minta diambilkan korek api, istri langsung “protes”, “Ayah keterlaluan, deh! Masakngambil korek aja harus nyuruh si Iyem? Dia, kan, banyak pekerjaan! Ambil sendiri kenapa, sih?” Tentu saja si suami jadi sewot, “Lo, Ibu, kok, jadi manjain dia? Lantas, buat apa kita gaji dia kalau enggak bisa disuruh-suruh?” Padahal maksud si istri agar jangan terlalu membebani PRT dengan hal-hal sepele sementara si PRT sendiri sudah cukup direpotkan dengan pekerjaannya yang “segudang”. Kalau si PRT merasa pekerjaannya amat banyak hingga ia kewalahan, bisa-bisa ia malah minta berhenti, kan?

CEMBURU PADA PRT

Itu baru konflik seputar kerja, lo. Belum lagi soal kecemburuan istri yang menyangkut penampilan PRT semisal gemar pakai celana pendek atau rok/blus ketat, berdandan seronok, atau tingkah lakunya cenderung ganjen. Sementara suami menanggapi kecemburuan tersebut dengan enteng, “Mungkin dia merasa lebih enak dan bisa gesit kerja kalau pakai celana pendek. Gitu aja, kok, dipersoalkan, sih?” Ya, enggak heran kalau si istri jadi berang, “Iya, buat Papa, sih, enggak masalah. Sekalian cuci mata, kan?”

Kalau sudah begitu, bisa-bisa tiap hari suami istri “perang” melulu hanya gara-gara tampilan PRT yang tak berkenan di mata istri. Apalagi jika si suami ternyata tipe mata keranjang, makin bertambah-tambahlah kecemburuan istri. Malah, bukan tak mungkin disertai kecurigaan kemungkinan terjadi perselingkuhan. Apalagi cerita soal perselingkuhan antara majikan dengan PRT-nya bukan isapan jempol belaka. Bahkan, ada, lo, yang sampai mengawini PRT-nya. Kalau sudah begitu, bukan tak mungkin si istri atau malah si suami yang lantas menggugat cerai. Runyam, kan?

Bukan cuma soal tampilan PRT yang seksi, lo. Istri pun bisa cemburu dengan kepiawaian PRT dalam hal memasak atau menata rumah, misal. Terlebih jika suami kerap “keceplosan” memuji-muji lezatnya rendang buatan si Iyem atau betapa rapinya si Iyem mengurus rumah, dan sebagainya. Kecemburuan istri juga bisa terjadi kala melihat suami asyik ngobrol dengan si Iyem atau menunjukkan perhatiannya semisal, “Kamu kenapa, Yem, kok, Bapak lihat dari pagi tadi kamu diam aja? Apa kamu sakit? Kalau sakit, biar nanti diantar ke dokter.” Padahal, perhatian seperti itu wajar, toh?

INSTROPEKSI DIRI

Kalau soal kompetensi atau kepiawaian PRT, menurut Wieka, tak pada tempatnya istri cemburu, apalagi sampai merasa tersingkir. “Kalau memang si pembantu lebih mahir, mengapa tak berguru padanya?” anjur pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini. Jadi, enggak usah gengsi, ya, Bu. Jikapun tak mampu mengikis perasaan tersebut, toh, kita bisa menutupinya dengan cara memasak bersama, misal. Bukankah tak ada yang bakal tahu bila kita sebetulnya tengah menimba ilmu darinya?

Namun bila perasaan cemburu tetap mendera, “coba, deh, introspeksi diri!” Jangan-jangan, tambah Wieka, perasaan tersebut merajalela kala kita benar-benar lepas kontrol. Artinya, kita begitu sibuk dengan segala macam urusan sementara pekerjaan rumah tangga tak terpegang sama sekali. Nah, kalau ini yang terjadi, dalam hati kita pasti terselip rasa bersalah dan tak nyaman. “Kegalauan semacam itulah yang antara lain kemudian muncul menjadi kecemburuan berlebih tadi. Kecuali bila kita memang memiliki kelainan berupa kecenderungan untuk gampang cemburu pada siapa saja,” terangnya.

Jadi, Bu, tak perlu cemburu sama si Iyem. Kalau ia pakai kaos ketat dengan celana amat pendek, misal, tegur saja baik-baik. Kita bisa bilang, misal, “Yem, saat ini kamu, kan, tinggal di rumah orang lain, bukan di rumahmu sendiri. Tentunya kalau kita tinggal di rumah orang, kita harus punya sopan santun. Salah satunya, kita harus memakai baju yang sopan. Jadi, baju yang sekarang kamu pakai ini lebih baik dipakai di rumahmu kalau kamu nanti pulang kampung.” Begitu, kan, lebih enak ketimbang cemburu yang malah bisa bikin konflik dengan pasangan atau malah mencari-cari dan membesar-besarkan kesalahan PRT guna menyingkirkannya, yang akhirnya malah juga akan berbuntut keributan dengan pasangan.

PAHAMI KEBUTUHAN PASANGAN

Yang jelas, apa pun permasalahannya, saran Wieka, “bicarakan baik-baik secara pribadi di antara suami-istri dan jangan pernah di depan pembantu.” Dengan begitu, kesalahpahaman bisa diminimalkan tanpa membuat pasangan merasa disudutkan atau dilecehkan, sementara si PRT pun tak jadi besar kepala lantaran merasa dibela.

Selain itu, suami dan istri juga dituntut untuk saling memahami kebutuhan pasangannya. Bila suami bawel mempersoalkan seduhan kopi yang kurang pas atau berulang kali terkesan membesar-besarkan hasil setrikaan pembantu yang kurang licin, misal, cobalah gali perasaannya. Bukan tak mungkin, lo, Bu, sebetulnya Bapak menghendaki kita sendirilah yang membuatkan kopi untuknya atau menyetrika pakaiannya.

Apalagi, bilang Wieka, ternyata cukup banyak suami yang menuntut hal-hal paling intim/pribadi dikerjakan istri, termasuk mencucikan pakaian dalamnya atau menyajikan makanan untuknya. Bila tak disepakati sejak awal, hal-hal begini bisa memunculkan protes keras yang bakal menjadi duri dalam daging bagi perkawinan. Tentu saja suami pun perlu memahami keterbatasan istri semisal hanya menguceknya saja, kemudian dibilas pembantu atau cuma sempat masak istimewa di hari libur. Dengan demikian, kebutuhan suami terpenuhi, sementara istri pun tak merasa terbebani dengan perannya akibat tuntutan-tuntutan tadi.

Kendati “tugas-tugas” kerumahtanggaan bukan kewajiban istri semata, ternyata suami memiliki kebutuhan untuk mendapat kenyamanan di rumah dari istrinya, lo. Artinya, sepulang kantor suami ingin mendapati rumahnya dalam keadaan bersih dan rapi, serta kebutuhan pangan dan sandang tertangani. Menurut Wieka, “Hal-hal ini merupakan bentuk support tersendiri buat para suami.” Itu sebab, tak terpenuhinya kebutuhan ini juga merupakan salah satu pemicu konflik suami istri.

Soalnya, kebutuhan akan kondisi rumah yang memberi kenyamanan ternyata merupakan salah satu kebutuhan utama pria. Disamping kebutuhan akan seks, teman yang menarik, partner yang bisa dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang menarik alias berbau hura-hura.

Sementara kebutuhan utama wanita adalah afeksi, kasih sayang/kemesraan, teman yang bisa diajak bercurhat, pasangan yang menjunjung komitmen, selain financial support. Itu sebab, kritik suami terhadap istri soal pembantu bisa sangat membuatnya amat tersinggung, lo. Makanya, direm saja, deh, sekiranya pujian buat pembantu bakal “menjatuhkan” istri tercinta.

PERLU DIGEMBLENG

Selain itu, baik suami maupun istri, diminta untuk memahami perbedaan-perbedaan antara pria dan wanita. Soalnya, Bu, bukan maksud Bapak membela si Iyem, kok. Melainkan karena kaum Adam biasanya memiliki pola pikir praktis saja, semata-mata menyadari betapa berat hidup berumah tangga tanpa pembantu, terlebih di kota besar atau bila istri juga sama-sama bekerja.

Semisal istri yang jadi ngomel melulu lantaran kecapean, tak sempat mengurus diri maupun anak-anak, sementara rumah juga berantakan. Lantaran ingin menyelesaikan masalah atau minimal tak ketambahan masalah baru itulah, para suami lebih mampu bertoleransi terhadap kekurangan pembantu.

Perlu diingat juga, Bu, sekecil apa pun peran kita, kontrol terhadap pengelolaan rumah tetap ada di tangan kita, kok. Sedangkan seberapa besar porsinya dan bagaimana pengaturan/pembagian kerja dengan suami, lagi-lagi hanya tergantung style. “Enggak ada yang mengharuskan istri jadi ratu dapur. Apalagi trend-nya pun kini mulai bergeser dan semakin memungkinkan para suami kian terlibat dalam perputaran roda rumah tangga. Pergeseran ini tak lagi membuat para suami yang mau terjun ke dapur merasa dirinya aneh atau memiliki kelainan,” bilang Wieka. Itu sebab, jangan ragu untuk melibatkan suami dan seluruh anggota keluarga, terutama saat pembantu mudik.

Sedangkan untuk suami yang tega menutup mata terhadap kerepotan istrinya, anjur Wieka, tak ada salahnya menggembleng/mereedukasi mereka. Boleh jadi mereka dibesarkan dalam kebiasaan/pengasuhan seperti itu. Akan tetapi masing-masing pribadi maupun hubungan suami istri itu sendiri terus berkembang. Jadi, Bu, tak ada salahnya mulai mengajak suami peduli pada urusan rumah tangga. Pujilah kalau suami sudah mau menyingsingkan lengan bajunya. Atau berikan reward dalam bentuk lain, semisal menunjukkan wajah cerah atau memberi pijatan mesra.

TETAPKAN BATAS TOLERANSI

Untuk memperkecil konflik majikan-pembantu yang bisa berkembang menjadi konflik suami istri, saran Wieka, tentukan batas toleransi. Artinya, sejauh mana kelalaian dan kekurangan PRT bisa diterima. Misal, toleransi tertinggi yang kita berikan adalah anak, kita tak perlu tawar-menawar bila ia ternyata lalai pada keselamatan/keamanan si kecil. Atau jika keamanan rumah yang kita utamakan, kita berhak marah kala ia seenaknya meninggalkan rumah begitu saja tanpa dikunci. Sebaliknya, bila cuma cadangan gula atau garam melebihi biasanya, buat apa sih kelewat dipermasalahkan? “Enggak usah gampang terbawa emosilah,” ujar Wieka. Lebih baik tentukan apa saja perbuatannya yang masih bisa ditolerir dan tidak. Dari situ, kan, kita bisa menilai apakah yang bersangkutan punya potensi dan bisa dididik/dikembangkan ke arah yang lebih baik, serta mampukah kita menempanya sesuai tenaga dan waktu yang kita miliki.

Begitu pula mengenai kebohongan-kebohongan kecil yang juga kerap dilakukan pembantu. Lagi-lagi sejauh mana bisa ditoleransi. Bila perlu, pelajari apa, sih, motivasinya, sekadar takut dimarahi atau menjadi strateginya untuk memanipulasi. Ajak bicara, misal, “Hari ini setrikanya enggak selesai, kenapa, Yem? Anak-anak rewel atau karena ada sinetron bagus? Bilang aja deh, Ibu enggak marah, kok.” Begitu juga bila ia kedapatan memecahkan perabot dapur. Tentu saja bentuk-bentuk kelonggaran semacam itu tetap diarahkan untuk mendidiknya bertanggung jawab. Hingga, harus diberlakukan syarat berikut, semisal, “Tapi besok diselesaikan, ya,” atau “lain kali hati-hati, lo.”

Sikap begini jauh lebih aman ketimbang kebohongan demi kebohongan berlangsung terus dan semakin memperbesar peluang bahaya atau dampak negatif buat si kecil, semisal jatuh tapi tak dikatakan karena takut dimarahi. Apa pun, kita tetap perlu marah bila memang harus marah, terutama yang menyangkut keselamatan anak atau keamanan rumah. Minimal, kita perlu menegaskan padanya bahwa perbuatannya merupakan suatu kesalahan. “Enggak bener juga kalau kita ‘steril’, dalam arti enggak pernah marah. Hanya akan menyiksa diri bila cuma memendam semua kejengkelan lantaran tahu sulitnya cari pembantu.” Toh, pasangan kita juga akan mengerti kalau kita marah sama si Iyem lantaran ia memang benar-benar salah. Nah, kini sudah menemukan jalan keluarnya, kan, saat menghadapi masalah serupa.

Gara-gara Iyem Pegang Uang Belanja

Soal uang, tegas Wieka, sebetulnya masalah intern suami-istri. Jadi, Pak, kalau istri sampai marah besar gara-gara suami langsung menyerahkan uang belanja kepada PRT, wajarlah. Ia tentu merasa dilecehkan, “Lo, aku ini dianggap apa? “Bagaimanapun uang termasuk hal sensitif sekaligus cermin bagaimana suami-istri mengelola rumah tangga dan apa saja yang telah mereka sepakati bersama,” terang Wieka. Kendati tak lazim, toh, bisa saja pola ini yang diterapkan suami-istri. Tentu dengan catatan, sepanjang bisa diterima istri. “Kalau istri enggak keberatan, ya, enggak jadi masalah, kendati apa pun omongan orang. Masing-masing keluarga memiliki pola khas tipikal keluarga mereka, kok!”

Tumbuhkan Saling Percaya

Sebagai majikan, kata Wieka, kita wajib mengkondisikan situasi saling percaya. Caranya, jadikan PRT sebagai mitra kerja sekaligus bagian/anggota keluarga sendiri. Jadi, hubungan yang terjalin harus bersifat kekeluargaan, bukan bisnis semata-mata. Dengan begitu, kita bisa berkomunikasi secara baik sekaligus bekerja sama. Hingga, konflik dengan pasangan gara-gara urusan PRT pun dapat diminimalisir.

Namun tentu saja, untuk bisa menerima PRT sebagai bagian integral dalam rumah tangga, kita harus benar-benar mengenali dirinya, termasuk seperti apa kepribadiannya. Ini berarti, kita pun perlu tahu dengan jelas identitas dirinya, siapa keluarganya dan di mana mereka tinggal. Hingga, bila ternyata si PRT menyalahgunakan kepercayaan kita semisal kabur dari rumah dengan “menguras” isi rumah atau meninggalkan hutang, kita bisa langsung mendatangi keluarganya tanpa harus ribut mulut saling menyalahkan dengan pasangan.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 95/8 Januari 2001 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: