LO, SI BATITA OMONG KASAR?

27 Feb


Bukan cuma si prasekolah, lo, yang suka omong kasar. Si batita pun demikian. Tapi jangan dimarahi atau diancam, ya, Bu-Pak, karena ia belum mengerti makna kata-kata yang kasar dan halus.

Anak usia ini lagi gencar-gencarnya belajar berbicara. Ia pun lagi giat-giatnya meniru. Apa pun yang ia dengar dan lihat akan ditirunya, termasuk kata-kata dan tingkah laku kasar. Psikolog Wieka Dyah Partasari S.Psi.,  malah menandaskan, proses meniru atau modelling inilah akar dari kebiasaan omong/berperilaku kasar. “Sebagai proses, biasanya anak akan mendengar lalu menyerapnya sebelum menirukannya. Semakin sering kata-kata tertentu didengarnya, semakin cepat ia bisa menirukannya,” terang pengajar pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta, ini.

Nah, jika Bapak-Ibu tak pernah melontarkan kata-kata kasar, coba amati kebiasaan orang lain yang tinggal di rumah; entah pembantu, adik, ipar, atau siapa pun yang berinteraksi dengan si kecil. Jika mereka “bersih”, penyebabnya harus dicari di luar rumah, yakni saat anak bermain atau bergaul. Tak ada yang bisa menjamin bukan kalau teman-temannya juga terbiasa bertutur kata halus dalam keluarganya?

JANGAN MAIN ANCAM

Konyolnya, tak sedikit orang tua yang justru tertawa karena menganggap omongan kasar sebagai sesuatu yang menggelikan dan memang perlu ditertawakan. Padahal, sikap orang tua yang demikian akan semakin mendorong anak meneruskan omongan kasarnya, bukan menghentikannya. “Anak akan menganggapnya sebagai reward,” ujar Wieka. Jadi, Bu-Pak, jangan pernah terpancing untuk mengomentari atau merespon omongan kasar si kecil dengan sesuatu yang akan dianggap positif atau menguntungkan olehnya.

Tak berarti si kecil harus dimarahi, lo. Nggak ada gunanya, kok, karena ia belum mengerti mana kata-kata yang kasar dan halus. “Bagi anak usia ini, tiap kata masih bermakna abstrak. Ia hanya menirukan saja tanpa menyadari apa yang dikatakannya boleh atau tidak. Terlebih bila yang omong kasar adalah tokoh idolanya,” tutur Wieka. Disamping, cara berpikirnya masih sangat sederhana; kalau orang lain boleh, berarti ia pun boleh berkata sama.

Main ancam, semisal, “Nanti Mama kurung di kamar mandi, ya!” ataupun mengancam akan memasukkan cabai ke mulutnya, juga tak memberi manfaat. Karena hukuman, pada dasarnya baru efektif bila konsekuensinya sebanding atau relevan dengan apa yang ia lakukan. Jadi, kalau ia sendiri tak mengerti kenapa ia tak boleh ngomong kasar, buat apa memasukkan cabe atau mengurungnya? “Apa, sih, relevansi hukuman semacam ini dengan ketakmengertiannya?” tukas Wieka.

Lagi pula, hukuman bukanlah cara efektif dalam mendidik. Jikapun harus menghukum, saran Wieka, “pertimbangkan lagi apakah hukuman itu betul-betul merupakan konsekuensi dari perbuatan anak.” Kalau ya, maka anak pun akan menyadari bahwa ia dihukum karena melakukan kesalahan yang tak bisa ditolerir, bukan lantaran hal lain atau karena orang tua tak sayang padanya. “Orang tua pun harus ingat untuk tak pernah melampiaskan kemarahan pada anak.” Apalagi bila pencetusnya hanya karena orang tua sedang stres di kantor atau tengah bermasalah dengan pasangan.

Sedapat mungkin hindari sikap dan cara kasar dalam menegur anak yang omong kasar. Misal, saking jengkelnya, Bapak-Ibu lantas main tampar atau pukul. Lupa, ya, kalau pukulan dan tamparan merupakan contoh-contoh perilaku kasar? Nah, secara tak langsung, kan, malah Bapak-Ibu mengajarkan anak beperilaku kasar, karena model yang signifikan, yaitu Bapak-Ibu sebagai orang tuanya, tak menampilkan perilaku yang ia inginkan. Buat anak malah membingungkan dan sama sekali tak masuk akal, “Ibu ngajarinkita enggak boleh mukul, tapi, kok, Ibu sendiri mukul. Gimana, sih?” Penyelesaian semacam ini hanya akan memunculkan sikap membangkang dalam diri anak.

INGATKAN DAN INGATKAN LAGI

Lantas, bagaimana, dong, sebaiknya? “Cobalah beri pengertian sekaligus tunjukkan bagaimana caranya bicara halus dan sopan,” anjur Wieka. Toh, anak pun sebetulnya sudah bisa diajarkan kendati usianya masih batita. Lagi pula, anak memang harus belajar, kok. Jadi, jangan ragu untuk menegur si kecil, ya, Bu-Pak. Tapi dengan lembut, lo, dan ia pun harus dijelaskan kenapa omongan semacam itu tak boleh ditiru. Misalnya, “Enggak boleh, Sayang, itu kata-kata kasar.”

Menurut Wieka, cara tersebut jauh lebih efektif ketimbang hukuman. Jikapun anak sudah terlanjur omong kasar, ingatkan dan ingatkan lagi, “Eh… Ade, Mama, kan, sudahngajarin, omong yang halus bagaimana?” Selanjutnya, bila anak sudah bisa bicara sopan, kita harus memujinya untuk menguatkan perilakunya. Begitu seterusnya secara berulang-ulang. Tak bisa hanya dengan sekali diberi tahu, anak langsung mengerti. Harus sabar, ya.

“Anak juga perlu dilatih mengungkapkan kemarahannya dengan cara-cara yang lebih bisa diterima,” tambah Wieka. Soalnya, ia juga akan mencontoh dalam kondisi apa, sih, tokoh yang ditirunya omong kasar. Bila si tokoh bicara kasar dalam kondisi marah, ia pun akan belajar meniru hal yang sama; baik lewat kata-katanya yang memang kasar atau tekanan suaranya yang keras.

Tentunya, sebagaimana kita mengajarinya berbicara halus dan sopan, latihan ini pun tak cukup hanya sekali dua kali dilakukan, tapi harus dibiasakan. Bukankah faktor kebiasaan terbentuk lewat proses belajar? Jadi, mengubahnya pun harus tahap demi tahap.

JADILAH TELADAN

Seiring dengan itu, kita pun harus membentengi si kecil agar tak terjerumus dalam kebiasaan yang kurang baik ini. Caranya, menurut Wieka, dengan menempatkan figur yang baik buat ditiru. Nah, siapa yang perlu ditiru? Tentu saja kita, orang tuanya, dan juga orang-orang yang berada dalam radius kedekatan dengan anak. “Bila orang tua melarang anak omong kasar tapi orang tua sendiri berkata kasar, ya, enggak efektif, dong. Orang tua harus benar-benar menjadi tokoh yang bisa diteladani,” bilang Wieka.

Kenali pula dengan siapa si kecil berinteraksi. “Bila ada temannya yang terbiasa omong kasar, meski lebih merepotkan, carikan teman yang lebih baik dan pas buatnya,” ujar Wieka. Atau, cobalah ajari si teman kebiasaan berbahasa yang baik, bukan cuma sekadar menegur. Tentu dengan cara sedemikian rupa tanpa membuat orang tuanya tersinggung.

Langkah lain, cobalah bicara dengan orang tua si teman. Siapa tahu ia memberi tanggapan positif. Jika pun ia tersinggung dan tak mau menerima masukan dari kita, menurut Wieka, apa boleh buat, kita harus membatasi pergaulan si kecil dengan temannya itu. “Tapi bukan melarang anak bergaul dengan siapa pun, lo, karena anak juga makhluk sosial yang butuh bergaul,” ingat Wieka.

Yang tak kalah penting, kita juga harus memperkenalkan si kecil pada wilayah keluarga inti dengan aturan main dan nilai-nilai yang disepakati bersama. Hingga bila ia kena teguran atau hukuman, ia akan selalu belajar menghubungkannya dengan aturan yang dilanggar dan konsekuensi yang bakal diterimanya. “Anak pun harus diperkenalkan dengan aneka bentuk kehidupan berkeluarga agar ia belajar mengerti bahwa ia hidup dalam satu keluarga dengan nilai-nilai tertentu yang berbeda dengan keluarga lain.”

Ingat, tukas Wieka, kita tak akan pernah bisa mengontrol siapa pun, termasuk anak sendiri. Jadi, anaklah yang harus dibekali sistem pengaman tersendiri, yakni nilai-nilai yang kita berlakukan dalam keluarga tadi.

GARA-GARA DITITIPKAN DI RUMAH KERABAT?

Bukan tak mungkin si kecil “mahir” omong kasar lantaran setiap hari dititip di rumah kakek-neneknya. Saran Wieka, cobalah bicarakan langsung bila hubungan kita dengan si “sumber masalah” cukup dekat, “tapi jangan libatkan orang tua atau mertua Anda sebagai pemilik rumah.”

Bila kita sudah mencobanya namun tak ada itikad baik dari adik atau ipar sementara kondisinya tetap tak bagus buat anak, kitalah yang harus mencari alternatif lain. “Suami-istri perlu kompromi dan harus memperhitungkan benar untung ruginya dan baik buruknya bagi anak. Kalau lingkungannya memang tak bisa diubah, Andalah yang harus keluar dari lingkungan tersebut dan mencari lingkungan baru yang lebih bagus buat anak,” tutur Wieka. Lagi pula, kita, toh, tak bisa terus-menerus mengandalkan “jasa baik” orang tua/mertua. Iya, kan?

Selanjutnya, batasi frekuensi pertemuan anak dengan mereka. Misal, dari setiap hari jadi seminggu atau sebulan sekali. Sementara di rumah, kita harus intensifkan pengajaran cara bicara yang benar, sekaligus menanamkan nilai-nilai moral yang baik. Dengan berjalannya waktu, si kecil akan menyadari mana yang benar dan boleh, serta mana yang tidak, sehingga proses peniruan pun akan berkurang.

WASPADAI TV

Soalnya, TV merupakan salah satu penyebab utama anak omong kasar. Ambil contoh sinetron-sinetron kegemaran keluarga yang juga digandrungi anak, bukankah banyak memperdengarkan kata-kata kasar?

“Media audio visual memang lebih besar pengaruhnya dan lebih banyak menimbulkan masalah pada anak ketimbang faktor pergaulan,” jelas Wieka. Terlebih bila anak hampir sepanjang waktu duduk di depan TV.

Celakanya, banyak orang tua yang seolah-oleh mengabaikan betapa banyak kata dan perilaku kasar yang dikonsumsi anak lewat tayangan TV, seperti memukuli orang hingga sekarat atau bahkan tewas di tempat. Kejadian semacam itu pasti direkam anak. Bisa Ibu-Bapak bayangkan apa jadinya jika frekuensi tontonan semacam ini cukup tinggi.

Makanya, salah besar bila kita membiarkan si kecil bebas menonton tanpa batas. Apalagi bila orang tua bekerja sementara pembantu yang menjaga si kecil gemar sekali menonton TV. “Orang tua harus berpikir untuk membatasi tontonan anak,” tegas Wieka. Atau, setidaknya mengalihkan pada kegiatan lain yang lebih bermanfaat. “Sekarang, kan, banyak sekali tersedia permainan edukatif, bacaan bermutu dan sebagainya yang bisa menggantikan kegiatan menonton TV.”

Untuk membatasi tontonan si kecil, tentu kita harus tahu jam berapa saja tayangan anak dan bagaimana kualitas acaranya. Dari situ buatlah jadwalnya. Bila kita sudah melarang namun ia masih ingin menonton juga, biarkan saja -sepanjang masih layak sebagai tontonan anak- namun kita harus mendampinginya. Dengan begitu, bila ada omongan/tingkah laku kasar, kita bisa segera menunjukkan pada si kecil bahwa omongan/tingkah laku tersebut tak bagus dan tak boleh ditiru.

Bila dana memungkinkan, sewakan atau belikan VCD-VCD film yang bagus dalam arti menampilkan tokoh yang baik, memperlihatkan cara berbahasa yang baik dan yang tak kalah penting, sesuaikan dengan usia anak.

DIJAUHI TEMAN

Bila si kecil tak “diamankan” sejak awal, kebiasaan omong/berperilaku kasar akan berdampak buruk bagi kepribadiannya, terutama saat mulai bersosialisasi. Soalnya, terang Wieka, kebiasaan ini akan jadi kecenderungan menetap yang jelas-jelas merugikan anak. “Norma-norma di masyarakat kita, kan, enggak bisa menerima pribadi berkarakter demikian,” ujarnya. Nanti si kecil bisa dijauhi teman-temannya, lo. Atau, orang tua teman-temannya yang akan melarang anak mereka bergaul dengan anak kita. Bukankah orang tua biasanya akan membatasi dan bahkan ada yang melarang anaknya bergaul dengan anak-anak tetangga yang terkenal nakal dan punya kebiasaan omong kasar?

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Dunia Batita/edisi 82/9 Oktober  2000 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: