PASANGAN TAK DISIPLIN, ANAK JADI KORBAN

27 Feb


Sifat yang satu ini sulit terdeteksi selagi pacaran. Akibatnya, anak yang mesti menanggung dampak buruknya.

Buat kita yang menomorsatukan kedisiplinan, segala sesuatu dalam hidup harus berjalan sesuai aturan dan rencana/jadwal. Meski kadang untuk itu, kita harus bersikap keras terhadap diri sendiri. Kendati masih ngantuk, misal, tetap harus bangun pagi agar tak terlambat tiba di tempat kerja. Namun bagi mereka yang tak kenal disiplin, hidup justru dijalani seadanya dan cenderung seenaknya, seolah tanpa beban maupun target tertentu. Rumah tangga pasangan jomplang atau bertolak belakang seperti ini, menurut psikolog Dradjat S. Soemitro, kemungkinan besar akan selalu diwarnai kejengkelan masing-masing pihak. Betapa tidak? Suami/istri yang disiplin pasti merasa capek, dong, harus berjuang sendirian untuk menegakkan aturan dalam rumah tangga maupun menerapkan disiplin pada anak-anak. Ironisnya, kejengkelan-kejengkelan tadi, lanjut psikolog sosial dari UI, biasanya akan berlanjut dengan percekcokan demi percekcokan. Soalnya, istri/suami yang serba santai alias tak kenal disiplin juga berpola pikir “sama” untuk membenarkan diri dan menyalahkan pasangan. “Ngapain, sih, sok disiplin? Santai sedikit kenapa, sih?” Atau, “Nikmati hidup, deh!” Nah, jadi runyam, kan?

BELAJAR MENEMUKAN DIRI

Sebetulnya, tutur Dradjat, pasangan yang disiplin bisa tetap hidup harmonis kendati pasangannya tak disiplin. Syaratnya, tegas Ketua Jurusan Psikologi Sosial Fakultas Psikologi UI ini, masing-masing harus berusaha memahami dan pemahaman pada pasangan baru akan muncul kalau ada pemahaman tentang diri sendiri. Memang seperti lingkaran setan ya, Bu-Pak? Soalnya, bagaimana bisa mengerti orang lain kalau kita tak mampu memahami diri sendiri?

Celakanya, mereka yang tak memahami diri maupun pasangannya biasanya enggan mengkomunikasikan hal-hal begini. Mereka justru sibuk untuk saling ngotot bertahan pada pemikiran masing-masing dan merasa dirinya paling benar. Sementara mereka yang bisa memahami diri sendiri, biasanya lebih mampu memahami orang lain. Itu sebabnya, tegas Dradjat, penting sekali bagi suami dan istri untuk belajar menemukan dirinya sendiri. Prosesnya memang susah sekali, butuh waktu lama karena harus diupayakan terus-menerus dan tak cukup hanya diomongkan.

Selain itu, untuk bisa memahami pasangan, lanjut Dradjat, minimal kita dituntut untuk mengenali sisi positif dan negatifnya. Sisi positif dari mereka yang disiplin antara lain terbiasa bekerja keras alias tak manja dan bisa mengontrol diri karena bukan tipe impulsif yang gampang meledak-ledak atau serba menuntut. Sayangnya, mereka kelewat dikuasai oleh aturan-aturan yang seolah tak bisa ditawar. Artinya, kalau di agenda tertulis jam 5 harus bangun pagi, begitu alarm berbunyi, saat itu juga ia akan turun dari tempat tidur. Baginya, seluruh waktu sudah diprogram sedemikian rupa untuk kegiatan demi kegiatan. Jam sekian harus ini dan itu, hingga boleh dibilang tak bisa hidup “wajar” di luar jadwal ketat tadi. Nah, kalau kehidupan semacam ini yang dijalani, bukankah suatu saat akan berbalik jadi bumerang bagi energinya? Minimal ia akan ambruk kelelahan karena tak ada keseimbangan maupun penyegaran dalam pola hidupnya.

MENGENALI RAGAM DISIPLING

Menurut Dradjat, disiplin idealnya terbentuk dari dalam diri sendiri atau sudah terinternalisasi menjadi bagian dirinya. Karena bila merupakan sesuatu yang dipaksakan atau di-drill dari luar, itu artinya individu yang bersangkutan memang tak punya pilihan lain. Karena self-nya sebetulnya amat tertekan, hingga tak memungkinkannya mengekspresikan diri mengingat disiplin eksternal begini memang identik dengan segala keteraturan dan ketaatan. Sayangnya, disiplin seperti ini baru bisa berjalan jika ada pengawasan ketat. Begitu sosok yang memaksakan kehendak tak tampak, disiplin pun kembali longgar atau bahkan terlupakan. Sebaliknya, bila muncul dari dalam diri karena dinilai sesuai dengan kehendak diri atau sudah terinternalisasi sedemikian rupa, tanpa pengawasan pun disiplin akan berjalan dengan sendirinya.

Mengenai hal ini, Dradjat mengemukakan contoh berupa penelitian yang dilakukan Bandura, tokoh teori belajar sosial (Social Learning Theory). Dalam penelitian tersebut, sekelompok individu diberi reward sebelum mengerjakan sesuatu. Kelompok kedua tak diberi reward sama sekali, kelompok ketiga baru diberi reward bila sudah selesai mengerjakannya dan kelompok keempat adalah kelompok yang memberi reward sendiri. Dari hasil penelitian tersebut ternyata kelompok ketiga dan keempat lebih berprestasi dibanding kelompok pertama dan kedua. Bahkan pada kelompok keempat, ada kecenderungan untuk selalu meningkatkan prestasi kendati tak diawasi atau disuruh-suruh. Menurut Dradjat, ini membuktikan bahwa reward yang diberikan dari diri sendiri akan lebih kuat pengaruhnya dibanding reward dari luar.

KESALAHAN POLA ASUH

Sedangkan sisi negatif yang menonjol dari mereka yang tak disiplin adalah tak kuasa menahan keinginan diri. Soalnya, apa pun yang mereka inginkan harus selalu dituruti saat itu juga. Itu berarti, mereka tak memiliki kekuatan ego untuk mengontrol dirinya, hingga selalu terbawa ke mana air mengalir atau angin berhembus. Contohnya, ketika muncul keinginan, “Ah lagi malas. Santai dulu, ah,” maka saat itu juga ia akan bersantai, tak peduli setumpuk tugas menanti! Konyol, kan?

Orang-orang yang santai tak keruan ini umumnya lebih merupakan akibat kesalahan pola asuh, semisal kelewat dimanja dan selalu dituruti apa pun keinginannya. Tak heran kalau mereka akhirnya tak mengenal aturan hingga berkembang jadi individu yang seenaknya, selain amat tergantung pada orang lain dan obsesif. Kendati tak tertutup kemungkinan pula pengaruh budaya dan perkembangan masyarakat yang membentuk seseorang jadi manusia yang individualis.

Menurut Dradjat, bila tipe kelewat santai semacam ini jadi kepala keluarga, biasanya akan dirasa berat oleh istri yang tak lagi mudah menaruh respek pada pasangan. Hanya saja, lanjut Dradjat, tak ada pola baku dalam hubungan suami-istri. Artinya, variasinya begitu banyak dan tak ada satu pun yang sama persis. Boleh jadi si disiplin merasa “beruntung” memiliki pasangan tak disiplin yang membuat eksistensinya semakin terlihat. Soalnya, ia justru merasa amat berarti dan mendambakan diri sebagai sosok yang menjadi tempat bergantung.

Sebaliknya, bila sebagai istri kita memang merasa terbebani dijadikan tempat bergantung, biasakan suami yang berego lemah ini untuk senantiasa berani menghadapi realitas. Sebagai pasangan, kita harus berani bersikap asertif, hingga ia akan belajar menyadari bahwa apa yang diinginkannya tak selalu harus dipenuhi/diikuti. Kalau memang ia kemudian marah atau uring-uringan lantaran keinginannya tak kita penuhi, saran Dradjat, tak perlu kelewat dipusingkan. Dengan begitu, ada proses reedukasi atau pendidikan kembali. Artinya, kita harus bersikap seperti orang tua yang mampu bersikap tegas, sekaligus sebagai teman yang mengingatkannya untuk menemukan self atau kedewasaannya. Justru di sinilah, bilang Dradjat, cinta suami-istri sebenarnya diuji.

BIKIN ANAK BINGUNG

Bu-Pak, karakter yang bertolak belakang seperti ini, membawa dampak buruk, lo, buat anak. Soalnya, bila ketaksesuaian ini senantiasa mewarnai kehidupan keluarga, pola pendidikan si kecil pun jadi sangat tak konsisten. Semisal ibu yang serba membolehkan, termasuk untuk bangun siang atau bahkan membolos sekolah. Sementara ayah malah menerapkan disiplin ala militer untuk bangun pagi dan serba bergegas atau tepat waktu menyelesaikan tugas. “Perbedaan-perbedaan semacam itu jelas akan menimbulkan kebingungan, ketidakjelasan dalam diri anak. Begitu juga cara pandangnya terhadap dunia: serba mendua dan tak pasti.”

Akibatnya, anak akan merasa kesal lantaran bingung memutuskan untuk mengikuti ayah atau ibunya. Nah, karena ingin dinilai tak berpihak, bukan tak mungkin ia malah menarik diri hingga hubungannya dengan ayah/ibu justru makin jauh. Masih beruntung bila ayah/ibunya memiliki disiplin positif atau yang sudah terinternalisasi tadi. Karena ia akan mengajarkan si kecil untuk melihat realitas hidup apa adanya yang selalu memiliki dua sisi, baik dan buruk. Nah, bila ayah/ibunya mampu bersikap bijak seperti itu, anak malah akan tertantang meniru kebaikannya.

Sayangnya, di mata anak, ibu/ayah biasanya cenderung menjelek-jelekkan pihak “lawan”, semisal, “Tuh, lihat sendiri deh, Papa/Mamamu memang payah! Enggak bisa diandelin, kan?” Keadaan akan bertambah runyam bila kedisiplinan ayah/ibunya cuma eksternal belaka, yakni disiplin yang dipaksakan hingga bersifat otoriter dan tak menyenangkan buat anak. Semisal, “Ayo, cepetan mandi! Gantian sama Kakak, dong!”, atau “Buruan makannya! Ini sudah jam berapa? Nanti kalian terlambat, lo!” Hal-hal semacam itu, bilang Dradjat, bukan contoh yang bagus untuk ditiru anak. Ingat, lo, anak tak pernah lepas dari tokoh modelnya yakni kita selaku orang tua mereka.

MEMETIK MANFAAT

Itu sebabnya, saran Dradjat, selalu harus diupayakan semacam konsesi. Artinya, dimunculkan perimbangan dominasi sifat ayah dan ibu, selain penanaman disiplin yang tumbuh dari dalam diri si anak sendiri. Ketimbang memburu-buru anak agar cepat mandi, misal, mengapa tak menemani atau memandikan si kecil sambil menyanyi dalam suasana riang? Dengan begitu akan tumbuh image menyenangkan bagi anak dalam berbagai aktivitas kesehariannya.

Yang tak kalah penting, tegas Dradjat, orang tua harus bisa menempatkan diri mereka. “Bukan sebatas penegak aturan, tapi juga sama-sama menjadi pelaksana yang menjalankan aturan.” Enggak akan ada manfaatnya, deh, “berkicau” tiap pagi karena hanya akan buang-buang energi, sementara model indoktrinasi seperti ini tak akan pernah didengar anak. Apa pun, lanjut Dradjat, image disiplin harus sesuatu yang sehat dan menyenangkan.

Bukan cuma itu. Anak pun perlu belajar menanggung akibat dari perbuatannya. Contoh, nilainya menurun sejak rajin nonton. Tak perlu kita memarahinya, “Kakak pasti enggak belajar, nih! Malu-maluin banget dapet nilai jelek! Makanya belajar yang rajin, dong, biardapet nilai bagus!” Akan lebih mengena bila mengajak anak memetik sendiri manfaat kedisiplinan. Atau minimal melihat kaitan antara disiplin dengan perfomance-nya. Biarkan ia belajar menarik benang merah atau mengambil kesimpulan, “Kalau saya tak disiplin belajar, nilai saya, kok, jelek.”

Ajarkan pada anak untuk belajar menetapkan target tertentu buat dirinya, termasuk buat anak balita. Tentu saja dalam bahasa dan tingkat yang sangat sederhana. Dengan begitu, disiplin menjadi sesuatu yang terinternalisasi dan mendatangkan manfaat untuknya.

TAK MENGULANG KESALAHAN

Ayah/ibu yang tak disiplin, biasanya sulit menerima kesalahan serupa pada anaknya. Sebabnya, ungkap Dradjat, ia serasa bercermin melihat kekurangan dirinya. Makin si anak menyerupai keburukan dirinya, makin keras pula sikapnya menolak si kecil. Kalau ia merasa tak sukses akibat tak disiplin dalam belajar, ia akan menuntut anaknya berprestasi.

Itu sebab, bila anaknya mendapat nilai jelek, ia akan marah setengah mati. Sementara ia cuma bisa marah-marah tanpa bisa menunjukkan jalan terbaik untuk mencapai target yang diharapkan. Karena pada dasarnya ia memang tipe penuntut tanpa bisa menjadi tempat bergantung bagi orang lain, termasuk anaknya!

SANTAI? ENGGAK DILARANG KOK!

Menurut Dradjat, dengan disiplin bukan berarti kita lantas tak boleh bersantai, lo! “Boleh-boleh saja santai, tapi tetap dalam rangka pengembangan diri atau menunjang aktualisasi diri.” Artinya, tukas Dradjat, ada keseimbangan antara waktu kerja, waktu istirahat, dan waktu bersosialisasi.” Itu sebab, bila bukan merupakan keinginan untuk bermalas-malasan, kesantaian bisa ditoleransi, kok, yakni bila ditujukan untuk istirahat, menyegarkan pikiran, dan menjalin hubungan dengan orang lain yang bisa memperkaya wawasannya.

SULUNG/BUNGSU SAMA-SAMA BERPELUANG

Umumnya, kata Dradjat, si sulung sering mendapat keistimewaan dan prioritas dari orang tua. Kalau hal-hal seperti ini yang mendapat penekanan dalam pola pendidikan, ia cenderung akan berperilaku seenaknya. Akan tetapi kalau penekanannya lebih pada prestasi, tanggung jawab, dan keteladanan, semisal bertugas menjaga/mengantar adik, maka anak sulung akan terbiasa menghadapi realitas.

Sebaliknya, si bungsu yang lebih sering dibantu dan dilindungi, berpeluang tumbuh jadi pribadi yang kurang matang. Terlebih bila peraturan yang diberlakukan untuknya cenderung longgar.

BISA DIANTISIPASI LEWAT KEBIASAAN KENCAN

Untuk memastikan apakah pasangan kita disiplin atau sebaliknya, menurut Dradjat, agak sulit bila dilakukan sebelum menikah. Meski bisa saja, sih, “terbaca” lewat kebiasaan kencan yang selalu molor atau kebiasaan lain yang kurang terpuji. Hanya saja, saat masih pacaran umumnya orang menutup mata terhadap kekurangan pasangan. Kala dimabuk cinta, dunia jadi lebih terlihat berwarna-warni, hingga sisi-sisi gelap pasangan seolah tak tampak. Padahal seharusnya justru digali supaya tak seperti membeli kucing dalam karung.


Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 93/25 Desember 2000 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: