PERSALINAN CEPAT BAHAYAKAN IBU & JANIN

27 Feb

Melahirkan memang sakitnya luar biasa, tapi sebaiknya jangan berharap bisa melahirkan kilat. Taruhannya nyawa, lo!Namanya saja persalinan cepat, prosesnya pun luar biasa cepat. Bayangkan, wanita normal minimal butuh waktu sekitar 10 jam sejak munculnya tanda-tanda melahirkan atau pembukaan 1 sampai bayi lahir. Sedangkan dalam persalinan cepat, proses yang sama bisa-bisa hanya berlangsung kurang dari 3 jam.

Pada persalinan normal, terang dr. Judi Januadi Endjun, Sp.OG, Sonologist, idealnya pembukaan hanya 1 cm per jam untuk kehamilan pertama atau sekitar 1,5 cm per jam untuk anak berikut. “Nah, pada persalinan cepat atau istilah kedokterannya, partus presipitatus, pembukaan berlangsung sekitar 5 cm per jam untuk kehamilan pertama, bahkan 10 cm per jam untuk kelahiran berikut atau bagi yang sudah pernah melahirkan.” Jadi, pada ibu yang mengalami partus presipitatus ada kemungkinan melahirkan anak kedua atau ketiganya kurang dari 1 jam!

Duh, betapa nikmatnya, ya, Bu, jika bisa melahirkan secepat itu. Bukankah kita jadi tak perlu berlama-lama mengalami rasa sakit yang luar biasa? Tapi, jangan senang dulu. Soalnya, persalinan kilat ternyata enggak ada untungnya sama sekali. “Ini, kan, kelainan!” tegas Judi. Rasa sakitnya pun bisa berlebihan, terutama karena kontraksinya terlalu kuat hingga menimbulkan nyeri luar bisa. “Belum lagi sederet risiko fatal, baik buat si ibu maupun bayi yang dilahirkannya.”

PENYEBAB

Menurut pengasuh rubrik Tanya Jawab Kebidanan & Kandungan tabloid nakita ini persalinan cepat sama sekali bukan disebabkan bayi yang kelewat aktif atau berukuran besar atau lantaran si ibu banyak bergerak. Bukan pula karena faktor keturunan atau makanan. Melainkan melulu kelainan struktur anatomi jalan lahir bagian bawah atau kontraksi rahim si ibu itu sendiri. Jadi, ada kelainan pada jalan lahir.

“Mestinya, kan, bagian ini memiliki otot dan jaringan yang komposisinya sedemikian rupa, hingga pembukaan bisa diatur sedikit demi sedikit atau sekitar 1 cm per jam. Namun pada mereka yang memiliki kecenderungan partus presipitatus, kemampuan otot dan jaringan di tempat tersebut sangat rendah. Hingga kemampuan menahan regangan juga sangat rendah, yang membuat jalan lahir terbuka begitu cepat.”

Kontraksi rahim yang terlalu kuat juga menjadi salah satu sebab persalinan cepat. Kondisi ini kerap didapati pada ibu-ibu hamil yang minum rumput Fatimah atau perangsang lain yang mengandung oksitosin atau zat yang menimbulkan kontraksi rahim tanpa anjuran/pengawasan dokter. Padahal, tegas Judi, tanpa perangsang apa pun, secara alamiah setiap ibu hamil memiliki oksitosin dalam tubuhnya. Dosisnya pun sesuai dengan kemampuan/kondisi si ibu, hingga bila ditambahkan bisa mengacau kontraksi itu sendiri. Makanya, “harus ada alasan medis untuk memberikan tambahan apa pun, termasuk oksitosin.”

Sebab lain, si ibu sudah kelewat ngotot mengejan kuat-kuat justru di saat yang belum semestinya. Misal, baru pembukaan 1 atau 2 sudah mengejan, padahal ia baru boleh mengejan saat pembukaan sudah lengkap, yakni saat jalan lahir telah membuka 10 cm. Itu pun harus di bawah aba-aba bidan atau dokter kandungan yang menanganinya.

SERING KECOLONGAN

Mengingat kontraksi rahim yang teratur (his) munculnya menjelang proses melahirkan dan tak bisa terdeteksi sejak awal sekalipun dengan USG, maka partus presipitatus tak bisa diantisipasi jauh-jauh hari. Lain hal pada persalinan kedua atau persalinan-persalinan berikut. Soalnya, persalinan cepat, bilang Judi, memiliki kecenderungan berulang. Artinya, bila persalinan pertama termasuk persalinan cepat, persalinan berikutnya pun akan cepat juga, bahkan jauh lebih cepat, hingga dokter bisa mendeteksinya.Tentu saja asalkan si ibu memberitahukannya kepada dokter atau bidan yang menanganinya.

Pasalnya, tak semua bidan atau dokter mampu mengenali tanda-tanda persalinan cepat. Hingga yang kerap terjadi, ketika pasien betul-betul teriak kesakitan, bidan/perawat menganggapnya sebagai bentuk kemanjaan semata sambil berkomentar enteng, “Nggakapa-apa, kok, Bu.” Padahal, agar tak kecolongan, tenaga penolong harus tanggap dan jeli mengamati bahwa tanda-tanda yang dialami si ibu melahirkan tadi adalah partus presipitatus.

Sedangkan jika diketahui sedari awal, persalinan cepat bisa ditangani dengan pemberian obat pereda. Semisal obat untuk mengurangi atau menghilangkan kontraksi yang disebut tokolitik.

BAHAYA DAN RISIKO

Untuk ibu, risikonya antara lain perdarahan karena perobekan jalan lahir yang dipaksa membuka. “Padahal, kan, perlu adaptasi dengan membuka perlahan-lahan, dari mulut rahim sampai vagina, hingga membentuk jadi tabung,” tutur Judi. Proses adaptasi semacam ini amat diperlukan oleh jaringan agar tak rusak.

Itu sebab, bila proses persalinannya berlangsung kurang dari 3 jam, besar kemungkinan mayoritas jaringan di vagina dan mulut rahim belum bisa beradaptasi dengan baik. Risiko/komplikasi yang paling membahayakan adalah robekan pada rahim yang disebut ruptur uteri. Belum lagi robekan di mulut rahim dengan area perobekan yang cukup luas. Hingga, bilang Judi, “Rahim bisa compang-camping dan susah ngejahitnya.”

Risiko yang tak kalah fatal adalah emboli air ketuban yang bisa menimbulkan kematian ibu. Soalnya, partikel yang mungkin terdapat di cairan ketuban akan masuk ke pembuluh darah ibu yang akan menyumbat pembuluh darah di otak maupun jantung. Sedangkan risiko yang paling “ringan” adalah perobekan pada vagina, vulva/bibir kemaluan, serta perineum.

DAMPAK PADA BAYI

Sementara dampak pada bayi juga tak bisa dianggap enteng, yaitu peningkatan angka kematian dan angka kesakitan. Sebabnya, kontraksi pada dasarnya memiliki irama tersendiri: naik-turun-naik-turun, begitu seterusnya. Saat si ibu mengalami kontraksi, pembuluh-pembuluh darah yang ada di rahimnya akan terjepit hingga secara fisiologis membuat bayi kekurangan oksigen. Namun kontraksi biasanya akan diikuti periode relaksasi yang memungkinkan bayi mendapat oksigen kembali. Dengan begitu, bayi bisa beradaptasi selama tenggang waktu antara kontraksi dan relaksasi tadi. Artinya, bayi masih bisa tahan napas tanpa oksigen sekitar 3 menit.

Sedangkan pada kasus partus presipitatus, bayi jadi sulit beradaptasi. Pasalnya, kontraksi demi kontraksi berlangsung begitu cepat, yakni cuma berselang 1 menit. Bahkan, tak jarang kontraksi tanpa diikuti relaksasi karena terjadi kontraksi terus-menerus. Akibatnya, bayi tak memperoleh oksigen dan kondisi ini bisa berakhir dengan kematian bayi.

Risiko lain, perdarahan pada otak karena kepala bayi mendapat tekanan luar biasa saat melewati jalan lahir yang belum mengalami pembukaan sempurna. Artinya, jalan lahir harusnya lama-kelamaan kian melunak dan membuat pertahanan pada jaringan di bawah semakin ringan. Dengan proses semacam itu, bayi akan lewat secara mulus. Namun karena kontraksi begitu kuat mendorong si bayi, kepala bayi bagian dalam akan mengalami cedera akibat dipaksa keluar dan harus berbenturan dengan pertahanan di bagian bawah yang juga masih kuat. “Kondisi begini bisa mengundang terjadi perdarahan hebat, lo!”

Komplikasi yang tak kalah membahayakan, “bisa-bisa bayi jatuh ke lantai karena enggak ada yang tahu. Bidannya memperkirakan sekian jam lagi baru akan lahir, enggak tahunya belum sejam pun sudah lahir.” Hingga, tenaga penolong jadi tak siap melakukan resusitasi (pembersihan alat pernapasan bayi baru lahir). Padahal bayi, kan, perlu dibersihkan, minimal hanya dilap mukanya dan dibersihkan lendir dari mulut serta hidungnya.

MEMINIMALKAN RESIKO

Wah, kalau risikonya separah itu, lebih baik merasakan sakit yang amat sangat, ya, Bu, daripada harus mengalami persalinan cepat. Toh, kita juga tak perlu terlalu khawatir karena persalinan cepat sebenarnya amat jarang terjadi. Di AS saja, bilang Judi, diperkirakan populasinya sekitar 2 persen, sementara di Indonesia tak pernah ada data tentang hal itu.

Namun begitu, kita tetap perlu berjaga-jaga untuk menghindari atau setidaknya mengurangi risiko yang membahayakan tadi. Ada beberapa yang patut dilakukan ibu hamil. Pertama, harus secepat mungkin ke tempat bersalin, apalagi kalau pernah melahirkan seperti itu. “Jangan malah di saat-saat terakhir baru berangkat, terutama kalau rumahnya jauh dari tempat bersalin,” bilang Judi.

Sebaiknya, pilih rumah sakit besar atau khusus tempat bersalin yang menyediakan fasilitas ruang operasi lengkap dengan peralatan maupun obat-obatan dan tenaga ahlinya. Sebab, ibu yang mengalami partus presipitatus berpeluang besar mengalami robekan rahim. Padahal, bekas robekan di jalan lahir umumnya bisa menimbulkan jaringan parut yang bersifat getas atau mudah robek kembali dan menyebabkan robekan lebih parah.

Itu sebab, amat dianjurkan memilih dokter kandungan sebagai tenaga penolong karena si ibu ada kemungkinan menjalani sesar. Terutama bila di mulut rahim banyak jaringan parut bekas jahitan saat melahirkan terdahulu yang diperkirakan akan mengganggu proses pembukaan. Begitu juga bila pernah terjadi robekan rahim di bagian dalam atau robekan luas di daerah rahim. Lain hal bila hanya terjadi bekas perobekan di perineum yang tak mendesak untuk sesar mengingat daerah perineum termasuk elastis (lentur).

PELAJARI POLA KONTRAKSI

Kontraksi yang terlalu kuat pada pembukaan 1 dengan interval pendek yang menjadi salah satu tanda persalinan cepat, memang harus segera ditangani. Semisal dengan jalan memberikan obat-obatan untuk mengurangi sakit dan menenangkan rahim. Hanya saja tindakan ini harus diikuti pengawasan 24 jam untuk memantau pola kontraksi yang diharapkan normal kembali. Bahkan di luar negeri, kata Judi, pola ini dipantau dengan apa yang disebut kardio-tokografi yang dimasukkan ke dalam rongga rahim.

Tentu saja pemberian penghilang/pengurang nyeri persalinan ini tak bisa dilakukan sembarangan. Mengingat pada dasarnya tindakan tersebut bisa berdampak negatif, di antaranya partus presipitatus. Artinya, intervensi menghilangkan sensasi nyeri hanya akan membuat tenaga penolong tak aware pada kondisi pasien. Sementara si ibu hamil sendiri pun tak bisa mengetahui bagaimana pola kontraksinya. “Pasien jadi tak mengeluh kesakitan, sedangkan si penolong pun tak bisa tahu bahwa kontraksi rahim si pasien terlalu kuat.”

Belum lagi sensasi nyeri yang berbeda pada tiap orang, hingga bisa mengecoh tenaga penolong. Ada yang baru pembukaan satu sudah teriak-teriak kesakitan setengah mati, namun tak sedikit yang mampu menguasai rasa sakitnya dengan berteriak seperlunya. Padahal, apa pun alasannya, berteriak-teriak sebagai tanda kemanjaan hanya akan makin menguras energinya dan membuatnya jadi lebih panik. Sementara kalau si ibu tegang/panik, kontraksi rahim pun kian jadi tak terkoordinasi dengan baik. Dengan begitu, pola kontraksinya pun jadi terganggu.

SUAMI SIAGA

Itu sebab, amat disarankan suami menunggui istrinya di ruang bersalin, terutama saat kala kedua. Beberapa rumah sakit bahkan menyediakan kamar bersalin yang nyaman, menggunakan AC dan musik demi ketenangan si ibu. Kalaupun fasilitas semacam itu dianggap terlalu mahal, paling tidak suami atau anggota keluarga terdekat mendampingi. Salah besar kalau di klinik-klinik kecil suami dilarang masuk karena dianggap mengganggu/merepotkan kerja bidan atau tenaga penolong.

“Bidan atau dokter yang baik pasti akan mengijinkan, bahkan mewajibkan sang suami ikut mendampingi istri.” Mengingat sudah terbukti dari penelitian bahwa kehadiran keluarga di kamar bersalin membuat persalinan jadi lebih cepat dan nyaman serta berkurang rasa nyerinya. Begitu juga pemijatan di daerah bokong bagian bawah yang amat membantu membuat si ibu hamil merasa nyaman. Dengan dampingan suami atau minimal keluarga dekat, si ibu diharapkan bisa relaks dan menyangga posisi badannya dengan benar. “Lo, SIAGA, kan, maksudnya siap antar jaga sampai kamar bersalin,” tandas Judi.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 106/26 Maret 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: