PUSAT KRISIS UI: DAMPINGI ANAK-ANAK BERMASALAH

27 Feb


Buah hati Anda bermasalah? Mungkin Pusat Krisis UI merupakan solusinya.

Muncul dari spontanitas dan kesukarelaan para psikolog untuk mendampingi para korban kerusuhan Mei 1998, terbentuklah Pusat Krisis (Puskris) UI ini. Dalam perjalanannya kemudian, juga merambah berbagai daerah pengungsian akibat bencana alam maupun korban tindak kekerasan.

“Umumnya wanita dan anak-anak yang selalu jadi korban. Sementara konsentrasi kami selama ini di Fakultas juga masalah anak. Itu sebab, misi utama kami adalah mengulurkan pendampingan dan bantuan psikososial pada anak-anak yang menghadapi masalah emosional, termasuk anak-anak di tempat pengungsian, ” jelas sekretaris Puskris UI, Dra. Dini P. Daengsari, M.Si.

Bahkan, Puskris UI saat itu juga membuka hotline. Setelah perkenalan singkat lewathotline, para psikolog dari Bagian Perkembangan, Klinik, maupun Sosial Fakultas Psikologi UI, biasanya mendatangi klien di tempat tertentu yang dirahasiakan, demi keamanan fisik dan psikis klien.

Ada pula bantuan psikososial berupa trauma konseling, disamping program penyuluhan Ibu Maju Anak Bermutu (IMAB). Program yang disebut terakhir ini bertujuan memberdayakan orang tua yang punya anak usia 0-8 tahun, dengan memberikan pelatihan dan pengetahuan mengasuh anak. Selain itu, Pukris UI juga membantu menyalurkan sumbangan dari berbagai pihak.

PELAYANAN INDIVIDU

Tentu saja Puskris UI juga membuka diri bagi orang tua yang butuh bantuan dalam mengasuh dan membesarkan anaknya yang bermasalah, entah berupa gangguan emosional ataupun perilaku. “Banyak, lo, orang tua yang mengaku tak punya pengetahuan dan keterampilan mengasuh anak. Hingga tak jarang, saat si anak bermasalah, mereka tak tahu harus bersikap bagaimana menghadapinya. Selama ini, kan, mengasuh anak dianggap seperti air mengalir saja dan setiap orang bisa melakukannya,” tutur Dr. S. Patmonodewo, salah seorang pengurus Puskris.

Berbeda dengan trauma konseling yang bersifat spontan dan massal, bantuan psikologis untuk individu semacam ini lebih njlimet. Artinya, harus melewati prosedur tertentu sementara biaya konseling pun ditanggung sepenuhnya oleh klien. Nah, bila si kecil menghadapi masalah psikologis, Ibu-Bapak bisa menghubungi Bagian Administrasi Psikologi Perkembangan untuk mendaftarkan diri, dengan menyampaikan garis besar atau gambaran singkat permasalahan yang dihadapi. Oleh staf di sana akan dibuatkan jadwal pertemuan dengan psikolog yang berkompeten menangani masalahnya.

Tapi mesti sabar, ya, Bu-Pak, karena mustahil mengharap permasalahan bisa tuntas hanya dengan sekali pertemuan. Biasanya dibutuhkan minimal tiga kali pertemuan yang masing-masing berlangsung satu jam, untuk bisa mendapatkan gambaran lengkap mengenai akar permasalahan sekaligus penanggulangannya. Penanganannya pun berbeda untuk tiap masalah. Untuk anak yang menjadi agresif karena pernah melihat orang tuanya disiksa di depan matanya, misal, tentu butuh terapi berbeda dan pasti lebih lama dibanding anak pemalu.

Bila gambaran sudah diperoleh, selanjutnya ditentukan bagaimana diagnosanya dan bentuk konseling apa saja yang diperlukan. Bila perlu, akan diikuti semacam terapi khusus yang biasanya dilakukan di klinik fakultas, karena di sana tersedia fasilitas yang memungkinkan semisal playroom atau ruang bermain. Dengan begitu, dapat dilakukan pula assesment psikologis lebih memadai supaya kita tahu lebih banyak bagaimana kehidupan anak selama ini.

Bahkan, ada kalanya tenaga Puskris merasa perlu mendatangi klien di rumah maupun di “sekolah” untuk mengobservasi lingkungan tempat si anak tinggal dan bagaimana ia berinteraksi/berperilaku di lingkungannya.

SARANA BEREKSPRESI

Biasanya, terapi untuk anak-anak balita dikaitkan dengan kegiatan mengekspresikan perasaan lewat seni seperti seni lukis atau drama. Cara ini ternyata amat efektif karena orang yang tengah depresi, cemas, trauma, biasanya tak mudah mengekspresikan perasaannya lewat kata, tapi lebih mudah menyalurkannya lewat goresan, permainan dan sejenisnya. Dari sarana semacam itu bisa “terbaca” ekspresi jiwa dan sejauh mana mereka butuh bantuan. “Gambar-gambar itu menjadi salah satu alat bantu kami mengadakan assesment atau jadi semacam tes diagnostik,” bilang Dini.

Lewat gambar-gambar bebas atau gambar tertentu ini antara lain bisa dilihat apakah seorang anak mengalami ketegangan atau kecemasan. Bukan dari bagus-tidaknya gambar, melainkan dari berbagai aspek, semisal bentuk gambar, paduan warna, isi gambar, besar kecil ukuran objek-objek gambar maupun peletakan gambarnya. Observasi yang dilakukan saat anak bermain pun bisa dijadikan sarana efektif untuk mengetahui kondisi anak apakah mengalami gangguan emosional atau tidak.

Selama beberapa kali pertemuan itu, orang tua pun biasanya ikut “digarap”. Perubahan perilaku/sikap orang tua dalam mengasuh anak diharapkan akan memberi perubahan ke arah yang lebih positif bagi anak. Karena umumnya bila orang tua dalam keadaan stres, tegang, dan sejenisnya, anaklah yang jadi sasaran semisal dipukul atau dimarahi. Sikap salah orang tua, dampak buruknya akan berkepanjangan ke anak.

Alamat Pusat Krisis UI:
Bagian Psikologi Perkembangan
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok
Telp. 786 8280

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Teropong/edisi 101/19 Februari 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: