RAHIM ROBEK: ANCAM NYAWA IBU & JANIN

27 Feb


Bila di usia kehamilan tua muncul rasa sakit luar biasa disertai kontraksi terus-menerus, waspadalah. Jangan-jangan itu pertanda rahim robek yang bisa mengancam nyawa ibu maupun janin.

Rahim robek? Hii… Mendengarnya saja sudah ngeri, apalagi membayangkannya. Padahal, terang dr. Henry A. Sondakh, Sp.OG, angka kejadian ruptura uteri atau rahim robek di Indonesia maupun negara-negara berkembang lainnya masih relatif tinggi, yakni 1 di antara 100-300 persalinan, sementara di luar negeri cuma 1 di antara 2000 persalinan. Tingginya angka kejadian ini, lanjut dokter kandungan dan kebidanan yang berpraktek di RS Honoris, Tangerang ini, karena masih banyaknya persalinan, terutama di daerah-daerah pedalaman, yang takditangani oleh pimpinan persalinan yang terlatih, entah dukun, bidan maupun dokter kandungan.

Padahal, tingginya angka itu bisa ditekan bila para ibu yang berisiko tinggi terkenaruptura uteri memeriksakan diri secara teratur dan langsung ditangani oleh dokter ahli kebidanan yang berpraktek di rumah-rumah sakit. Pertimbangannya, rumah-rumah sakit tipe C ke atas diwajibkan memiliki fasilitas operasi yang memang merupakan satu-satunya alternatif penanganan kasus-kasus ruptura uteri. Sementara bila terjadi kasus semacam ini, tim medis memang harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan jiwa si janin maupun ibunya.

Itulah mengapa, kasus-kasus seperti ini yang berakhir tragis umumnya merupakan kasus-kasus rujukan yang telat ditangani. Entah karena petugas yang menanganinya sejak awal kurang terampil mencermati gejala terjadinya ruptura uteri itu atau perjalanan ke rumah sakit besar memakan waktu lama lantaran jaraknya jauh atau terjebak kemacetan. Sementara perdarahan hebat (sampai berliter-liter) yang umumnya menyertai ruptura uteri, jelas mustahil dihentikan begitu saja selain harus “membongkar” rahim lewat operasi pengangkatan rahim. Dan hal ini harus dilakukan sesegera mungkin.

PERIKSA TERATUR

Sedihnya lagi, lanjut Henry, dalam keadaan rahim robek, janin biasanya sudah meninggal karena sudah keluar dari rahim. Sementara si ibu, kalaupun masih bertahan hidup, biasanya sudah dalam keadaan syok, atau malah koma lantaran otak sudah mengalami kekurangan oksigen cukup lama.

“Jadi, ancaman risikonya memang sangat tinggi karena menyangkut dua nyawa sekaligus.” Itu sebab, lanjut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi (FK UNSRAT), Manado dan Universitas Padjadjaran (FK UNPAD), Bandung ini, tak ada cara lain kecuali memperkecil peluang risiko terjadinya ruptura uteri. Caranya? Teratur dan terkontrol menjalani pemeriksaan kehamilan/antenatal. “Jangan cuma datang sekali, apalagi justru di minggu-minggu terakhir menjelang persalinan.” Sebab, dengan kontrol teratur dan minimal dilakukan tiga kali sepanjang kehamilan, data pasien maupun data kehamilannya makin lengkap dan kian mudah diikuti. Artinya, dari berbagai pemeriksaan dan data rekam medik yang lengkap, bisa terpantau kelainan seperti hidrosefalus, giant baby, maupun panggul sempit atau riwayat operasi sesar.

Ruptura uteri atau robekan rahim itu sendiri bisa terjadi selama masa kehamilan yang disebut ruptura uteri gravidarum. Kasusnya relatif sangat jarang terjadi karena umumnya disebabkan kejadian tak terduga semisal benturan hebat atau kecelakaan lalu lintas. Sedangkan yang lebih sering terjadi adalah robekan rahim saat persalinan atau disebut ruptura uteri durante partum. Robekan rahim saat persalinan ini umumnya disertai beberapa penyebab atau faktor pemicu, semisal ada “cacat” rahim berupa jaringan parut akibat operasi sesar sebelumnya ataupun bekas operasi tumor rahim. Hanya saja, ibu-ibu yang pernah menjalani sesar tak perlu langsung panik. Toh, tak semua jenis sayatan sesar “mengundang” bahaya karena biasanya cuma jenis sayatan vertikal yang lebih berpeluang memunculkan perobekan rahim.

WAJIB BERI INFORMASI

Menurut Henry, sangat tak dibenarkan menjalani sesar tanpa indikasi yang jelas. “Jangan salah kaprah, lo. Tanpa disertai indikasi medis, risiko melahirkan sesar lebih besar ketimbang persalinan normal. Salah satunya, ya, ruptura uteri yang mengancam nyawa ibu maupun bayi.” Akan tetapi bukan berarti seseorang lantas lebih “aman” melahirkan spontan bila memang diindikasikan untuk menjalani sesar oleh dokter yang menanganinya. Soalnya, mereka yang disarankan menjalani sesar karena bayinya besar atau panggulnya sempit, namun memaksakan diri melahirkan spontan, justru bisa membahayakan. Masalahnya, tekanan/dorongan dari dalam yang begitu besar bisa membuat jaringan dalam rahim tak kuat menahan, hingga akhirnya jebol dan terjadilah perobekan rahim.

Itu sebab, mereka yang pernah menjalani operasi sesar biasanya disarankan untuk menjalani sesar kembali. “Jadi, jangan pernah berpikir buruk, semisal dokter sengaja cari-cari kesempatan untuk mengeruk rejeki atau malas tak sabar mengikuti proses pembukaan jalan pasiennya. Sama sekali tak benar anggapan-anggapan seperti itu. Sampai kapan pun, kalau panggul sempit, tentu akan tetap sempit dan tak bisa diupayakan jadi besar,” tegas Henry. Di pihak lain, pasien juga harus diberi tahu mengenai kondisinya sekaligus wajib menginformasikannya ke dokter berikut (jika ia berganti dokter) yang menangani kehamilannya. Termasuk tindakan medis atau kelaianan ginekologis yang pernah dialami pada kehamilan sebelumnya. Minimnya informasi yang disampaikan si ibu pada petugas kesehatan membuat bidan/dokter kerap “kecolongan” bila si ibu tiba-tiba muncul minta pertolongan.

Selain dianjurkan menjalani sesar kembali saat melahirkan nanti, untuk lebih amannya, mereka yang pernah sesar pun sangat disarankan untuk bersabar menunggu sekitar 3 tahun sebelum hamil kembali. “Ini semata-mata menunggu kondisi rahim pulih kembali,” bilang Henry. Kalaupun kurang darikurun waktu tersebut sudah hamil lagi, si ibu amat dianjurkan untuk menjaga betul kehamilan maupun kondisi kesehatannya, di samping memilih dokter ahli kebidanan yang berpraktek di rumah sakit yang menyediakan fasilitas operasi. Dengan demikian, bila terjadi kondisi gawat darurat bisa cepat segera tertangani.

JANGAN TERLAMBAT

Kendati begitu, jika kondisi ekonomi tak memungkinkan si ibu memeriksakan kehamilannya di dokter, pilihlah bidan/dukun yang terlatih.Paling tidak, bidan dan dukun yang terlatih bisa mengetahui kondisi-kondisi apa saja yang tak mungkin bisa ditanganinya sendiri untuk kemudian sesegera mungkin merujuknya ke ahli. Di antaranya bayi berukuran besar, bayi kembar, atau panggul si ibu sempit atau bekas sesar. Soalnya, bila bidan atau dukun yang menangani persalinan tak mengerti faktor-faktor pemicu ruptura semacam itu, bukan tak mungkin, lo, ia malah mendorong-dorong atau memijat-mijat perut si ibu yang malah akan makin memperbesar risiko terjadi perobekan rahim. Nah, fatal, kan, akibatnya? Apalagi bila pasien baru dirujuk saat sudah terjadi perdarahan hebat. Bisa-bisa si bayi tak terselamatkan, sementara nyawa si ibu pun melayang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tragis sekali, kan?

Mereka yang pernah menjalani miomektomi atau pengupasan tumor di rahim juga rentan mengalami perobekan rahim. Begitu pula mereka yang hamil di luar kandungan, kehamilan kembar (gemelli) dan air ketuban berlebih (hydramnion). Pada kondisi-kondisi semacam itu, dinding rahim jadi lebih tipis dan mengalami peregangan berlebih dibanding kondisi normal.

Kondisi si janin sendiri pun bisa dianggap sebagai penyebab atau faktor pemicu. Semisalgiant baby atau bayi berukuran kelewat besar (di atas 4 kg) pada ibu yang menderita diabetes mellitus atau kasus-kasus kelainan janin seperti hidrops fetalis dan hidrosefalus yang tak terdeteksi. Itu sebab, saran Henry, kalau memang ada kecenderungan bayi besar, persiapannya tentu harus lebih serius. Pada pasien dengan riwayat diabetes, misal, si ibu pun wajib menjalani diet terkontrol untuk mempertahankan BB ideal bayinya.

Bila dengan kasus-kasus seperti itu si ibu tetap memaksakan diri melahirkan secara spontan, tentu akan terjadi peregangan luar biasa pada rahimnya yang memicu ruptura tadi. Terlebih jika panggulnya sempit atau hanya cukup dilalui bayi berukuran normal.

Persalinan yang berlangsung lama pun bisa jadi pemicu terjadi ruptura uteri. Akan tetapi, pesan Henry, tetap harus dicari apa yang jadi penyebab lamanya partus itu sendiri. Entah bayi besar, posisi melintang atau sebab/kelainan lain. Bila benar persalinan lama tersebut disebabkan faktor-faktor pemicu terjadinya ruptura uteri tadi, tentu mesti dicarikan alternatif lain yang lebih “aman”. Misal, harus sesar jika panggul si ibu memang sempit sedangkan bayinya berukuran besar. Sementara bila pembukaannya tak maju-maju atau rasa mulasnya tak teratur atau bahkan tak kunjung datang, pasti diperlukan pemberian obat pemacu berupa oksitosin untuk mencoba mempercepat persalinan.

Hanya saja, tegas Henry, dosisnya harus diperhitungkan matang-matang sesuai kondisi si ibu di samping pantauan terus-menerus dari tenaga medis. Karena bila tidak, pemberian obat-obatan semacam itu justru bisa menjadi bumerang. Dalam arti malah jadi pemicu ke arah terjadi ruptura uteri.

RAHIM MESTI DIANGKAT

Aspek lain yang juga harus diperhatikan untuk meminimalkan terjadinya perobekan rahim adalah usia si ibu. Pertimbangannya, makin tinggi usia ibu saat hamil dan melahirkan, kian rentan pula organ-organ tubuhnya sementara kehamilan itu sendiri merupakan beban berat buat tubuh. Akan tetapi, kendati amat dianjurkan untuk melahirkan sebelum usia 35 tahun, tak berarti merekayang kelewat asyik membina karier hingga “lupa” berkeluarga lantas tak diperbolehkan hamil dan melahirkan pada usia genting tersebut. Toh, dengan pemeriksaan kehamilan yang teratur dan terpantau di bawah pengawasan dokter ahli serta kecanggihan alat-alat kedokteran, ibu tak perlu terlalu khawatir.

Begitu pula mereka yang pernah melahirkan lebih dari 5 kali pun meski waspada mengingat rahimnya sudah tergolong lemah. Hanya, meski sudah diketahui siapa saja yang memiliki risiko tinggi terkena ruptura uteri, ringan-tidaknya kejadian ruptura tersebut sulit terantisipasi. Artinya, bisa saja seorang ibu yang usianya sudah tak muda lagi saat melahirkan, ternyata aman-aman saja alias tak mengalami perdarahan berarti karena perobekan yang terjadi relatif “rapi” dan kecil. Sementara yang tak memiliki faktor pemicu pun belum tentu terbebas dari ancaman ini.

Dilihat dari bentuknya, perobekan rahim sendiri bisa macam-macam:membujur, melintang, “rata” mengikuti garis bekas operasi atau amburadul tak beraturan hingga mencapai bagian atas vagina atau dinding kandung kemih. Tentu saja untuk tiap jenis perobekan tadi diperlukan penanganan yang berbeda. Untuk perobekan yang relatif kecil dan “rata”, contoh, tentu masih bisa dijahit hanya di bagian perobekan tersebut tanpa perlu mengangkat rahim itu sendiri. Akan tetapi bila sifatnya meluas dan bentuknya malang melintang tak karuan, tentu tak ada cara lain selain operasi pengangkatan rahim untuk menghentikan perdarahan yang terjadi. Tindakan ini sekaligus juga untuk menihilkan kemungkinkan si ibu hamil lagi yang justru “mengundang” bahaya.

KENALI GEJALA

Sebetulnya, tegas Henry, ruptura uteri bisa dicegah, asalkan terdeteksi masih pada taraf ancaman. Dalam arti, belum terjadi perobekan, namun sudah terjadi pembengkakan/keretakan yang mengarah pada perobekan rahim dari bagian dalam. Pada taraf ini, kemungkinan besar janinnya masih hidup dan keselamatan ibu pun masih bisa diupayakan maksimal. Toh, ancaman terjadinya ruptura uteri ini bisa diketahui dari gejala-gejala yang diperlihatkan si ibu dan sepatutnya dicermati. Antara lain si ibu terlihat sangat kesakitan dan berteriak-teriak, gelisah dan mengalami mulas/kontraksi terus-menerus padahal harusnya kontraksi yang terjadi berirama antara melemah dan menguat serta ada tenggang waktu. Sayangnya, petugas yang tak terlatih umumnya tak bisa “membaca” gejala tersebut. Hingga bukan tak mungkin malah memarahi dan mencap pasien sebagai pribadi manja/cengeng atau tak siap mental. “Padahal yang jadi aspek penilaian, kan, bukan satu hal itu saja.”

Gejala lain yang mesti dicermati adalah nafas dan denyut nadi yang meningkat drastis. Begitupun denyut jantung bayi yang melonjak dari 120 menjadi 160 per menit, atau malah sebaliknya melemah jadi 80 hitungan per menit. Pada dinding perut ibu pun muncul lingkaran yang disebut lingkaran Bandl sesuai nama penemunya, yakni benjolan di bagian bawah perut yang bisa diketahui oleh petugas kesehatan sebagai kelainan serius. Selain terjadi perdarahan pervaginam/lewat jalan lahir meski dalam jumlah sedikit. Bila petugasnya tak cermat atau kurang terlatih, tanda-tanda tersebut memang sulit dideteksi. Sebaliknya, bila SDM yang bertugas, baik suster, bidan maupun dokter yang menangani, betul-betul terampil, baik si ibu maupun janinnya bisa terselamatkan. Meski tindakan penanganan yang ditempuh sama-sama operasi, risikonya jauh lebih kecil.

Sebaliknya, kalau ruptura uteri sudah telanjur terjadi, si ibu justrutak lagi merasakan sensasi apa pun, selain karena biasanya sudah jatuh pingsan, dan Hb-nya menurun drastis akibat mengeluarkan darah terlalu banyak. Si janin pun sudah tak berada di tempatnya atau “terloncat” keluar dari rahim, sementara denyut jantungnya tak lagi terlacak atau malah sudah tak terdengar lagi alias tak bernyawa. Kalau sudah demikian, menyelamatkan nyawa si ibu tetap harus diperjuangkan.

Hingga memang tak berlebihan bila dikatakan nyawalah yang jadi taruhan saat melahirkan buah hati tercinta ke dunia.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 121/8 Juli 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: