SEBENTAR-SEBENTAR DITELEPON

27 Feb

Punya pasangan terlalu perhatian juga nggak enak, lo. Tapi kalau kurang perhatian, lebih nggak enak lagi. Serba salah, ya?Siapa, sih, yang tak suka diperhatikan? Tapi jika sebentar-sebentar ditelepon padahal kita lagi sibuk dengan urusan pekerjaan kantor atau anak di rumah, kan, jengkel juga. Sementara yang diomongin bukan hal-hal penting, cuma ingin “mengecek” lagi ngapain, sudah makan belum, pulang jam berapa, dan hal-hal kecil lainnya, atau malah hanya sekadar untuk bilang, “Aku sayang kamu.”

Menurut Dra. Adriana S. Ginanjar, MS, wajar bila kita kesal atau risih mendapat perhatian berlebih seperti itu. Apalagi bila pertanyaan-pertanyaan yang diajukan cenderung klise seolah tak ada bedanya dengan pertanyaan seorang ibu/bapak yang begitu khawatir pada gadis kecilnya. Dari sisi si pasangan juga wajar karena ada semacam kecemasan terhadap pasangannya sekaligus kebutuhan untuk selalu dekat. Itu sebab, dia berusaha menjaga kontak atau menjalin komunikasi dengan banyak tanya dan bolak-balik telepon, misal.

TERJADI PERGESERAN

Sebetulnya, tutur Ina sapaan akrab psikolog ini, masalah muncul karena perbedaan gaya dalam memberikan perhatian atau mengekspresikan bentuk cinta. Salah satu pihak, perhatiannya dirasakan berlebih, sementara pasangannya biasa-biasa saja atau bahkan terkesan cuek untuk hal yang satu ini. Lain soal, jika kedua belah pihak memang menyukainya atau minimal salah satu pihak tak merasa diintervensi terlalu jauh.

Yang jelas, secara umum ada batas tertentu untuk menilai porsi perhatian yang diberikan pada pasangan termasuk normal atau tidak. Jika perhatian istimewa pada waktu-waktu khusus seperti ulang tahun pasangan atau ulang tahun perkawinan maupun momen-momen bersejarah mereka berdua, jelas wajib “hukum”nya. Sedangkan untuk hal-hal sehari-hari dianggap wajar jika orang tak terlalu memfokuskan diri ke sana. Tak harus selalu janjian makan siang bersama atau bolak-balik telepon, misal.

Apalagi untuk pasangan yang sudah menikah sekian lama, hingga kebiasaan/pandangan mereka pun umumnya sudah mengalami pergeseran atau perubahan. Tak heran bila hal-hal yang semasa pacaran begitu diagung-agungkan sebagai bentuk perhatian, dengan berjalannya waktu justru kini dianggap norak. Bisa dimaklumi karena mereka yang baru membina kasih atau berada di awal perkawinan, otomatis cintanya masih menggebu. Tanpa diminta pun, telepon, kartu ucapan, kado atau bentuk-bentuk perhatian kecil lainnya akan mengalir tanpa henti.

Sedangkan yang sudah berkeluarga bertahun-tahun, biasanya sudah sibuk dengan dunia masing-masing. Entah dunia kerja, kegiatan bersosialisasi atau urusan rumah tangga yang cukup menyita waktu, hingga fokus perhatian tak lagi mengarah pada upaya memberi perhatian pada pasangan. Meski tak jarang, pergeseran/perubahan ini juga bisa bikin sakit hati pasangannya, “Dulu, kok, kamu perhatian banget, sih, sekarang ulang tahunku saja belum tentu ingat.” Bila kita coba mengingatkan, “Ini hari apa, ya?”, pasangan yang benar-benar lupa akan dengan enteng menjawab, “Oh, hari Senin.” Sebel, kan?!

Meski bisa dimaklumi kalau dalam keseharian mereka lalu enggak kelewat romantis lagi, semisal tak saling berpegangan tangan. “Ini, kan, proses alamiah. Mana ada, sih, orang yang masih pacaran intensitas perhatiannya sama dengan mereka yang sudah berkeluarga puluhan tahun? Pasti beda, dong! Pada pasangan muda perasaan deg-degannya lebih sering dengan tatapan mata sangat intensif, sementara pasangan yang lebih berumur bisa jadi friendship dan tanggung jawab masing-masing lebih terasa,” tutur pimpinan Mandiga, Pendidikan Terpadu Anak Autisma, ini.

Kendati terbilang wajar, Ina mengharapkan perubahan tadi tak kelewat drastis yang hanya menyisakan tanda tanya besar di hati pasangan, “Sebenarnya masih sayang sama aku enggak, sih?”

TERGANTUNG BUDAYA KELUARGA

Pasangan yang gemar memberi perhatian berlebihan, menurut Ina, bagaimanapun dipengaruhi oleh pola pengasuhan dalam keluarganya. Bukankah ada keluarga yang sangat tinggi closeness need-nya? Antar anggota keluarga akrab sekali, hingga peluk dan cium menjadi bagian hidup sehari-hari. Saat berulang tahun pun selalu rame-rame, saling kasih kado dan oleh-oleh khusus ke mana pun mereka pergi. Sebaliknya, ada keluarga yang bersahaja sekali. Jangankan kado, memberi ucapan per telepon pun belum tentu. “Kebiasaan-kebiasaan ini umumnya akan terbawa dan ikut mewarnai kehidupan perkawinan mereka.”

Tapi biasanya, pasangan yang gemar memberi perhatian berlebih ini lantaran ia juga merasa senang menjadi tumpuan kasih sayang, diberi perhatian, sering ditelepon dan dikunjungi atau sekadar ngumpul-ngumpul tiap Minggu. Tak heran bila dalam perkawinannya, dia pun mengharapkan kedekatan/kehangatan seperti yang pernah dirasakannya. Meski tak tertutup kemungkinan sebaliknya, di keluarganya dia kurang mendapat kasih sayang hingga jadi terselip rasa tak aman yang dibawanya sampai dewasa. Rasa tak aman inilah yang mendorong dia terkesan nyantol pada pasangan. Jika pasangan tak responsif terhadap kebutuhannya, dia akan dirundung was-was, “Jangan-jangan istri/suamiku enggak sayang lagi.” Boleh dibilang, individu begini lapar kasih sayang, hingga ia selalu berusaha mencari perhatian dengan cara memberi perhatian berlebih.

KOMUNIKASI

Bila kita merasa tak punya privacy gara-gara perhatian berlebih ini, saran Ina, komunikasikanlah. Apalagi bila cara tak langsung semisal sindir-menyindir tak ampuh, harus diupayakan pembicaraan lebih serius. “Bila tak dikomunikasikan, nanti dia akan mengira kita senang dengan limpahan perhatian dan kasih sayangnya.” Selain, akan terus jadi ganjalan.

Terlebih jika sudah dirasa terlalu mengganggu, misal, selagi rapat ditelepon bolak-balik, harus dibicarakan. Tentu secara baik-baik, bukan dengan menuduh, “Kamu jangan begini-begitu, dong!” Melainkan lebih pada ungkapan permintaan agar dia mengerti, “Tolong, dong, aku, tuh, maunya begini.” Sebaliknya,kita pun perlu memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan mengapa dia sampai memberikan perhatian berlebih.

Intinya, suami-istri harus menyamakan persepsi dan menumbuhkan saling pengertian, serta mencoba melihat sisi baik dari pasangannya. Jadi, meski kesal ditelepon 3 kali sehari layaknya minum obat, misal, berusahalah untuk mengerti bahwa itulah cara dia memberi perhatian pada kita. Jangan malah ngedumel atau marah-marah. Tak sedikit, lo, suami/istri yang ingin mendapatkan perhatian seperti itu dari pasangannya sementara si pasangan malah cuek-bebek.

Kemudian, bila dirasa ada ketimpangan, harus disediakan waktu khusus, hingga kebutuhan pasangan untuk senantiasa dekat bisa terpenuhi. “Sesekali pergilah berdua saja untuk roman-romanan atau dekat secara fisik yang memungkinkan mengobrol secara intim,” anjur Ina.

Jadi, jangan langsung di-cut begitu saja, ya, Bu-Pak. Apalagi bila cara penyampaiannya juga menyakitkan hati, bisa-bisa pasangan malah ngambek tak mau memberi perhatian atau malah berpaling ke orang lain. Nah, lo!

Dampak Buruk? 

“Anak, kan, bisa memilih gaya yang dirasa pas dengan dirinya. Bukankah tiap anak punya kepribadian khas?” bilang Ina. Jadi, sekalipun si anak dibesarkan dalam keluarga yang mengutamakan kedekatan dan kehangatan, belum tentu dia akan mengembangkan pola serupa. “Ada yang justru merasa risih dengan bentuk perhatian atau kehangatan seperti itu. Hingga, ia memilih pasangan yang justru bertolak belakang dengan latar keluarga asalnya.” Namun bila ia merasa comfortable dengan situasi demikian, ia pasti akan berusaha mempertahankan sekaligus mengulanginya kembali dalam perkawinannya kelak.

Waspadai Jika Disertai Kecurigaan

Menurut Ina, bukan tak mungkin perhatian berlebihan dari pasangan disertai kecemburuan/kecurigaan. Kita harus pandai-pandai membacanya. Enggak sulit, kok, untuk membedakannya. Soalnya, bentuk pertanyaan yang mengandung kecurigaan lebih spesifik dan selalu ada kecenderungan untuk tanya lebih jauh yang bersifat menyelidik/investigasi. Misal, “Tadi makan siangnya bareng siapa? Di mana? Kok, harus sama Si Anu, sih?” dan seterusnya.

Tak perlu terpancing emosi, apalagi sampai meledak marah. Cukup jelaskan apa adanya. “Kemampuan kita menguasai diri biasanya akan membuat pasangan tak berusaha menyelidik lebih jauh,” tutur Ina. Tentu saja sikap dan ucapan kita pun harus mencerminkan bahwa kita memang patut dipercaya.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 103/5 Maret 2001 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: