SI KECIL TUKANG NGADU

27 Feb

Perilaku mengadu kerap ditemui pada anak usia ini karena kemampuan berbicaranya sudah terbilang lancar. Namun patut diwaspadai bila si kecil sering mengadu. Jangan-jangan lantaran ia kurang perhatian.

Pada dasarnya, mengadu dilakukan bila anak ingin minta tolong orang lain menyelesaikan masalahnya. Misal, si Upik mengadu pada gurunya lantaran dipukul teman. Nah, ia ingin agar gurunya menghukum si teman. Atau, si Buyung mengadu mainannya direbut adik; ia ingin kita memarahi adiknya dan mengambilkan mainan itu dari si adik.

Namun, perilaku mengadu dianggap wajar hanya bila yang diadukan memang hal-hal membahayakan semisal dipukul, didorong hingga jatuh, atau diancam. “Jadi, bila lingkungan sosialisasinya relatif aman, tingginya frekuensi mengadu patut dicermati sebagai bentuk “kelainan”; apakah cermin ketakmandirian, ingin cari perhatian, kebiasaan yang harus diluruskan seperti kemanjaan berlebih, ataukah alat memanipulasi orang lain,” tutur Indri Savitri dari LPT (Lembaga Psikologi Terapan) UI.

Soalnya, di usia prasekolah, anak diharapkan mulai bisa membina hubungan dengan orang lain dan menikmati sosialisasinya. Selain, bisa meng-handle masalah sesuai kemampuannya. Minimal, dengan kemampuannya berbahasa yang mulai lancar, kala dipukul teman, misal, ia bisa protes, “Kamu jangan mukul aku, dong. Sakit, nih! Lagian, aku, kan, enggak mukul kamu.”

Selain itu, mengadu lebih banyak mendatangkan kerugian buat anak. “Cepat atau lambat, anak yang tukang ngadu pasti dibenci teman-temannya dan akhirnya menjadi the outsider alias dikucilkan.” Padahal, buat anak seusia ini, penerimaan teman-teman sangat penting karena menyangkut konsep diri dan keberhasilannya bergaul. Bahkan, saat si kecil duduk di SD, keberhasilan bersosialisasi juga amat menentukan “prestasi”nya, disamping prestasi akademik tentunya.

Dampaknya semakin buruk bila orang tua tak segera mengarahkannya. Ia bukan hanya tak mengenali penyebab dirinya tak diterima lingkungan, juga tak mampu mengenali dirinya sendiri.

FAKTOR PENYEBAB

Berikut ini sejumlah faktor pemicu perilaku mengadu seperti dipaparkan Kepala Divisi Klinik & Pelayanan Masyarakat LPT UI ini.

1. Meniru

Boleh jadi si kecil tumbuh jadi anak pengadu lantaran orang-orang terdekatnya memang berperilaku seperti itu. Coba, deh, selidiki, adakah anggota keluarga yang hobi mengadu? Jangan-jangan malah kita sendiri yang sebentar-sebentar bilang, “Nanti Mamabilangin ke Papa, lo! Biar dijewer sama Papa kalau makannya enggak dihabisin.” atau “Nanti Ayah bilangin Bunda, ya, kalau kamu gangguin Ayah terus. Biar nanti disetrap sama Bunda.”

Ingat, lo, Bu-Pak, modelling atau peniruan masih cukup dominan di usia ini. Selain, omongan semacam itu cuma membikin si kecil meragukan kemampuan kita menyelesaikan masalah. Soalnya, yang tertangkap di benak si Upik atau si Buyung, kan, memang ketidakmampuan kita. Ia akan berpikir, “Kok, ayahku payah banget, sih, sebentar-sebentar ngadu ke Bunda.”

Padahal, lebih efektif hasilnya bila kita langsung menegur si kecil. Misal, “Enggak boleh begitu, dong, Sayang. Kamu harus makan. Kalau enggak makan, nanti bisa sakit, lo.” atau “Nak, Ayah harus menyelesaikan pekerjaan ini. Bila kamu terus mengganggu Ayah, kan, Ayah jadi enggak bisa bekerja. Gimana kalau kamu menggambar dulu di meja kecil itu sementara Ayah menyelesaikan pekerjaan. Kalau Ayah sudah selesai, baru kita main bersama.”

Bisa juga dengan menjanjikan hal-hal yang masih relevan semisal, “Kalau makannya enggak habis, kita enggak jalan-jalan ke mal.” Cara ini lebih baik ketimbang main ancam atau ngadu ke sana ke mari. Namun dengan catatan, sebelumnya kita memang sudah punya rencana ke mal dan janji itu harus ditepati bila si kecil benar-benar menghabiskan makanannya, atau bila ia tak juga menghabiskan makanannya maka ia tak boleh ikut ke mal.

2. Tak Terlatih Mandiri

Ini salah satu kesalahan kita sebagai orang tua: tak tega pada anak. Hingga, tanpa sadar kita cenderung memberlakukan kebiasaan-kebiasaan yang membuat si kecil jadi tak mandiri. Misal, selalu menyuapi makan, memandikan, memakaikan baju, menolong mengambilkan ini-itu, dan sebagainya. Bahkan, tak jarang kita biarkan si kecil terlayani semua kebutuhannya hanya cukup dengan berteriak, “Mbak!” memanggil pembantu atau pengasuhnya. Hingga, untuk tugas-tugas sederhana pun semisal mengambil minum dan membuka sepatu, si kecil akan memanggil pembantu/pengasuhnya.

Hati-hati, lo, Bu-Pak, kebiasaan ini bukan hanya berlangsung di rumah, tapi juga akan berlanjut ke “sekolah”; sebentar-sebentar ia memanggil gurunya untuk minta bantuan. Yang lebih parah, bisa menumbuhkan perilaku bossy, terutama dalam pergaulan dengan teman-temannya. Jika sudah begitu, ia bisa dijauhi lingkungan sosialnya.

Bukan berarti si kecil tak boleh dibantu, lo. Hanya saja, dalam batas-batas tertentu, ia harus mulai dilepas. Paling tidak, untuk tugas-tugas sederhana yang berkaitan dengan dirinya sendiri seperti makan, mandi, buka-pakai baju, dan lainnya. Dengan begitu, kemandiriannya perlahan-lahan tumbuh. Jangan lupa, di usia ini anak diharapkan bisa menyelesaikan segala persoalannya sesuai kemampuannya. Kita memang harus sedikit tega pada si kecil.

3. Cari Perhatian

Bukan tak mungkin si kecil terbiasa mengadu hanya karena ia membayangkan nikmatnya mendapat perhatian dari guru atau orang tua. “Aku juga mau, ah,” begitu pikirnya setiap kali ada temannya mengadu dan guru menanggapi atau adik/kakaknya mengadu dan ayah/ibu menanggapi. Padahal, mengadu yang sering merupakan bentuk pelarian dari ketakmampuan menyelesaikan masalah, bila tak direm, akan berdampak fatal. Anak terbentuk jadi pribadi yang terbiasa cari selamat sendiri, atau bahkan tega “mengorbankan” teman/adik/kakak, misal.

Terlebih bila guru/orang tua tak cermat, hingga mudah termakan pengaduan anak, “Bu, si A mukul,” padahal sebetulnya tidak. Bila tak jeli melihat situasi, guru/orang tua pun akan salah menilai anak yang mengadu tadi. Sementara anak akan berpikir ia bisa memanfaatkan orang lain hanya dengan mengadu. Celaka, kan, Bu-Pak? Nah, untuk mencegah hal-hal seperti ini, kita memang perlu bersikap bijak dalam arti, kapan harus menanggapi pengaduan anak dan kapan pula perlu bersikap cuek.

4. Butuh Perlindungan

Dalam banyak hal, dengan segala keterbatasannya, anak memang sering merasa tak berdaya. Nah, dalam keadaan tak berdaya inilah, si kecil merasa perlu lari pada orang tua atau gurunya. Dengan kata lain, ia meminta kita atau gurunya menjadi perpanjangan tangannya dalam menyelesaikan masalah. Soalnya, di kelas siapa lagi, sih, yang pantas dianggap sebagai tokoh yang mampu melindungi selain guru? Sementara di rumah, cuma ayah-ibunya, kan?

Tentu hal ini tak boleh dibiarkan. Jangan lupa, anak terus tumbuh dan berkembang. Selama di TK, tuntutan semacam ini mungkin tak menimbulkan masalah buat guru. Namun setelah duduk di SD ketika guru-gurunya sudah tak seramah seperti di TK dan lingkungan sosialisasinya semakin “liar” sementara orang tua pun tak setiap saat bisa menolongnya, maka anak-anak yang terbiasa kelewat dilindungi jadi enggak percaya diri. Kebiasaan mengadu mengundang anak jadi pribadi cengeng yang selalu bergantung pada orang lain, padahal dunia butuh orang-orang yang tough alias tahan banting.

5. Kurang Pergaulan

Anak-anak yang kemampuan bergaulnya dengan teman sebaya kurang diasah, akan tumbuh menjadi anak yang tak bisa menyelesaikan konflik. Anak-anak seperti ini, besar kemungkinan punya ikatan begitu kuat dengan

sosok ibu di rumah. Hingga, ketika di “sekolah” pun, ia cenderung lebih akrab dengan guru ketimbang teman-temannya. Tak heran bila anak tipe kurang populer ini akhirnya lebih sering jadi tukang mengadu.

Penting diketahui, semasa usia prasekolah, anak harus makin intens berkenalan dengan dunia di luar rumah. Namun hal ini hanya bisa dilakukan bila anak punya keberanian untuk berinteraksi maupun mengucapkan sapaan tertentu yang merupakan bagian dari pergaulan, semisal mengucap salam atau terima kasih, minta tolong, dan lainnya. Dengan demikian, anak akan mampu mengungkapkan perasaannya secara positif. Nah, buat anak kuper alias kurang pergaulan, ini bukan perkara gampang, lo. Hingga, yang paling mudah dilakukannya cuma mengadu, entah kepada guru saat di “sekolah” atau orang tua saat di rumah.

Itulah mengapa, kita harus memberi kesempatan pada anak untuk bergaul seluas-luasnya. Tentu secara bertahap, sesuai perkembangan sosialisasinya seiring usia bertambah. Termasuk mengajarkan berbicara agar kemampuan bahasanya makin berkembang, etika pergaulan seperti sopan santun, belajar berbagi, serta belajar memilih dan memutuskan sendiri.

AJAR BERANI BICARA

Kini kita berlanjut pada solusinya. Menurut Indri, menghadapi anak pengadu butuh sikap hati-hati dan respon mendalam. “Orang tua dan guru harus tahu persis apa yang jadi masalah anak. Jangan semua hal yang diadukan anak ditanggapi.” Dengan kata lain, cuma hal-hal yang membahayakan saja, ya, Bu-Pak.

Misal, si kecil mengadukan temannya yang kelewat “nakal”. Di “sekolah”, yang terbaik tentulah kita melaporkan pengaduan itu pada gurunya ketimbang menasihati atau bahkan memarahi si teman. Bisa-bisa nanti orang tua si anak tak senang, hingga hubungan kita dengannya jadi buruk. Apalagi bila kita sampai menelepon si orang tua dan memarahinya, wah, bakal ribut besar, deh. Jangan pula kita mengajari si kecil untuk membalas perlakuan temannya semisal, “Kalau kamu dipukul, balas pukul lagi, ya!” Cara ini malah mempertajam masalah. Jadi, kita percayakan saja pada guru untuk mengatasinya, ya, Bu-Pak. “Guru bisa memonitor, memanggil, atau membuatkan program khusus agar si anak ‘nakal’ ini berkurang perilaku negatifnya.”

Sementara terhadap si kecil yang dianggap anak bawang dan kerap dijadikan bulan-bulanan, “orang tua dan guru perlu membesarkan hatinya. Minimal, agar ia tak semakin merasa terpuruk dengan kondisinya yang terbiasa dirugikan tanpa bisa berbuat apa-apa.” Saran Indri, ajak si kecil untuk berani bicara semisal, “Kenapa, sih, kamu gangguinsaya?” Beri pujian bila ia melakukannya. Dengan begitu, ia diajak belajar menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa kelewat melindunginya. Ingat, lo, bila kita dan gurunya terlalu melindungi, si kecil bisa tumbuh jadi manusia cengeng.

Selain itu, kita pun perlu membekali si kecil dengan sejumlah saran atau alihkan dengan cara lain semisal humor, “Kalau kamu mukulin aku terus, nanti tanganmu bengkok, lo.” Cara ini mengajarkan anak untuk tak marah secara agresif, melainkan cukup mengungkapkan pendapat/perasaannya dengan jelas tanpa harus membungkusnya dengan emosi berlebihan. Namun bila temannya memang “nakal” sekali, jalan akhir yang bisa ditempuh, minta si kecil menghindari si teman dan ajari ia memperluas pergaulan, setidaknya berteman dengan anak yang enggak “nakal”. Dengan begitu, ia pun terlatih memilah mana yang bisa dijadikan teman dan mana yang tidak.

OBSERVASI DULU

Sayang, ukuran bahaya dan tidaknya ini tak sama di mata anak dengan orang tua/guru. Bahkan, antara orang tua dan guru pun bisa berbeda. Hingga tak jarang terjadi, orang tua merasa diabaikan oleh guru kala melaporkan kejadian yang menimpa anaknya di “sekolah”.

Itu sebab, Indri minta, baik guru maupun orang tua agar mengobservasi dulu, apakah hal yang diadukan anak memang benar-benar berbahaya. Tentu sebagai orang tua, kita harus jujur. Dalam arti, kalau memang bukan hal yang membahayakan, kita pun harus mengakuinya. Kalau tidak, yang terkena dampaknya juga si kecil. Ingat, lo, ia bisa tumbuh jadi orang yang enggak tahan banting jika selalu dilindungi.

Jadi, bila si kecil mengadu pada kita dan kita menganggap pengaduannya lebih pada usahanya untuk menarik perhatian, misal, amat tak bijak bila kita menerima pengaduannya begitu saja. Sebaiknya, saran Indri, libatkan orang lain yang bisa memberi masukan atau mengkonfirmasikan kebenaran pengaduan anak, misal pembantu/pengasuhnya. “Semacam ‘interogasi’, tapi lakukan secara halus dan tak di depan anak.” Dengan begitu, kita jadi bisa tahu apakah pengaduan si kecil merupakan salah satu bentuk cari perhatian, atau memang perlu ditindaklanjuti.

Namun bila si kecil mengadunya pada guru dan guru menilai pengaduannya bukan yang membahayakan, terlebih bila pengaduan serupa kerap dilakukan anak, maka guru perlu mengkomunikasikannya dengan orang tua. Misal, “Di rumah biasanya diapain, ya, Bu, kalau si kecil sering mengadu?” Dari sini bisa terlihat bagaimana pola kebiasaan anak di rumah. Namun ingat, lo, Bu-Pak, kita tak boleh marah pada guru si kecil karena biasanya, kan, orang tua enggak mau anaknya disalahkan. Jangan pula kita menutup diri dari guru hingga tak memberi tahu hal yang sebenarnya terjadi di rumah. Soalnya, dengan kita menutup diri, guru jadi sulit untuk menemukan solusi yang tepat buat mengatasi masalah ini (termasuk masalah-masalah lain yang dihadapi anak di “sekolah”).

Nah, kini kita jadi makin paham akan perilaku si kecil. Satu hal yang penting, kita pun perlu menjalin kerja sama yang baik dengan guru untuk mengatasi masalah yang dihadapi si kecil.

TAMPIL JADI MENENGAH

Bila kakak mengadukan adiknya atau si adik mengadukan kakaknya, kita harus tampil sebagai penengah. Caranya, tutur Indri, panggil mereka, lalu beri kesempatan masing-masing untuk bicara dan tanyakan duduk persoalan yang sebetulnya. “Mungkin si kakak merasa jengkel pada adiknya yang dianggap mengganggu, sementara niat si adik sebetulnya ingin membantu kakak. Pokoknya, orang tua harus pandai-pandai melihat situasi dan posisi. Kalau memang ada yang salah, beri teguran, hingga anak tahu benar perilakunya salah.”

Jadi, apa pun masalahnya, kita harus berada di pihak yang netral. “Jangan pernah memberi judgement dengan membela salah satu pihak karena keberpihakan sangat merugikan semua anak.” Misal, ayah atau ibu membela si adik karena dianggap lebih kecil dan lemah. Anggapan ini hanya membuat si adik mempersepsikan dirinya sebagai sosok lemah hingga selalu menuntut perhatian/perlindungan orang lain. Sementara si kakak yang terbiasa diminta ngalah, jadi terbiasa berperilaku submisif.

JANGAN ANGGAP SEPI BILA TAK PERNAH NGADU

Boleh jadi, bilang Indri, si kecil memang tak bermasalah hingga tak pernah mengadu. Namun kita tetap perlu waspada, terlebih bila ia sering tampak sedih/murung atau tiba-tiba pulang dengan luka bekas jatuh. Bukan tak mungkin, lo, ia sering jadi sasaran tapi tak berani bicara. Nah, bila si kecil tergolong tipe “penakut”, kita perlu mengorek keberaniannya berbicara. Tanyakan pelan-pelan, misal, “Kamu kenapa, kok, pulang ‘sekolah’ kakinya lecet? Jatuh, ya?”

Biasanya, anak takut mengadu lantaran yang menjahilinya berbadan lebih besar atau malah mengancam, hingga ia khawatir bila mengadu akan makin jadi bulan-bulanan. Akhirnya, ia memilih tak mengadu karena dianggapnya lebih aman. Nah, bila hal ini berlangsung terus tentu sangat mengganggu, bahkan merugikan si kecil. Yang pasti, anak merasa insecure atau tak nyaman dan selalu cemas, namun tak punya tempat untuk mencurahkan isi hatinya.” Itulah mengapa, tekan Indri, sejak awal orang tua harus peka mengenali setiap perubahan anak, sekecil apa pun.

Namun jangan langsung menghamiki bila si kecil mengadu, ya, karena hanya akan membuatnya kapok dan tak mau mengadu lagi. Jangan pula melecehkannya dengan mengomentari, “Katanya jagoan. Kok, gitu aja nangis?

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Dunia Prasekolah/edisi 84/23 Oktober 2000 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: