SI UPIK LEBIH MUDAH TERKENA TIFUS

27 Feb

Penderita tifus dari kalangan anak, 60 persennya adalah anak perempuan. Penyakit tifus mudah kambuh meski sudah sembuh, bahkan menular karena bakteri penyebabnya betah nongkrong bertahun-tahun di usus penderita.

Di Indonesia, penyakit tifus atau demam tifoid yang dulu sering disebut tifus abdominalis, tergolong penyakit endemis (selalu ada sepanjang tahun). Angka kejadiannya pun termasuk paling tinggi di dunia, antara 358-810 per 100 ribu penduduk setiap tahunnya; sedangkan angka kematiannya berkisar 1-5 persen dari jumlah penderita. Demikian papar Narain H. Punjabi, MD, FAAP dalam simposium Demam Tifoid, Salah Satu Masalah Kesehatan Anak Di Indonesia yang diadakan IDAI Cabang Jakarta beberapa waktu lalu.

Penyakit ini juga bisa menyerang siapa saja; dari bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, sampai dewasa. “Tapi pada bayi, umumnya jarang, karena bayi mendapat perlindungan dari ASI berupa zat kekebalan sIgA atau Imunoglobulin A sekretori,” tutur peneliti di US-NAMRU2 Litbangkes RI ini. Mayoritas atau sekitar 80-90 persen penderita adalah anak-anak usia 2-19 tahun. Soalnya, anak belum menyadari pentingnya arti kebersihan perorangan atau higiene dan sanitasi atau kebersihan lingkungan. Selain, anak biasanya hanya menerima makanan (yang dianggap aman) dari orang tuanya dan sistem kekebalan tubuhnya pun belum berkembang sempurna.

Yang menarik, dari seluruh jumlah penderita di kalangan anak, 60 persennya adalah anak perempuan. Sayang, hingga kini belum diketahui pasti penyebabnya mengapa anak perempuan yang lebih banyak terkena tifus.

GEJALA BERAGAM

Sebenarnya, penyakit demam tifoid sudah lama dikenal. Kata “tifus” berasal dari bahasa Yunani “typhos” yang berarti “kabut”. Pasalnya, ada gangguan kesadaran sebagai salah satu gejala yang sering dijumpai pada penderita. Gangguan kesadaran ini bisa berupa kehilangan orientasi dan persepsi, tak dapat tidur atau sebaliknya rasa kantuk yang hebat hingga ingin tidur terus dan tidak bisa dibangunkan atau baru bisa dibangunkan setelah dicubit keras. Bahkan, ada pula yang mengalami shock dan koma. Itulah mengapa, penyakit ini juga sering dikelirukan dengan penyakit demam lain yang disertai gangguan kesadaran.

Dari hasil pemeriksaan klinis, gejala yang biasanya terpantau
adalah demam, kondisi umum menurun, lidah kotor berupa lapisan putih atau kuning yang menempel di permukaan lidah, nyeri bila ditekan pada perut, teraba pembesaran hati dan limpa, denyut jantung berkurang, dan gangguan kesadaran. Sayang, gambaran klinis pada penderita anak sering tidak khas, hingga menyulitkan diagnosis dan menghambat penetapan pengobatan yang tepat. Belum lagi faktor kesulitan memperoleh contoh darah yang cukup untuk pemeriksaan laboratorium. Penyebabnya, lebih karena faktor psikologis anak seperti takut, menangis atau bergerak terus saat diambil darahnya, dan sebagainya, hingga akhirnya tak didapatkan contoh darah dalam jumlah cukup.

Gejala yang ditimbulkan pun sangat beragam dan dapat bervariasi dari ringan sampai berat. Antara lain, semakin lama demam semakin tinggi (rata-rata 40 derajat Celcius), lesu, nafsu makan hilang sama sekali, sakit kepala, sakit perut, kembung, mual, muntah, susah buang air besar tapi lalu mendadak mencret dan mimisan. Komplikasi terberat adalah perdarahan dan perlubangan atau kebocoran usus. Komplikasi lainnya seperti gangguan jantung, paru-paru dan ginjal, serta radang kantong empedu dan hati. Kadang juga menyerang jaringan tulang dan otak.

Sedangkan berat-ringan gejala yang ditimbulkan biasanya tergantung dari kuantitas, jenis dan keganasan bakteri, serta kekebalan tubuh penderita. Semakin banyak bakteri yang masuk dan semakin ganas sifatnya, gejala yang diperlihatkan juga semakin berat dan kompleks.

Adapun bakteri penyebabnya, ungkap Dr Soedjatmiko, SpA, MSi. dari Subbagian Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, ialah Salmonella typhi dan tipe invasif lain yang masuk ke dalam saluran pencernaan melalui mulut. “Sebagian bakteri kemudian menembus lapisan dalam dinding usus halus dan memproduksi racun endotoksin yang beredar ke seluruh tubuh.” Sebagian lagi masuk dan berkembang biak dalam folikel getah bening usus, lalu ikut menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sedangkan sebagian dari bakteri tadi “bersembunyi” dalam sel-sel tertentu hingga dapat hidup lama di dalam tubuh. Itu sebabnya, meski telah diberikan pengobatan dengan baik, 15 persen penderita demam tifoid dapat kambuh lagi di kemudian hari, terutama saat kondisi tubuh memburuk akibat terforsir kesibukan yang menggunung.

JANGAN ABAIKAN KEBERSIHAN

Kendati alat pencernaan yang diserang pertama kali, namun tifus bukan penyakit saluran pencernaan lokal, melainkan penyakit sepsis atau menjalar melalui darah. Perjalanan penyakit ini, terang Dr. Hudoyo Hupudio, MPH dalam simposium yang sama, terdiri dari beberapa fase. Pertama, fase inkubasi; bisa berlangsung 15 hari dan biasanya asimstomatik atau tak memperlihatkan gejala. Kemudian, fase invasif; ditandai demam mendadak antara 37-40 derajat Celcius. “Demam ini kemudian terkesan naik-turun disertai sakit kepala hebat dan gangguan pencernaan yang biasanya berlangsung selama seminggu.” Demam baru menetap, meski tetap tinggi (40 derajat Celcius), dalam fase berikutnya yang biasanya disertai diare dan berlangsung 14 hari. Demam tinggi dalam waktu cukup lama ini biasanya menyebabkan rambut penderita botak akibat rontok.

Selanjutnya, fase penyembuhan; berlangsung relatif lama, setidaknya membutuhkan rawat inap 10-14 hari dan terapi yang adekuat atau memadai. “Bisa saja penderita dirawat di rumah, asalkan terus dipantau kemungkinan terjadi komplikasi, pemberian antibiotika yang tepat dan cairan yang cukup, serta mengutamakan kebersihan.” Pada anak, dianjurkan untuk rawat-inap. Soalnya, penanganan pada anak relatif lebih sulit dan lama. Antara lain karena antibiotika yang dibolehkan untuk anak lebih terbatas, sementara untuk memastikan antibiotika mana yang bisa digunakan, harus berdasarkan biakan darah yang membutuhkan waktu beberapa hari.

Yang penting diperhatikan, kendati pengobatan telah usai dan penderita sudah merasa sembuh, jangan pernah abaikan kebersihan diri dan lingkungan.

Pasalnya, seperti dijelaskan Soedjatmiko, sebagian bakteri salmonella typhi ada yang tetap bercokol hidup dalam sel-sel tertentu, terutama dalam sistem empedu. Bakteri ini kemudian keluar ke usus 12 jari dan bercampur dengan tinja. “Nah, sebagian penderita tifus masih ‘menyimpan’ bakteri ini dalam tinjanya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun meski mereka tak lagi merasakan keluhan penyakit ini. Mereka inilah yang disebut carrier atau pembawa karena meski tak sakit, mereka potensial menyebarkan penyakit.” Para pembawa ini biasanya orang dewasa atau anak yang berumur kurang dari 5 tahun. Makanya, salah satu cara penularan penyakit ini melalui cemaran berupa sisa-sisa tinja di celana. Cara lain lewat baju, alas tidur, bantal, lap mandi, maupun tisu bekas, sabun dan toilet yang digunakan penderita.

DIBERI VAKSIN

Mengingat faktor kebersihan diri dan lingkungan sangat berperan terhadap pencegahan munculnya penyakit ini, Hupudio menyarankan untuk memberi vaksin pada anak-anak usia sekolah atau dewasa yang kerap makan-minum di warung yang kurang terjaga kebersihannya. Begitu juga anak umur 2 tahun yang mulai bermain di lantai atau bersosialisasi ke tetangga, “sebaiknya divaksin karena mereka termasuk kelompok yang rentan tertular dari pengasuh yang kurang menjaga kebersihan.” Selain, mereka juga belum mampu mengontrol buang air besar di tempat khusus dan belum bisa cebok sendiri dengan benar.

Namun vaksinasi penyakit tifus perlu diperkuat setiap 3 tahun, karena setelah rentang waktu tersebut kekebalannya dapat berkurang. Setelah mendapat vaksin, sebagian besar tak akan tertular, namun sebagian kecil mungkin saja masih bisa tertular terutama jika bakteri yang menyerangnya termasuk jenis ganas dan masuk ke tubuh dalam jumlah banyak. Jikapun terkena, dengan pemberian vaksin, gejala yang muncul biasanya ringan dan kondisi penyakitnya tak begitu membahayakan. Pencegahan dengan vaksin juga menekan frekuensi komplikasi dan kematian, sekaligus biaya perawatan dan pengobatan.

Sementara Soedjatmiko juga menekankan pentingnya pembekalan pengetahuan P3K kepada para guru hingga tahu persis kapan harus mencurigai demam sebagai penyakit dan bagaimana menangani anak yang mengalami demam atau keluhan lain saat sekolah. “Jangan sampai malah gelagapan atau bengong-bengong saja hingga penanganan jadi terlambat atau salah kaprah,” ujarnya.

PENCEGAHAN

Untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

* Saat merawat penderita, baik di rumah maupun RS, harus lebih seksama dan ekstra hati-hati kala membersihkan tubuhnya maupun benda-benda perlengkapannya, terutama yang mungkin tercemar tinjanya. Jangan lupa, selalu mencuci bersih-bersih tangan dengan sabun atau cairan antiseptik setelah mencebokinya.

* Jangan pernah ijinkan anak duduk atau main-main di lantai kamar mandi, karena sisa kotoran yang mungkin tercecer di lantai kamar mandi dapat menularkan penyakit. Meski tak ada penderita, sering-seringlah membersihkan lantai kamar mandi dengan banyak air dan cairan antiseptik; apalagi bila telah digunakan penderita.

* Ajarkan cara cebok yang baik dan benar pada anak yang sudah agak besar maupun pengasuhnya. Begitu pula cara menyiram WC dan lantai kamar mandi.

* Selalu cuci tangan dengan sabun setiap kali bersentuhan dengan penderita.

Sementara pencegahan penyakit ini dapat dilakukan, antara lain dengan cara:

* Saat menyiapkan makanan dan minuman, jangan gunakan tangan secara langsung, tapi pakailah alat bantu semisal sendok, garpu, atau penjepit makanan.

* Kala hendak sekolah, bekali makanan lengkap dengan sendok-garpu dari rumah yang lebih terjaga kebersihannya ketimbang jajan sembarangan.

* Hindari atau minimal waspadai warung makanan. Tak ada salahnya untuk memperhatikan kebiasaan cuci tangan juru masak atau pelayannya maupun pencucian alat-alat makan bekas pakai, sebelum memutuskan makan di kedai tersebut.

* Tanamkan kebiasaan hidup bersih pada anak dan pengasuhnya. Jangan pernah lelah atau menyerah untuk memberi penjelasan, contoh nyata, maupun saat mengawasi pelaksanaannya.

* Selalu cuci tangan dengan sabun setiap kali bersentuhan dengan penderita.

* Gunakan air yang mengalir dari kran untuk mencuci tangan, bukan dari ember atau bak penampung yang jarang dikuras dan dicuci. Begitu juga untuk mencuci bahan makanan, alat masak maupun perlengkapan makan. Untuk mencuci lalap mentah dan buah segar, sebaiknya gunakan air matang.

* Bila mungkin, sediakan sabun untuk masing-masing anggota keluarga. Usahakan pula sumber air bersih sebaiknya terpisah minimal 10 meter dari septic-tank.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Tumbuh Sehat/edisi 74/14 Agustus 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: