SUSU CUMA PELENGKAP

27 Feb


Jadi, jangan biarkan si kecil maunya minum susu terus. Hati-hati, ia bisa kekurangan gizi, lo!

Banyak anak balita suka sekali minum susu. Sampai-sampai, kalau disuruh makan, mereka menolak, maunya minum susu aja. Saking “lengket”nya sama susu, tak jarang hingga usia 4-5 tahun pun masih menyusu dari botol. Tinggallah orang tua yang kerepotan menyapih anaknya ataupun menyuruhnya makan.

Perilaku anak yang maunya minum susu melulu, menurut DR. H.M.V. Ghazali, MBA., MM., tak lain karena salah orang tua juga. “Anak, kan, masih konsumen pasif. Orang tualah yang seharusnya berperan membentuk kebiasaan makan yang baik pada si anak. Jangan menganggap, anak maunya hanya minum susu itu enggak apa-apa,” tegas dokter spesialis anak yang akrab disapa Vinci ini.

HARUS DIKENALKAN

Menurut Vinci, kesalahan orang tua adalah tak mengenalkan pada anak bahwa ada makanan lain selain susu. “Di usia 4 bulan (untuk bayi yang oleh suatu sebab tak mendapatkan ASI eksklusif, red.) harusnya anak sudah mulai dikenalkan pada biskuit. Dengan begitu, ia mulai merasakan ada makanan lain, bukan cuma susu.”

Anak pun harus dikenalkan pada buah meski bentuknya sangat halus atau diambil airnya saja. Kemudian dikenalkan pada bubur susu yang merupakan makanan padat tapi bentuknya sangat halus. “Kalau awalnya hanya sekali sehari, bulan berikut bisa 2 kali sehari, bulan berikutnya 3 kali sehari sambil ditambahkan bubur saring. Kemudian di usia 7 bulan dikenalkan nasi tim halus yang merupakan makanan sumber karbohidrat.” Jadi, tegasnya, setelah anak mulai mengkonsumsi makanan padat, orang tua tak boleh lagi mengandalkan susu.

Seterusnya di usia 8 bulan, frekuensi pemberian nasi tim meningkat 2 kali sehari, sedangkan di usia 9 bulan jadi 3 kali sehari. Selain itu, saat gigi anak mulai tumbuh, beri kesempatan padanya untuk latihan menggigit. Selanjutnya, usia 10 bulan, berikan nasi tim kasar, dan di usia 12 bulan saat giginya makin lengkap, beri 3 kali nasi tim makin kasar. Di usia 13 bulan mulailah cobakan makanan biasa untuk konsumsi orang tua, meski diawali dengan nasi lembek.

Namun pemberian makanan berdasarkan usia tadi bukan patokan baku, lo. Sebab, bisa saja, kan, anak umur 12 bulan baru punya 2 gigi di depan. Hingga, bila disuruh mengunyah makanan atau tim kasar, ya, enggak mungkin bisa, dong.

Yang jelas, Bu-Pak, bila tahapan pemberian makanan tadi benar-benar dijalani, maka pada anak akan terbentuk pola makan yang baik dan benar. Hingga, ia tak lagi tergantung pada susu. Kecukupan gizinya pun akan terpenuhi.

ENAM UNSUR POKOK

Lebih jauh dijelaskan Vinci, ada enam unsur pokok makanan yang harus terpenuhi pada anak, yaitu protein, karbohidrat, lemak, air, elektrolit dan vitamin.

* Protein

Zat ini diperlukan untuk membangun tubuh dan mengganti bagian-bagian tubuh yang rusak, hingga amat dibutuhkan pada masa tumbuh kembang.

* Karbohidrat

Zat yang merupakan sumber tenaga ini dipakai oleh tubuh anak untuk menunjang kebutuhan tenaganya beraktivitas, dari bergerak, bermain, hingga bereksplorasi ke sana ke mari. Itu sebab, anak yang aktif butuh kalori lebih banyak dibanding orang dewasa yang bukan pekerja kasar atau yang kerjanya cuma duduk-duduk.

* Lemak

Zat ini berfungsi sebagai cadangan kalori, di samping sangat penting sebagai media pelarut vitamin yang tak larut dalam air.

* Air

Harus ada dan sangat penting perannya. Tanpa air, seluruh sistem dalam tubuh manusia akan terganggu.

* Elektrolit

Mineral dalam bentuk ion ini sangat berperan dalam sistem-sistem di setiap organ. Untuk menggerakkan otot, misal, dibutuhkan ion Kalsium. Untuk menjaga agar jantung tetap berkontraksi, diperlukan ion Kalium dan Kalsium serta ion-ion lain. Pendek kata, seluruh sistem tubuh kita butuh elektrolit. Hanya saja, tak boleh kebanyakan ataupun terlalu sedikit.

* Vitamin

Berfungsi sebagai katalisator. Dalam ilmu kimia, zat A ditambah zat B akan menjadi zat C bisa dalam waktu 1 menit, 1 hari atau bisa juga 1 tahun. Nah, mempercepat atau memperlambat proses reaksi tubuh itulah yang merupakan fungsi vitamin sebagai katalisator. Artinya, vitamin tak ikut serta dalam reaksi tersebut, hingga sama sekali tak mengalami perubahan bentuk. Jumlah yang dibutuhkan sangat sedikit. Adu banyak vitamin jelas salah. Apa gunanya anak dijejali vitamin berlebihan kalau yang dibutuhkan hanya sedikit? Toh, yang tak dipakai akan dibuang bila larut dalam air atau malah tersimpan dalam lemak dan organ-organ lain yang justru bisa membahayakan.

CUMA PELENGKAP

Keenam unsur tadi, tegas Vinci, harus tercukupi dan seimbang, artinya memenuhi kebutuhan kalori dan kebutuhan gizi. Dengan begitu tak ada kalori atau apa pun yang berlebihan, melainkan cukup untuk membangun, cukup pula untuk proses pembentukan sel-sel otak maupun pembentukan hormon-hormon.

Nah, susu, terangnya, diproduksi dengan kandungan zat-zat penting tadi. “Malah ada yang ‘diembel-embeli’ seperti DHA untuk meningkatkan kecerdasan, laktoferin untuk memperbaiki kerja bakteri usus atau asam amino esensial, dan seterusnya. Padahal, itu semua lebih merupakan positioning karena dari sudut medikal, susu tetaplah susu.” Posisi susu, lanjutnya, cuma pelengkap, bukan lagi main food atau makanan utama. “Hanya pada bayi, susu dikatakan makanan utama. Namun untuk anak usia di atas setahun, susu bukan lagi makanan utamanya.”

Sebagai contoh, 1 kg BB anak butuh kira-kira 100 kalori. Jika BB-nya sudah mencapai 12 kg, berarti ia perlu 1200 kalori (minimum), sementara rata-rata susu memiliki 600 kalori per liter. “Nah, ini, kan, berarti si anak butuh 2 liter susu sehari. Apa mungkin? Orang dewasa saja mustahil menghabiskan susu sebanyak itu, apalagi anak kecil,” bilang Vinci. Selain itu, lanjutnya, bagaimana mungkin gizi seimbang tercapai hanya dengan mengandalkan susu. “Jadi, memang sangat tak tepat bila susu masih menjadi makanan utama buat anak usia di atas setahun.”

Jadi, tegasnya lagi, buat anak usia di atas setahun, susu cuma makanan pelengkap, sedangkan makanan utamanya tersedia dalam bahan 4 sehat. Kebutuhan kalori diambil dari sumber karbohidrat; protein diambil, baik dari hewani seperti daging dan ikan maupun dari nabati seperti tempe dan tahu. Sedangkan lemak dari lemak makanan. Untuk kebutuhan vitamin tersedia buah, sayur, beras merah, dan berbagai bijian lain. Begitu juga kebutuhan akan air dan elektrolit.

LARUTKAN BERTAHAP

Nah, kini sudah paham, kan, Bu-Pak, kenapa si kecil tak boleh dibiarkan minum susu melulu. Malah, kata Vinci, tanpa susu pun sebenarnya enggak apa-apa. Bukankah susu cuma pelengkap? Namun bila si kecil suka susu, bolehlah dikasih, tapi cuma 1-2 kali sehari. Ingat, lo, yang terpenting kebutuhan makanan utamanya tadi sudah tercukupi.

Bila sesudah makan nasi lengkap dengan lauk-pauknya, ternyata si kecil masih lapar atau menginginkan susu, boleh saja diberikan. Jangan malah dibalik, minum susu dulu baru makanan utama menyusul. Bila ini yang terjadi, tak heran jika akhirnya si kecil susah makan. Wong, dia sudah kenyang duluan, kok! Jikapun mau, makannya cuma sedikit. Akibatnya, kecukupan gizi dan kalori yang dibutuhkan si kecil dari makanan utama jadi berkurang atau tak terpenuhi. Hati-hati, si kecil bisa kekurangan gizi, lo!

Namun begitu, kita masih bisa, kok, memperbaiki pola makan si kecil. Meski hal itu berarti kita harus mengenalkan makanan padat dari awal lagi. Artinya, apa yang harusnya sudah kita kerjakan saat anak berusia 4 bulan (atau 6 bulan untuk yang mendapat ASI eksklusif), baru kita kerjakan sekarang di saat anak berusia setahun lebih.

Bukan berarti kita lantas melakukan perubahan drastis, lo. Bagaimanapun harus tetap bertahap, hanya tahapannya dipercepat, tak perlu menunggu hitungan bulan demi bulan. Kan, buat si kecil juga tak gampang untuk mengubah kebiasaannya yang sudah terpola itu. Jadi, sambil kita mengenalkannya pada makanan padat, konsumsi susunya dikurangi sedikit demi sedikit. Bila tadinya dalam sehari ia menyusu 6 kali, misal, usahakan bisa kurangi jadi 4 atau 5 kali, lalu dikurangi lagi jadi 3 atau 4 kali, dan seterusnya. Tentu volumenya juga dikurangi sedikit demi sedikit, atau ganti isi botolnya dengan air jeruk, misal, air putih, atau teh manis.

Menurut Vinci, orang tua tak perlu khawatir anaknya tetap enggak makan bila porsi susunya dikurangi. “Justru dengan dikurangi porsi susunya, akan mudah bagi orang tua untuk meningkatkan asupan makanan padat si anak, ketimbang memaksa anak menghabiskan makanan padatnya justru di saat ia sudah kenyang oleh susu.” Ibarat anak yang mau “sekolah” tapi malah disediakan mainan, ya, dia enggak bakal kepingin “sekolah”. Namun bila pada saat harus “sekolah”, mainannya kita simpan dulu, dia pasti mau.

Percaya, deh, Bu-Pak, lambat-laun si kecil akan terbiasa, kok, dengan pola makannya yang baru. Hingga, ia tak lagi “ketergantungan” pada susu dan kita pun tak harus “perang” lagi kala menyuruhnya makan.

Kebiasaan Psikologis

Menurut Vinci, “ketergantungan” anak pada susu biasanya juga terkait dengan kebiasaan psikologis, semisal tak bisa tidur atau rewel terus-menerus kalau enggak ngedot botol. Namun, lagi-lagi salah orang tua juga, “bila hal tersebut tak dibiarkan oleh orang tua, tentulah takkan berkelanjutan.” Akibatnya, kita bukan hanya harus berusaha mengurangi “ketergantungan” si kecil pada susu, tapi juga menyapihnya dari botol. Repotnya jadi berlipat ganda, kan?

Th. Puspayanti /tabloid nakita/Rubrik Tumbuh Sehat/edisi 100/12 Februari 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: