AIR KETUBAN: BAROMETER KESEJAHTERAAN JANIN

28 Feb


Fungsinya bukan cuma melancarkan persalinan dan melindungi janin selama dalam kandungan, tapi sekaligus sebagai barometer kesehatan ibu dan janin.

Menurut dr. Achmad Mediana, SpOG, air ketuban memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan janin. Ditinjau dari fungsinya, cairan ini memang amat penting dalam melindungi pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan. Mulai bantalan untuk melindungi janin terhadap trauma dari luar, perlindungan suhu, pertukaran cairan, sarana yang memungkinkan janin bergerak bebas, sampai meratakan tekanan dalam rahim. Air ketuban pun berfungsi melindungi janin dari infeksi maupun sebagai fungsi diagnostik. Yakni, mengetahui maturasi dan kesejahteraan janin, serta penentuan analisa kromosom.

Dengan demikian, kualitas air ketuban amat menentukan kualitas janin yang ada di dalamnya. Artinya, air ketuban yang cukup tersedia dan tidak berwarna keruh akan menjamin kecukupan nutrisi dan oksigen untuk si janin yang akan menentukan derajat kesehatannya secara umum. Bertambah atau berkurangnya cairan ketuban dari jumlah semestinya akan mengganggu fungsi ketuban yang dapat menimbulkan komplikasi pada ibu maupun janin. Itu sebab, air ketuban yang terlalu sedikit atau malah berlebihan patut dicurigai sebagai pertanda adanya kelainan/gangguan sistem tertentu pada janin.

Lebih lanjut ginekolog dari Subbagian Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi RSPAD Gatot Soebroto Jakarta ini menjelaskan, air atau cairan ketuban mulai diproduksi sejak awal kehamilan. Komposisinya adalah air sebanyak 98 persen, sedang 2 persen sisanya terdiri dari zat-zat oganik dan zat anorganik berupa lanugo (rambut halus yang menutupi tubuh janin), sel-sel epitel, vernix casesa (lapisan lemak yang menutupi kulit bayi baru lahir), dan protein.

FLUKTUASI JUMLAH

Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi dari organ-organ janin akan mempengaruhi komposisi cairan ketuban. Artinya, bila di awal-awal kehamilan unsur pembentuknya adalah sel-sel ketuban dan darah si ibu, maka memasuki trimester ke-2, air kencing janin pun ikut andil di dalamnya. “Jangan salah, lo, jumlah air ketuban tidak terus sama tapi mengalami sirkulasi dengan tenggang waktu pertukaran setiap 3 jam.” Dengan kata lain, ada pertukaran zat antara cairan ketuban, janin, dan darah ibu lewat plasenta yang menghubungkan mereka.

Jumlah itu pun akan terus bertambah maupun berkurang sesuai perkembangan kehamilan. “Saat usia kehamilan 25-26 minggu, misalnya, jumlahnya rata-rata 239 ml. Lalu meningkat menjadi sekitar 984 ml pada kehamilan usia 33-34 minggu dan turun jadi 836 ml pada kehamilan siap lahir.”

Memasuki trimester ke-2, jelas Achmad, ada beberapa faktor yang diketahui mempengaruhi keseimbangan jumlah cairan ketuban. Di antaranya pemasukan melalui saluran pencernaan, pemasukan intramembran melalui permukaan tubuh janin dan plasenta, pemasukan dan pengeluaran melalui gerak pernapasan dan pengeluaran dari sistem berkemih.

KELAINAN SISTEM BERKEMIH

Dari beberapa faktor tadi, terang Achmad, yang paling banyak mengurangi volume air ketuban adalah proses menelan si bayi. Yakni bisa mencapai 20 ml per jam atau kurang lebih setengah dari jumlah total cairan ketuban dalam sehari. Akan tetapi, jumlah cairan yang ditelan ini ternyata hampir sebanding dengan produksi urin si janin. Hingga boleh dibilang, jika ada perimbangan jumlah cairan ketuban, yang harus segera dicurigai adalah sistem berkemih dan kemampuan janin menelan.

Penyebab lain berkurangnya volume cairan ketuban adalah ketuban bocor atau bahkan pecah, menurunnya fungsi plasenta akibat kehamilan yang lewatwaktu, dan kelainan kongenital janin. Terutama kelainan pada sistem saluran kemih, semisal tidak berkembangnya ginjal secara normal maupun terjadinya penyumbatan pada saluran kemih.

“Oleh sebab itu, bila jumlah cairan ketuban sedikit, yang pertama kali dicari adalah kelainan sistem berkemih si janin. Dari penis, saluran kencing, sampai ginjal. Pemeriksaannya bisa dengan USG atau kardiotokografi. Sebab, bukan tidak mungkin janin tak memiliki ginjal atau bisa saja ginjalnya ditumbuhi kista dan sebagainya.”

Jika hasil pemeriksaan bagus semua, akan dicari apakah kondisi itu disebabkan adanya kelainan yang menyebabkan penyakit tertentu. Sebab, umumnya kelainan yang muncul tidak berdiri sendiri, melainkan selalu diikuti oleh satu atau sejumlah kelainan. “Misalnya kelainan kepala seperti hidrosefalus, kelainan tulang, dan lainnya.”

Kalau ternyata kelainannya lebih dari satu, akan ditentukan, apakah kehamilan tersebut harus diakhiri atau tidak. “Sebab jika diteruskan, pasti akan berakhir dengan kematian si janin atau kemungkinan lain yang membahayakan nyawa si ibu.” Tentu saja pengambilan keputusan tersebut tidak segampang itu. “Minimal, harus ada tim penilai yang terdiri dari dokter ahli kandungan, dokter anak, dan dokter psikiatri yang disebut Komisi Etik Kedokteran.”

Sebaliknya, jika bukan kelainan mayor (lebih dari satu kelainan), kehamilan tersebut tentu perlu diteruskan sampai cukup bulan untuk dilahirkan. “Tapi begitu lahir, biasanya akan dievaluasi untuk penanganan lebih lanjut,” jelas Achmad.

HARUS BANYAK MINUM

Jumlah cairan ketuban yang berlebih (hidramnion) pun merupakan pertanda membahayakan. Ini pun akan dicermati dokter, apakah merupakan gejala diabetes atau kelainan lain. Kelainan tersebut bisa berupa ketidakmampuan si janin menelan ataupun kelainan/gangguan di saluran cernanya. Semisal, terjadi penyumbatan di bagian tertentu atau malah dari esofagus sampai usus. Untuk itu, biasanya ginekolog akan mengkonsultasikannya dengan dokter ahli terkait. Kemudian jika diketahui ada kelainan tersebut, maka di saat persalinan akan sekaligus disiapkan operasi khusus guna melebarkan esofagus tadi. “Pendek kata, semua kelainan akan ditindak-lanjuti karena memang sudah diperhitungkan dan diantisipasi jauh-jauh hari.”

Bentuk penanganan yang diberikan tentu disesuaikan dengan kondisi si ibu. Bila jumlah cairan ketuban sedikit, namun tak ditemukan kelainan kongenital pada bayi, disamping tak ada kebocoran selaput ketuban, yang diupayakan adalah resusitasi. Antara lain si ibu harus banyak minum agar aliran darahnya membaik. “Jadi, jangan berpikir apa yang ibu minum akan sia-sia dan cuma berakhir dengan BAK.” Selain harus banyak istirahat dan menghindari protres, tidur/berbaring miring ke kiri serta mendapat tambahan oksigen sekalipun tidak mengalami sesak nafas. Pasalnya, kalau aliran oksigen dalam tubuh ibu baik diharapkan aliran oksigen ke janin pun akan baik.

Sedangkan kalau sampai terjadi bocor/pecah ketuban pada kehamilan usia muda, namun kualitas air ketubannya masih bagus, biasanya akan ditangani dulu penyebabnya. “Artinya, si ibu harus bedrest di bawah pengawasan ketat ginekolog, diberi antibiotika supaya tidak terjadi infeksi, dan harus banyak minum serta mengkonsumsi makanan bergizi baik.”

Asupan gizi yang baik ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka pada selaput ketuban sekaligusmeningkatkan daya tahan tubuh. Dengan demikian, suplai nutrisi ke janin pun akan baik, hingga sirkulasi air kencingnya pun kian baik/lancar. Dengan begitu, volume air ketuban bisa bertambah.

PEMBERIAN AMNIOINFUSI

Sementara kalau jumlah cairan ketuban sedikit akibat selaput ketuban pecah pada usia kehamilan tua namun belum cukup bulan, tentu harus ditunggu sampai siap lahir. Atau setidaknya berat bayi mencapai 2.500 gram. Dalam kondisi seperti ini, tindakan amnioinfusi bisa dijadikan pilihan. Yakni memasang selang infus langsung ke dalam rahim guna menambah air ketuban yang kurang mencukupi tadi. Tentu saja jumlah cairan fisiologis yang diberikan sesuai kebutuhan individual. Penambahan cairan ini diharapkan dapat mencegah terjadinya kondisi gawat janin akibat penekanan pada tali pusat yang terus-menerus, plus meminimalkan gangguan sirkulasi nutrisi dan oksigen lewat plasenta.

Tentu saja tak perlu mengkhawatirkan tindakan amnioinfusi ini. “Toh, yang diinfus tadi adalah air ketuban buatan dari larutan NaCl 0,9 persen mengingat komposisi air ketuban 98 persen di antaranya adalah air. Suhunya pun diusahakan sesuai dengan suhu tubuh, hingga tidak dianggap sebagai benda asing yang akan ditolak oleh tubuh.”

Masalahnya, seberapa ideal jumlah cairan ketuban yang diperlukan janin tentu dokterlah yang akan menentukan. Dokter bisa mengukur indeks cairan ketuban dengan menggunakan USG. “Lewat cara manual juga bisa asal bentuk rahim si ibu sudah mengikuti bentuk janin, yakni tak lagi membulat. Dengan begitu, janin gampang diraba dari luar.” Dengan begitu, lanjut Achmad, dokter atau bidan yang menangani bisa memperkirakan jumlah cairan ketuban.

Sayangnya, upaya seperti itu hanya mungkin dilakukan setelah kehamilan memasuki trimester kedua atau ketiga.

Cara lain adalah dengan perhitungan secara klinis, dalam arti, pada kehamilan usia tertentu tinggi rahim harus cocok dengan usia kehamilan. Misalnya, tinggi rahim pada kehamilan usia 28 minggu adalah 28 cm. Kalau ada selisih 2 cm lebih besar, maka dokter/bidan yang menangani harus mencurigai, apakah bayi tersebut berukuran besar, kembar, atau mengalami hidramnion. Sebaliknya, bila berselisih lebih kecil, patut dicermati apakah si janin kecil atau air ketubannya sedikit. Jadi, memang banyak hal yang bisa ketahui dari air ketuban kita.

Warna-Warni Yang Penuh Arti

Warna air ketuban, jelas Achmad, sebenarnya tak berbeda dengan warna air biasa, yakni jernih. “Jadi kalau ada perubahan warna, semisal hijau atau merah kecokelatan, patut dicurigai ada yang tak beres pada janin. Entah infeksi, terjadi kebocoran/pecah ketuban, atau hal lain yang bersifat fatal.”

Tingkat keparahan gangguan, bisa “terbaca” dari gradasi warna yang terbentuk. Semakin pekat dan keruh warnanya, tentu kian besar pula ancaman pada kesejahteraan janin. “Kalau hijau kental, misalnya, kemungkinan besar janin sudah buang air besar (BAB) di dalam rahim. Nah, harus dilihat lagi, apakah janin mengalami stres karena berkurangnya suplai oksigen atau melemahnya otot-otot sfingter yang mengelilingi saluran pembuangan. Sebab dalam keadaan normal bayi, belum BAB di dalam rahim jika memang tak ada stres.”

Karena itulah, bila air ketuban berwarna keruh, paramedis yang menangani persalinan harus segera bertindak. Sayangnya, warna air ketuban baru dapat terlihat saat persalinan dan sama sekali tak bisa “diintip” selagi janin masih dalam kandungan. Saat pembukaan dua dan ketahuan air ketuban berwarna hijau kental, misalnya, dokter harus segera memutuskan untuk menempuh tindakan sesar karena itu menandakan gawat janin yang semakin besar risikonya bila harus berlama-lama mengikuti proses melahirkan secara spontan. Belum lagi bila ada kemungkinan persalinan macet atau lainnya.

Begitu juga bila air ketuban berwarna merah. “Itu pertanda ada perdarahan, entah karena ari-ari lepas maupun perdarahan karena sebab lain.” Sedangkan bila warna air ketuban bernuansa cokelat kehitaman biasanya bayi sudah meninggal dalam rahim. “Sebetulnya, ibu sudah bisa mengantisipasi keadaan ini lewat gerakan janin. Memasuki usia kehamilan 28 minggu, contohnya, minimal 10 kali gerakan per hari. Jika kurang dari itu atau malah tidak bergerak sama sekali, si ibu bisa langsung berkonsultasi ke dokter.”

Nah, lanjut Achmad, itulah pentingnya membekali para calon ibu dengan kartu pemantauan gerak bayi selain buku catatan mengenai kondisi kehamilan itu sendiri. Ngomong-ngomong, Ibu sudah punya buku catatan itu, kan?

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 130/9 September 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: