AWAS, ANCAMAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

28 Feb


Bukan cuma pasangan yang bisa terkena, janin pun bisa tertular penyakit ini dan menyebabkan kecacatan.

Hubungan intim antara suami-istri bisa saja mengakibatkan penyakit yang dikenal dengan istilah penyakit menular seksual (PMS) . Namanya saja menular, kalau asalnya dari sang suami, maka sang istri pun bisa ketularan. Demikian pula sebaliknya. Kalau sudah begitu, bisa dipastikan akan menyulut kecurigaan dan sikap saling menyalahkan di antara suami-istri. Pasalnya, mata rantai penularan penyakit ini berasal dari wanita tuna susila. Hingga, sekalipun suami berhubungan bukan dengan WTS tapi jika si wanita kerap berganti-ganti pasangan, bukan tak mungkin ia akan tertular penyakit ini yang lalu menularkannya pula pada istri.

Bukan hanya menular pada pasangan, penyakit ini juga berakibat fatal pada janin, semisal menyebabkan keguguran atau lahir prematur, menimbulkan mutalasi/kecacatan pada jari tangan dan kaki atau hidung, serta kebutaan. Sayangnya, penyakit ini seringkali tak memunculkan gejala. Walaupun demikian, tak perlu terlalu khawatir, karena sebagian besar penyakit ini dapat disembuhkan. Bila memang ada gejala mengidap penyakit ini, segera saja ke dokter, baik dokter umum atau dokter spesialis kulit dan kelamin. Dokter akan memberikan antibiotik yang sesuai penyakitnya. Tentunya meski hanya salah satu pasangan yang terkena, pengobatannya harus tuntas pada kedua belah pihak.

Namun demikian, pencegahan tetap lebih baik daripada pengobatan, bukan? Nah, berikut ini aneka PMS yang kerap menimpa suami-istri sebagaimana dipaparkan Dr.I.G. Agung K. Rata, Sp.K.K., ahli kulit dan kelamin dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

SIFILIS (SYPHILIS)

Seseorang bisa tertular penyakit kronis yang disebabkan bakteri Treponema Pallidum ini hanya jika mengadakan hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi. Bakteri yang tinggal dalam aliran darah ini akan tersebar lewat kulit terbuka atau perlukaan sekecil apa pun yang mungkin terjadi saat berintim-intim dengan si pengidap. Bakteri ini pun bisa tertular lewat ciuman yang mendalam, juga bisa diteruskan oleh ibu yang terjangkit kepada janinnya karena bakteri ini bisa melewati barier plasenta, terutama di awal kehamilan.

Infeksi awal ditandai munculnya benjolan kecil dengan diameter tak lebih dari 1 cm, berwarna kemerahan dengan bagian tengah digenangi getah bening berwarna kekuningan. Benjolan ini akan muncul setelah 9 -90 hari usai kontak. Pada infeksi pertama, benjolan tadi nyaris tak menimbulkan gangguan rasa sakit meski dipencet. Namun bila tak diobati dengan benar hingga tuntas, dalam waktu 3-6 minggu penyakit ini akan bersifat laten/tersembunyi hingga si terinfeksi merasa dirinya sehat-sehat saja. Bila terus dibiarkan, akan termanifestasi dalam berbagai keluhan penyakit kulit atau gangguan alergi.

Penyakit ini sering disebut the greatest imitator of skin diseases mengingat bentuk-bentuk imitasinya paling luas, semisal lepra, dermatitis, psoriasis, dan banyak lagi. Itu sebab, dokter harus berhati-hati membuatkan anamnesa dan diagnosanya. Terlebih karena masa latennya bisa berlangsung sampai 4 tahun tanpa menimbulkan gejala apa pun. Padahal boleh jadi dalam tenggang waktu tersebut, penyakit sudah menyebar ke mana-mana berupa neurosifilis atau sifilis yang menyerang sistem saraf, maupun sifilis kardiovaskular atau sifilis yang merusak pembuluh-pembuluh darah jantung ataupun menyebabkan kebutaan. Padahal, sifilis sebenarnya paling gampang diobati asalkan dilakukan intensif dan diagnosanya sudah pasti/jelas.

KENCING NANAH (GONORRHEA)

Selain termasuk paling banyak jumlah penderitanya dibanding PMS lainnya, penyakit ini pun paling “badung” karena bersifat menahun dan bisa menyebar kemana-mana bila tak cepat diatasi atau mendapat pengobatan yang tepat. Penyebabnya, organismaneisseria gonorrhoeae yang bisa berlanjut menyerang sel-sel epitel pada rahim bagian dalam, kandung kemih, prostat dan buah zakar, daerah perineum, bahkan menyebabkan konjungtivitis gonore dan kebutaan pada bayi yang lahir dari ibu yang mengidap penyakit ini.

Ciri yang paling spesifik pada penderita penyakit ini adalah cairan kencing berwarna putih kental seperti susu atau kekuningan berupa nanah, hingga sering disebut kencing nanah. Pada wanita yang “berkarier” tuna susila, penyakit ini tak menunjukkan gejala, tapi siapa pun yang berhubungan intim dengannya pasti akan tertular. Sedangkan pada wanita yang bukan tuna susila, kencing nanah ini akan langsung menampilkan gejala berupa rasa sakit saat kencing antara 2 hari hingga 2 minggu setelah kontak dengan pengidap. Bila tak ditangani, gejala tersebut memang akan hilang dengan sendirinya, tapi yang bersangkutan resmi jadi carrier/pembawa. Dengan begitu, bila terjadi hubungan intim, pasangannya pun dipastikan akan tertular.

CHANCROID

PMS yang satu ini disebabkan bakteri haemophilus ducreyi dan lebih banyak ditemukan di negara-negara tropis. Hanya dalam waktu seminggu setelah kontak dengan pasangan yang terinfeksi, akan muncul bisul-bisul pada alat kelamin yang ukuran diameternya bervariasi antara 3-20 mm, terutama pada kulup dan batang penis maupun skrotum, kalau ia lelaki. Sedangkan pada wanita, area yang jadi incaran adalah vulva atau daerah sekitar vagina dan perineum. Bisul ini terasa sakit sekali dan cepat menyebar bila ada kerusakan jaringan kulit. Berbeda dengan sifilis, bisul ini tertutup membran berwarna keabu-abuan yang akan mudah sekali berdarah bila terkelupas. Penegakan diagnosa bisa dipastikan dengan pemeriksaan kultur dan mikroskopis.

LYMPHOGRANULOMA VENEREUM

PMS yang banyak melanda penduduk negara-negara tropis dan subtropis ini disebabkan bakteri chlamydia trachomatis biovar lymphogranuloma. Tak diketahui pasti mengapa wanita lebih bersifat sebagai pembawa/carrier yang tak menampakkan gejala. Jumlah mereka pun hanya separuh dibanding penderita pria. Tanda awal akan muncul hanya 2-5 hari setelah kontak langsung dengan penderita, berupa bintik kecil atau “luka ringan” di daerah sekitar kemaluan. Namun dalam waktu 2-3 minggu, yang bukan daerah genital pun akan terserang. Celakanya, penyakit ini berpengaruh pada saluran limfa dan kerja kelenjar, hingga bila tak segera diobati akan muncul gangguan sistem pembuangan cairan tubuh yang berakibat pada pembengkakan, semisal di kaki.

KUTIL (GENITAL WARTS)

Kutil yang disebabkan human papillomavirus ini hanya muncul bila ada kontak seksual dengan penderita. Jadi, harus dibedakan dengan kutil lain yang bukan disebabkan kontak seksual, semisal penggunaan fasilitas umum yang kurang higienis, seperti kolam renang atau gymnasium. Ciri utamanya, bentuknya yang menggerombol seperti bunga kol berwarna kecokelatan atau kehitaman.

Seperti PMS lain, kutil ini umumnya dijumpai di daerah sekitar alat kelamin, atau bahkan lebih jauh di saluran kencing dan rahim. Ukurannya pun bervariasi dari yang cuma berdiameter sekian milimeter sampai ukuran cukup besar yang bisa mengganggu saat hubungan intim. Kutil ini memang akan hilang dalam hitungan minggu, tapi punya kecenderungan tumbuh kembali, hingga penderita disarankan segera berobat begitu tahu dirinya terinfeksi.

GENITAL HERPES SIMPLEX

Secara umum, begitu masuk ke tubuh, herpes simplex virus tipe 1 dan tipe 2 yang jadi penyebabnya akan bersembunyi di pusat saraf/ganglion terdekat, sambil menunggu saat yang tepat untuk muncul. Pemicu munculnya herpes bersifat multifaktor, dari kondisi stres yang mengakibatkan daya tahan tubuh menurun, trauma atau terekspos sinar ultra violet secara berkepanjangan, menurunnya kekebalan tubuh akibat pemakaian obat-obatan dalam jangka waktu lama atau infeksi akibat jamur dan bakteri.

Sedangkan munculnya infeksi herpes simpleks ini ditandai benjolan-benjolan kecil tak beraturan yang tumpang tindih. Luka tersebut lebih menyerupai cacar air karena selama 1-3 minggu akan terisi oleh cairan bening yang kemudian akan pecah dalam waktu 1-2 hari, serta punya kecenderungan hidup/muncul lagi meski sudah pecah. Benjolan berukuran 1-5 milimeter yang menjadi ciri khasnya bisa muncul di mana saja di seluruh permukaan kulit, tapi umumnya dekat mulut dan alat kelamin. Meski bukan melulu disebabkan hubungan seksual, pada infeksi herpes simpleks ini, penularannya hanya terjadi melalui hubungan seksual.

PEDICULOSIS PUBIS

Akibat kebersihan yang kurang terjaga, maka rambut kemaluan pun bisa jadi sarang bercokolnya sejenis kutu. Pada mereka yang pernah beroral seks dengan penderita, kutu-kutu tersebut bisa ditemukan di kumis atau di alis dan bulu ketiak, tapi tak pernah bisa hidup di rambut kepala. Kutu ini akan mengisap darah, hingga salah satu ciri utamanya adalah rasa gatal yang amat sangat. Di samping muncul bercak merah kecil pada celana dalam penderita yang sebetulnya merupakan kotoran parasit tadi.

Kendati penularannya umumnya terjadi lewat hubungan seksual, bertukar handuk atau celana dalam dengan penderita tak menutup kemungkinan terjadi penularan. Apalagi bila berbagi tempat tidur yang sama dalam waktu lama. Itu sebab, menjaga kebersihan pribadi dan membatasi pemakaian bersama barang-barang pribadi, amat disarankan.

SCABIES

PMS ini disebabkan sejenis tungau sarcoptes scabiei dan penularannya lewat kontak tubuh. Masa inkubasinya berlangsung sekitar 3-6 minggu seusai kontak dengan pengidap. Gejala utamanya, rasa gatal yang menggigit terutama di waktu malam saat suhu tubuh meningkat/menjadi hangat. Saat itulah tungau betina menggali lubang kulit penderita di sekitar alat kelamin untuk meletakkan telur-telurnya. Setelah telur menetas, tungau dewasa akan keluar dari sarangnya kemudian menggali lubang lain untuk meletakkan telur-telur berikutnya. Begitu seterusnya.

Gunakan Kondom Berkualitas Secara Benar

Menurut Rata, dalam keseharian dan secara kasat mata, kita memang tak bisa tahu persis apakah pasangan mengidap PMS atau sebatas carrier. Kita pun tak dibenarkan menaruh curiga berlebihan bila pasangan memperlihatkan gejala yang mirip dengan PMS. Namun mengingat besarnya peluang penularan melalui hubungan suami-istri, amat disarankan bila salah satu pasangan diduga terjangkit PMS, kedua belah pihak memeriksakan diri secara intensif dan diobati hingga tuntas agar tak terjadi sindrom bola pingpong alias penularan bolak-balik di antara suami-istri. Juga disarankan menggunakan kondom berkualitas secara benar, terlebih bila satu di antara mereka pernah tergoda untuk jajan atau berhubungan dengan orang lain yang bukan pasangan sahnya. Sementara konsumsi secara liar obat-obatan tertentu yang diyakini bisa mencegah penularan justru akan membahayakan. Di antaranya, membuat penyakit jadi resisten/kebal dan makin sulit diobati.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 116/3 Juni 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: