“AYAH SAYANG SAMA AKU ENGGAK?”

28 Feb


Sering, kan, kita dibuat kaget dengan pertanyaan si kecil seperti ini? Cermati apa yang sebetulnya ada di balik kalimat itu!

Pertanyaan si kecil yang bernada menyelidik seperti itu, kata Bayu Apsari, S.Psi, tak perlu bikin kita salah tingkah atau malah…”Justru berarti kita harus instrospeksi. Kenapa, kok, muncul pertanyaan seperti itu,” lanjut psikolog dari Avanti Treatment Centre Jakarta ini.

Dengan kata lain,orang tua harus menggali lebih jauh tentang makna di balik pertanyaan itu. Mungkin saja, si kecil bertanya tanpa maksud apa pun. Tapi bisa juga, Ayu, “Ada sesuatu yang sedang mengganjal di hati anak. Hanya saja, ia belum mampu memformulasikannya dengan tepat. Maklum, pemahaman dan perbendaharaan katanya masih serba terbatas. Yang muncul, ya, seperti itu tadi.”

Atau, pertanyaan itu justru menggambarkan, ekspresi dan kemampuan berbahasa si kecil sudah bagus. Di usia batita, umumnya anak sudah bisa menyusun kalimat sederhana yang terdiri dari 3 kata. Jadi, kata “mama/papa”, “aku”, dan “sayang” yang relatif begitu akrab dengan kehidupannya, muncul dari mulut kecilnya.

UNGKAPAN CEMBURU

Yang justru patut “dicurigai”, tegas Ayu, adalah terjadinya kecemburuan antar kakak beradik/sibbling rivalry. “Bisa saja di usia ini, ia sudah punya adik. Nah, kalau mental si kakak tak disiapkan jauh hari, bisa sajasi adik dijadikan sasaran rasa cemburunya. Kalimat atau pertanyaan itu, sebetulnya mewakili rasa cemburunya.”

Cemburu dan iri, kata Ayu, amat mengusik ketenangan batita. Apalagi kalau sehari-hari ia merasa ada perubahan yang nyata dari perlakuan ayah/ibunya. “Kalau dulu segala sesuatu hanya tercurah dan tertuju buatnya, sekarang harus berbagi. Malah kadang, adik dapat porsi lebih banyak.”

Jadilah dalam benaknya timbul anggapan, “Kok, sekarang Bunda sibuk ngurusin adik bayi terus? Ayah, kok, jadi enggak mau nemenin aku main lagi?”

Pelan tapi pasti, si kakak merasa tersingkir dan tak disayang lagi. Nah, untuk mendapat “kepastian” bahwa ia tetap disayang,keluarlah pertanyaan semacam itu tadi. “Justru pertanyaan si kecil itu, amat baik buat orang tua. Minimal sebagai warning bahwa ada yang tak beres pada si sulung.”

UJI KOSAKATA

Ada juga kemungkinan lain, yaitu si kecil cuma meniru dari lingkungan. Mungkin saja saat bermain, temannya berujar, “mamaku sayang sama aku, lo. “Nah, ia pun jadi terdorong untuk menanyakan hal itu. Bisa juga ia mendengar kalimat itu dari tayangan teve. Mungkin saja, ia baru mendengar dan tahu kata “sayang” dan lalu melakukan “uji coba” pada ayah-ibunya sekadar ingin tahu, apa artinya.

Memang, lanjut Ayu, buat batita, kata “sayang” masih terlalu abstrak alias mengawang-awang. Nah, untuk membantu anak menangkap makna kata “sayang”, imbuh Ayu, peran orang tua amat dituntut. “Pengenalan kata ‘sayang’ harus sudah dilakukan sejak bayi. Meski ia belum ngerti apa maknanya,tapi sudah bisa merasakan, apa, sih, yang dibilang sayang. “Misalnya, lewat belaian, ciuman, pelukan, saat disusui, dan lainnya.

DINGIN & EGOIS

Idealnya, tegas Ayu, ungkapan sayang harus rajin diberikan sejak dini. Secara verbal, misalnya, kita bisa mengatakan, “Selamat pagi, Sayang!” tiap kali ia bangun tidur. Bisa juga berupa pujian, “Wah, Kakak pintar sekali, hari ini enggak ngompol.” Begitu juga sentuhan saat membujuknya untuk mandi atau rayuan kala ia tengah mogok makan.

Dengan begitu, “Anak jadi terbiasa mengkonsumsi ‘vitamin’ kasih sayang dari orang tuanya yang amat penting buat perkembangan psikis anak. Lewat semua cara itulah, anak merasa dihargai dan disayangi. Itu memberinya rasa aman dan nyaman.”

Sebaliknya, lanjut Ayu, anak yang tidak mendapat “vitamin” tersebut sejak kecil, tidak akan pernah belajar tentang kasih sayang. “Ia tidak terbiasa mengungkapkan kasih sayang pada orang lain karena ia sendiri pun tidak pernah merasakannya. Pribadinya akan cenderung dingin, egois, antisosial, dan sulit menyayangi orang lain hanya karena boleh jadi ia tidak tahu bagaimana harus bersikap.”

Karena itu, saran Ayu, ada baiknya saat mengekspresikan ungkapan-ungkapan nonverbal tadi dibarengi dengan ucapan senada. Seperti, “Ibu sayang sama Kakak,” saat menyuapinya. Atau, “Papa sayang Adik,” sambil mendaratkan ciuman di pipi si kecil. Dengan begitu, meski anak belum bisa omong secara benar, ia sudah mengerti arti kata “sayang”. Apalagi kalau kata itu sering dilontarkan orang tua. “Nantinya, tanpa diucapkan pun, ia sudah tahu bahwa orang tuanya menyayangi dia.”

TAK SEPENUH HATI

Ungkapan lewat kata plus tindakan, sambung Ayu, amat penting untuk anak usia batita. “Soalnya, mereka sedang berada dalam tahap konkret. Pemahamannya masih terbatas pada hal-hal konkret, hingga ia harus merasakan atau melihat langsung bagaimana wujud nyatanya.”

Caranya? Ya, itu, tadi, dengan mengekspresikan rasa sayang kita seperti telah disebut di atas. Contoh lain, saat menyodorkan susu padanya, katakan sambil mengelus kepalanya, “Ini susunya, Kak. Diminum sampai habis, ya. Kakak, kan, pandai.”

Ironisnya, kata Ayu, “Banyak ibu yang membuat dan memberi susu sambil mengerjakan kegiatan rumah tangga lainnya. Nah, jangan heran kalau anak tak merasakannya sebagai ungkapan kasih sayang karena orang tua memang tak sepenuh hati saat melakukannya. “Beda, lo, kalau memberi gelas susunya dibarengi ekspresi nonverbal seperti elusan, pelukan, dan sejenisnya.”

REAKSI BIJAK

Jadi, jika si kecil mengajukan pertanyaan semacam itu, jangan buru-buru kebakaran jenggot karena merasa “dituduh” anak tak sayang. Tenang saja dan tanyakan, kenapa ia bertanya seperti itu. Kalau sebagai orang tua kita merasa sudah cukup memberikan kasih sayang padanya, namun ia tetap mengajukan pertanyaan tersebut, “Cobalah introspeksi diri.”

Dari situ biasanya akan tergali apa alasan sesungguhnya anak melontarkan pertanyaan tersebut. Apakah cuma iseng tanpa maksud apa pun, cemburu pada adik, atau ia memang sedang “menggugat” haknya akan kasih sayang dari orang tua lantaran merasa diabaikan.

Tentu saja kecermatan dan kesabaran kita untuk menggali perasaan anak amat dituntut. Jangan sampai malah mengabaikannya hanya karena merasa sibuk dengan dunianya sendiri. Toh, tegas Ayu, kalaupun benar sibuk dengan pekerjaan yang amat menyita waktu, orang tua tetap bisa menyatakan sayangnya pada si anak.

Semisal dengan menyempatkan meneleponnya saat makan siang atau kala terjebak kemacetan. Bila memungkinkan ajaklah anak ngobrol dan pancing bagaimana perasaannya hari itu. Jangan lupa tegaskan dalam pembicaraan singkat itu bahwa kita menyayangi sekaligus merindukannya. Dari dialog semacam itu orang tua bisa “membaca” bagaimana perasaan anaknya.

Sayang Tapi Pakai Syarat

Yang jelas, kata Ayu, orang tua jangan terkesan obral janji belaka. Semisal membanjiri anak dengan kata-kata bombastis, “Mama sayaaaannnggg sekali,” namun kenyataannya tidak demikian. Jangan pula bilang “sayang”, tapi sambil marah-marah.

Jadi, selain harus jujur dan konsisten, orang tua mesti tanggap, kapan saat yang tepat untuk menyatakan rasa sayang. Bila anak tengah asyik bermain dengan temannya, misalnya, enggak usahlah pamer. Anak malah akan merasa terusik, “Ngapain, sih, Mama, peluk-peluk aku?”

Sebaliknya, akan lebih efektif kala ia tengah sendirian lalu kita datangi sambil menyapa dan memeluknya. Ini justru akan lebih berarti buat anak. Terlebih jika ia memang tengah kesepian dan amat merindukan perhatian dan kasih sayang orang tuanya.

Bukan hanya kasih sayang dari si ibu, tapi juga dari ayah. “Meski si bapak berasal dari keluarga yang tak hangat dan kurang ekspresif, tetap perlu dibiasakan meski awalnya mungkin terasa kaku.”

Yang tak kalah penting, tegas Ayu, jangan pernah sekalipun menyatakan sayang dengan sederet persyaratan. Semisal, “Mama sayang kamu, asal kamu enggak nakal.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Dunia Batita/edisi 140/18 November 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: