BILA ISTRI BERGAJI LEBIH TINGGI

28 Feb


Suami yang enggak PD jelas akan minder. Istri yang doyan ngomel dan dominan juga berpeluang memunculkan konflik. Perlu kedewasaan dan relasi yang baik.

Seringkali, istri bergaji lebih tinggi menimbulkan persoalan pada suami. Apalagi di dunia timur tempat kita berpijak masih menganut nilai-nilai bahwa lelaki adalah pemimpin dan perempuan cuma pengikut. Hingga, dalam kehidupan perkawinan, suami menempati “kedudukan” tertinggi, yakni sebagai kepala keluarga dan bertugas mencari nafkah, sedangkan istri mengurus anak dan keluarga. Sekalipun tuntutan jaman sudah bergeser istri pun harus mampu mencari nafkah dan suami mampu mengurus keluarga-, tapi nilai-nilai lama tersebut tak lantas menjadi luntur atau hilang sama sekali.

Itu sebab, bagi kebanyakan suami, penghasilan jadi amat berarti, bahkan identik dengan harga dirinya sebagai kepala keluarga. Hingga, penghasilan istrinya yang lebih tinggi membuatnya khawatir tak memperoleh pengakuan dari dunia, dan bukan tak mungkin menjadikannya ngotot untuk mendapatkan penghasilan maksimal. Sementara bekerja buat istri bukan semata-mata untuk memperoleh penghasilan, hingga beban dan tuntutannya pun tak seberat yang disandang suami. Jadi, bisa dimaklumi bila soal gaji istri yang lebih tinggi amat sensitif untuk suami, sampai-sampai mengganggu hubungan antara suami-istri itu sendiri.

Padahal, bilang Sri Triatri, Psi., penghasilan istri yang lebih tinggi harus disyukuri sebagai berkah bagi peningkatan kesejahteraan keluarga. Dalam bahasa lain, suami tak perlu minder atau malah berkembang menjadi bibit konflik berkepanjangan di antara mereka. “Banyak juga, kan, suami-istri yang bisa tetap hidup rukun dan damai meski jelas-jelas si istri bergaji lebih tinggi?” ujar pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta, ini. Hanya memang, untuk sampai ke situ diperlukan relasi yang positif antara suami-istri dan kedewasaan dari kedua belah pihak. Hingga, tuntutan sosial tadi tak jadi bumerang buat si suami.

TAK PERCAYA DIRI

Intinya, minder-tidaknya suami amat tergantung dari kepribadian suami-istri itu sendiri dan sikap serta perlakuan masing-masing terhadap pasangannya. “Kalau istri rajin mengomel dan gemar mencerca, suami yang normal pun lama-lama akan minder. Sementara suami yang kurang PD alias tak percaya diri tetap saja dibayangi rasa rendah diri, kendati istrinya sama sekali tak pernah mempersoalkan gajinya yang lebih tinggi,” tutur Tya, sapaan akrab psikolog ini.

Jadi, suami yang kurang atau malah tak memiliki rasa percaya diri dan konsep harga dirinya rendah, umumnya juga kurang mampu membina hubungan interpersonal yang baik dengan siapa saja, bukan cuma dengan istrinya. Pria tipe begini, lanjut Tya, bila memiliki istri berkedudukan/bergaji lebih tinggi, biasanya akan menjadikan dirinya makin merasa tak berarti. Celakanya, dalam keadaan seperti itu tiap manusia, termasuk suami, memiliki beragam defense untuk mempertahankan harga dirinya yang bisa berkembang menjadi konflik tak terselesaikan.

Sementara istri yang cenderung meremehkan suami, menurut Tya, boleh jadi karena sejak kecil tak pernah melihat banyak uang atau merasakan kemewahan. Hingga, di saat mendapat kelimpahan materi, ia cenderung gampang lupa. Meski bukan tak mungkin suami-istri tersebut sebetulnya memang sudah bermasalah dan enggan mencari solusi yang sehat. Hingga, si istri sengaja menggunakan kesempatan dan cara-cara tersebut untuk balas dendam atau menyakiti suaminya. Padahal, “kalau ada sesuatu yang tak beres, kan, harusnya dikomunikasikan, bukan malah mencari jalan keluar ngawursemacam itu.”

Faktor lain, istri dominan. “Istri model ini umumnya memiliki need of power yang tinggi dan tak bisa mengendalikan emosi.” Hati-hati, lo, Bu, dominasi istri, menurut Tya, bisa mendorong suami mencari perempuan lain yang membuat dirinya merasa dihargai sebagai lelaki. Sekalipun ia mesti menghamburkan uang untuk “membeli” pengakuan tadi, misal.

Namun, Tya yakin, jika masalah di antara suami-istri cuma sebatas gaji, dampaknya takkan separah itu. “Seberapa pun harga dirinya tersinggung, suami yang bersikap dewasa pasti mampu mengontrol dirinya, hingga takkan melakukan cara-cara liar seperti tadi sebagai jalan keluar. Ia malah akan lebih concern untuk bicara pada istrinya kala si istri mulai menampakkan perilaku yang kurang menyenangkannya.” Begitu juga istri yang dewasa, akan menegur dengan gaya bicara yang menyenangkan saat merasa tak nyaman dengan kondisi suaminya. “Jadi, bukan berupa kritik pedas yang menyudutkan apalagi menjatuhkan atau menghancurkan.”

JANGAN MEMBANDINGKAN

Sebetulnya, bilang Tya, istri bisa “membaca” kondisi hati suami yang tersinggung; dari kata-kata terkesan lebih ketus, wajah yang kelihatan tegang, sampai penampilan yang lebih murung, diam dan cenderung menarik diri. Nah, bila menemukan tanda-tanda seperti itu tanpa sebab jelas, atau mengomel tentang kondisi di luar dirinya, itulah saat istri introspeksi diri. “Pasti ada ketaknyamanan dalam diri suami yang bisa ditelusuri sumbernya, apakah dari dalam dirinya, dalam keluarga atau pekerjaan di kantor.”

Sementara untuk menumbuhkan kepercayaan diri suami yang minder, bisa ditempuh dengan berbagai hal. Di antaranya, memberi kesempatan untuk melakukan kegiatan lain yang menumbuhkan kebanggaan diri. Di lingkungan masyarakat sekitar, siapa tahu ia bisa memegang jabatan tertentu yang positif dan potensial meningkatkan harga dirinya, misal. Atau, beri kesempatan untuk berperan aktif dalam keluarga. Misal, anak ingin tahu lebih banyak tentang komputer, sarankan untuk bertanya pada bapaknya. Sekalipun si ibu tak gagap teknologi, kerendahan hati ini juga akan membuat anak percaya bahwa bapaknya bila melakukan sesuatu yang istimewa dan memberi kebanggaan.

Tak kalah penting, lanjut Tya, jangan membandingkan atau malah memaksakan kesuksesan kita pada suami. “Setiap manusia seyogyanya bisa meng-organize mana pikiran-pikiran yang harus dikembangkan dan mana yang tidak, mana yang perlu diberi atensi dan mana pula yang tidak.” Meski boleh jadi kita mengutarakan perbandingan itu untuk memotivasi atau memacu suami agar sama-sama berprestasi. Soalnya, baik istri maupun suami tak dibenarkan berpikir untuk mengubah pasangan. Justru yang harus dikembangkan adalah sikap menerima pasangan apa adanya. “Kesediaan menerima pasangan apa adanya bisa menjadi perekat hubungan di antara suami-istri.”

Istri pun harus bisa mengontrol tindakan-tindakannya dengan tegas-tegas memisahkan perannya di kantor dan di rumah tangga. “Jangan sampai mentang-mentang jadi pimpinan di kantor, lantas bossy di rumah. Karena perannya memang berbeda, maka tugas dan kewajibannya, kan, juga berlainan. Di rumah, ia tetaplah istri pendamping suami.”

PENTINGNYA KETERBUKAAN

Harusnya, kata Tya lebih lanjut, kemungkinan munculnya konflik gara-gara istri bergaji lebih tinggi sudah disadari dan dibicarakan sejak awal, bahkan sebelum memutuskan untuk menikah. Dengan begitu masing-masing sudah punya visi bagaimana cara menghadapinya, semisal membuat komitmen-komitmen seputar hal itu. Apalagi bila (calon) istri memang berpendidikan tinggi, memiliki motivasi kuat dan berpeluang maju, sementara karir suami cenderung mentok. Belum lagi kenyataan bahwa wanita kini relatif lebih mudah mencari pekerjaan dibanding pria diberbagai bidang pekerjaan.

Jikapun kesadaran ini baru muncul setelah menikah, pun bukan merupakan kesalahan fatal yang tak bisa dikoreksi karena masih bisa dibicarakan. “Tapi ngomong-nya jangan langsung to the point, meski juga bukan sambil lalu. Melainkan dalam rangka membicarakan hal lain, misal, kala membicarakan pengelolaan pengeluaran.” Contoh, “Buat belanja kebutuhan sehari-hari, sebaiknya gaji Mama, deh. Gaji Papa untuk tabungan, kebutuhan mendadak atau keperluan yang membutuhkan dana tak sedikit seperti beli rumah atau kendaraan.”

Jika inisiatif untuk ber-sharing dari masing-masing cukup tinggi, kata Tya, biasanya pembicaraan lebih enak dan terbuka. Kalaupun terasa sulit, tetap harus diupayakan pembicaraan serupa. “Jangan pernah merasa lelah untuk mencoba menjalin komunikasi, termasuk mengenali keinginan dan kebutuhan pasangan,” anjurnya.

Selain itu, tambahnya, kesediaan masing-masing pihak untuk terbuka mengenai pemasukan dan pengeluarannya juga amat dituntut. Minimal masing-masing tahu berapa kira-kira pemasukan pasangannya. Kendati, “Enggak usah persis detailnya atau tiap bulan harus setor slip gaji.” Dengan modal ini, mereka berdua bisa memprediksi pengelolaan ekonomi rumah tangga.

Menurut Tya, bila hal ini sudah dibiasakan sejak awal, meski bergaji lebih tinggi, istri takkan dengan enteng bilang, “Ah, ini uangku, kok! Aku boleh, dong, beli apa saja sesukaku!” Suami pun tak lantas ongkang-ongkang kaki mengandalkan gaji istrinya untuk membiayai rumah tangga mereka, sementara gajinya sendiri lebih sering dikirim untuk membiayai adik-adiknya atau hal-hal lain. “Pola-pola pembelanjaan seperti itu tak bisa dibenarkan dalam relasi suami-istri. Sebab, kecenderungan masing-masing untuk berjalan sesukanya sendiri-sendiri inilah yang menjadi bibit-bibit pertengkaran suami-istri.”

Jikapun istri ingin membeli benda-benda yang tak kelewat perlu tapi harganya relatif sangat mahal, seperti parfum dan perhiasan dengan uang gajinya sendiri, boleh-boleh saja asalkan tetap harus dibicarakan dengan suami. Begitu pun bila suami ingin mengirim bantuan untuk siapa pun mesti “seijin” istri.

Dimanfaatkan Oleh Suami

Ada, lo, suami yang tahu istrinya bergaji lebih tinggi, lantas memanfaatkannya. Istrinya dibiarkan merogoh kocek untuk menanggulangi pengeluaran keluarga yang harusnya dipikul bersama. Tak heran bila si istri akhirnya kesal dan mempertanyakan, “Lo, peranmu apa sebagai kepala keluarga kalau apa-apa harus aku?”

Menurut Tya, perilaku suami yang demikian, boleh jadi lantaran si istri sering menunjukkan dirinya berduit, meski mungkin awalnya lebih merupakan toleransi atas keterbatasan suami. Sayangnya, suami yang “dikasihani” ini tak tahu diri, tapi bisa juga sebetulnya ia marah karena merasa diabaikan, “Kamu, kok, sombong sekali! Uang hasil jerih payahku tak dipakai untuk membiayai rumah tangga.” Lagi-lagi istri mesti tanggap membaca situasi, lalu segera membicarakannya dengan suami, tentu secara baik-baik.

Namun bila suami memang tipe orang yang suka memanfaatkan dan cenderung boros, menurut Tya, tak ada salahnya istri berbohong. “Istri, kan, wajib menyelamatkan hasil jerih-payahnya untuk tabungan masa depan anak-anak.” Memang, di satu sisi tak ada keterbukaan yang makin berpeluang membuat suami merasa dibohongi dan tak dihargai. Toh, ini bisa diantisipasi. Caranya, anjur Tya, sekali waktu bicarakan dalam situasi yang menyenangkan tanpa harus secara detail.

Namun bila suami termasuk pelit yang enggan sharing, Tya menganjurkan agar meminta suami membuatkan kartu kredit tambahan yang dibuka atas namanya, dan istri boleh memakai untuk belanja keperluan rumah tangga sementara tagihan jatuh ke tangan suami. Dengan begitu, suami jadi punya tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarga.

Perkembangan Emosi Si Kecil Akan Terganggu

Jika masalah gaji selalu dijadikan alasan suami-istri untuk berselisih paham, jelas Tya, akan berdampak langsung pada perkembangan anak. Pasalnya, kehidupan keluarga merupakan dasar dari seluruh perkembangan anak dalam kehidupannya kelak. “Apa pun yang terjadi dalam keluarga, biasanya akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Minimal sampai usia 2 tahun, anak betul-betul butuh rasa aman dan nyaman dalam keluarga atau basic trust.”

Jika rasa aman dan nyaman ini terusik, misal, ayah-ibu bertengkar secara terbuka, maka anak akan mengalami emosi negatif dan perkembangan emosinya pun terganggu. Tak lain karena ibu-bapak merupakan sosok terdekat yang amat berpengaruh bagi anak. Anak baru akan berkembang ke arah positif sepanjang orang tuanya bisa dijadikan teladan. Dalam arti, ibu yang bergaji lebih tinggi betul-betul bisa menempatkan diri sementara si bapak pun tak menunjukkan sikap minder.

Kemungkinan si Upik akan meniru merendahkan/meremehkan suaminya kelak, menurut Tya, bisa saja terjadi. “Anak, kan, belajar dari berbagai macam hal, termasuk lingkungan terdekat sebagai agen modelling atau teladan tadi.” Terlebih bila ia kelewat sering mendengar ibunya memaki, “Dasar brengsek! Gimana, sih, kok, enggak becus cari uang!”, misal. Meski tetap terbuka kemungkinan anak berkembang ke arah lain, terutama bila ia punya model lain yang positif, atau lantaran ingin menghindari hal-hal buruk yang pernah dilihat/dirasakannya.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 109/16 April 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: