CEMBURU PADA MANTAN KEKASIH PASANGAN

28 Feb


Tak sedikit suami/istri menaruh cemburu pada mantan kekasih pasangannya. Padahal cuma buang-buang waktu dan energi, lo.

Suatu hari Andini, sebut saja begitu, terkaget-kaget kala suaminya mengharuskannya ikut ke resepsi perkawinan Nona X yang pernah jadi pacar suaminya. Alasan sang suami, “Aku enggak mau kamu cemburu enggak karuan atau suatu saat menuduhku yang bukan-bukan.” Sangat masuk akal, bukan?

Cemburu pada mantan kekasih pasangan, terang psikolog Zainoel B. Biran, sebetulnya merupakan pertanda ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam hubungan sebagai suami-istri. Artinya, suami/istri akan cemburu bila ia tak yakin betul, pasangannya tak punya hubungan lagi dengan mantannya. Apalagi jika nama si mantan kerap disebut atau malah dirinya dibanding-bandingkan dengan kelebihan si mantan.

Padahal, kalaupun sering menyebut nama si mantan atau tetap menjalin tali silaturahmi, tak identik dengan adanya hubungan istimewa di antara mereka berdua. “Lo, bisa saja, kan, karena ada ikatan kekerabatan atau lantaran tuntutan pekerjaan,” lanjut psikolog dari Bagian Psikologi Sosial Fakultas Psikologi UI ini. Sementara niat istri membanding-bandingkan suami dengan mantan kekasihnya boleh jadi sebatas gurauan atau malah sebagai pecut agar kian giat mengukir prestasi kerja.

Kalau tak percaya, cobalah pancing emosi suami/istri dengan cerita yang terkesan menggebu-gebu saat menggambarkan keberhasilan mantan kekasih. Sepulang reuni dengan teman-teman sefakultas, misalnya. “Wuih…gile! Dia sekarang udah jadi orang nomor satu di perusahaannya, lo. Belum lagi penampilannya yang keren abis!” Kalau suami/istri menanggapinya dengan menunjukkan sikap negatif, waspadalah. Sebab, bukan tidak mungkin ia tengah dilanda krisis kepercayaan diri yang amat mudah menyulut kecemburuan.

Padahal, kebiasaan untuk membanding-bandingkan bukan hal aneh dalam kehidupan sehari-hari. Penyebabnya bisa macam-macam: ada yang karena memang gemar dari sononya atau sebab lain. Apa pun motivasinya, dibanding-bandingkan dengan kelebihan mantan pacar pasangan merupakan pukulan telak. Harga diri bisa langsung KO! Kendati maksud istri/suami mungkin tidak sejauh itu. Melainkan hanya gemas melihat usaha suami cuma segitu-gitu saja alias enggak maju-maju lantas berusaha memotivasi pasangan.

KELEWAT BERGANTUNG

Dari beberapa kajian yang ada, ujar psikolog yang akrab disapa Bang Noel ini, cemburu bisa muncul karena yang bersangkutan takut bakal kehilangan pasangannya. Makanya kecemburuan lebih sering dialami oleh mereka yang cenderung pencemas. Kondisi inilah yang kemudian membuatnya terpola untuk melihat pasangannya sebagai satu-satunya harapan, sekaligus tempat bergantung setiap kali ia menghadapi masalah. Nah, ketika ia tak lagi yakin bisa menggantungkan harapannya pada pasangan, saat itu pula dirinya dikuasai oleh rasa cemburu.

Kendati begitu, bukan berarti kita sama sekali tak boleh menaruh cemburu pada pasangan, lo. “Boleh-boleh saja. Tapi jangan lantas menurutkan segala bentuk kecemburuan tanpa berusaha mengevaluasi keadaan. Tepatnya, pelajari kenapa kita begitu dikuasai cemburu.” Evaluasi semacam itu, lanjut Bang Noel, amat penting karena jika kecemburuan sudah berkuasa, maka hubungan suami-istri pun jadi tak sehat lagi karena dipenuhi kecurigaan. Istri yang curiga suaminya masih terus berhubungan dengan mantan pacarnya tentu akan terus mencari-cari apakah ada surat di saku baju, foto di dompet/di album atau pesan-pesan romantis lewat SMS di HP sang suami. Kalau yang dicari kebetulan ditemukan, bukan tidak mungkin bakal ada perang.

Padahal, kalaupun ada foto sang mantan kekasih di album, belum tentu suami/istri masih terkenang-kenang padanya. Sementara nuansa perasaan saat menulis surat cinta atau berfoto bersama tadi pasti tak bakal pernah sama dengan kondisi emosi saat ini. Soalnya, ada, lo, yang enggan membuang surat-surat cinta hanya karena kagum saat itu kemampuan bahasanya begitu terasah. Bukankah kala jatuh cinta tiap individu tak ubahnya seperti pujangga besar yang bisa menuliskan apa saja?

Itu sebab, tandas Bang Noel, kendati ada anggapan first love never die, kita harus mampu bersikap rasional. Artinya, ketika sudah memutuskan untuk menikah dan kini malah sudah menjadi suami-istri, tak pada tempatnya masih menyimpan kecemburuan pada mantan kekasih suami/istri. Apalagi lantas sampai mencuri-curi baca buku harian hanya untuk mencari tahu dengan siapa, ke mana, dan apa saja yang pernah dilakukan pasangan di masa lalunya. Sangat tidak etis dan kesannya malah norak.

MEMBINA SALING PERCAYA

Apakah ketidakcemburuan lantas jadi jaminan harmonisnya sebuah keluarga? Kata Bang Noel, “Belum tentu juga.” Karena inti perkawinan bahagia/harmonis adalah rasa percaya. Berbekal rasa saling percaya, masing-masing pihak akan bersikap jujur pada pasangannya. Kalaupun masing-masing pihak memiliki kekurangan/perbedaan, tidak dilihat sebagai sesuatu yang menghambat hubungan mereka. Sebaliknya, tanpa modal dasar itu, kecurigaan akan mudah muncul. Terlebih bila ada hal tertentu yang sengaja ditutup-tutupi.

Kalau sudah begitu, hubungan di antara mereka pasti terasa kaku. Kemesraan? Jangan harap, deh, karena yang ada cuma kecurigaan. Kala ingin berkangen-kangen dengan teman lama pada acara reuni, misal, pasangan akan berusaha menghalang-halangi. Dituduh mau ketemu mantan pacar, misalnya, padahal si X yang jadi sumber kecurigaan tadi ternyata tak datang ke acara tersebut. Nah, kalau pola hubungan semacam itu yang terjalin, bukan tidak mungkin akan memupuk kemarahan dalam diri pasangan yang bisa berakibat fatal. “Buat apa aku jadi istri/suaminya kalau selalu enggak dipercaya begini?”

Yang juga patut dicermati adalah kecemburuan yang muncul karena dorongan ingin menguasai pasangan. Dalam hal ini, tutur Bang Boel, cinta si individu bersifat posesif dan umumnya muncul dalam bentuk ekstrem. Semisal seluruh cinta suami/istri hanya untuk dirinya seorang. Tidak boleh ada orang lain yang menjadi curahan perhatian/cintanya, termasuk anak. Hingga tak jarang anak dijadikan sasaran kecemburuan yang ngawur. Kecemburuan model begini, lanjut Bang Noel, biasanya sudah bercampur aduk dengan rasa iri yang selalu akan memancing masalah dan menjadikan perkawinan sebagai ajang kesengsaraan seumur hidup. Terlebih bila di antara mereka tak ada yang berani memulai pembicaraan untuk mencari solusi.

DAMPAK BURUK PADA SI KECIL

Jangan dikira kecemburuan pada mantan kekasih pasangan tak memberi dampak apa pun pada si kecil. Bukankah saat dikuasai kecemburuan, kita akan memperalat si kecil untuk memata-matai sepak terjang pasangan? “Kamu temenin Bapakmu, tuh! Ngapain aja dia sama perempuan itu!” Selain membuka peluang untuk membudayakan perilaku menyogok pada anak. Semisal, “Pokoknya kamu ceritain, ya, sama Mama. Nanti Mama beliin sepatu baru, deh.” Padahal pada anak dengan tipe yang mudah disogok, perilaku orang tuanya tadi justru memberi peluang baginya memperoleh keuntungan materi untuk diri sendiri. Nah, apa jadinya kalau kebiasaan semacam itu terus terbawa sampai si anak besar nanti.

Dampak buruk lainnya adalah anak jadi serba bingung, “Mama/Papaku kenapa, sih? Kok, aku disuruh begini-begitu?” Hingga bila upaya memata-matai pasangan dengan memanfaatkan si kecil tak segera dihentikan, bukan tak mungkin anak akan ngambek setiap kali ibu/bapaknya pergi dengan seseorang yang dicurigai tadi. Belum lagi suasana emosi yang bakal mewarnai hubungan suami istri-pasti akan dirasakan anak. Terutama hubungan yang tidak diwarnai oleh kemesraan dan kelembutan. Anak umumnya akan peka dan mempertanyakan perilaku ibu/bapaknya. Semisal sentuhan yang kasar pada anak lantaran ibu/bapak sedang marah pada pasangan.

Padahal itu semua dilakukan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya atau membuktikan kecurigaan-kecurigaannya. Kalau ternyata memang tak ada sesuatu yang istimewa di antara pasangan dengan mantan kekasihnya, boleh jadi kecurigaannya agak “tersembuhkan”. Namun untuk mengikisnya jelas bukan soal mudah. Karena dibutuhkan keberanian untuk mengevaluasi diri dan belajar menaruh kepercayaan kembali pada pasangan.

PERLU KESEPAKATAN

Untuk meminimalkan dampak buruk tersebut, tentu saja tak berarti kita harus menindas kenangan manis di masa lalu. Atau malah memutuskan hubungan dengan mantan dan keluarganya. “Enggak usah sampai sekaku itulah,” pesan Bang Noel. Hanya saja, dalam hubungan tersebut sedapat mungkin tetap menjaga perasaan pasangan dengan selalu memposisikan suami/istri di tempat yang paling istimewa di sudut hati kita.

Demikian pula kadar keakraban kita dengan mantan kekasih tak ada salahnya dibuka pada suami/istri. Paling tidak, kata Bang Noel, keberanian semacam ini menjadi semacam ukuran keterbukaan kita pada pasangan. Lain halnya jika kita sudah bersedia terbuka sementara suami/istri malah menyarankan hal sebaliknya. “Sudahlah, kita tutup saja lembaran masa lalu,” misal. Tentu saja ucapan semacam itu harus dilandasi niat baik untuk memperbesar kepercayaan kita pada pasangan. Bukan malah sebagai taktik untuk menutup diri agar pasangan juga tak berusaha mengorek informasi. Sementara sikap apatis dengan mengatakan “Lebih baik enggak usah tahu aja, deh, karena semakin tahu akan semakin sakit hati,” jelas bukan sikap yang bijaksana.

Antara suami-istri seyogyanya juga saling memahami bahwa masing-masing punya kehidupan masa lalu yang berbeda. Apakah bagian kehidupan tersebut akan ditutup sepenuhnya atau dibuka sebagian, perlu dibicarakan dan disepakati bersama yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam arti, benar bahwa pikiran dan tingkah laku kita sehari-hari hanya tertuju untuk suami/istri. Dengan begitu suami/istri yakin betul bahwa cinta pasangan memang hanya untuknya. Sementara keyakinan tersebut tentu saja harus betul-betul dipupuk/dipelihara oleh pasangan.

Umumnya, kepercayaan yang terbangun di antara suami-istri akan mempengaruhi pula seberapa hangat hubungan mereka. Hingga bila kecemburuan mendominasi bisa saja dipertanyakan apakah benih-benih ketidakpercayaan mulai merongrong kehidupan mereka. Sebetulnya memang amat dilematis mengungkapkan kecemburuan. Meski tanpa diungkapkan pun pasangan akan bisa “membaca”nya lewat ucapan dan perilaku yang bernada menyelidik. Semisal, “Mau ke mana, sih, kok, wangi amat?”

Sedangkan usia perkawinan, kata Bang Noel, tak selalu jadi pencetus munculnya kecemburuan. Karena yang lebih menentukan justru suasana yang tak lagi harmonis, hubungan yang tak lagi hangat akibat adanya ketidakpuasan yang tidak terselesaikan dan kian bertumpuk.

Salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk membina kepercayaan pada pasangan adalah positif thinking karena tanpa kesediaan berpikir positif kita akan semakin mudah terpuruk pada kecurigaan dan ketidakpuasan yang tak jelas juntrungannya.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 126/12 Agustus 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: