DIARE SELAGI HAMIL

28 Feb

Penyebab yang paling sering adalah akibat salah makan. Yang jelas, segera tangani agartak berdampak buruk pada kehamilan.

Diare selama hamil, ternyata bisa dialami ibu hamil pada usia kehamilan berapa pun juga. Penyebabnya? “Macam-macam,” kata dr. Irsyad Bustamam, SpOG dari RSIA Hermina.

ASAM LAMBUNG BERLEBIH

Secara garis besar, lanjutnya, bisa dibedakan menjadi empat. Yaitu faktor psikologis, semisal stres atau banyak pikiran yang menyebabkan aktivitas/mekanisme peristaltik usus meningkat. “Istilah kedokterannya irritable bowel syndrome (IBS).” Faktor psikis ini merupakan penyebab terbanyak. Maklum, kehamilan, kan, merupakan beban psikologis tersendiri untuk wanita.

Apalagi kalau kondisi atau sistem pertahanan psikologisnya kurang kuat. “Ibu pun jadi gampang mencret-mencret. Seperti kalau kita mau ujian. Sering, kan, perut melilit tanpa sebab?” Hanya saja, tegas Irsyad, “Diare tidak berhubungan langsung dengan kehamilan. Artinya, kalau hamil pasti bakal kena diare.”

Faktor berikut, terang alumnus FKUI ini, adalah infeksi. Mulai dari infeksi bakteri seperti tipus dan kolera, infeksi parasit semisal cacingan yang antara lain menimbulkan gangguan pencernaan, sampai HIV/AIDS akibat infeksi virus yang membuat seseorang bisa mencret selama berbulan-bulan.

MAKAN PEDAS

Penyebab lain adalah makanan. Terlampau pedas, asam, atau beraroma kelewat menyengat. Terlebih bila perut yang bersangkutan belum kemasukan nasi atau sumber karbohidrat. “Lambung kosong karena belum makan, terlebih pagi dan malam hari, produk asam lambungnya banyak. Padahal kala hamil muda di mana ibu sering mual-muntah, produksi air liur dan asam lambung jadi berlebihan akibat terpicu oleh stres tadi. Sementara makanan yang asam atau pedas sekali akan menyebabkan iritasi lambung dan usus halus. Iritasi itulah yang kemudian menyebabkan diare.”

Susahnya, saat hamil muda biasanya ibu justru gemar sekali menyantap makanan asam dan pedas untuk mengurangi rasa mual-muntah. “Ya, boleh-boleh saja makan asam atau pedas. Apalagi kalau memang sudah jadi kedoyanan. Tapi, mengingat sedang hamil, sebaiknya dikurangi,” saran Irsyad. Kalau mau lebih aman lagi, sambungnya, “Isi perut dengan nasi terlebih dahulu untuk menetralisir asam lambung.”

Kecukupan asupan gizi dan kalori yang diperlukan ibu hamil, terlebih yang sulit makan, tandas Irsyad, adalah dengan cara makan dalam porsi kecil namun sering. “Soalnya, kalau makan sekaligus banyak, makanan yang masuk cenderung akan terkumpul/tertahan di lambung karena lambannya gerakan peristaltik usus akibat perubahan keseimbangan hormonal. Atau sebaliknya, malah terdorong kembali ke atas menyebabkan keluhan mual-muntah tadi.”

Sedangkan gangguan diare “tanpa sebab” boleh jadi disebabkan oleh makanan yang terlampau berlemak. Bisa juga karena yang bersangkutan menderita sindroma malabsorpsi lemak. Yaitu ketidakmampuan menyerap unsur lemak. “Misalnya, mereka yang selalu mencret setiap kali minum susu. Bila ditelusuri lebih lanjut, mungkin penyebabnya karena kekurangan enzim pencernaan, semisal defisiensi enzim laktase. Atau bisa juga karena faktor keganasan semisal kanker usus.”

Dari sekian banyak faktor penyebab tadi, tegas Irsyad, diare pada ibu hamil umumnya lebih karena faktor makanan. Entah karena kurang hati-hati atau lantaran kelewat ingin menuruti dorongan makan yang kacau/tak sehat dengan mengatasnamakan kehamilan itu sendiri. “Aku, kan, pingin makan asinan yang dijual abang-abang di pinggir jalan itu. Kelihatannya enak banget, sih. Kalau enggak keturutan, bisa-bisa anakku nantinyangiler.” Padahal keinginan semacam ini seharusnya bisa dikendalikan daripada mengundang risiko.

DIARE BERBAHAYA

Lalu sejauh mana diare aman? “Bisa dianggap ‘aman’ bila masih tergolong ringan yang biasanya disebabkan oleh salah makan. Semisal masih ‘asing’ karena belum pernah mencoba sebelumnya atau kelewat berbumbu.” Yang seperti ini, menurut Irsyad, akan berhenti dengan sendiri tanpa perlu diobati secara khusus. Biasanya frekuensinya tidak terlalu sering dan jumlahnya pun tidak terlampau banyak.

Tapi begitu frekuensinya lebih dari 4 kali sehari dan jumlahnya relatif banyak, perlu diwaspadai. Terlebih jika disertai demam, keluar lendir atau malah bercampur darah akibat serangan disentri amuba dan basiler. Demikian pula jika dibarengi muntah karena berarti semakin banyak cairan dan elektrolit yang terbuang dan sulit menggantikannya lewat mulut, hingga harus melalui infus.

Kita pun mesti waspada bila ada gejala dehidrasi. Di antaranya rasa haus yang luar biasa dan terus-menerus, suara jadi parau, badan lemas, plus kejang otot/kram. Elastisitas kulit pun jauh berkurang, hingga bila dicubit tak segera kembali. Kaki dan tangan dingin, sementara jari-jemari terlihat keriput seperti habis berendam berjam-jam.

Tak jarang disertai dengan gangguan kesadaran. “Kalau tanda-tanda seperti itu sudah muncul berarti sudah dehidrasi berat, hingga upaya yang diberikan nyaris tak berarti. Seharusnya, sebelum terjadi sejauh itu, segera ke rumah sakit untuk mendapat perawatan dokter. Obat apa dan bagaimana dosisnya, dokterlah yang menentukan berdasarkan parah-tidaknya gangguan diare yang dialami.”

BULU USUS RUSAK

Untuk menghindari dehidrasi, tandas Irsyad, tindakan yang harus segera diberikan pada penderita diare adalah pemberian cairan guna menjaga keseimbangan elektrolit tubuh. Baik dengan minum maupun lewat selang infus. “Prinsipnya, sih, kalau masih bisa dari mulut, harus diusahakan lewat mulut.”

Selama masih bisa makan, usahakan tetap makan makanan yang lunak, tidak berlemak dan tidak merangsang. Makanan yang bagus adalah makanan yang mengandung elektrolit, yakni bubur. Pilihan lain adalah sup ayam atau pisang matang karena mengandung banyak kalium untuk mengganti elektrolit yang terbuang. Buah lain pun boleh saja, asalkan jangan asam, terlampau merangsang atau menimbulkan timbunan gas yang malah akan memperparah, seperti nangka dan durian.

Yang tak kalah penting, berikan oralit yang mudah didapat atau larutan gula garam kira-kira sebanyak cairan yang terbuang. “Cara menyiapkannya harus benar. Yakni, larutkan sebungkus oralit dalam segelas air masak. Jangan gunakan air panas agar elektrolitnya tidak rusak.”

Mengatasi gangguan diare dengan segera juga penting untuk menjaga “bulu-bulu” di usus bagian dalam yang bernama fili-fili agar tak rusak. Bulu-bulu halus tersebut bertugas menyerap makanan, selain menghasilkan cairan dan enzim-enzim pencernaan. Pada diare kronis, fili-fili ini akan rusak dan rontok yang membuat penyerapan makanan jadi tak bagus selain berkurangnya produksi enzim, hingga terjadi malabsorpsi. Memang, sih, ia bisa segera pulih mengingat tubuh pun memiliki kemampuan regenerasi seperti halnya luka yang bakal menutup sendiri.

Sedangkan pada kasus-kasus tertentu seperti kolera dan disentri, pemberian obat-obatan diperlukan untuk pengobatan kausanya. Sementara terhadap keganasan seperti kanker usus tak ada cara lain kecuali harus dioperasi.

HARUS SEPENGETAHUAN DOKTER

Pemberian obat-obatan pada ibu hamil untuk kasus-kasus diare tetap harus dilakukan/sepengetahuan dokter. “Jangan pernah mengobati diri sendiri dengan minum obat diare yang banyak dijual bebas,” tegas Irsyad. Sebabnya, meski namanya sama-sama diare, pengobatannya tidak bisa bersifat generalisir, melainkan harus sesuai dengan penyebabnya.

Kalau penyebabnya karena banyak pikiran, contohnya, mungkin dukungan psikis lebih dibutuhkan. Sementara jika bakteri tipus yang jadi biang keladi, obat tipuslah yang diberikan. Tentu saja dengan tetap memperhatikan segi keamanan bagi janin.

Berdasarkan sifatnya, obat diare dibedakan sebagai obat antibakteri, antijamur, ada pula yang bersifat mengeraskan BAB maupun yang bersifat menghambat gerakan peristaltik usus. Perlu diingat, pesan Irsyad, pada kasus-kasus diare ada faktor X yang mengakibatkan gerakan peristaltik usus jadi berlebihan.

Bila obat yang bersifat menghambat gerakan itu dimakan sembarangan, bisa-bisa ususnya malah jadi enggak bergerak. Akibat lebih lanjut adalah terjadinya penyumbatan yang dinamakan ilius paralitik.

Hanya saja, terangnya, gerakan peristaltik usus yang berlebih ini dapat merupakan manifestasi mekanisme pertahanan tubuh sendiri. Soalnya, setiap kali ada kuman, benda asing, kotoran, makanan basi, dan sebagainya yang ditangkap sinyal tubuh sebagai hal yang membahayakan, tubuh secara refleks akan memberi respon berupa gerakan hiperperistaltik untuk mengeluarkan musuh-musuh tadi.

Dampak Pada Janin

Tak dapat dipungkiri, bilang Irsyad kehamilan trimester pertama memang sangat rentan. Kendati gangguan elektrolit akibat diare pada kehamilan trimester berapa pun akan berdampak pada janin. Kalau sampai tekanan turun, contohnya, maka aliran darah ke janin juga akan terganggu. Sementara dampak diare akibat tipus malah lebih membahayakan janin karena adanya racun endotoksin yang dikeluarkan, meski boleh jadi gangguan diarenya terkesan ringan.

Tentu saja kondisi ibu maupun janinnya juga ikut menentukan. Artinya, semakin berat keluhan diare dan gejala dehidrasinya, kian buruk pula dampaknya pada janin. Sebaliknya, kian kecil usia janin, kian besar bahaya yang mengancamnya dibandingkan jika sudah memasuki usia matang. Meski pada kehamilan usia berapa pun, diare bisa menjadi pemicu keguguran atau lahir prematur.

Upaya pencegahan yang juga tak boleh dilupakan adalah pola hidup sehat. Semisal menyantap makanan yang bersih dan terolah baik. Hindari makanan mentah yang kemungkinan besar mengandung telur cacing atau kuman lain yang membahayakan. Kalau ada kucing yang buang kotoran di kebun sayur atau si petani malah menyiraminya dengan air got, bukan tidak mungkin virus toksoplasma bercokol di daun sayur.

Jika ibu hamil senang lalapan, cucilah dengan air bersih yang mengalir lalu rendam dalam air garam untuk mematikan telur cacing. Selain itu, biasakan olahraga teratur, semisal jalan kaki atau berenang untuk melancarkan aliran darah. Olahraga teratur juga menjamin terproduksinya endorphin yang berperan sebagai obat penenang alami yang amat berperan dalam menangkal stres yang mungkin muncul.

Sulit Buang Air Besar

Sebenarnya, tutur Irsyad, yang sering dialami para ibu hamil berkaitan dengan urusan BAB adalah justru konstipasi alias susah BAB, hingga harus mengedan cukup lama. Penyebabnya antara lain:
* Perubahan hormonal tubuh, yakni meningkatnya hormon progesteron yang berakibat pada menurunnya gerakan peristaltik usus.
* Ibu hamil biasanya cenderung malas dan kurang bergerak, hingga aliran darahnya pun tak lancar.
* Penekanan usus akibat rahim yang membesar danmembuat sisa-sisa pencernaan relatif tertumpuk di usus, hingga menimbulkan gangguan konstipasi.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 141/25 November 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: