GANGGUAN-GANGGUAN KECIL SELAGI BERINTIM-INTIM

28 Feb


Jangan dianggap sepele karena bisa berdampak serius, semisal gangguan ejakulasi dini, frigiditas, dan impotensi.

“Keterlaluan, deh, suamiku! Masak, sih, lagi asyik-asyik berintim-intim dia seenaknya buang angin! Aku, kan, jadi jijik banget. Jadinya malas, deh, untuk nerusin,” begitu tutur seorang istri pada sahabat karibnya. Lain lagi keluhan seorang suami tentang kebiasaan istrinya yang kurang lebih sama. “Njengkelin enggak, sih, kalau setiap kali tengah bermesraan ia selalu berkelit mau ke kamar kecil? Terus terang, aku jadi suka curiga, lo, jangan-jangan itu cuma taktik dia untuk menghindari kedekatan kami.”

Buang angin alias kentut, bertahak/bersendawa, keinginan buang air kecil atau besar,terang Dr. Ferryal Loetan, Sp.RM., MMR, sebetulnya merupakan “panggilan alam” yang bisa muncul kapan saja, termasuk saat yang bersangkutan tengah berintim-intim.

Hanya saja, lanjut konsultan seks yang juga Kepala Instalasi Rehab Medik RS Persahabatan, Jakarta ini, untuk sebagian masyarakat kota yang sudah berpendidikan dan tahu etika bersopan-santun, biasanya gangguan-gangguan tersebut akan membuat pasangan tersinggung. Misalnya, buang angin.”Menurut etika, kan, sama sekali enggak sopan, apalagi bila dilakukan di depan orang lain, termasuk pasangan. Bukankah sejak kecil kita dibiasakan untuk keluar atau menjauh sebentar saat desakan tersebut muncul,” kata Ferryal. Begitu juga dengan bertahak ataupun menggaruk-garuk bagian tubuh tertentu yang dianggap sebagai daerah “terlarang” menurut ukuran kebanyakan, seperti menggaruk-garuk pantat, buah dada, atau alat kelamin.

Jadi, kendati merupakan proses metabolisme tubuh yang normal, tidak berarti kita lantas bisa bersikap seenaknya. Terlebih kalau memang ingin disebut manusia yang tahu diri sekaligus menghargai etiket atau tata krama bersopan santun. Sama halnya denganngupil, contoh, boleh-boleh saja dilakukan malah dianjurkan, kok, guna membersihkan rongga/lubang hidung dari kotoran-kotoran yang melekat, tapi tidak lantas berarti dilakukan kapan saja dan di mana saja. “Hal-hal seperti itu, kan, bisa dipelajari bagaimana aturannya. Bukan malah cari gampangnya saja kemudian menjadikannya sebagai alasan untuk berkelit atau memaklumi kesalahan diri.”

Toh, sejumlah aturan tadi sudah kita pelajari sejak “sekolah” di TK dalam bentuk-bentuk paling sederhana, seperti duduk yang manis, bagaimana bersikap sopan menghadapi guru dan bergaul dengan teman-teman, enggak boleh berisik saat makan, enggak bolehngupil dan sebagainya. “Semua aturan tadi, kan, mesti kita bawa terus sampai dewasa,” tutur Ferryal

Akan tetapi bila panggilan alam tadi muncul betul-betul tak disengaja atau sama sekali tak terduga, tentu saja pengertian dari pasangan pun amat diharapkan. Akan lebih bagus lagi jika yang bersangkutan pun minta maaf sesegera mungkin. Dengan minta maaf dan mengatakan hal tersebut betul-betul terjadi di luar kontrol biasanya rasa ketersinggungan pasangan akan berkurang. Tentu saja permintaan maaf ini harus dibarengi dengan semacam tekad untuk tidak mengulangi “kesalahan” serupa di lain waktu. Ironisnya, justru yang bersangkutan biasanya menganggap kejadian-kejadian tadi sebagai sesuatu yang lumrah, hingga ia tak merasa bersalah sedikit pun. Atau malah bukan tidak mungkin menyalahkan kondisi/lingkungan dan pasangannya. “Ngapain, sih, gitu aja dipermasalahkan?” Repot, kan?

BUTUH ENERGI TINGGI

Toh, kalau kita hidup sesuai aturan kesehatan, lanjut Ferryal, berbagai interupsi yang bisa bikin malu atau bahkan mengganggu tadi sebenarnya tak perlu terjadi, kok. Kentut, misalnya, kan jelas-jelas merupakan pertanda adanya gas berlebihan dalam lambung, entah akibat perut dibiarkan kosong, salah mengkonsumsi makanan tertentu yang memicu terjadinya gas, atau justru pertanda panggilan ke belakang. Begitu juga dengan bertahak yang umumnya terjadi kala kita “masuk angin” akibat kurang tidur atau kekenyangan akibat makan berlebih dan tak kenal waktu. “Padahal, makan seharusnya mengenal waktu dan makanan pun disantap dalam porsi yang wajar alias tak berlebih.”

Lagi pula, tambah Ferryal, tiap individu seharusnya memiliki sensorship sendiri, di antaranya rasa tak nyaman bila sehabis makan lantas berintim-intim. Itu sebabnya, persiapkan diri betul-betul secara sehat sebelum berintim-intim. Semisal dengan menjaga kondisi tubuh, menghindari makanan yang diyakini bisa menimbulkan timbunan gas di perut seperti ubi atau softdrink.

Bukan berarti kita tak boleh makan sama sekali, lo, menjelang berintim-intim. Apalagi aktivitas hubungan seksual membutuhkan banyak energi dan kecukupan kalori tersebut bisa didapat dari makanan, hingga tak ada salahnya makan dulu sebelum berintim-intim. Tentu saja dengan tetap memperhatikan “aturan” dasar, yakni jangan terlalu kenyang dan jangan pula waktunya terlalu dekat antara sehabis makan dan berhubungan intim. Minimal sediakan tenggang waktu 2-3 jam agar tubuh berkesempatan mencerna makanan menjadi kalori yang dibutuhkan.

Jadi, kata Ferryal, “Sebetulnya aturan mainnya enggak njlimet, kok. Cukup jalani pola hidup sehat.” Di antaranya, hindari makanan-makanan pencetus gangguan dan taati pola makan yang seimbang.

Yang tak kalah penting, pesan Ferryal, amat dianjurkan untuk buang air kecil dan bersih-bersih diri dan alat kelamin sebelum berintim-intim. Semisal dengan mandi bersama sebagai salah satu upaya foreplay. Kalau kebiasaan ini sudah dibangun biasanya masing-masing pihak tak perlu lagi melakukan interupsi selagi berintim-intim. Kalaupun masih juga terjadi, dorongan untuk sebentar-sebentar ke belakang lebih sering dijumpai pada wanita yang posisi kandungannya menekuk ke depan. Pada mereka inilah, posisi-posisi tertentu semisal dog style akan mengakibatkan kandung kemih semakin terdesak, hingga memunculkan rasa ingin kencing meski sebenarnya tidak. Kalau memang sebelumnya sudah kencing, keinginan untuk ke belakang tadi tentu tak harus dituruti karenahanya akan mengganggu saat istimewa bersama suami tercinta.

Dorongan buang air kecil ini jarang terjadi pada pria. Sebab, saat ereksi, klep yang menuju kandung kencing tertutup secara otomatis. Sementara air seni dan air mani dikeluarkan melalui jalan yang sama. Jadi, agak mustahil bila saat penetrasi tiba-tiba suami minta ijin ke kamar kecil. Tak berlebihan bila interupsinya itu perlu kita waspadai sebagai upayanya untuk menutupi kegugupannya atau hal lain. Lain hal kalau kandung kencingnya memang penuh lantaran tak dikosongkan sebelum berintim-intim tadi.

LIBIDO MENURUN

Jelas, aku ferryal, interupsi semacam itu, baik dilakukan oleh suami maupun istri, akan sangat mengganggu. Soalnya, bisa jadi pasangan sudah mencapai puncak dan jika tiba-tiba berhenti tentu akan membuat kecewa. Belum lagi kalau harus memulai dari awal. “Jadi, meski kelihatan sepele, dampaknya complicated karena terkait dengan psikis,” tegas Ferryal. Pada suami, misal, “Bisa langsung mengalami penurunan libido, lo!” Dorongan seksual yang menurun ini bisa terlihat dalam bentuk ereksi penis yang terganggu: mulai dari penis yang lemas, berkurang ketegangannya, sampai tak mampu bangun lagi.

Perasaan kecewa ini biasanya akan terakumulasi atau kian bertumpuk bila tak dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya. Itu sebabnya, untuk menghindari penumpukan rasa kecewa semacam itu, gangguan-gangguan kecil selagi berintim-intim sebaiknya tak boleh terjadi. Apalagi sampai berulang bahkan berkembang jadi kebiasaan. Bila dibiarkan, bentuk-bentuk interupsi tadi bisa memunculkan gangguan psikologis yang kemudian berujung jadi masalah-masalah seksual semisal prematur ejakulasi atau malah impotensi. Masalah serupa juga bisa dialami wanita, berupa sulit mencapai puncak kenikmatan/anorgasme atau malah dingin alias frigid.

Untungnya, gangguan-gangguan yang muncul secara temporer tadi bukan merupakan sesuatu yang tak bisa diperbaiki. Asalkan secepat mungkin ditangani agar tak sampai berkembang jadi gangguan-gangguan serius. Caranya, bangun sikap terbuka. Artinya, kalau memang bukan karena ketidaksengajaan, mengapa tidak dibicarakan. Semisal, “Jangan begitu, dong, Pa. Mama jadi jijik dan kesal, lo, kalau Papa sembarangan buang angin begitu.” Menurut Ferryal, keterbukaan semacam itulah yang terpenting karena tanpa dikomunikasikan, jangan harap yang bersangkutan akan tahu dengan sendirinya bahwa ulahnya tersebut membuat pasangan tersinggung bahkan menurunkan libido. Jangan salahkan pula bila yang bersangkutan tak tahu dirinya bersalah, hingga lain kali tanpa beban rasa salah sedikit pun ia akan mengulanginya begitu saja.

CARI WAKTU PENGGANTI

Jika benar gara-gara ulah salah satu pihak yang tak sopan tadi aktivitas berintim-intim jadi terganggu, Ferryal menyarankan, untuk mengakhirinya saja saat itu juga meski masing-masing pihak mungkin sama-sama kecewa. “Soalnya, kalaupun diteruskan tak akan lagi memberi kepuasan bagi kedua belah pihak seperti yang diharapkan semula. Sia-sia saja, kan? Lagi pula mana mungkin, sih, bisa diteruskan kalau salah satu pihak mendadak drop/kehilangan gairah?” misal. Dengan catatan, harus segera pula dicarikan waktu pengganti yang dirasa lebih pas dengan persiapan yang lebih matang.

Cara lain yang bisa ditempuh adalah menyiasati keintiman yang terpaksa berakhir tadi dengan mengubah bentuk kemesraan: dari aktivitas berintim-intim menjadi sekadar menunjukkan kasih sayang lewat sentuhan atau pijatan. Sebabnya, untuk mengembalikan libido yang menurun, tegas Ferryal, butuh waktu relatif lama yang berbeda untuk tiap pasangan.

Dalam arti, untuk pasangan pengantin baru, misal, mungkin hanya diperlukan tenggang waktu 1-2 jam saja. Sementara pasangan berumur yang telah menikah belasan tahun bisa4-5 hari atau malah lebih. Tentu saja selama tenggang waktu tersebut, pasangan yang bikin ulah bisa saja ekstra memberi perhatian untuk mengurangi kadar ketersinggungan suami/istrinya.

TAK MENYINGGUNG

Sebaliknya, ada juga interupsi-interupsi yang muncul tapi tak menimbulkan gangguan psikis, semisal gangguan-gangguan yang muncul lebih berupa keluhan fisik semisal kram atau pegal-pegal/nyeri otot. Biasanya gangguan-gangguan ini tak membuat pasangankesalkarena dianggap tak berdampak merugikan atau menyinggung perasaan atau harga diri pasangan. “Kalau pasangan ngeluh pegal, masak iya, sih, kita tersinggung?” Tak heran jika salah satu mengeluhkan hal semacam itu biasanya pasangan justru akan menunjukkan perhatian dengan cara mengelus-elus bagian tubuh yang sakit tadi.

Lain hal kalau di antara suami istri rasa saling menyayangi justru sudah surut ke batas minimum, hingga aktivitas berintim-intim lebih dianggap sebagai kewajiban suami istri belaka. Lagi pula gangguan fisik seperti itu biasanya akibat dari yang bersangkutan kurang berolahraga atau coba-coba posisi tertentu yang tak sesuai dengan kondisi tubuhnya.

Namun, sekali lagi, apa pun masalahnya dan apa pun penyebabnya, Ferryal menyarankan untuk sesegera mungkin membicarakannya dengan pasangan agar masalahnya semakin cepat terselesaikan dan tak jadi berlarut-larut.

Tergantung Latar Belakang Kehidupan

Gangguan-gangguan kecil ini, kata Ferryal, bila terjadi di kalangan pedesaan atau lingkungan yang kurang mempedulikan nilai-nilai kesopanan/etika, bukan tidak mungkin malah dijadikan joke atau bahan guyonan. Semisal dengan saling balas kentut. Jadi, tegasnya, “boleh” atau tidaknya hal-hal yang mengganggu tadi dilakukan memang sangat tergantung pada tingkat sosial dan lingkungan tempat masing-masing individu dibesarkan, serta sejumlah aturan sopan-santun yang mereka pelajari.

Mereka yang dididik sedemikian rupa secara ketat dalam tata krama dan sopan santun tingkat tinggi biasanya akan sulit memaklumi “kesalahan” pasangan. Mereka inilah yang sebetulnya rentan dihinggapi stres tingkat tinggi karena umumnya tak mampu mengutarakan kejengkelan atau kemarahan/kekecewaannya pada pasangan.

Jangan Jadi Tameng

Ferryal pun tak menutup mata bila gangguan-gangguan kecil selagi berintim-intim tadi bisa saja memang direkayasa sedemikian rupa oleh yang bersangkutan sebagai tameng untuk menghindari kedekatan dengan pasangan.

Akan tetapi Ferryal amat menyayangkan kalau hal semacam itu benar terjadi. “Buat apa, sih? Itu, kan, sama saja dengan memanipulasi diri. Kalau memang sedang enggan atau tak siap melakukan aktivitas berintim-intim, kenapa tak berterus terang mengatakannya pada suami/istri? Toh, bisa dicarikan waktu di mana mereka berdua betul-betul siap.”

Pertimbangannya, aktivitas yang satu ini memang menuntut kesiapan sempurna, mulai dari suasana lingkungan yang kondusif sampai suasana hati individu yang terlibat. Dengan persiapan yang matang diharapkan aktivitas berintim-intim antara suami istri tadi betul-betul bisa menyenangkan kedua belah pihak. Ini akan jauh lebih berkualitas hasilnya ketimbang yang dilakukan asal-asalan.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 122/15 Juli 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: