GARA-GARA SEKS, RUMAH TANGGA BERANTAKAN

28 Feb

Ejakulasi dini pada suami dan tak bisa orgasme pada istri merupakan dua masalah seks terbesar yang bisa memicu terjadinya perceraian.Dari sekian banyak faktor penyebab kekecewaan dalam perkawinan yang bisa berakhir dengan perceraian, sekitar 12 persennya disebabkan masalah seks. Terhitung kecil memang, tapi tak berarti boleh dianggap remeh. Pasalnya, masalah seks yang dialami suami-istri sebenarnya cukup banyak, lebih dari 66 persen. Mencoloknya perbedaan angka ini, menurut Prof. Dr. dr. J. Alex Pangkahila, M.Sc., karena banyak pasangan yang tak mempermasalahkannya atau malah mampu meredamnya, hingga tak merasa perlu meributkannya.

Secara umum, terang seksolog dan peneliti masalah seksual yang berdomisili di Denpasar, Bali ini, masalah seksual pada pria maupun wanita, dibedakan dalam tiga kelompok, yakni keluhan seksual, disfungsi seksual, dan penyimpangan seksual. Namun dari ketiganya, yang kerap jadi persoalan adalah disfungsi seksual. Pada pria, biasanya soal gangguan ejakulasi, gangguan ereksi, menurun atau bahkan hilang gairah seksual, dan muncul kejang saat berintim-intim. Sedangkan pada wanita, yakni tak mengalami orgasme (disorgasm), frigiditas atau menurunnya daya tarik seksual, nyeri saat berhubungan (dyspareunia), dan vaginismus.

Dari kasus-kasus yang ditangani Alex, ejakulasi dini dan disorgasm menempati urutan pertama, yakni sekitar 80 persen. Banyak, lo, istri yang mengeluh suaminya “peltu”(nempel metu) alias ejakulasi dini hingga istri tak orgasme. “Bila sesekali mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau terus-terusan tentu akan menimbulkan kejengkelan dan kekecewaan yang bisa berujung pada ketidakharmonisan rumah tangga.” Celakanya, bukan tak mungkin istri yang tak orgasme saat berintim-intim dengan suaminya, lantas merasa penasaran hingga mencari orang lain yang mampu memuaskannya. Kalau sudah begitu, bisa dibayangkan, bukan, apa jadinya dengan perkawinan mereka?

HARUS DIBICARAKAN

Memang, diakui Alex, kehidupan seks merupakan salah satu faktor penentu keharmonisan perkawinan. Namun begitu, ketakharmonisan seksual tak harus selalu berakhir dengan perceraian. “Asalkan keduanya mau mawas diri, saling memberi masukan, sama-sama berusaha memperbaiki dan melatih diri untuk meningkatkan kemampuan seksualnya, maka perceraian bisa dihindarkan.” Itu sebab, anjurnya, jangan menyimpan masalah berlarut-larut hingga jadi bertumpuk atau pelik dan sulit terselesaikan. “Bila dirasa tak mampu menyelesaikannya sendiri, jangan segan minta bantuan ahli semisal konsultasi dengan psikolog atau psikiater, atau konseling di pusat konsultasi seksologi atau keluarga.”

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Universitas Udayana, Denpasar, ini, keluhan seksual apa pun harus dibicarakan bersama dan pasangan pun dituntut pengertiannya. Menghadapi suami “peltu”, misal, istri mesti panjang sabar dan betul-betul bersikap dewasa. Di antaranya tak boleh mengeluh, apalagi memojokkan atau menyalahkan dan melecehkan. Soalnya, reaksi negatif yang ditunjukkan istri akan makin memperparah keluhan yang dialami suami, sekalipun perasaan marah dan jengkel yang muncul sebetulnya wajar-wajar saja. Suami tak bisa melatih diri tanpa toleransi dan dorongan semangat istri. Jadi, partisipasi istri dalam proses penyembuhan gangguan seksual yang dialami suaminya teramat penting.

BUAT JADWAL

Sebetulnya, lanjut Alex, untuk meredam terjadinya masalah seksual relatif sederhana, kok. “Bicarakan saja secara empat mata antara suami-istri, kapan sempatnya dan apa yang diinginkan masing-masing.” Bila sudah disepakati mengenai waktunya, misal, siapkan betul-betul untuk menyongsong momen penting itu, jangan cuma sambil lalu. “Lo, wong, mau ‘pertandingan’ besar, kok, enggak disiapkan dengan baik? Ya, bagaimana hasilnya bisa prima?” Persiapan yang betul, maksudnya dari foreplay sampai orgasme dan afterplay. Soalnya, aktivitas hubungan itu sendiri (intercourse) hanya sekitar 5 persennya, sebagian besar justru perangsangan sensual yang merupakan keindahan dalam kehidupan seksual suami-istri. Nah, bila pengalaman tersebut tak indah, semisal karena suami “peltu”, besar kemungkinan kali berikutnya keluhan serupa dari istri pasti lebih parah, hingga akhirnya si istri jadi enggan atau malah frigid alias dingin.

Selain itu, tambah Alex, kitalah yang mesti mengatur, termasuk menjadwalkan aktivitas seks pada hari-hari tertentu, bukan malah sebaliknya, seks yang mengatur kita. Tak perlu khawatir penjadwalan semacam itu bisa menimbulkan kebosanan, justru yang tak beraturanlah yang sebetulnya merusak. Jadi,pesannya, “cari waktu kapan istri tak sibuk dan suami tak terlalu lelah. Sedapat mungkin hindari kerja berat yang menguras energi di hari-hari yang telah disepakati tadi.” Jikapun tiba-tiba mood buruk atau ada gangguan teknis yang bersifat mendesak, boleh-boleh saja hubungan intim ditunda atau disiasati dengan cara lain. Bukankah berintim-intim tak identik dengan hubungan kelamin dan tak pula harus berakhir dengan orgasme? Yang penting, hubungan tersebut dilakukan tanpa unsur paksaan dan bisa memuaskan kedua belah pihak. Iya, kan?

Penyebab Utama Kekecewaan Dalam Perkawinan

Dari penelitian Alex, masalah seks menempati urutan ke-4 sebagai penyebab utama kekecewaan dalam perkawinan yang bisa berakhir dengan perceraian. Justru dominasi pasanganlah yang menempati urutan pertama (27 persen). Bukankah suami/istri yang mendominasi hubungan biasanya tak bisa menerima penolakan begitu saja? Termasuk kala dia menginginkan berintim-intim pun, pantang ditolak, hingga kemarahan pun amat mudah dipicu begitu dirinya ditolak. Padahal, hubungan intim yang tak lagi bisa dinikmati dan memberikan kenikmatan pada kedua belah pihak jelas merupakan masalah tersendiri. Itu sebab, dalam perkawinan harusnya ada kebersamaan dan empati di antara suami-istri. “Tanpa empati, kita hanya tahu apa yang kita rasakan tanpa pernah mencoba tahu apa yang dirasakan pasangan.”

Itulah mengapa, penolakan dari pasangan juga termasuk salah satu penyebab utama kekecewaan dalam perkawinan (urutan ke-2, sekitar 17 persen). “Ini bisa dimengerti, karena penolakan, terutama dari istri, masih dianggap sebagai penghinaan yang amat menjatuhkan harga diri suami sebagai laki-laki.” Tak hanya itu, penolakan juga hanya akan mempersulit suami-istri untuk duduk bersama, sharing dan menegakkan demokrasi dalam keluarga. Butuh perjuangan untuk bisa berlapang dada menerima penolakan pasangan, di antaranya keluasan wawasan dan kepribadian yang makin matang.

Urutan berikutnya, ketakpedulian dan ketergantungan pasangan (sekitar 14 persen), baru kemudian masalah seks (ke-4). Faktor lain adalah kebersamaan (12 persen), gangguan dari keluarga besar (11 persen), perilaku pasangan (7 persen) semisal berlaku kasar atau pencuriga.

Dampak Pada Si Kecil

Bila keluarga berantakan, apa pun sebabnya, pasti berpengaruh buruk buat anak. Setidaknya anak akan bingung dan broken home. Bisa saja ia trauma, lalu setelah dewasa jadi takut berkeluarga. Yang jelas, kepercayaan anak pada orang tua akan hilang atau menurun karena di mata balita, tutur Alex, perceraian orang tua merupakan contoh konkret yang amat buruk. Sementara suasana “mengambang” lantaran tak bercerai tapi tak hangat juga tetap jadi bumerang buat anak. Untuk memperbaikinya, tentu harus dengan memperbaiki hubungan suami-istri itu sendiri. “Enggak mungkin, dong, bisa berpura-pura terus. Suatu saat, kan, pasti ‘terlepas’. Lagi pula, anak pintar dan kritis dalam berpikir, lo.”

Tak Boleh Ngantuk Atau Lelah

Menurut Alex, untuk mendapatkan hubungan suami istri yang memuaskan dan dinikmati sepenuhnya oleh kedua belah pihak, ada sejumlah syarat kesehatan yang mesti dipenuhi. Di antaranya tak boleh mengantuk dan lelah. Itu sebab, amat dianjurkan untuk cukup istirahat dan menjaga kebugaran jasmani yang baik dengan berolahraga teratur 3 kali seminggu. Bila kondisi tubuh payah/tak memenuhi persyaratan tersebut, tapi tetap dipaksakan agar ada hubungan seksual, besar kemungkinan yang muncul hanyalah masalah demi masalah semisal sama-sama terpaksa, sikap ogah-ogahan yang membuat jengkel dan akhirnya menurunkan gairah seksual, sampai ejakulasi dini karena suami tak mengalami ereksi total.

Jangan dikira masalah tak akan muncul kalau cuma salah satu yang lelah sementara lainnya fresh, lo. Bukankah saat pasangan yang fresh menuntut dan pasangan yang loyo tak sanggup memenuhi, maka yang muncul hanyalah ketakberdayaan dan perasaan jengkel? Nah, apalagi kalau sakit-sakitan terus, kapan mau berhubungan? Itu sebab, tegas Alex, usia berapa pun, kesehatan dan kebugaran jelas penting dan mesti dijaga.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 110/23 April 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: