HATI-HATI SI KECIL “HILANG” DI MAL

28 Feb


Salah kita juga kalau anak sampai “hilang” kala diajak jalan-jalan. Bekali ia dengan berbagai informasi yang dibutuhkan.

“Dasar anak nakal! Mama, kan, sudah bilang jangan pergi jauh-jauh! Tuh, rasain,kamu jadi bingung sendiri, kan? Untung ketemu Mama, gimana kalau enggak?”

Rentetan “ceramah” seperti itu, bilang psikolog Sritje Hikmat, hanya akan meruntuhkan kepercayaan anak pada dirinya maupun orang tua. Apalagi bila dilakukan di depan orang banyak dan disertai cubitan, bentakan atau tindakan mengecilkan lainnya. Padahal, bukan kesalahan si anak kalau ia sampai tersesat, melainkan akibat kelalaian orang tua. “Bukankah orang tua tak jarang kelewat asyik sendiri dengan kesibukannya berbelanja hingga lupa pada anaknya?” ujar alumnus Fakultas Psikologi UNISBA (Universitas Islam Bandung) ini.

Jadi, jangan si kecil malah “disemprot” habis-habisan, ya, Bu-Pak. Menurut psikolog yang akrab disapa Itje ini, jauh lebih bijaksana bila kita menenangkan anak, mengajaknya ke sudut sepi sambil mendekap dan membesarkan hatinya penuh kelembutan. Pengalaman manis ini membuat anak merasa dihargai, yang akan membantunya keluar dari situasi tak mengenakkan sesegera mungkin.

KEHILANGAN RASA AMAN

Buat anak, jelas Itje, tersesat merupakan pengalaman tak mengenakkan. Bagaimana reaksinya kala tersesat, berkait erat dengan kepribadiannya. “Anak pemalu akan mudah panik dan menangis sejadi-jadinya, hingga kurang mampu menjalin kerja sama dengan orang yang menemukannya.” Begitu juga anak “kuper” alias kurang pergaulan akibat selalu “dikurung” di rumah oleh orang tua yang overprotective atau kelewat melindungi. Sementara anak yang luwes bergaul, umumnya lebih tenang menghadapi kondisi tersebut. “Ia lebih jelas memberi informasi mengenai jati dirinya, hingga memudahkan orang lain mempertemukannya dengan orang tuanya.”

Sementara dampaknya yang paling nyata adalah sikap ekstra hati-hati dan menarik diri. Sampai-sampai, ia tak mau lagi diajak ke mana-mana. Namun seberapa parahnya, tergantung banyak aspek, salah satunya, kemampuan beradaptasi dan kesiapan mental si anak. “Anak yang mudah bersosialisasi relatif lebih mudah menghilangkan dampak buruk dibanding anak pemalu atau sulit beradaptasi. Kendati kemampuan ini pun harus berjalan sinkron dengan kemampuan lain semisal kemampuan menghapal informasi atau pengetahuan yang diperolehnya, dan kematangan emosional yang memungkinkannya mampu bersikap lebih tenang.”

Tempat si anak tersesat juga ikut berpengaruh. Jika tempatnya kerap atau minimal pernah dikunjungi, maka anak tak sepanik saat ia merasa asing dengan tempat itu. Namun begitu, di mana pun tempatnya, menurut Itje, pengalaman tersesat memberi dampak yang sama-sama buruk, yaitu menghilangkan atau menurunkan rasa aman dan nyaman. Terlebih bila ia terpisah cukup lama dari orang tuanya dan sikap orang-orang yang menemukannya juga tak bersahabat, semisal menyalah-nyalahkan orang tua, “Gimana, sih, orang tuanya! Anak sekecil ini, kok, bisa kesasar!” Sikap “heboh” begini hanya akan memunculkan rasa bersalah pada anak bahwa gara-gara dirinyalah semua jadi berantakan.

Itu sebab, tegas Itje, siapa pun tak berhak menyangkal perasaan kecut/takut pada anak, apalagi melecehkannya, “Masak gitu aja nangis, sih. Pengecut, ah!”, misal. Kita pun tak berhak memaksa anak bila ia kemudian menolak diajak pergi lagi. Yang harus kita lakukan adalah menunjukkan sikap empati. Dengan begitu, kita pun bisa menjadikan pengalaman tersebut sebagai ajang untuk melatih kecerdasan emosional anak. “Individu yang memiliki kecerdasan emosional, umumnya tak berlarut-larut dalam kesedihan, hingga kondisinya cepat pulih dan pengalaman tak enaknya segera bisa dilupakan,” jelas Itje.

BEKALI INFORMASI

Untuk si prasekolah, terang Itje, kita bisa memberikan pengertian karena kemampuannya sudah makin komplet, hingga mampu mencernanya. Beda dengan si batita, mau tak mau, kita harus selalu mengikuti ke mana ia bergerak, meski hanya dengan ekor mata. Tapi jangan lantas kita “mencencang”nya, lo, hanya gara-gara takut ia “hilang”. “Tindakan ini sangat tak manusiawi!” tandas Itje. Bila memang keberatan membawa anak, menurutnya, lebih baik tinggalkan ia di rumah dengan orang yang bisa diandalkan. Jika tak mungkin, “titipkan pada kerabat atau tetangga bila memang harus pergi tanpa mengikutsertakan anak. Daripada anak dibawa tapi tak bisa bebas bergerak, tak ubahnya seperti kerbau dicocok hidungnya. Kemandirian anak pun jadi tak berkembang karena tak ada pilihan.”

Kita pun tak dibenarkan menakut-nakuti anak, “Nanti ada penculik, lo! Jadi, kamu jangan jauh-jauh dari Ayah dan Bunda, ya!”, misal. Nasihat ini, menurut Ijte, hanya akan membuat anak makin ciut dan menempel terus pada orang tua. “Ia jadi sangat tergantung.” Yang terbaik, lanjutnya, asah keterampilan anak mengungkapkan perasaannya sambil menggali argumentasinya. Misal, “Kalau banyak orang begini, apa iya kamu bisa ketemu Ayah dan Bunda kalau cuma menangis atau teriak-teriak?” Dengan begitu, anak selalu terlatih untuk berpikir mencari solusi.

Tentu sebelumnya, ia perlu dibekali berbagai informasi. Sejak anak mulai bisa bicara pun sudah bisa dilakukan. Sambil melatih kefasihannya melafalkan kata-kata dan memperbanyak kosa katanya, ia bisa diarahkan untuk belajar menyebut siapa namanya dan nama ayah-ibunya, serta alamat rumahnya. Cuma batasi pada informasi penting-penting saja alias tak usah kelewat njlimet mengharuskan anak bisa menyebut RT/RW, nomor telepon dan sejenisnya yang hanya akan membuatnya bingung.

Selain itu, ajarkan/kenalkan pula tentang apa, siapa, dan di mana tiap kali anak diajak ke tempat baru. Saat diajak ke toko buku, misal, tunjukkan padanya, “Kita sekarang mau ke toko buku Gramedia. Ini namanya tempat parkir dan itu pintu masuk ke toko. Kakak lihat, kan, orang yang berseragam biru putih di sana? Itu namanya Pak Satpam.” Kemudian, setibanya di dalam toko, tunjukkan pula, “Itu namanya kasir, tugasnya melayani pembeli yang mau membayar,” misal. Ia pun perlu diajak bertanya kepada petugas di bagian informasi atau customer service, misal. Dengan begitu, selain kita memupuk keberaniannya, rasa ingin tahunya pun bisa terpuaskan.

UJI KEMAMPUAN ANAK

Sekalipun saat itu anak batita belum bisa menangkap seluruh informasi yang kita sampaikan, menurut Itje, tak perlu khawatir. Setidaknya, pengertian-pengertian itu sudah masuk dalam memorinya dan diharapkan akan makin melekat bila kita rajin mengasahnya dengan mengulanginya di lain waktu. Bukankah bila sudah sering berkunjung ke tempat tertentu, anak akan hapal di mana pintu gerbang, tempat parkir, toilet, dan tempat-tempat strategis lainnya.

Kemudian, sesekali ujilah kemampuan anak, “Kita di mana, ya, Kak?” atau, “Kalau mau pulang, kita mesti belok atau lurus, nih, Dek?” Kendati saat itu ia mungkin belum tahu konsep kanan dan kiri, latih ia untuk menunjukkan arah yang benar karena ingatannya tentang hal-hal semacam itu sebetulnya sudah ada tapi masih terbatas dan sangat sederhana.

Ia pun perlu diyakinkan bahwa ia mampu mengatasi kesulitan. “Sedini mungkin biasakan anak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Anak kecil, kan, sering frustrasi jika mainannya sulit, ‘Aduh susah, Ma. Aku enggak bisa,” sambil membanting-banting mainannya. Nah, yakinkan, ‘Kamu pasti bisa,’ sambil berikan dampingan, hingga ia pun belajar banyak.” Bila kebiasaan ini diberlakukan dalam berbagai bidang, dari mandi, ganti pakaian, makan, merapikan mainan, dan lainnya, akan membantu memupuk rasa percaya diri anak.

Buat si prasekolah, kita juga bisa memberi kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri, tapi tetap pesankan agar tak jauh-jauh dari orang tua. Jadi, hanya terpisah sekian meter tapi setiap beberapa menit, kita tetap mesti melongok keberadaannya. Latihan ini akan menguatkan kemandirian dan rasa percaya dirinya. Tapi ingat, jangan dilepas sama sekali. “Dunia ini, kan, begitu beragam dan kita tak tahu persis mana orang yang baik dan mana pula yang bermaksud buruk.” Jadi, sekalipun anak sudah dibekali dengan berbagai informasi, tegas Itje, jangan pernah beranggapan, “Ah, dia, kan, sudah tahu namanya, nama bapaknya, dan alamatnya. Enggak apa-apa, deh, sesekali hilang,” misal.

“Ingat, secara fisik, anak balita tak bisa berbuat apa-apa bila tiba-tiba ada orang berniat jahat yang merangkulnya dan mengiming-iminginya permen atau mainan,” bilang Itje. Itu sebab, kita tetap harus mengawasinya. Selain, anak pun perlu diajarkan bagaimana menghadapi orang yang bermaksud jahat padanya. Misal, “Kalau kamu diajak pergi oleh siapa pun, harus bilang dulu sama Ayah atau Bunda, ya.”

Sengaja Nyasar

Menurut Itje, ada pula anak yang sengaja menghilangkan diri hanya lantaran ingin “menikmati” kepanikan orang tuanya mencari-cari dirinya. Bila demikian, tak apa-apa kita biarkan ia sesekali nyasar, tapi tetap kita awasi. Misal, dengan bersembunyi di tempat yang memungkinkan kita memantau berbagai ekspresinya. Nah, di saat terlihat sedih dan nyaris putus asa mencari-cari, itulah saatnya kita keluar dari persembunyian dan ia tetap harus dinasehati baik-baik agar pengalaman itu begitu merasuk dan membuatnya kapok untuk mengulangi.

Ulah begini, bisa juga ditujukan untuk mengukur kemampuan dirinya. Buat anak sukses besar, lo, kalau bisa menemukan orang tuanya kembali setelah terpisah.

Sejumlah Langkah Yang Perlu Dilakukan

Berikut sejumlah tip dari Itje:

*Tiap kali mau mengajak anak ke tempat tertentu, beri gambaran mengenai tempat itu sendiri: seberapa jauh, naik apa ke sana dan bagaimana situasinya, apakah cukup lengang atau justru penuh sesak.

* Tekankah padanya untuk tetap bersikap tenang alias tak panik tiap kali menghadapi masalah, termasuk kala tersesat.

*Biasakan anak berpikir alternatif, “Sebaiknya aku tanya ke siapa, ya? Pak Satpam atau Tante Kasir?”

* Biasakan anak untuk belajar membina kerja sama dengan orang yang tepat di saat yang tepat pula. Dengan begitu ia senantiasa waspada dengan tak bertanya pada sembarang orang.

* Ajarkan/kenalkan anak tentang posisi bawah-atas, depan-belakang, dan kiri-kanan. Hingga, kala kita berpesan, “Bunda ke depan dulu, ya,” ia tak lagi bingung. Apalagi bentuk mal dan pertokoan seringkali serupa, hingga kita kerap sulit membedakan mana belakang dan depan maupun membaca arah mata angin.

* Beri kepercayaan dan wewenang pada anak, “Kita sudah selesai belanja, sekarang tolong Kakak bayarkan dulu ke kasir,” sambil tetap diawasi.

* Bila perlu, pakaikan label nama tapi jangan demonstratif yang hanya akan mengundang orang berniat kurang baik. Jadi, tempatkan agak tersembunyi, semisal di balik saku baju/celana atau di tasnya.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 111/30 April 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: