HUBUNGAN INTIM SEBAGAI “OBAT TIDUR”

28 Feb


Salah satu manfaat aktivitas ini memang “obat tidur” sekaligus pengusir lelah dan stres. Tapi jangan dijadikan kebiasaan, lo.

“Ma, ayo, dong, Papa lagi enggak bisa tidur, nih,” begitu rayuan seorang suami pada istrinya. Di lain pihak, tak jarang pula kita mendengar keluhan para istri yang merasa diperalat oleh suaminya dalam urusan yang satu ini. Semisal, “Keterlaluan banget, sih, suamiku! Masak setiap kali dia lagi stres, aku mesti melayaninya berintim-intim?”

Menurut Dra. Tiwin Herman, MPsi., menjadikan aktivitas seksual sebagai sarana pelepas ketegangan atau semacam tension release memang bukan cerita baru. Sebab, buat banyak orang, “resep” ini kerap dipakai saat pikiran sedang tegang alias stres.

MANIFESTASI KASIH SAYANG

Seharusnya, lanjut Tiwin, tension release bisa juga diwujudkan dalam bentuk lain semisal olahraga atau aktivitas lainnya. “Tak heran kalau istri kemudian merasa diperalat bila hubungan intim semata-mata dijadikan sarana penghilang stres yang paling mudah, murah, dan aman.”

Padahal idealnya, lanjut Operation Director Nara Yasa – Executive Search & Achievement, “Hubungan intim harus memiliki makna luhur. Yakni, merupakan manifestasi kasih sayang yang bersifat intens di antara suami-istri. Artinya, ada ikatan emosional yang mendalam di antara mereka. “Selain itu, terkandung pula makna cinta yang di dalamnya tercakup unsur sharing (berbagi), caring (menaruh peduli), helping(menolong), dan listening (mendengarkan).” Celakanya, imbuh Tiwin, kenyataan yang sehari-hari ditemui, tak selalu seperti yang diidealkan.

KETIDAKSENGAJAAN

Tetapi jangan keburu cemas, Bu-Pak. Setiap pasangan bisa, kok, mendapatkan hubungan intim yang berkualitas seperti gambaran ideal. Tentu saja asal memenuhi syarat, yakni kerja sama. “Bukankah agar loving, sharing, caring, helping, dan listening-nya tercapai, harus ada kerja sama yang baik antara suami dan istri, sekaligus kesediaan saling memahami kebutuhan dan kondisi pasangannya?” Agar mampu melakukan hubungan seksual semestinya, wanita memerlukan kondisi emosi tertentu. Setidaknya, keterlibatan maupun kedalaman emosional. “Tanpa ada unsur keterlibatan emosi, rasanya mustahil wanita menikmati apalagi mencapai puncak kenikmatan.” Sebaliknya, struktur tubuh pria memungkinkannya melakukan hubungan seksual dan mencapai orgasme di mana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apa saja. “Bahkan tanpa bicara soal kodrat pun, harus dipahami bahwa kebutuhan seksual pria memang lebih tinggi dibanding wanita.”

Besar kemungkinan, ungkap Tiwin, kebiasaan menjadikan hubungan intim sebagai “obat tidur” atau pengusir stres tadi berawal dari ketidaksengajaan. Artinya, saat mengalami ketegangan yang memuncak, suami merasakan bahwa hubungan seksual amat efektif untuk melepaskan ketegangannya. Maka lewat sarana yang sama pula ia akan mencobanya di lain waktu. Begitu seterusnya, hingga berkembang jadi kebiasaan yang seolah mendarah daging.Celakanya, aktivitas tersebut lantas jadi tak berkualitas karena hanya merupakan tuntutan dari pihak suami, sekadar memenuhi kebutuhannya sendiri. Sementara semua aspek komunikasi yang harus mewarnai hubungan suami-istri jadi terabaikan.

TERBELENGGU MITOS

Yang lebih parah lagi, cukup banyak mitos yang membuat para istri melekat pada stereotipe-stereotipe jaman baheula. Yakni, sosok wanita yang hanya boleh berkutat di dapur, sumur, dan kasur. Padahal, mitos-mitos tersebut juga kerap menjebak pasangan suami-istri dalam pandangan-pandangan keliru mengenai hubungan intim itu sendiri. Di antaranya yang membuat istri menjalani perannya semata-mata sebagai suatu keharusan atau kewajiban.

Belum lagi anggapan/mitos bahwa perempuan harus “siap pakai”, tak boleh minta, dan mesti bersikap pasif. Tak heran kalau secara struktural lantas memposisikan istri sebagai warga kelas dua dalam urusan yang satu ini.

Sementara berdasarkan mitos itu pula istri yang terkesan aktif dan agresif di ranjang lantas dihujani kecurigaan-kecurigaan. “Lo, kok, istriku sudah lihai dan pengalaman begitu? Jangan-jangan dia… dan seterusnya.” Buntut-buntutnya,apa lagi kalau bukan percekcokan yang membuat si istri semakin dilecehkan karena dianggap bekas wanita nakal atau sejenisnya. Sementara istri yang terjebak dalam mitos yang mengharuskannya manut pada pria, pasti akan selalu bersedia melayani ajakan suaminya tanpa mempedulikan kondisinya sendiri. “Biar saja, deh. Yang penting suamiku puas dan enggak main di luaran,” begitu mereka berdalih.

Di sisi lain, istri justru harus mengekang keinginan/dorongan seksualnya. Nah, kalau itu yang dijadikan kebiasaan, jangan salahkan jika kualitas hubungan suami-istri jadi dingin, tawar, serta jauh dari gambaran ideal. Suami hanya akan menganggap istrinya sebagai ibu dari anak-anaknya dan bukan kekasih atau mitra sejajarnya.

Dengan begitu, penghargaan terhadap pasangan pun berkurang. Di lain pihak, istri pun bertahan dengan sikap dinginnya bak batang pohon pisang yang tak perlu memberi respon. Runyam, kan? Padahal, untuk menjembataninya, tak susah-susah amat, kok. Saran Tiwin, mulailah dengan hal-hal konkret semisal kesediaan dari suami-istri untuk menyingkirkan mitos-mitos tadi. Termasuk mitos bahwa berhubungan intim hanya boleh di kamar tidur dan mesti menunggu anak-anak tertidur pulas.

Mitos-mitos semacam itu, lanjutnya, bisa disiasati dengan berbagai pemikiran kreatif untuk menciptakan variasi dalam berhubungan. Semisal dengan mengenalkan anak untuk belajar memberi privacy waktu pada orang tuanya untuk berdua-duaan. “Lo, kalau menunggu anak tidur pasti keburu mengantuk dan kehilangan selera, dong.”

TOLAK DENGAN HALUS

Lalu bagaimana jalan tengahnya agar si istri tak merasa dianggap sebagai alat, sementara suami pun tak memperalat istrinya? “Harus ada kesadaran dari kedua belah pihak untuk meluruskan ketimpangan akibat mitos-mitos tersebut.”

Dari pihak istri, misalnya, dengan mengatakan, “Tapi jangan sekarang ya, Mas. Aku capek banget, nih. Gimana kalau besok pagi aja.” Tentu saja, istri harus memegang janji. Artinya, besok pagi, apa pun adanya, jangan pernah cari-cari alasan untuk berkelit. Ingat, Bu, pesan Tiwin, yang kita perlukan adalah kerja sama. “Kalau suami sudah bersedia menunda, kita wajib menghargainya, bukan?”

Sebagai ganti hubungan seksual yang tertunda tadi, contohnya, tawarkan kehangatan lewat cumbuan ringan semisal pelukan. Celakanya, buat suami, batasan semacam itu sering dirasa tak mungkin karena sentuhan-sentuhan ringan dari istri justru dianggap sebagai ajakan atau undangan. Sementara buat istri, hal yang sama tak harus berakhir dengan persetubuhan. Nah, di sinilah diperlukan kesediaan untuk saling memahami.

Sedangkan akibat dominasi mitos-mitos yang menyesatkan tadi, pria yang sudah terbangkitkan gairahnya beranggapan, harus jalan terus dan pantang untuk ditolak. “Nah, anggapan salah semacam itulah yang mesti diluruskan. Artinya, istri boleh saja, kok, menolak asal penolakan tadi dilakukannya dengan halus dan tak membuat harga diri suami tersinggung.”

Yang kerap membuat suami tersinggung adalah penolakan kasar, semisal “Enggak mau, ah!” sambil membalikkan badan memunggungi suami. “Coba, deh, introspeksi ke diri sendiri. Apa yang kita rasakan kalau ada keinginan mendesak lalu terpatahkan begitu saja? Apa rasanya saat kita tengah kehausan ingin minum, lantas gelas berisi air minum yang sudah tersodor di depan mata malah disingkirkan? Meski mungkin niatnya cuma bergurau, sakit hati sekali, kan?” Begitu juga dengan dorongan seksual yang memunculkan rasa frustrasi yang pasti bakal berakhir dengan perang dingin.

TERLIBAT PENUH

Itu pentingnya memegang teguh janji yang telah dibuat. Jangan sampai hanya obral janji, “Besok pagi” tapi tak pernah ada realisasi. Kalau perlu, anjur Tiwin, esok pagi selagi suami belum bangun pun, istrilah yang berinisiatif mencumbui suami. Sayangnya, istri enggan menunjukkan hal semacam itu dan malah bergirang hati bila suaminya lupa menagih janji.

Padahal, kalau dari pengalaman suami belajar bahwa istrinya tak bisa dipegang janjinya, jangan salahkan kalau ada unsur pemaksaan saat suami menghendaki kebersamaan dengan istrinya. “Sementara kalau melakukannya sekadar kewajiban, apalah artinya? Sama sekali enggak bisa menikmatinya, kan? Yang ada justru keterpaksaan yang membuat kita merasa ogah sekaligus terbebani.”

Nah, agar aktivitas seksual tak menjadi beban buat suami maupun istri, pemahaman tentang hal tersebut harus datang dari keduanya. Artinya, suami pun harus tahu dan dilibatkan sepenuhnya. Di sinilah perlunya suami-istri berlatih membina komunikasi. Kemukakan apa yang kita mau dan yang tidak kita senangi.

Ingat, meski sudah menikah belasan atau bahkan puluhan tahun, bukan jaminan, lo, pasangan bakal tahu segalanya tentang yang kita inginkan dan perlukan. Harusnya dikomunikasikan, “Ma, posisi begini enak enggak?”, atau “Pa, jangan gitu, dong.” Dari sinilah proses interaksi dan kualitas hubungan suami-istri akan terus terbina.

Bila komunikasi sudah terjalin, biasanya rasa malu dan segala bentuk ketidaktahuan pun akan tersingkir. Kondisi semacam ini pun harus dipahami.

Terlebih karena wanita umumnya tak memiliki bekal pengetahuan sama sekali saat memasuki gerbang perkawinan. Sementara para pria mungkin mendapat pelajaran gratis dari pengalaman mimpi basah dan lewat buku-buku porno. Tak heran kalau pengetahuan perempuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kondisi seksual dirinya sendiri sangat minim, hingga lebih banyak terbelenggu pada mitos-mitos yang ada.

PANDAI MEMANCING

Toh, bilang Tiwin, kalau suami/istri kelihatan suntuk alias bermasalah, kita bisa memperlihatkan kesediaan untuk mendengarkan keluh-kesahnya tanpa perlu khawatir harus melayaninya. Caranya, pancing dia dengan pertanyaan sederhana untuk menunjukkan perhatian kita. Semisal, “Di kantor lagi ada masalah, ya, Pak.”

Bahkan tanpa banyak cakap pun, kalau intensitas hubungan relatif terjaga, suami/istri akan tahu perubahan sekecil apa pun yang terjadi pada pasangan. Semisal perubahan sikap atau bahasa tubuh saat pulang kantor yang pasti bisa langsung “terbaca”. Agar suami/istri mau berbagi rahasia, pandai-pandailah pasangan memancing dan menangkap apa yang tersirat. Caranya, dengan mendengar aktif dan hindari memberi komentar apalagi yang bersifat menyudutkan karena hanya akan membuat pasangan mengedepankan sikap defense untuk membela harga dirinya yang terancam. Cukup tunjukkan simpati kita dengan memeluk dan mengelusnya sambil berujar singkat, “Iya, ya, Pa.”, “Oh….”, Terus…”, “Lalu”, begitu seterusnya.

Lewat kata-kata singkat tersebut, pasangan justru akan merasa didengarkan, hingga tanpa sadar ia akan terpancing untuk terus mengeluarkan unek-uneknya. Nah, kalau dialog semacam itu bisa berlangsung tanpa harus berakhir dengan persetubuhan, tandas Tiwin, berarti kita telah berhasil memainkan peran sebagai pasangan yang memahami betul kebutuhan emosional suami/istrinya. “Kalaupun lantas berakhir dengan intercourse, anggap saja sebagai rejeki ekstra. Paling tidak, kita sudah mampu melibatkan emosi secara intens dengan pasangan dan tidak dalam posisi kewajiban. Boleh jadi malah kitalah yang lebih dulu ‘menawarkan’ diri karena dorongan sayang atau rasa kasihan padanya dengan mengelus dan menciumnya.”

JANGAN BERBASA-BASI

Sebaliknya, jika istri lagi uring-uringan, suami pun harus bisa “membaca”. Jika dari mulut istri tercetus keluhan, “Aduh”, mestinya suami paham, ada sesuatu yang tidak mengenakkan yang dialaminya sepanjang hari tadi. Begitu juga bila terdengar tarikan nafas panjang, suami diharapkan tak lagi berbasa-basi menanyakannya.

Soalnya, pertanyaan “Ada apa?” terhadap situasi yang rutin akan membuat si ibu dengan ketus menjawab, “Enggak ada apa-apa, kok.” Atau yang tak kalah nyelekit, “Pakai tanya-tanya segala. Lihat saja sendiri!”

Untuk menghindari hal itu, saran Tiwin, “Secara kreatif ubah, deh, gaya kita saat mengajukan pertanyaan.” Semisal, “Capek banget hari ini ya, Ma,” yang lebih menunjukkan simpati sekaligus upaya untuk menangkap yang tersirat. Istri yang suntuk pasti akan berceloteh panjang lebar tentang kejadian sepanjang hari itu. Mulai ketidakberesan kerja pembantu sampai kenakalan anak-anak dan tetek bengek urusan lainnya. Dan jangan suami malah dengan gaya santai menganggap enteng masalah yang dihadapi istrinya.

Semisal, “Udahlah, Ma, gitu aja dipikirin. Papa juga lagi pusing, nih!” Sebab, penggunaan kata-kata yang “menentramkan” semacam itu mesti diwaspadai karena sebetulnya identik dengan meniadakan makna masalah buat yang bersangkutan. Sementara setiap orang memiliki pembobotan yang berbeda terhadap masalah yang dihadapinya. Tak heran jika penolakkan akan menumbuhkan perasaan tidak senang pada pasangan. “Nggak usah ngomongsama dia, deh! Cuma nyakitin!” Hingga langkah yang lebih tepat sebenarnya adalah berusaha mengerti tanpa harus meniadakan masalah. Jangan salah, dalam hal ini kejujuran umumnya akan lebih dihargai ketimbang kepura-puraan.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 135/14 Oktober 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: