JALANI KEHAMILAN ANAK KEDUA

28 Feb


Jangan pernah membeda-bedakan anak berdasarkan urutan kelahirannya. Petuah ini pun berlaku saat si kecil masih dalam kandungan.

Bagi banyak pasangan, kehamilan pertama boleh jadi merupakan sesuatu yang serba istimewa. Terlebih bila sudah lama mendambakan kehadiran buah hatinya. Lewat kehamilan itulah si ibu merasakan berbagai keajaiban, selain belajar banyak hal mengenai proses kehidupan.

Kendati begitu, ujar dr. Bambang Fadjar, SpOG, tidak berarti kehamilan anak kedua dan atau kehamilan berikutnya lantas berkurang maknanya di mata si ibu dan bapak. “Urutan ke berapa pun dalam keluarganya, anak memerlukan perhatian dan perlakuan yang sama,” tegas ginekolog dari RS Internasional Bintaro, Jakarta ini.

Sayangnya, tidak sedikit ibu-ibu yang terkesan “sok tahu” dan menggampangkan lantaran merasa telah berpengalaman dengan kehamilan pertamanya, “Enggak apa-apa, deh, anak kedua ini.” Belum lagi kecenderungan untuk membanding-bandingkan dengan kehamilan pertama. Sering, kan, terdengar keluhan, “Dulu waktu hamil si Kakak rasanya enggak kayak begini, tuh. Sekarang, kok, aku jadi cepat capek dan susah tidur, ya. Habis gerakan si kecil aktif banget, sih.”

Padahal, kata Bambang, bisa saja si ibu jadi lebih cepat lelah karena beban pikiran dan pekerjaannya pun relatif lebih banyak dibanding saat kehamilan pertama. Yang tak kalah penting, tegasnya, “Setiap kehamilan pada dasarnya unik dan tidak akan pernah sama. Meski dari rahim yang sama sekalipun.”

Jadi, bukan karena perasaan si ibu lebih sensitif bila kali ini tendangan si kecil lebih terasa menyakitkan. “Itu, kan, tergantung kondisi kehamilannya. Kalau dulu bayinya besar dan sekarang lebih kecil mungkin perutnya jadi lebih lapang, hingga gerakannya jadi lebih lincah.”

TETAP HARUS PERIKSA

Itu sebabnya, tandas Bambang, sangat tidak pada tempatnya bila si ibu mengabaikan kehamilan kedua dan atau kehamilan selanjutnya. Meski wujudnya cuma pemeriksaan awal, misalnya. Banyak, kan, ibu yang terkesan ogah-ogahan memeriksakan dirinya secara “resmi” ke dokter saat tahu dirinya terlambat menstruasi?

Sebenarnya, lanjut Bambang, “Meski sudah tahu dirinya hamil dengan pemeriksaan sederhana di rumah, pemeriksaan dokter dan kepastian hasil laboratorium tetap penting.” Minimal dari pemeriksaan tersebut akan diketahui usia kehamilan sekaligus didapat perkiraan tanggal persalinan. Hingga si ibu pun diharapkan lebih berhati-hati menjaga kehamilannya. Antara lain dengan menghindari hal-hal atau makanan dan obat-obatan yang membahayakan kehamilannya.

Dari pemeriksaan pertama itu pula akan tergali informasi penting mengenai riwayat kehamilan dan persalinan si ibu saat kehamilan pertama. Kalau memang kehamilan pertama termasuk kehamilan berisiko tinggi, misalnya, “Baik si ibu maupun dokter yang menanganinya mesti lebih care dan ekstra hati-hati.”

CERITAKAN RIWAYAT

Tentu saja diperlukan kejujuran si ibu untuk menyampaikan informasi-informasi penting tadi. Sebab tanpa keterbukaan semacam itu akan sulit buat bidan/dokter melakukan penilaian terhadap kehamilan. Termasuk mengutarakan bagaimana kondisi kehamilan, ada-tidaknya riwayat penyakit/keluhan tertentu yang mengganggu atau menjadi penyulit kehamilan. Juga apakah perkembangan janin cukup baik atau tidak. Kalaupun kehamilan tersebut terpaksa berakhir, si ibu pun wajib menyampaikan penyebab keguguran tadi.

Demikian pula keterangan mengenai riwayat persalinan. Apakah lahir normal, lewat vakum, sesar, dan lainnya. Pendek kata, semua informasi penting itu harus dikomunikasikan pada dokter. Dengan begitu bila ditemukan kelainan serius, semisal kelainan plasenta dan kelainan otak, bukan tidak mungkin akan diupayakan tindakan antisipatif. Kendati tidak otomatis kehamilan kedua bermasalah lagi jika kehamilan sebelumnya bermasalah, atau sebaliknya.

Kalaupun riwayat obstetrinya buruk, semisal bayinya mati atau terjadi keguguran berulang, harus dicari tahu pula penyebabnya. Pada usia kehamilan berapa si janin dinyatakan meninggal, kenapa bisa terjadi demikian, dan sebagainya. Nah, semua kemungkinan penyebab itulah yang mesti ditelusuri.

PEMERIKSAAN LENGKAP

Untuk mereka yang memiliki riwayat obstetri buruk seperti itu, tentu akan ada pemeriksaan yang lebih seksama. Dokter pun pasti akan lebih cermat menangani untuk mengurangi risiko terburuk yang mungkin muncul. Semisal pemeriksaan genetika untuk mendeteksi kelainan kromosom. Terlebih jika ada riwayat mongoloid atau sindroma down dan thalassemia. Sebaliknya, jika tak ada masalah/hal yang dikhawatirkan, pemeriksaan yang dilakukan cukup pemeriksaan standar. Yakni pemeriksaan fisik yang mencakup berat badan, tekanan darah, detak jantung, dan nadi pernapasan.

Selain itu diperlukan pula pemeriksaan laboratorium berupa urin lengkap dan pemerikdaan darah. Dari pemeriksaan-pemeriksaan standar tersebut, setidaknya akan terdeteksi apakah si ibu hamil menderita anemia, diabetes, ketidaksesuaian rhesus dan golongan darah, infeksi saluran kemih atau malah preeklampsia.

Toh, pemeriksaan tersebut tak harus dilakukan setiap kali kontrol. Melainkan cukup di awal dan kadang di akhir-akhir kehamilan untuk memastikan semua dalam keadaan oke. Hanya saja, lanjut Bambang, standar pemeriksaan tersebut bisa saja berbeda antara satu rumah sakit dengan rumah sakit lain. Ada rumah sakit yang mensyaratkan pemeriksaan AIDS/HIV dan TORCH disamping pemeriksaan standar tadi, ada pula yang tidak. Mengingat biayanya yang tak murah, ada pula dokter kebidanan dan kandungan yang hanya menganjurkan pemeriksaan tertentu pada wanita-wanita tertentu saja. Semisal pemeriksaan darah lengkap yang bisa melacak adanya kelainan ACA dan Lupus bila yang bersangkutan memang dicurigai terkena penyakit itu.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 139/11 November  2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: