KECELAKAAN KECIL SEMASA HAMIL

28 Feb


Sekalipun tak menimbulkan keluhan, tetap harus diperiksakan ke dokter. Apalagi bila terjadi perdarahan dan kontraksi, bisa membahayakan ibu dan janin.

Sekalipun kita sudah berhati-hati menjaga kehamilan, toh, tak tertutup kemungkinan kecelakaan kecil bisa terjadi, semisal terbentur pinggir meja, terkena bola saat melintasi sekelompok bocah yang tengah asyik bermain, sampai terpukul atau bahkan “tertabrak” perutnya saat berpapasan dengan kerumunan orang di tempat yang penuh sesak.

Bahaya-tidaknya kecelakaan-kecelakaan ini pada kehamilan, menurut dr. Suharyanti, Sp.OG. dari RSIA Hermina, Jatinegara, Jakarta, tergantung banyak hal, di antaranya bentuk kecelakaan itu sendiri dan bagaimana intensitasnya. Tentu saja, hanya dokter atau tenaga paramedis yang berwenang mengatakan bahaya-tidaknya berdasarkan pemeriksaan, maupun tindakan yang diperlukan, apakah harus diberi obat-obat tertentu atau tindakan lainnya.

PENDARAHAN DAN KONTRAKSI

Yang jelas, apa pun penyebab atau kecelakaan yang dialami, bila terjadi perdarahan tak boleh dianggap remeh. “Seberapa pun ringan sifat perdarahannya, tetap harus dicurigai sebagai sesuatu yang membahayakan ibu dan janin,” tegas Yanti, sapaan akrab ginekolog yang juga praktek di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta ini.

Terlebih bila usia kehamilan di atas 4 bulan, ada pertanda lain yang mengancam kehamilan, yakni kontraksi yang bisa langsung dirasakan si ibu atau dalam skala lebih ringan berupa rasa mulas. Soalnya, mulas merupakan salah satu isyarat yang menandakan ada kontraksi dari rahim. “Goncangan yang terjadi menyebabkan rahim berkontraksi secara berlebih hingga menimbulkan rasa nyeri dan bila dipegang dinding rahim terasa keras,” terangnya.

Jadi, bila menemukan kedua tanda tadi, tekan Yanti, segera periksakan ke dokter agar bisa diketahui sampai sejauh mana bahaya-tidaknya terhadap ibu dan janin maupun tindakan yang diperlukan. Jika dokter cukup jauh/sulit ditemui, minta pertolongan ke bidan terdekat. Toh, bila ditemukan kelainan, bidan pasti akan merekomendasikan untuk pemeriksaan lanjut di rumah sakit.

PLASENTA LEPAS

Bila kehamilan masih muda, jelas Yanti lebih lanjut, terjadinya perdarahan dan rasa mulas ditakutkan mengakibatkan keguguran. Sementara pada kehamilan usia tua pun bukan tanpa risiko. Setidaknya, kehamilan yang disertai kontraksi memperbesar kemungkinan terjadi persalinan lebih awal. Dengan demikian, peluang terjadi persalinan immatur atau prematur juga makin besar.

Risiko terburuk, terjadi pelepasan plasenta atau solutio plasenta bila pukulan/benturan tadi terlalu keras hingga mengakibatkan memar atau bahkan perdarahan plasenta. “Walau sedikit, perdarahan plasenta kalau diikuti kontraksi yang belum semestinya, tetap sangat membahayakan.” Terlebih jika plasenta sampai lepas karena plasentalah yang “memberi makan” janin sepanjang kehamilan. Nah, ini, kan, berakibat fatal sekali!

“Memang, kasus-kasus seperti ini amat jarang terjadi, tapi bukan tak mungkin terjadi, kan?” ujar Yanti. Jadi, tegasnya, kemungkinan-kemungkinan buruk tersebut harus tetap dipikirkan. Hingga hal-hal yang membahayakan ibu maupun janin bisa diantisipasi atau ditangani segera.

BILA TAK ADA KELUHAN

Sekalipun tak ada keluhan, Yanti menganjurkan agar ibu hamil tetap memeriksakan ke dokter. Minimal bisa diberikan nasihat-nasihat yang diperlukan, karena tak semua ibu hamil paham soal ini. Ambil contoh soal kontraksi, bisa saja timbul lantaran si ibu amat mencemaskan kehamilannya. Itu sebab, ibu harus bisa membedakan antara rasa sakit akibat ada kontraksi dengan rasa nyeri akibat kecelakaan itu sendiri. Yang bukan masuk kategori kontraksi, jelasnya, biasanya cuma berupa rasa nyeri dan akan hilang sendiri beberapa saat kemudian.

Biasanya pemeriksaan dilakukan dengan USG untuk melihat ada-tidak perdarahan maupun kebocoran plasenta. Bisa juga digunakan spekulum yang dimasukkan ke dalam vagina guna melihat mulut rahim untuk mencari sumber perdarahannya, apakah dari kehamilan itu sendiri atau cuma perdarahan dari vagina akibat terluka/trauma. Sekalipun cuma di vagina tetap butuh pemastian, apakah membahayakan atau tidak.

Kendati begitu, tak menutup kemungkinan ibu hamil yang jatuh atau mengalami benturan, tapi ketika diperiksa tak mengalami luka berarti. Hal ini amat tergantung dari posisi jatuh si ibu maupun bentuk dan intensitas benturan/pukulan itu. “Jatuh terduduk atau telungkup tentu akan berbeda dampaknya bila jatuh dengan posisi merangkak, misal. Sedangkan tempat sasaran benturan, apakah dari samping kiri, kanan atau depan sebetulnya tak terlalu berpengaruh mengingat janin berada dalam lindungan air ketuban yang membentuk kantong membulat.”

AIR KETUBAN BOCOR

Sebetulnya, terang Yanti, janin terlindung cukup aman karena berada dalam air ketuban yang berfungsi sebagai bumper alias peredam guncangan. Belum lagi pelindung berupa dinding rahim yang menebal selama kehamilan, ditambah otot-otot perut (musculus rectus abdominis) yang cukup kuat menahan kehamilan.

Kalaupun kepukul, “Paling air ketubannya sedikit bergoyang yang membuat janin mungkin agak kaget dibuatnya, ‘Lo, air yang tadinya tenang, kok, sekarang ada ombaknya, sih?'”

Namun begitu, ada-tidak air ketuban yang keluar dari vagina juga perlu mendapat perhatian serius. Terlebih untuk kehamilan mulai usia 12-14 minggu. Keluarnya air ketuban yang terus-menerus menandakan ada kebocoran selaput ketuban. Perlu dilakukan pemeriksaan saksama, di mana terjadi kebocoran tersebut guna dilakukan upaya pencegahan agar tak membahayakan janin. “Bila kebocoran tak berhasil dihentikan, bisa menimbulkan kegawatan janin.”

Ibu-ibu yang mengalami hamil pertama boleh jadi belum bisa cermat “membaca” pertanda yang satu ini. Untuk mudahnya, terang Yanti, air ketuban bisa jelas-jelas dibedakan dari BAK yang umumnya berwarna kuning dengan bau khas menyengat. Sedangkan air ketuban berwarna keputihan tapi tak jernih karena mengandung bintik-bintik lemak dari sel-sel amnion dan berbau khas agak amis. Yang juga membedakan, air ketuban akan keluar dengan sendirinya tanpa kita bisa mencegah atau menghentikannya, sementara keluarnya BAK biasanya disertai dorongan ingin ke belakang.

Jadi, Bu, ada-tidak keluhan tetap harus periksa ke dokter, ya, tanpa perlu menunggu jadwal kunjungan/pemeriksaan berikutnya.

Hindari Pemijatan Sekitar Perut

Menurut Yanti, ibu hamil memang rentan terkena kecelakaan-kecelakaan ringan. Sebab, adanya kehamilan membuat persendian jadi lebih longgar dan otot-otot pun mengalami peregangan, sementara beban tubuhnya bertambah berat, hingga membuatnya mudah kehilangan keseimbangan. Kondisi ini juga makin membuka peluang ibu hamil terkena trauma berupa memar otot. Itu sebab, dalam keadaan hamil, disarankan untuk menghindari pemijatan/urut, terutama pada daerah perut, salah-salah bisa berakibat fatal bagi ibu maupun janin.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 110/23 April 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: