KLINIK HERBAL KARYASARI

28 Feb


Buat mereka yang lebih suka mengkomsumsi tanaman obat, inilah klinik yang tepat.

Sepintas, klinik yang baru beroperasi 1 Maret 2001 ini dalam memberikan pelayanan kesehatan tak beda dengan klinik pengobatan lain. Dalam arti, dilayani dokter yang memang punya lisensi untuk menangani pasien. Dokter pun akan mendiagnosa penyakit berdasarkan pemeriksaan medis yang ditunjang pemeriksaan laboratorium, selain mendesain obat sesuai penyakitnya.

Perbedaan baru terlihat kala dokter meresepkan obat, karena obat-obat yang diberikan menggunakan tanaman obat alias obat-obatan herbal, yang hanya bisa ditebus di klinik ini. Tanaman obat yang digunakan disediakan dalam bentuk tanaman kering maupun segar yang mesti direbus. Tentu dokter akan memberitahu sejumlah aturan yang mesti diperhatikan dalam merebus ramuan obat, semisal harus direbus dengan 2 gelas air hingga mencapai 1 gelas sebelum diminum; nyala api awalnya besar, lalu dikecilkan begitu air mendidih; agar tak mengurangi khasiat obat, wadahnya disarankan terbuat dari kaca atau tanah liat asal jangan baru (bila baru pertama kali dipakai, gunakan dulu untuk merebus daun-daunan apa saja karena tanah liat mengandung zat-zat tertentu hingga harus direaksikan dengan zat organik lain lebih dulu).

Namun bila ingin praktis, klinik juga menyediakan ramuan tanaman obat yang dikemas dalam bentuk kapsul. Hingga, selain tak harus merebus sendiri, pasien pun tak perlu takut akan rasa pahit air rebusan tanaman obat. Kita pun tak perlu khawatir soal khasiatnya yang akan berkurang sebagaimana yang terjadi bila merebus sendiri gara-gara salah prosedur saat merebus. Selain itu, higienisnya juga terjamin, bahkan tanggal pembuatannya pun tertera jelas dengan batas kadaluarsa 3 bulan ke depan.

PENGALAMAN PRIBADI

Awalnya, jelas pengelola klinik, Ir. W.P. Winarto, ide mendirikan Klinik Herbal Karyasari lantaran dorongan memperkaya pengetahuan tentang tanaman obat yang seolah terabaikan selama ia kuliah di IPB. Selain, ia pun punya pengalaman berobat dari tanaman. Saat ditugaskan ke Pekanbaru, ia mengalami sakit pinggang yang tak kunjung sembuh. Setelah diberi obat dan menjalani pemeriksaan urin serta darah dengan hasil bagus, maupun dirujuk ke dokter ahli syaraf, sakitnya tetap tak berkurang. “Punggung serasa bolong, sakitnya luar biasa, hingga saya tak bisa tidur sama sekali.”

Di saat nyaris putus asa, seseorang memberinya ramuan sebanyak 4 bungkus seharga Rp 1.000. Penyakitnya langsung sembuh, hingga menyadarkannya untuk menekuni tanaman obat. “Ternyata, yang namanya tanaman obat itu benar-benar obat yang bisa diandalkan.” Apalagi saat itu Departemen Kesehatan tengah gencar menggalakkan pemakaian tanaman obat sebagai alternatif pengobatan. Sayangnya, penjual tanaman obat amat langka. Kondisi inilah yang kemudian memacunya mengembangkan kebun khusus tanaman obat di daerah Leuwiliang-Bogor. Di atas tanah seluas 1,25 hektar, ia membangun kebun koleksi dan pembibitan yang kini berjumlah sekitar 420-an jenis tanaman.

Winarto juga gencar melakukan pelatihan tiap bulan, baik untuk awam ataupun untuk hobi. Bahkan, dokter pun banyak yang berminat ikut pelatihan. Setelah pelatihan berjalan 6 bulan, alumni peserta yang berjumlah sekitar 70-an dari seluruh Indonesia, berpikir untuk kumpul-kumpul supaya bisa kerja sama dalam pengembangan tanaman obat. Dari kumpul-kumpul inilah kemudian muncul ide mendirikan asosiasi yang dinamakan Asosiasi Pengembang Tanaman Obat Indonesia. Sementara alumni dokter memprakarsai berdirinya Klinik dengan obat herbal ini. Sampai saat ini sudah 5 dokter berpartisipasi dan 2 dokter lagi masih dalam rangka persiapan. Mereka berasal dari berbagai spesialisasi.

BIAYA

Klinik ini terbuka untuk kalangan usia mana pun, dari anak-anak hingga dewasa. Penyakit yang ditangani pun amat beragam, bahkan banyak yang tergolong kelas berat semisal kanker, tumor, hipertensi, asma bronkial, dislipidemia (kadar lemak/kolesterol tinggi), hiperurisemia (kadar asam urat tinggi), kencing manis, batu ginjal, rematik, hepatitis, stroke dan jantung, batu empedu maupun radang kantung empedu, gangguan prostat dan saluran kemih, mag, wasir, gangguan pencernaan, serta penyakit hormon endokrin maupun gangguan seksual berupa impotensi dan frigiditas.

Dalam waktu dekat, Winarto berencana membuka klinik serupa di Jakarta Barat. Pertimbangannya, agar seluruh penduduk Jakarta bisa terlayani mengingat klinik yang sudah dibuka berada di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Tentu saja berdirinya klinik di lokasi lain pun akan dipikirkan untuk waktu-waktu selanjutnya.

Untuk menjadi pasien di klinik ini, cukup dengan mendaftar dan membayar Rp 25 ribu ditambah uang administrasi sebesar Rp 5 ribu. Pasien dilayani tiap hari, kecuali Minggu dan libur, mulai pukul 9.00 hingga 20.00. Agar tak terlalu lama menunggu sekaligus bisa memilih dokter, disarankan menelepon lebih dulu guna memastikan jadwal praktek dokter yang dimaksud.

Alamat:

1. Klinik Herbal Karyasari Pondok Cabe/Showroom
Jl. Kesehatan I No. 316
Pondok Cabe  Ciputat
Telp. (021) 747 03821

2. Kinik Herbal Karyasari Pulo Nangka
Jl. Pulo Nangka I No. 6, Pulo Mas
Telp. (021) 475 9546

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Teropong/edisi 117/10 Juni 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: