LUPA DIRI SETELAH MAPAN

28 Feb


Setelah berhasil, jadi “lupa daratan”. Suami maupun istri, bisa kena “virus” ini. Padahal, dampaknya bisa buruk pada anak.

Setiap orang, kata Prof. DR. Dr. Singgih Gunarsa, pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk jadi lupa diri setelah mencapai kemapanan. Artinya, keberhasilan seseorang mencapai tingkat kemapanan tertentu yang ditandai dengan perbaikan kondisi finansialnya, sedikit banyak akan ikut menentukan corak kepribadiannya. Orang yang semula terkenal hangat dan ramah, contohnya, bukan tidak mungkin kemudian terkesan dingin bahkan sombong. Atau, yang dulu dikenal sebagai pekerja keras dan mengutamakan penghematan, kini justru lebih sering menghambur-hamburkan uang.

Bagaimana dan seberapa jauh “kadar” lupa diri setiap orang, terang guru besar Emeritus di Fakultas Psikologi UI ini, terpulang pada kepribadian individu yang bersangkutan. Dalam arti, akan sangat diwarnai oleh tujuan hidup dan nilai-nilai kepuasan dirinya. Termasuk, bagaimana si individu telah menjalani proses tumbuh kembangnya dan bagaimana pula ia berkarya.

Semua itu, lanjut Singgih, akan menentukan ambisi pribadi yang bersangkutan. Apakah ia cepat puas atau sebaliknya, tak pernah puas meskipun yang diinginkannya sudah tercapai.

TIMBUL GODAAN

Biasanya, jelas Singgih, bila hasil kerja atau prestasi-prestasi relatif sulit didapat, individu yang bersangkutan akan terdorong untuk terus dan terus mencari tingkat kemapanan yang lebih tinggi lagi. Seseorang yang ditempa dalam suasana keras selama proses tubuh kembang, contohnya, bisa dipastikan akan berusaha sekuat tenaga berkarya dengan integritas tinggi.

Karena dengan cara itulah ia memperoleh kepuasan. Tak heran kalau mereka yang terbiasa bekerja keras dan hidup susah, maka keberhasilan yang dicapai akan memberi dorongan baru untuk hasil yang lebih baik. Nah, pada mereka ini, lanjut Ketua Yayasan Tarumanagara, “Tak tertutup kemungkinan ‘tergoda’ untuk jadi lupa diri setelah mapan.”

Itu sebabnya, lanjut Singgih, ungkapan “saya berhasil” menjadi semacam virus yang perlu diwaspadai. Bahkan bisa membahayakan bila ia tak lagi bisa mengerem keinginannya untuk memperoleh buah karya dalam bentuk materi yang lebih dan lebih lagi.

Demikian pula, mereka yang serba mudah memperoleh segala sesuatu, bisa juga jadi lupa diri. Sebab, boleh dibilang mereka hampir tak pernah berjuang dalam arti sebenarnya. Contohnya adalah anak yang dibiasakan manja dan memperoleh segalanya secara mudah. Dalam dirinya akan sulit terbentuk dorongan untuk berprestasi maksimal.

TAK KENAL GENDER

Hanya saja, tandas Singgih, mudah-tidaknya seseorang jadi lupa diri, lagi-lagi terpulang pada ciri kepribadiannya. Kalau ciri kepribadiannya bisa mencapai tingkatan yang mampu menampilkan gambaran kepribadian yang matang dengan integritas yang stabil, maka kemapanan yang diperoleh dengan susah payah tadi tak akan jadi masalah. Lain hal bila kepribadiannya memang cenderung labil dan tak matang. Jika kepribadian semacam itu yang mendominasi, besar kemungkinan si individu tidak akan pernah puas, cenderung ambisius yang membuatnya lupa diri dengan menghalalkan segala cara. Bahkan terkesan menunjukkan sikap balas dendam terhadap kemiskinan/kesusahan yang pernah dialaminya.

Bentuk lupa diri itu sendiri, terang Singgih, bisa saja muncul dalam bentuk foya-foya atau mencari-cari kesenangan dengan orang lain di luar pasangan/keluarga. Dapat pula dalam bentuk budaya pamer kekuasaan maupun pengaruh. Akan tetapi, lanjut Singgih pula, “Apa pun bentuknya, semata-mata bukanlah gender yang membedakan. Melainkan karakter tiap individu itu sendiri. Artinya, bisa saja wanita memunculkan bentuk lupa diri dengan berfoya-foya dan pamer ini-itu untuk menunjukkan power-nya. Sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan pula pria lupa diri mengutamakan hal-hal yang bersifat artifisial. Semisal mengutamakan barang-barang bermerek yang dulu tidak terbeli olehnya. Tapi lagi-lagi ini individual, lo, sifatnya.”

Sedangkan ditilik dari aspek gender, imbuh Singgih, jelas ada nuansa perbedaan antara pria dan wanita. Wanita, contohnya, lebih mengarah ke hal-hal atau suasana yang memberi rasa aman terhadap masa depannya. Sementara laki-laki lebih dikuasai oleh hal-hal yang berkaitan dengan harta benda dan segala sesuatu yang memberikan nilai-nilai yang prestisius.

Artinya, kalau awalnya ia berasal dari tingkatan yang biasa-biasa saja kemudian berhasil meningkatkan diri setingkat demi setingkat, maka ketika mencapai level tertentu ia akan merasa dirinya berhasil. Lebih jauh keberhasilan tersebut membuatnya merasa perlu melakukan overkompensasi terhadap segala hal yang dulu tidak dimilikinya. Mengapa? Karena overkompensasi semacam itu menimbulkan rasa senang, nyaman, sekaligus bangga. Contoh konkretnya adalah membeli segudang perhiasan yang mahal-mahal. Secara psikis, perhiasan tadi memberi nilai kepuasan pada dirinya. Ia sama sekali tak peduli betapa mahal harganya. Padahal kegunaannya pun boleh dibilang tak ada atau tak mendesak sifatnya seperti kebutuhan akan pangan dan sandang. Baginya, “Lo, ini, kan, hasil jerih payah saya. Saya berhak mendapatkannya. Apalagi benda-benda itulah yang membuat saya merasa istimewa dan bahagia.” Sementara pada pria, kemapanan yang sama akan membuat dirinya merasa sukses. “Inilah saya. Saya berhasil. Saya bisa melakukan apa saja yang saya mau.”

Itulah mengapa, pria akan cenderung mengkait-kaitkan keberhasilannya dengan benda-benda yang dianggap memiliki nilai prestisius. Semisal rumah di kawasan tertentu, lengkap dengan mobil merek tertentu, dan penampilan dengan corak atau gaya tertentu pula.

YANG BISA DIUPAYAKAN

Tak heran jika si individu berasal dari tingkat sosial ekonomi yang sangat berbeda, ia terkesan norak sebagai OKB (Orang Kaya Baru). Sebab, ia cenderung melebih-lebihkan kemewahan dalam setiap tutur kata maupun tindak-tanduknya. Itu semua dilakukan semata-mata guna menentramkan hati bahwa dirinya hebat dengan segala keberhasilannya.

Ironisnya, lupa diri membuat seseorang jadi melupakan pasangan/keluarganya. Terlebih jika nilai kebutuhan akan tepuk tangan dan pujian lebih ditinggikan. Mudah sekali baginya terjerumus pada sikap atau pola hidup yang mementingkan pengakuan dari orang luar. Meski idealnya, sih, susah dan senang selalu ditanggung bersama. Kendati tak bisa dipungkiri bahwa mereka tetaplah dua pribadi yang berbeda. Dalam arti, masing-masing memiliki latar belakang, persepsi, dan “tingkat kekebalan” yang berbeda menghadapi permasalahan yang ada.

Kalau kita tahu pasangan lupa diri, saran Singgih, “Cobalah cari bagaimana caranya supaya tetap terbina saling kerja sama dan komunikasi timbal balik. Caranya, suami istri-saling menghargai dan saling mengingatkan.” Memang, sih, mereka yang lupa diri ini biasanya terkesan membatasi interaksi bahkan cenderung menutup diri dari pasangannya. Yang muncul adalah “Aku adalah aku. Aku menjadi aku seperti yang kumau. Tak peduli apa katamu, meski kau adalah suami atau istriku.” Seharusnya, mereka berdua kembali pada komitmen bersama sejak awal. Dengan demikian, apa yang telah dicapainya adalah bagian dari prestasi dan rejeki pasangannya juga. Sayangnya, pihak yang lupa diri ini umumnya menganggap pasangannya tak bisa mengimbangi keberhasilan dirinya. Seolah ada jurang pemisah di antara mereka akibat ada perubahan nilai yang drastis.

Itu sebabnya, ungkap Singgih, upayakan keseimbangan di antara suami-istri untuk meminimalisirnya. “Jangan sampai yang satu langkahnya sudah bergegas, yang lain masih berjalan di tempat dengan santai. Ya, jelas enggak seimbang, dong.” Makanya, bila pasangan sudah terlihat ambil ancang-ancang untuk melangkah cepat, kita pun mesti menyiapkan diri untuk bergegas mengimbanginya. Jika tidak, bukan tidak mungkin terjadi disintegrasi. Hingga ungkapan-ungkapan seperti, “Lo, kok, suamiku sudah berubah?” atau “Payah, istriku ketinggalan zaman.”, tak perlu terdengar. Yang juga tak kalah penting, harus ada kesediaan untuk saling mengimbangi dan memahami kebutuhan pasangan. Bila sejak awal komunikasi sudah terbangun, diharapkan kesenjangan komunikasi akibat pasangan lupa diri kian bisa diminimalisir. Akan jadi masalah karena komunikasi di saat-saat seperti itu biasanya juga sudah rusak atau malah terputus. Pasangan merasa terabaikan kebutuhannya oleh suami/istri. “Padahal, kalau komunikasi masih terjalin baik, suasana atau momen manis untuk bercakap-cakap masih bisa diupayakan.”

MERASA DIRI BENAR

Harus diakui, suami maupun istri yang dengan segala jerih payahnya sendiri mencapai kedudukan terhormat, sedikit banyak pasti akan mengubah pribadinya. Itu semua karena adanya tuntutan-tuntutan dari lingkungan sesuai dengan perubahan statusnya tadi. Semisal harus tampil rapi karena sekarang sudah menduduki posisi pimpinan. Hingga, bila perubahan tadi tidak diikuti oleh istri/suaminya, besar kemungkinan akan muncul kekacauan-kekacauan kecil akibat kondisi tak seimbang tersebut.

Tentu saja bukan berarti perubahan yang dialami harus selalu “mendikte”. Yang bersangkutan, jelas Singgih, tetap bisa mempertahankan kepribadiannya, semisal sederhana. Asalkan si individu mampu mengubah-ubah role-nya. Dalam arti, ia harus pandai-pandai menempatkan diri dan menyesuaikan peranannya sebagai apa.

Perlu diingat bahwa setiap peranan baru tentu menuntut kemampuan untuk menyesuaikan diri. Jika tidak, akan muncul kegoncangan dalam role of conflict-nya. Di antaranya mabuk kepayang alias lupa diri. Perlu diingat, semakin stabil kepribadian seseorang, kian sedikit pula konflik yang bakal muncul.

Agar tidak terjerumus lebih jauh, sebetulnya kita pun masih bisa merasakan sekaligus menyadari kala lupa diri. Tentu saja asalkan kita cukup peka dan tetap memiliki pemahaman terhadap diri sendiri. Sebab, seseorang bisa dikatakan lupa diri bila dalam dirinya terjadi perubahan konsep yang melenceng atau keluar dari ciri kepribadiannya. Bisa saja akibat tuntutan terhadapnya lebih besar atau karena sebab lain.

Padahal, ciri kepribadian yang diantaranya memuat nilai-nilai kehidupan sudah tertanam begitu kuat dalam dirinya. Hingga boleh jadi agak sulit terkikis, meski peluang untuk berubah tetap ada. Siapa pun, selain pasangan, sebetulnya bisa mengingatkan. Hanya saja penilaian obyektif umumnya dapat diharapkan fair bila datang dari keluarga dekat atau teman. Siapa yang mengingatkan, biasanya adalah mereka yang merasa berkepentingan dan merasa “dirugikan” karenanya. Sebab, secara halus, sebetulnya si orang lupa diri kerap diperalat oleh lingkungan yang ingin memanfaatkan uang dan status atau kedudukan sosialnya.

Hanya saja mereka yang lupa diri biasanya merasa diri selalu benar, hingga masukan dari orang lain kerap dianggap angin lalu saja. Itulah mengapa diperlukan kehadiran seseorang yang cukup berwibawa sekaligus bisa dipercaya oleh si lupa diri tadi. Dengan begitu, yang bersangkutan diharapkan bisa berubah. Kalaupun tidak mempan, biasanya akan terubah oleh masyarakat lingkungannya lewat hukuman, seperti disingkirkan atau diejek yang membuatnya mentok dan akhirnya tersadar.

DAMPAK PADA BALITA

Dampaknya pada balita, tergantung dari ada-tidaknya secure parent. Artinya, meski ada kekurangan atau ada contoh yang tidak baik tapi bisa dinetralisasikan. Dengan begitu bila si bapak yang menjadi sosok si lupa diri, si ibu diharapkan bisa tampil sebagai sosok penetralisir. Begitu juga sebaliknya. Bukan malah menjelek-jelekkan pasangan di hadapan anak, “Dasar, Bapak/Ibumu enggak tahu diri, tuh!” Kita harus menyadari bahwa tokoh ayah maupun ibu adalah dua tokoh yang harus sama-sama paling dekat dengan anak. Sekaligus jadi contoh untuk ditiru, baik sebagian maupun seluruh kepribadiannya. Kalau modelnya tidak baik, jangan terlalu berharap anak bisa memperlihatkan kepribadian baik.

Kalaupun keduanya jadi lupa diri, diharapkan ada orang lain yang jadi sosok pengganti. Sepanjang ada figur pengganti yang baik, akan lebih baik dibandingkan tidak ada sosok pengganti sama sekali. Jadi, yang menderita paling parah adalah anak yang kedua orang tuanya sama-sama lupa diri dan tidak memperoleh sosok pengganti yang positif. Meski tidak bisa diprediksi kelak mereka akan memiliki kepribadian seperti apa, “Tapi yang jelas kepribadian mereka jadi tak harmonis. Dampaknya bisa macam-macam, entah terkait dengan studi, sosialisasi, maupun karakteristik yang tidak baik, seperti mencuri, terlibat narkoba, dan kenakalan.”

Apapun, pembentukan kepribadian yang stabil merupakan hal yang penting sekaligus dapat menjamin berkurangnya efek negatif dari si “virus” bernama lupa diri tadi. Hingga, tetap harus ditanamkan pengertian pada anak untuk selalu eling. Terutama saat ia memasuki masa-masa peka, yakni masa balita dan remaja.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi  132/23 September 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: