MENEMPATI KAMAR BEKAS ORANG SAKIT

28 Feb


Buat ibu hamil/bersalin, menempati kamar bekas orang sakit memang besar risikonya. Jangan takut untuk mengutarakan keluhan ke pihak rumah sakit dan segera minta pindah kamar.

Di banyak rumah sakit, kamar untuk perawatan usai bersalin dan pasien yang sakit, biasanya dibedakan. Memang demikian aturannya. Tapi di beberapa rumah sakit, masih kita jumpai pasien kehamilan atau yang akan bersalin, ditempatkan di kamar bekas orang sakit.

“Memang yang seperti ini jarang terjadi,” kata dr. Chairulsjah Sjahruddin, SpOG, MARS, ahli kebidanan yang mendalami soal manajemen rumah sakit. “Sepengetahuan saya, rumah sakit mana pun, baik milik pemerintah maupun swasta, tak akan melakukan kebodohan seperti itu. Menempatkan pasien kehamilan di kamar bekas orang sakit sangat tak dibenarkan. Risikonya juga sangat besar. Sekali ketahuan, dijamin enggak bakal laku rumah sakit itu. Nah, kalau begitu, siapa yang rugi? Jadi, ini menyangkut akreditisasi dan nama baik rumah sakit itu sendiri.”

Sebagai pasien, kata Chairulsjah, bila kita tahu kamar yang kita tempati bekas orang sakit, kita berhak minta dipindahkan ke kamar lain yang bukan bekas orang sakit. “Bila rumah sakit tak memenuhinya, kita bahkan bisa memperkarakannya ke pengadilan.” Sebaliknya, bila kita memang tak tahu kamar tersebut sebelumnya ditempati orang sakit, apa boleh buat. Artinya, kita berkemungkinan terkena infeksi penyakit yang sama dengan penyakit yang diderita pasien sebelumnya. Sebab, besar kemungkinan kuman atau bibit penyakit masih banyak beterbangan di kamar tersebut. Hanya saja, terinfeksi atau tidaknya tubuh kita oleh penyakit yang sama, amatditentukan banyak faktor, semisal tingkat keganasan kuman penyebab infeksi itu sendiri maupun kemampuan daya tahan tubuh kita untuk menangkalnya.

HARUS DISTERILISASI

Jikapun terpaksa kamar bekas orang sakit digunakan untuk orang hamil atau hendak melahirkan, terang dokter kebidanan yang berpraktek di RSIA Hermina, Jatinegara ini, kamar tersebut harus disterilkan dengan penggunaan sinar ultra violet minimal selama sehari atau 24 jam sebelum digunakan kembali. Prosedur standar semacam ini sebetulnya bukan hanya diberlakukan untuk ruang bekas orang sakit saja, lo, melainkan juga untuk semua ruangan, yang harus dilakukan secara berkala tiap sekian bulan sekali. Hanya saja pengaturannya diserahkan pada masing-masing rumah sakit. Artinya, rumah sakit khusus bersalin atau rumah sakit yang tak menangani kasus-kasus infeksi, prosedur sterilisasinya mungkin tak sesering rumah sakit umum atau rumah sakit khusus yang memang menangani kasus-kasus infeksi.

Namun prosedur sterilisasi, ini, jelas Chairulsjah, harus lebih ketat untuk ruang-ruang khusus seperti ruang OK/kamar operasi, kamar bersalin dan kamar bayi. Untuk ruang-ruang tersebut, secara periodik bahkan harus dilakukan pemeriksaan kultur pada tembok, lantai, dan seluruh benda yang ada di situ. Pemeriksaan kultur berguna untuk mengetahui ada-tidaknya kuman. Tentu saja bila terbukti terdapat kuman tertentu, dilakukan penanganan khusus untuk memusnahkannya.

Yang jelas, prosedur sterilisasi baru bisa dilakukan bila ruang tersebut kosong. Namun menunggu ruang kosong pasti makan waktu lama. Nah, agar tak perlu menunggu terlalu lama, sterilisasi tetap bisa dilakukan dengan cara memindahkan 1-2 pasien di ruang tersebut untuk sementara waktu ke ruang lain. Tentunya,pemindahan pasien ke ruang lain tetap memperhatikan jenis

penyakit dan kemungkinan penyebaran virus/kuman penyakit yang diidap. Artinya, pasien dengan infeksi tingkat tinggi semisal rubella atau hepatitis, takkan pernah ditempatkan satu ruangan dengan ibu melahirkan. Melainkan dengan sesama pasien yang sama-sama menderita penyakit infeksi.

Kebijakan-kebijakan semacam itu, tutur Chairulsjah, perlu diambil karena ibu hamil/bersalin pada hakekatnya memang bukan orang sakit. Selain itu, tugas melahirkan terbilang amat berat,hingga ibu tak boleh tercemar infeksi sedikit pun. “Kalau sampai terkena infeksi, kan, bisa bahaya dan fatal akibatnya buat si ibu maupun bayinya.” Bukan itu saja. Sebagai orang sehat, secara psikologis tentunya akan sangat tak menyenangkan bila disatukan dengan orang sakit. Jangankan bekas pasien berpenyakit infeksi, disatukamarkan dengan anak kecil yang habis menjalani operasi tonsil pun bisa dirasa amat mengganggu bagi ibu hamil/melahirkan. Itulah mengapa, pihak pengelola rumah sakit harus memikirkan betul hal ini.

Selain itu,lanjut Chairulsjah, pihak pengelola harus memikirkan pula pemisahan antara pasien habis bersalin normal dengan mereka yang harus melewati tindakan operasi, baik operasi sesar ataupun operasi ginekologi lainnya, semisal tumor. Sebab, ibu bersalin normal berarti tak mengalami kelainan apa pun. Ia sangat sehat dan tak ada perasaan sakit atau keluhan apa pun. Sementara orang yang habis bersalin sesar, setidaknya pasti akan merasa dirinya sakit dan tak jarang butuh bantuan dari perawat atau keluarga yang menungguinya untuk minta diantar ke kamar mandi atau mengambilkan keperluan lain. Nah, tingginya keluhan dan permintaan bantuan ini bisa dirasa amat mengganggu buat ibu yang melahirkan normal karena yang ia butuhkan hanyalah ketenangan untuk memulihkan kondisinya.

SELALU ADA KESEMPATAN

Dari kacamata pengelola, penggabungan pasien seperti itu dianggap tak masalah. Apalagibila ada kebijakan rumah sakit yang menuntut pemanfaatan tempat tidur semaksimal mungkin. Selain pihak rumah sakit pun pada dasarnya tak boleh menolak pasien. “Namun pihak rumah sakit kerap lupa bahwa yang harus dipikirkan bukan hanya soal risiko seseorang terkena infeksi penyakit saja. Melainkan juga soal kenyamanan dan ketenangan psikis selama masa pemulihan. Bukankah sehabis bersalin ibu menuntut tingkat ketenangan dan kenyamanan yang relatif tinggi lantaran kondisi fisik dan psikisnya memang begitu letih?”

Mengatasi masalah begini, kata Chairulsjah, sebenarnya bukan hal yang kelewat pelik. Berdasarkan pengalamannya sebagai dokter yang pernah bertugas di berbagai rumah sakit, Chairulsjah mengaku jarang sekali menemui rumah sakit yang benar-benar penuhalias tak ada lagi tempat tidur yang tersisa. Kalaupun masih tersedia tempat tidur tapi agak sulit menggabung-gabungkannya, para petugas harus berpikir keras sesuai protokol yang ada, bagaimana caranya agar tak ada pasien yang tertolak tapi kemungkinan terinfeksi bisa tetap dihindari, semisal dengan sedikit menggeser sana-sini. Tentu saja tak berarti penggabungan pasientadi membuat ruangan kelebihan kapasitas. Sebab, menjejali ruangan yang berkapasitas 4 tempat tidur menjadi 6 tempat tidur atau 6 jadi 8, jelas tak dibolehkan. Lain cerita bila dalam kondisi darurat semisal terjadi wabah atau gempa bumi.

Upaya lain pun bisa dilakukan untuk mengantisipasi penuhnya ruangan yang lantas dijadikan dalih untuk tak melakukan sterilisasi. Toh, berdasarkan pengamatannya, Chairulsjah mengatakan ledakan angka ibu melahirkan tak terjadi sepanjang waktu. Bahkan, menurut pengamatannya, ada semacam grafik yang memperlihatkan kapan angka tersebut turun dan kapan pula meningkat. Angka melahirkan relatif sedikit di awal-awal tahun ajaran baru, sedangkan sekitar 9-10 bulan setelah bulan Haji biasanya terjadi booming. Jadi, tegasnya, “Enggak benar kalau ruangan penuh dijadikan alasan untuk tak melakukan strelisasi ruangan bekas orang sakit. Selalu ada kesempatan untuk itu, kok, kalau memang mau.”

Jadi, penempatan pasien di ruang tertentu, bilang pengajar di Program D3 Kerumahsakitan FKUI ini, sebetulnya hanyabersifat kebijakan manajerial. Dalam arti, tak ada sangkut pangkut secara langsung dengan kemampuan para profesional menangani penyakit pasiennya.

UBAH POLA PIKIR

Chairulsjah sangat mendukung bila pasien mempertanyakan ketidaksesuaian ruangan dengan kondisi penyakitnya. “Berarti kesadaran pasien akan haknya sudah mulai tumbuh subur. Ini pertanda bagus.” Dengan demikian hak-hak masyarakat untuk mendapat pelayanan perawatan tak lagi terabaikan.

Menuju era globalisasi dengan persaingan yang amat ketat, lanjutnya, memang sudah makin mendesak untuk dipikirkan aspek manajerial guna meningkatkan kenyamanan pasien. Minimal perlu dipikirkan pola-pola perawatan pasien yang lebih menyenangkan, termasuk penempatan pasien dalam ruang perawatan, entah dengan tak terlalu menjejalkan pasien ke dalam satu ruangan atau malah memaksakan diri menempatkan pasien di ruang yang belum disterilkan. Jika pola-pola pelayanan semacam itu diutamakan, aspek bisnis justru akan terkatrol dengan sendirinya. Artinya, tanpa perlu gembar-gembor pun, pasien akan menaruh respek tersendiri.

Idealnya,ujar Chairulsjah, kamar bersalin dan ruang perawatan untuk ibu melahirkan, terlepas dari kamar utama, VIP, atau VVIP, memberi privacy tersendiri bagi si ibu. “Saya termasuk dokter ‘cerewet’ yang menginginkan pola pelayanan yang baik buat pasien. Sebab privacy ibu melahirkan merupakan nilai tambah tersendiri buat pasien, lo.” Semisal, tak lagi mendorong-dorong si ibu masuk ruang bersalin, melainkan justru dokter dan peralatan medislah yang didatangkan ke ruang perawatan si ibu. Dengan begitu, ibu merasa tak asing hingga akan lebih tenang dan nyaman saat persalinan tiba.

Menurut Chairulsjah, rumah-rumah sakit yang menyediakan kelas-kelas utama dan VIP harusnya sudah mampu memberikan bentuk-bentuk pelayanan seperti itu bila tak ingin tertinggal atau terlupa di era persaingan bebas kelak. Kalaupun penyediaan fasilitas semacam itu dianggap terlalu mahal, setidaknya kamar bersalin dibangun sedemikian rupa. Karena,ruang bersalin yang berukuran 2X3 meter, misal, dianggap tak lagi memadai. Begitu juga dengan sekat pemisah seadanya yang terbuat dari plastik atau kain gorden harus segera diganti. Soalnya, dengan kondisi semacam itu bukan tak mungkin pasien merasa amat tak nyaman lantaran ruang bersalin seperti itu tak ubahnya dengan deretan WC umum!

Andai dana tak memungkinkan pengelola membangun beberapa ruang bersalin sekaligus dengan fasilitas oke, toh, kekurangan tersebut bisa dioptimalkan dengan penggunaan satu ruang bersalin. Artinya, si ibu yang benar-benar sudah dalam kala melahirkanlah yang ditempatkan di kamar bersalin tersebut. Sementara ibu-ibu lain yang masih menunggu persalinan normal secara lengkap, bisa berbaring di kamar masing-masing yang berada di sekitar kamar bersalin tadi. Di kamar tunggu inilah setiap ibu bisa terus ditunggui dan dihibur keluarga dekatnya tanpa “ketularan” ataupun menambah stres pasien lain.

Memberi pelayanan yang mengutamakan privacy juga berarti harus mengupayakan agar teriakan ibu melahirkan di ruang sebelah tak lagi terdengar atau malah menimbulkan stres buat pasien lain. Di masa lalu, Chairulsjah mengaku pernah menjumpai 1-2 kasus pasien yang lari karena ketidaknyamanan semacam itu. “Bayangkan, si pasien betul-betul lari keluar dari ruang bersalin karena dia begitu ketakutan mendengar teriakan sesama ibu yang mau melahirkan.”

Tentu saja pelayanan semacam ini menuntut SDM berkualitas, hingga semua petugas bisa bertindak sigap dan cekatan menangani segala kemungkinan terburuk. Dengan demikian, setiap ibu betul-betul termonitor perjalanan pembukaannya selain tetap merasa didampingi kala harus berjuang. Sementara kamar operasi pun tersedia di sebelah kamar bersalin, hingga begitu ada hambatan yang muncul di kamar bersalin, pasien cepat ditangani di kamar operasi oleh dokter yang selalu stand by di tempat.

Yang Perlu Diperhatikan Saat Kunjungan

Pada dasarnya Chairulsjah kurang setuju dengan jam kunjungan yang kelewat ketat pada ibu bersalin seperti halnya menjenguk pasien berpenyakit. Termasuk melarang anak-anak menjenguk. Padahal, anak-anak bukan main gembiranya bila diijinkan melihat ibu dan adiknya di rumah sakit. Bukankah tujuan para tamu tak lain untuk menyatakan ikut gembira dengan kelahiran si kecil?

Kalaupun bayi dikhawatirkan tertular penyakit dari pengunjung, kan, si kecil bisa dipisahkan saat jam berkunjung; cukup gunakan boks bayi yang bertutup atau mengharuskan pengunjung cuci tangan sebelumnya. Toh, si bayi pun sudah terbiasa bergaul dengan orang lain, yakni si ibu dalam program rooming in.

Selain itu, masing-masing pasien/ibu bersalin pun hendaknya belajar bertenggang rasa. Artinya, bila ia sekamar dengan ibu-ibu lain hendaknya tetap bisa “mengatur” kedatangan para penjenguknya agar tak mengganggu pasien lain. Yang selama ini sering terjadi, pasien terganggu justru oleh kebisingan/hiruk pikuk pengunjung/tamu tetangga sekamarnya. Seperti menggunakan kamar mandi semaunya, berceloteh tiada henti dengan suara keras, sampai duduk seenaknya di pinggir tempat tidur lantaran ruangan relatif sempit. “Hal-hal seperti itu, kan, menjengkelkan sekali. Padahal, untuk menegur si tamu secara langsung sering tidak enak hati.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 119/24 Juni 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: