MENGHADAPI KEHAMILAN YANG TAK DIHARAPKAN

28 Feb


Menjalani kehamilan yang tak diharapkan, mengharuskan ibu berjuang mengatasi segudang konflik yang tak ada habisnya. Tapi tak berarti tidak bisa diatasi, lo!

“Ya Tuhan, kenapa aku harus hamil lagi?” begitu keluhan yang terlontar dari mulut seorang ibu yang tak menghendaki dirinya hamil. Secara tak sadar, ia seolah menyesali diri sekaligus kehamilannya. Entah lantaran “kecolongan” ber-KB atau sebab lain, hingga sederet hal-hal negatif langsung membayang di depan matanya. Mulai dari pengalaman tak enak sewaktu hamil dan persalinan terdahulu, kerepotan mengurus bayi, sampai soal biaya hidup untuk membesarkan dan membiayai pendidikan anak-anak yang dilahirkannya.

Padahal, bilang psikolog Dra. Rostiana, keputusan yang diambil mutlak berada di tangan si ibu. Sebab, dialahyang akan terlibat langsung dengan kehamilan tersebut. Artinya, apakah kehamilan akan diteruskan atau justru diakhiri, si ibulah yang harus bisa memutuskannya. Dengan begitu, ketika lingkungan, terutama suami, menolak, sementara si ibu bertekad untuk meneruskan kehamilannya, biasanya kehamilan tersebut akan berjalan baik alias tak menimbulkan banyak masalah. Sebaliknya, meski lingkungan memberikan dukungan, namun bila si ibu bersikeras tidak menghendakinya, iaakan memperlihatkan penolakan lewat sikap destruktif terhadap janinnya. Semisal ogah-ogahan merawat/menjaga kehamilannya. Bahkan anak yang kelak dilahirkan pun akan diterima dengan sikap antipati/kebencian. “Enggak sedikit, kan, orang tua yang menganggap anaknya sebagai pembawa sial atau beban belaka,” ujar Pudek III Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Itu sebabnya, kualitas kepribadian si ibu akan diuji dalam pengambilan keputusan penting ini. Apalagibanyak hal penting yang harus jadi bahan pertimbangan, termasuk hak si kecil untuk hidup. Terlebih, dalam semua agama pun, tandas Rostiana, tak ada dalih yang bisa dipakai sebagai pembenaran terhadap tindakan pengguguran kandungan yang dianggap identik dengan pembunuhan.

SUAMI CUEK

Hal-halyang biasanya dijadikan bahan pertimbangan antara lain adalah nilai anak buat keluarga. “Ada, kan, keluarga yang berharap sekali punya anak banyak. Sementara ada juga yang sebaliknya.” Konflik terbesar sekaligus terberat, terang Rostiana, akan dirasakan oleh keluarga yang tidak mengharapkan punya banyak anak.

Biasanya yang dikedepankan sebagai alasan oleh keluarga semacam ini, di antaranya istri bekerja. Ibu bekerja umumnya akan beranggapan, kehamilan dan bertambahnya anak akan kian memberatkan beban kerja maupun porsi tanggung jawabnya. Sebab, kalau sebelumnya sepulang kantor mereka bisa tidur pulas di malam hari, kini harus bersedia menyusui atau menggantikan popok si bayi kala BAK/BAB.

Sementara di “mata” banyak perusahaan, kehamilan ibu bekerja memang kerap dianggap sebagai hal yang merepotkan. Terutama “kewajiban” memberi perlakuan khusus agar si ibu bisa memfokuskan diri ke kehamilannya. Itu sebabnya banyak ibu bekerja yang merasa tak enak hati bila harus hamil lagi.

Bukan cuma itu. Keengganan lain dari pihak istri untuk meneruskan kehamilan yang tak diharapkan biasanya bersumber dari sikap suami yang tak memberi dukungan emosional maupun sosial. Semisal, dengan serta-merta menyuruh si istri menggugurkan kandungannya. Atau kalaupun “mengizinkan” si istri hamil, biasanya sama sekali tak memperlihatkan atensi yang diperlukan. Tak mau mengantar istri ke bidan/dokter, tak memperhatikan pola makan dan kesehatan umum si istri, atau enggan “menyapa” si kecil yang berada dalam kandungan.

Tapi jangan salah, tak semua suami menunjukkan penolakan terhadap kehamilan istrinya. Tak sedikit justru tampil sebagai pahlawan dengan memberikan dukungan dan perhatian pada istrinya. Semisal dengan membuatkan susu atau memijati kaki istri bila si istri mengeluh penat. Apa pun, atensi-atensi semacam itu sangat positif buat si ibu untuk memelihara kehamilannya.

Bila sebaliknya, “Bisa dibayangkan, kan, bagaimana beratnya beban si istri menghadapi suami cuek model begini sementara kehamilan itu sendiri sudah dirasakan berat lantaran tak diinginkan.”

BUKAN SALAH ANAK

Beban berat ibu, lanjut Rostiana, akan bertambah lagi jika sejarah kehamilannya memang selalu dirasakan sebagai sesuatu yang menyiksa. Dengan kata lain, ia memiliki riwayat ginekologis yang buruk. Entah itu berupa terus-menerus mengalami mual-muntah, perasaan kecewa karena tubuhnya jadi tak menarik, emosi yang labil dan gampang tersulut, sampai kelainan-kelainan/penyakit yang membahayakan, semisal keluhan asma, diabetes, dan preeklampsia. Hal-hal itulah yang biasanya akan terakumulasi sebagai potensi yang mendorong si ibu sampai pada pemikiran, “Lebih baik aku gugurin aja, deh.”

Belum lagi bila si ibu juga menyadari telah melakukan kesalahan yang tak disengaja yang bakal berpengaruh buruk pada bayinya. Semisal terlahir cacat akibat minum berbagai macam obat dan jejamuan. “Ini merupakan salah satu konflik yang luar biasa besar, lo. Soalnya, tak ada ibu yang menginginkan bayinya mengalami kelainan sedikit pun.”

Selain pertimbangan-pertimbangan tadi, pertimbangan moral si ibu biasanya menjadi kunci penentu untuk mempertahankan kehamilan tersebut. Artinya, kalau pertimbangan ini yang dominan, biasanya asumsi-asumsi yang mengarah pada tindakan pengguguran akan terkalahkan. Contohnya, meski tidak diinginkan, kehadiran anak yang bakal lahir tetap dinilai positif.

Jadi,kendati di luar rencana, ia tetap dianggap sebagai karunia Tuhan sehingga apa pun yang terjadi, ibu terpanggil untuk merawatnya baik-baik, saat si bayi dalam kandungan dan ketika telah lahir.

Kalau pertimbangan semacam itu sudah melekat di diri si ibu, biasanya yang bersangkutan akan melihat kehamilan tersebut sebagai tanggung jawabnya. Pertimbangan inilah yang lebih jauh akan memperkuat keputusannya untuk tetap mempertahankan kehamilan yang tak diharapkan tadi. “Lo, ini, kan, kelalaian saya, hasil dari perbuatan saya. Si kecil sama sekali enggak salah, kok. Jadi, apa pun konsekuensinya, sayalah yang harus memikulnya dan bukan bayi saya yang mesti dikorbankan.” Tekad semacam ini biasanya dibarengi dengan pemikiran-pemikiran positif. Semisal, “Demi si kecil, saya harus sehat.”

Keinginan untuk mempertahankan kehamilan tak diharapkan ini, lanjut Rostiana, biasanya juga akan menguat jika kesadaran bahwa ia hamil, baru muncul beberapa bulan kemudian. Boleh jadi saat itu sudah terbina “hubungan istimewa” antara janin dan ibunya.

TEMAN BERBAGI

Namun, tekanan yang begitu dahsyat dari berbagai penjuru di saat kehamilan bisa saja membuat emosi ibu menjadi labil.Akibatnya, ia akan lebih mudah terpuruk ke emosi/hal-hal negatif. Tak heran kalau keinginannya untuk mempertahankan kehamilan tersebut bolak-balik terusik/tergoyahkan. Dalam arti, bisa saja di awal kehamilan ia ngotot ingin mempertahankan, tapi di tengah jalan malah tergoda untuk mengakhirinya.

Nah, agar si ibu tak terus-menerus dihimpit beban psikis yang sedemikian berat, amat disarankan buat si ibu agar mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang dipercayainya untuk ber-sharing. “Tak harus suami, kok. Apalagi jika suami justru memperlihatkan sikap anti terhadap keputusannya untuk mempertahankan kehamilan tadi.”

Sebagai orang luar, kalau kita tahu ada seorang ibu yang menghadapi masalah ini, saran Rostiana, sebaiknya segera perlihatkan simpati dan support<. Hanya perlu diingat,”Support di sini lebih bertujuan untuk menguatkan pribadinya. Jadi, bukan malah memberi masukan untuk mempengaruhi atau membuatnya bingung dalam membuat keputusan. Sebab, keputusan untuk mengakhiri atau meneruskan kehamilan tersebut mutlak berada di tangan si ibu.”

Kalaupun si ibu bukan termasuk orang yang gampang mengeluh, tetap perlu kita tunjukkan kepedulian kita padanya. Yang paling sederhana adalah kesediaan menjadi pendengar saat ia mengutarakan ganjalan perasaannya. Bila perlu, biarkan ia menumpahkan bebannya dengan menangis di pundak kita.

Saran Rostiana, tak perlu merasa sungkan atau khawatir membebani orang lain. Sebab, bila perasaan-perasaan negatif seputar kehamilan tadi tak tersalurkan, dikhawatirkan si ibu akan berada di titik lemah yang membuatnya nyaris tak berdaya. Belum lagi muncul kecenderungan depresif dan destruktif yang bisa merugikan/membahayakan janinnya, dirinya sendiri, maupun orang lain di lingkungannya. Padahal kondisi emosi yang sangat buruk secara otomatis akan membuat daya tahan fisiknya pun memburuk.

Jadi, mampu-tidaknya si ibu melewati masa-masa berat, sedikit banyak juga ditentukan mampu-tidaknya ia mengkomunikasikan apa yang dirasakan seputar kehamilannya. Logikanya, semakin si ibu bisa mengurangi beban psikisnya, semakin ringan pula ia menjalani kehamilannya. Kalaupun si ibu tak menemukan tempat ber-curhat, biasanya si ibu akan “lari” dengan menjalin komunikasi lebih intensif dengan janinnya. Buat si ibu, kehadiran si janin bisa meminimalisir perasaan/emosi negatifnya. Dengan begitu, secara faktual dirinya bisa lebih kuat menjalani kehamilannya.

Alangkah baiknya, bilang Rostiana, kalau setiap kehamilan, yang tidak diharapkan sekalipun tetap dipersepsikan sebagai keuntungan. “Tidak semua wanita bisa hamil, lo. Semata-mata karena izin Yang Maha Kuasa.” Hingga akan sangat membantu bila si ibu kian giat memupuk nilai keimanan. Sebab, di saat tak ada teman untuk ber-curhat pun kalau ia rajin menjalin komunikasi dengan Penciptanya, yang bersangkutan akan lebih kuat menjalani hari-hari yang dirasa berat.

Terima Sepenuh Hati

Alangkah baiknya, saran Rostiana, jika keadaan “penolakan” kehamilan ini tak diumbar sehingga membuat si anak tahu bahwa dirinya adalah anak yang tak diharapkan. Sekalipun itu bernada gurauan! Salah satu dampak negatifnya, anak jadi terpancing untuk selalu membuat masalah di rumah. Jadi, jangan pernah diungkit dan jadikan sebagai rahasia di antara suami-istri.

Selain itu,ibu pun dituntut mengontrol diri agar perasaan negatifnya yang pernah menolak si kecil tak terus terbawa. Begitu juga kala anak kelak sakit-sakitan atau mendatangkan masalah, misalnya. Pendek kata, si ibu dituntut mampu mengatasi konflik batinnya saat ia sampai pada keputusan untuk meneruskan kehamilannya. Dengan begitu, diharapkan tak ada lagi perilaku kompensasi berlebih terhadap anak atau malah menganggapnya sebagai beban. Semisal, “Kamu ini, kok, bisanya nyusahin Mama terus! Tahu enggak, gara-gara hamil kamu, Mama mesti ngebatalin rencana Mama untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.”

Kendati bukan tidak mungkin dalam banyak kasus kehadiran si kecil justru membuka mata orang-orang yang semula menolaknya jadi “jatuh cinta”. Itulah, imbuh Rostiana, rahasia Sang Khalik.

Yang jelas, sebagai orang tua kita wajib menerima si kecil dengan sepenuh hati. Jangan sampai si anak merasa dibeda-bedakan dari saudara lain yang kehamilannya bukan masuk kategori tak diharapkan. Kepada kakak-kakaknya pun harus ditanamkan hal-hal positif. Jangan sampai si kakak ikut-ikut memperlihatkan sikap penolakan dan menganggap adiknya sebagai beban.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 128/26 Agustus 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: