MENGHADAPI KEMUNGKINAN BAYI LAHIR CACAT

28 Feb


Kecacatan memang bukan akhir segalanya. Namun untuk meneruskan kehamilan semacam itu bukan perkara mudah.

Tak seorang pun di antara kita yang berharap pernah melahirkan bayi cacat. Tapi seandainya kenyataan pahit tersebut harus kita hadapi, tak perlu menyalahkan diri sendiri. Apalagi sampai menumpahkan segala penyesalan pada si kecil dengan menutup harapannya untuk hidup alias mengakhiri kehamilan. “Sebagai manusia biasa, kita sama sekali tak berwenang,” ujar dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, Sonologist.

Keputusan mengakhiri kehamilan bisa diambil hanya jika kecacatan tersebut mengancam jiwa si ibu dan atau janinnya. Itu pun harus didasarkan pada pertimbangan Komisi Etik Kedokteran yang melibatkan banyak ahli. Sebenarnya, lanjut pengasuh rubrik Tanya Jawab Kebidanan dan Kandungan nakita, parah-tidaknya kecacatan yang terjadi, amat tergantung pada timing si ibu bersentuhan dengan faktor penyebab. Sebab, semakin awal terjadinya gangguan, kecacatan yang muncul pun kian parah. Bila terjadi di 8 minggu pertama yang disebut periode embriogenesis atau periode pembentukan organ-organ tubuh utama, maka yang terjadi adalah kecacatan major. Yakni kecacatan “kelas berat” atau gabungan dari beberapa kecacatan. Bahkan bila terjadi saat pembuahan, biasanya akan segera gugur. “Boleh jadi, semacam seleksi alam,” komentar Judi.

Kendati begitu, lanjut ginekolog dari Subbagian Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UPN Veteran/RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, tak ada kepastian antara faktor penyebab dan bentuk kecacatan yang muncul.

Dalam arti, bila minum obat tertentu dengan dosis sekian, misalnya, anaknya dipastikan mengalami kecacatan tertentu pula. “Dari pengalaman menangani para ibu hamil yang khawatir mengandung bayi cacat, toh, tak sedikit yang tak bermasalah sama sekali. Padahal, si ibu awalnya sudah begitu ketakutan lantaran tak menyadari dirinya hamil namun telanjur minum makanan/minuman atau obat-obat terlarang.”

ANEKA PEMERIKSAAN

Lebih lanjut Judi menjelaskan, cacat bawaan umumnya terjadi sebelum bayi sempurna dibentuk, yakni di bawah usia kehamilan 17 minggu. Kendati begitu, tidak berarti lepas dari periode tersebut janin terbebas dari peluang kecacatan. Contohnya, ibu hamil yang mengalami infeksi cairan ketuban di usia kehamilan 5 minggu, meski awalnya normal-normal saja. Bila itu yang terjadi, “Boleh jadi akan terbentuk amniotic band syndromeatau adanya semacam benang-benang dalam kantung ketuban yang bisa saja memotong jari tangan atau kaki si janin. Jadi, saat dilahirkan, bayi mengalami kecacatan.”

Itu sebabnya Judi menekankan pentingnya konseling prahamil. Bahkan pranikah, untuk menilai kondisi calon ibu maupun ayah, apakah benar-benar sehat atau tidak. Termasuk penyelusuran ada-tidaknya faktor penyakit keturunan. “Sebab, peluang kemungkinan melahirkan bayi cacat amat ditentukan oleh derajat kesehatan si bapak dan ibu sebelum hamil. Bila perlu, lakukan sebelum melangsungkan perkawinan, sehingga bisa diketahui semisal menderita penyakit tertentu seperti thalassemia. Meski kita tak berhak melarang sesama penderita untuk menjadi suami-istri. Alangkah ‘arif’ bila mereka juga memikirkan masa depan anak-anaknya yang pasti akan menjadi carrier atau bahkan penderita yang umurnya tak panjang.” Untuk mengetahui cacat-tidaknya janin, jelas Judi, sebetulnya bisa dilakukan dengan beberapa pemeriksaan. Pertama, dengan anamnesa melalui tanya-jawab antara dokter dan pasien. Untuk itu, diperlukan kerja sama dan keterbukaan pasien agar memudahkan dokter dalam menegakkan diagnosa dengan menyelusuri kecacatan yang mungkin muncul. Terlebih bila dicurigai ada kecacatan berdasarkan riwayat penyakit keturunan dalam keluarga.

Pemeriksaan berikutnya adalah USG pada usia kehamilan 12-14 minggu dan 18-22 minggu. Meski “terlihat” atau tidaknya bentuk kecacatan tadi juga ikut ditentukan oleh posisi bayi yang menghadap ke atas/depan, kemampuan dokter ahli ginekolog menganalisa tampilan di layar, serta kecanggihan alat itu sendiri. Artinya, imbuh Judi, “Meski semua ginekolog diharapkan bisa membaca hasil pemeriksaan USG biasa (2 dimensi), pemeriksaan dengan USG 3 dimensi akan lebih memudahkan.”

Pemeriksaan lain yang juga bisa dilakukan adalah amniosintesis, yakni pengambilan air ketuban yang biasanya dilakukan melalui dinding perut dengan menggunakan jarum khusus. Pemeriksaan untuk analisa kromosom ini umumnya dilakukan pada usia kehamilan 14-16 minggu. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menapis kecacatan adalah CVS (Chorionic Villi Sampling) yang bisa mendeteksi beragam kelainan kromosom. “Tentu saja tidak berarti 100 persen tanpa kesalahan, lo,” tutur Judi.

Rangkaian pemeriksaan tersebut amat dianjurkan untuk para ibu hamil yang dalam keluarga besarnya memang banyak ditemui kasus cacat. Semisal berulang.

Kendati begitu, bukan berarti mereka yang tak memiliki riwayat kecacatan akan terbebas dari kemungkinan memiliki anak cacat. Sebab, mereka bisa saja terpapar zat-zat berbahaya sebelum kehamilan, saat terjadi pembuahan, atau kala usia kehamilan di bawah 17 minggu.Yang juga ikut andil dalam munculnya kecacatan pada kehamilan “lanjut” atau lebih dari 17 minggu di antaranya infeksi penyakit tertentu. Seperti toksoplasma, rubella, sitomegalo yang memicu kemungkinan janin mengalami bocor jantung dan kebutaan. Atau infeksi sifilis yang biasanya merusak hidung atau struktur muka secara keseluruhan.

JAUHI ZAT KIMIA

Jadi, papar Judi, penggunaan obat-obat sebaiknya tak sembarangan mengingat akibatnya yang cukup mengerikan. Contohnya, streptomysin dalam pengobatan TBC yang bisa menimbulkan gangguan pada telinga. Atau obat tidur semisal thalidomide yang mengakibatkan kaki dan tangan tidak tumbuh, kloramfenikol yang bisa membuat sumsum tulang janin rusak, hingga bayi yang dilahirkan akan mengalami kelainan darah dan kelainan kulit berupa grey syndrome.

Bahkan dampak konsumsi jamu-jamuan dan obat-obat penyubur pun jangan dianggap enteng. Dari contoh kasus, obat DES (dietil bestrol) ternyata berpeluang menimbulkan kelainan pada alat kelamin bawah. Dari tidak terbentuknya lubang vagina sampai kemungkinan si anak terkena kanker vagina kelak saat ia besar. Penggunaan obat penyubur bagi mereka yang sulit hamil pada prinsipnya tidak boleh digunakan untuk orang hamil.

Sama saja dengan pil KB yang secara teoritis bisa menimbulkan kerusakan pada janin. “Begitu juga mereka yang tengah menjalani pengobatan intensif untuk penyakit-penyakit semacam itu, sebaiknya tidak hamil dulu. Masalahnya, yang yang sering terjadi, tahu-tahu hamil dalam proses pengobatan. Kalau sudah begitu, mau diapakan? Tak sedikit, lo, ibu hamil yang berniat meneruskan kehamilan tersebut meski risikonya tidak kecil.”

Bukan cuma itu. Kekurangan atau kelebihan zat tertentu pun bisa menyebabkan kecacatan. Kekurangan asam folat yang banyak terkandung dalam sayur-sayuran hijau, misalnya, bisa memunculkan defect tabung saraf (neural tube defect) Begitu juga kelebihan vitamin A dan kandungan zat tertentu dalam obat jerawat maupun pewarna atau pengeriting rambut. Karena itulah, mereka yang tengah hamil sangat tidak dianjurkan mengenakan benda apa pun yang mengandung zat-zat kimia, berbahaya selain tidak disarankan mengkonsumsi obat atau vitamin apa pun di luar bidan/dokter kandungan yang menanganinya.

TAK BISA BERBUAT BANYAK

Sayangnya, meski sudah tahu bakal ada kecacatan, umumnya kita tidak bisa berbuat banyak untuk meminimalkan kecacatan tadi. Berbeda dengan negara-negara maju yang sudah mampu menangani beberapa kecacatan selagi janin masih dalam kandungan lewat fetal surgery dengan teknologi tinggi. Salah satunya adalah kasus omphalocele, yakni keluarnya usus dari rongga perut akibat lemahnya dinding perut. Atau dinding perut terbuka hingga ususnya “berenang” dalam air ketuban (gastroskizis).

“Selama dalam rahim, sih, enggak masalah. Tapi begitu keluar, ususnya, kan, terkena vagina, sehingga memungkinkan untuk bersenggolan dengan kuman atau infeksi akibat tercemar udara luar yang berakhir dengan kematian si janin saat dilahirkan.”

Sedangkan di Indonesia, tutur Judi, untuk kasus-kasus serupa baru sebatas memberi tahu keluarga pasien, belum bisa ditangani kala masih dalam rahim. Jika kehamilan tersebut ingin diteruskan, biasanya akan diantisipasi operasi perbaikan yang mungkin dilakukan begitu si anak lahir atau menunggu si anak agak besar.

Judi berharap, mereka yang berpeluang mengandung bayi cacat tetap optimis dan menyerahkan segalanya pada kebesaran kuasa Tuhan. “Soalnya, meski faktor pemicunya makin banyak, toh, angka kecacatan nyatanya tak pernah lebih dari tiga persen.” Syukurlah.

Ibu Istimewa

Menurut psikolog Lidia L. Hidajat, MPH, ibu-ibu hamil yang bertekad meneruskan/mempertahankan kehamilannya meski tahu bayinya berpeluang cacat, adalah ibu-ibu istimewa. “Mereka memiliki kekuatan luar biasa yang kerap tak disadari. Sangat beriman, dalam arti begitu meyakini bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidaklah terlepas dari kehendak Tuhan. Selain punya naluri keibuan yang sangat kuat, berkepribadian tegar, dan cenderung berpikir positif bahwa masalah yang dihadapinya bukan tanpa jalan keluar. “Kalau enggak, pasti mereka sudah menyerah sejak awal,” lanjut pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta.

Padahal, sangat tidak mudah untuk bertahan dari terpaan cibiran banyak orang. “Bukankah selama ini kalau ada bayi cacat, si ibulah yang selalu jadi bahan tudingan? Itu, kan sangat menyakitkan.” Hingga tak berlebihan jika dalam kondisi seperti itu yang diperlukan adalah dukungan moral dari suami dan orang-orang terdekat, di samping ketegaran sekaligus cuek terhadap komentar orang. Toh, banyak contoh orang cacat memiliki kecakapan khusus dan dapat berprestasi sama atau malah melebihi orang normal. “Jadi, cacat bukanlah akhir dari segalanya.”

Lidia menyarankan agar ibu-ibu yang berpeluang melahirkan bayi cacat menciptakan kesempatan untuk berbagi, mencurahkan ketakutan/kekhawatiran dan tekadnya kepada orang-orang terdekat. Atau saling menguatkan di antara sesama ibu hamil yang memiliki diagnosa serupa. Juga membuat kliping atau mencari informasi tentang berbagai keberhasilan rehabilitasi medis dan penanganan terhadap kecacatan yang ada, serta jenis-jenis terapi yang dapat dijadikan alternatif.

Aktivitas lain yang bisa dikerjakan untuk membangun optimisme yang optimal adalah menulis buku harian mengenai gejolak perasaan yang muncul sepanjang kehamilan. Atau berbentuk surat kepada janin dalam kandungannya yang akan sangat membantu menyeimbangkan beban mental si ibu.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 132/23 September 2001 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: